The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 29. PERJALAN TANG XIAO



Hari ini kerajaan Yan sedang sibuk. Setiap orang dalam kerajaan sedang mempersiapkan segala sesuatu. Kaisar Yan Shan, Permaisuri Qian, Pangeran Yan Zhou, Mantan Kaisar Yan Zhi serta Tang Xiao sedang asyik bercengkrama di Aula. Saat ini mereka sedang membahas Tang Xiao yang hendak pergi bertualang ke berbagai benua di dunia ini.


"Apakah Han Shan mengizinkan kamu pergi?" Tanya Yan Shan. Dia sebenarnya agak berat melepaskan anak angkatnya ini.


"Iya ayah Kaisar. Beliau tidak mempermasalahkannya. Beliau juga memberi beberapa nasihat." Jawab Tang Xiao santai.


"Haish anak ini." Yan Shan geleng-geleng kepala.


"Ya paling tidak biarkan kami mempersiapkan beberapa bekal untukmu." Ucap Permaisuri Qian.


"Tidak banyak, namun cukup untuk sampai di benua timur." Lanjut Permaisuri Qian. Sama seperti Kaisar, dia juga agak berat melepaskan Tang Xiao. Permaisuri Qian telah mendengar kisah Tang Xiao kecil yang membuat Permaisuri Qian menyayangi Tang Xiao seperti anak sendiri. Jadi saat ini matanya sedikit sembab.


"Ibunda Ratu, terima kasih banyak. Maaf, telah membuat Ibunda Ratu sedih. Tapi Xiao'er harus pergi." Tang Xiao mendekati Permaisuri Qian dan memegang kedua tangannya. Tang Xiao mengalirkan hawa ketenangan ke jiwa Permaisuri Qian. Tang Xiao kembali ke tempatnya saat melihat Permaisuri Qian kembali tenang. Mereka melanjutkan perbincangan.


Tiba-tiba seorang pengawal pribadi masuk dan melapor bahwa persiapan telah selesai. Lalu mereka semua keluar dan mengikuti prajurit itu.


Mereka sampai di satu ruangan yang cukup besar. Di ruangan itu telah bertumpuk beberapa peti dan beberapa pakaian. Tang Xiao yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.


"Xiao'er ini semua bekal yang bisa kami berikan. Tidak banyak namun cukup." Yan Shan mengeluarkan satu cincin dari cincin ruang penyimpanan miliknya lalu maju dan memasukan semua bekal itu ke dalam cincin itu dan memberikannya kepada Tang Xiao.


Tang Xiao menerima dengan senyum lebar. Dia langsung mengenakan cincin itu.


" Terima kasih Ayah Kaisar, terima kasih Ibu Ratu, terima kasih Kakek Yan, dan juga terima kasih Saudara Zhou." Tang Xiao memeluk mereka satu-satu. Pelukan yang sangat erat dari Yan Zhou membuat Tang Xiao tersenyum. Sebelumnya Yan Zhou bersikeras hendak mengikuti perjalanan Tang Xiao, namun semua melarang karena bisa jadi nyawanya akan sangat berbahaya. Terlebih lagi dia adalah Putra Mahkota satu-satunya pewaris Kekaisaran Yan. Apalagi saat ini aliran hitam di berbagai benua semakin menampakkan giginya.


"Saudara Zhou, aku pergi dulu. Tenang saja aku akan kembali hidup-hidup." Ucap Tang Xiao sambil menepuk-nepuk pundak Yan Zhou. Dalam pundak itu, Tang Xiao menanamkan akar roh spritual. Akar roh spritual yang mampu membuat seseorang mencapai puncak kultivasi dengan cepat.


"Saudara Zhou, aku memberi hadiah kepadamu. Maaf aku harus pergi" Bisik Tang Xiao di telinga Yan Zhou dan melepaskan pelukannya.


"Terima kasih semua. Xiao'er pamit dulu" Ucap Tang Xiao sambil membungkuk. Setelah berkata demikian dia lenyap dari hadapan mereka seperti tak pernah ada. Menyisakan ketakjuban di hati mereka semua.


Tang Xiao yang sudah berada di luar Kekaisaran Yan dalam sekejab kini berdiri melayang-layang di atas hutan yang begitu lebat. Sejauh mata memandang adalah hutan semua.


"Heh, untung saja mereka tidak menahanku berlama-lama. Aku sudah tidak sabar ingin jalan-jalan ke berbagai benua ini. Biarlah diriku yang asli ke dunia lain. Nanti juga aku akan segera ke sana jika misiku telah selesai. Oh tapi aku punya misi apa. Ah iya misiku adalah keliling dunia ini." Ucap Tang Xiao tersenyum lebar. Setelah itu dia terbang ke arah utara. Dia turun di dekat perkampungan yang cukup ramai.


"Hem.... Lebih baik mulai dari sini, aku berjalan kaki aja." Cincin penyimpanannya di simpan di ruang jiwa. Dia pun mengganti pakaiannya menjadi seperti seorang pengelana. Pedang terikat di pinggang kiri. Kantung uang di pinggang kanan. Dan topi jerami menutupi rambutnya yang biru.


"Hemm.... Sepertinya begini lumayan bagus. Baikalah, perjalanan dimulai." Tang Xiao tersenyum mengembang. Dia melangkah dengan pasti


_______Flashback_______


Setelah keluar dari daerah Sekte Bambu Emas, Tang Xiao sedikit kebingungan. Bagaimana dia berbohong pada ayahnya bahwa perjalanannya hanya di dunia ini padahal dia akan pergi mengarungi alam semesta.


Dalam kebingungannya itu suara Xiao Long terdengar di telinganya.


"Kenapa tuan harus bimbang. Tuan bisa membelah diri dan Tuan tidak berbohong sama sekali." Xiao Long memberi saran kepada Tuannya. Saran yang jitu.


"Aha.... Kenapa aku tidak terpikirkan sama sekali ya. Hahaha ini akan sangat menyenangkan. Terima kasih Xiao Long."


"Sama-sama Tuan"


Kemudian Tang Xiao segera membelah dirinya.


"Walaupun kamu punya pikiran sendiri setidaknya dengar kan penjelasanku" Tang Xiao asli memegang kedua pundak belahan dirinya. Belahan diri Tang Xiao mendengarkan sambil mengorek kupingnya.


"Aku dengarkan. Tapi sepertinya diriku yang asli sangat jorok. Bagaimana mungkin dibiarkannya kotoran kuping tanpa dibersihkannya."


Tang Xiao yang asli segera tersenyum kecut. Dia geleng-geleng kepala. Orang-orang yang ada di dunia jiwanya juga tertawa cekikikan. Tang Xiao segera menutup cermin dunia jiwanya agar malunya tidak bertambah gara-gara belahan dirinya.


"Baiklah, baiklah, aku minta maaf. Tapi kamu sebagai diriku juga tahu apa yang harus kamu lakukan ya kan?" Tang Xiao yang asli berkata sambil berjalan membelakangi belahan dirinya.


"Ya aku tahu. Tenang saja kamu tidak usah ragu. Kita adalah satu. Jadi sama saja." Belahan diri Tang Xiao segera terbang ke arah Kekaisaran Yan.


Tang Xiao yang asli segera membuka ruang jiwanya dan memanggil Xiao Long. Lalu mereka segera membuat segel tangan kemudian menyatukannya. Terbentuklah satu portal dimensi sebesar Tang Xiao. Tang Xiao dan Xiao Long segera masuk portal itu. Di dalam portal, Tang Xiao berubah menjadi Naga berkepala satu dan ukuran tubuhnya lebih kecil dari biasanya. Tang Xiao segera menunggangi Xiao Long dan terbang dalam portal dimensi itu. Perjalanan yang cukup lama.


......................


PLANET ORION


Pasukan aliansi pribumi yang dibawa oleh 5 makhluk mengerikan telah sampai di puncak gunung. Berkat bimbingan 5 makhluk itu mereka dapat melalui kabut tebal dengan selamat.


Diluar ekspektasi mereka, ternyata puncak gunung itu sangat indah. Bunga-bunga berwarna-warni bermekaran mengelilingi satu pondok seukuran rumah-rumah sederhana. Dan di atas pondok itu satu mahkota berkilauan sangat indah melayang-layang. Mahkota itu mengeluarkan energi vitalitas yang cukup besar. Para pasukan aliansi segera menghirup udara di sekitar. Mereka merasa sangat segar setelah menghirup udara sekitar. Seluruh rasa capek, penat dan lelah mereka hilang seketika. Mereka begitu bertenaga dan pikiran mereka kembali jernih.


Para tetua aliansi yang ada di markas juga takjub atas apa yang mereka lihat di layar. Mereka juga tak menyangka akan ada pemandangan indah begini. Ras raksasa yang sering naik turun gunung Tanpa Nama tak pernah melihat pemandangan seperti itu. Mereka menebak-nebak jika di gunung itu dipasang aray pelindung agar orang-orang tidak mengetahui ada tempat seperti itu di puncak gunung.


"Silahkan masuk, nyonya telah menunggu di dalam." Salah satu makhluk mengerikan yang berkelamin wanita membuyarkan pesona kekaguman pasukan itu terhadap keindahan puncak gunung.


Pasukan aliansi yang dipimpin ras manusia segera mendekat dan masuk pondok kecil itu. Di dalam pondok tidak ada siapa-siapa kecuali seorang gadis berumur 18 tahun sedang duduk tersenyum di atas kursi goyang.


Para pasukan aliansi yang berkelamin laki-laki terpana melihat kecantikan gadis manusia di depan mereka. Para wanita dibuat iri dengan kecantikan gadis itu. Kecantikan yang belum pernah ada di dunia ini. Bahkan Ras Peri yang dianugrahi kecantikan luar biasa tidak bisa disebut cantik jika dibandingkan dengan gadia remaja di depan mereka ini.


"Selamat datang di pondok sederhana ini. Ah maaf aku tidak menyambut kalian lebih ramah." Gadis itu bangkit dari duduknya dan mepersilahkan tamunya duduk di kursi tamu yang cukup empuk. Dia merasa tak enak dipandang terus dengan berbagai macam perasaan aneh.


"Nama saya Juminten. Saya adalah penjaga dari Mahkota Tuan saya. Sedangkan Tuan saya akan kesini beberapa hari lagi." Gadis jelita memperkenalkan dirinya sebagai Juminten itu berbicara cukup ramah. Para pasukan aliansi juga memperkenalkan diri mereka masing-masing serta ras mereka juga tujuan mereka ke puncak gunung ini.


Juminten menghela napas. Dia terdiam cukup lama berpikir sesuatu.


"Kalian pasti melihat tadi malam ada lubang portal yang cukup besar di langit lalu keluar satu kapal dari sana" Juminten memandang para tamu di depannya.


"Ya kami melihatnya." Ucap mereka bersama.


"Tapi apa hubungannya dengan kami dipanggil ke sini?" Ras manusia yang menjadi komandan bertanya lebih dahulu.


"Sebentar dulu anak muda. Akan aku jelaskan. Kalian tahu siapa yang ada dalam kapal itu?" Tanya Juminten sambil memandang tajam pasukan.


"Tidak, kami tidak tahu. Namun kami mengira orang yang datang itu berhubungan dengan mahkota di atap itu."Sang Komandan menjawab lebih dulu.


"Ya betul dia datang karena mahkota tuan ku itu. Jika makhluk-makhluk dari dunia lain datang ke sini, itu tidak masalah. Aku mampu mengatasi mereka bahkan jika mereka semua bersatu. Tapi beda cerita jika yang datang adalah orang yang ada di kapal itu. Aku bahkan tidak mampu bertahan walau hanya 5 menit. Kalian tahu kenapa?" Juminten menatap pasukan aliansi.


Mereka terdiam menunggu jawaban Juminten.


"Itu karena orang yang datang tadi malam adalah para manusia abadi, penguasa Surga" Ucap Juminten sambil menyandarkan punggungnya ke kursi goyang.


Para aliansi terdiam. Mereka tidak mempercayai ucapan gadis belia yang ada di depan mereka. Namun melihat ekspreksi Juminten mereka tahu gadis itu tidak berbohong. Namun saat ini, satu pertanyaan muncul di kepala mereka, benarkah eksistensi Surga memang ada?


Lalu Juminten melanjutkan perkataannya.


"Aku yakin kalian sulit mempercayai ini. Namun yakinlah bahwa saat ini aku meminta kalian segera mempercayainya."


Juminten mengambil nafas.


"Aku takut tak mampu menjaga mahkota tuanku jika Kaisar Surga ikut menginginkannya. Walaupun Kaisar Surga mampu mengambil mahkota ini, aku takut tuanku akan mendatangi surga dan memusnahkannya."


Juminten kembali mengambil nafas.


Para pasukan terdiam. Mereka mencoba mencerna perkataan Juminten yang menurut mereka sangat tidak masuk di akal. Apalagi tentang memusnahkan surga.


"Ya aku paham kalian ragu. Tapi hanya satu permintaan ku. Maukah kalian memenuhinya? Hanya kalian lah pilihan terakhir ku."


"Apakah permintaan nona?"


"Tolong kalian jaga sementara Mahkota tuanku sebelum dia datang mengambilnya." Jawab Juminten cepat.


Para pasukan aliansi terdiam. Para tetua yang mendengar pembicaraan mereka sejak awal juga terdiam.


"Nona, jika nonq menyerahkan mahkota itu kepada kami bukankah sama dengan mengundang maut? Yang bahkan nona sendiri tak mampu menjaganya?" Tanya seorang dari Ras Elf. Pertanyaan itu mewakili perasaan mereka saat ini. Begitu juga dengan para tetua.


"Tidak bukan begitu." Jawab Juminten sambil melentangkan telapak tangannya. Lalu muncul satu mahkota yang sama dengan yang ada di atas atap pondok. Mata mereka semua terbelalak. Termasuk para tetua di markas.


"Ini adalah mahkota yang asli. Mahkota ini telah aku segel kekuatan dan keberadaannya hingga tak ada satu pun yang tahu kecuali tuanku atau utusannya. Sedangkan yang di atap hanyalah replikanya. Walaupun hanya replika namun kekuatan sihir yang dipancarkan cukup besar. Hal itulah yang membuat Kaisar Surga mampu mengetahuinya." Juminten meletakkan mahkota di tangannya ke atas meja pualam di tengah mereka. Dilihat sekilas, mahkota di depan mereka lebih seperti replika. Namun dilihat lebih teliti lagi, permata merah yang ada di tengah mahkota itu memancarkan 9 warna secara samar. Serta jika depegang, mahkota itu memberi tekanan vitalitas yang sangat melimpah.


"Memang seperti rumornya, jika mahkota itu dimiliki seseorang maka dia akan menjadi Penguasa Semesta melihat dari betapa luar biasanya energi vitalitas yang dikeluarkan padahal sudah disegel." Salah seorang tetua dari Ras Elf bergumam kagum melihat mahkota. Para tetua lain mengangguk setuju. Walaupun begitu tidak ada keinginan di hati para tetua itu untuk memilikinya.


Dalam keheningan tuangan itu, tiba-tiba radar di tangan pemimpin Ras Dwarf berbunyi kencang.


BIP, BIP, BIP, BIP....


Terlihat di radar satu titik cahaya biru yang sangat besar sedang bergerak ke arah mereka dengan kecepatan sedang. Pasukan aliansi dan para tetua terbelalak matanya melihat besarnya titik cahaya yang muncul di radar. Radar itu dilengkapi dengan detektor sihir, sehingga mampu mengetahui kekuatan sihir makhluk yang ada di radar.


Sedangkan saat ini mereka belum pernah melihat cahaya sebesar ini. Dan anehnya cahaya di radar semakin lama semakin besar.


"Cepatlah bawa mahkota ini. Ini satu-satunya cara menyelamatkan kalian dan juga menyelamatkan semesta ini. Cepatlah." Juminten segera bangkit dan mendekati pasukan aliansi lalu mengambil paksa salah satu tas milik pasukan dan memasukkan mahkota ke dalam tas itu. Pasukan aliansi hanya diam saja.


Rrrrrrr...


Suara bergetar di sekitar puncak gunung terdengar dan membuat pasukan aliansi menjadi pucat. Juminten membuat segel tangan dan tiba-tiba di dekat mereka muncul portal hitam seukuran manusia muncul mengejutkan mereka semua.


"Cepatlah masuk portal ini. Kalian akan segera tiba di markas tetua kalian." Juminten mengeluarkan armor dan pedangnya dari cincin ruangnya. Lalu dia segera mendorong pasukan aliansi memasuki portal itu. Mereka pun mau tak mau memasuki portal itu satu persatu begitu melihat Juminten memakai armornya dan mengeluarkan hawa membunuh yang sangat besar. Begitu orang terakhir memasuki portal, di luar gubuk itu terdengar suara ledakan.


BOOMMMMM......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Penasaran bagaimana perjuangan Juminten mengahadapi Kaisor Paijo dan dan para anak buahnya??


Ikuti terus Novel Sang Pemusnah Delapan Semesta.


#


Apalah arti memiliki jika diri kami sendiri bukan milik kami.


Apalah arti kehilangan ketika kami menemukan banyak saat kehilangan. Dan sebaliknya kehilangan banyak saat menemukan.


Apalah arti cinta ketika menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah.


By: Tere Liye