The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 30. JUMINTEN VS PAIJO



"Tuan, sepertinya perjalan melewati portal ini sungguh nyaman. Dari tadi kita tidak melewati hambatan apapun." Xiao Long yang sedang terbang bersama tuannya sesekali berbicara.


"Ya mungkin badai turbulensi ruang dan waktu takut mendekat karena merasakan hawa keberadaanmu, Xiao Long" Tang Xiao yang sedang rebahan santuy juga sesekali menjawab ucapan Xiao Long. Mereka berdua sudah sekitar separoh perjalan menuju Planet Orion. Kadang Tang Xiao mengeluarkan Xiao Yang, Xiao Ying dan Monica untuk menemani perjalanan mereka.


Monica yang selama ini berada di dunia jiwa terus berlatih di bawah bimbingan Xiao Yang dan dan Xiao Ying. Kadang sesekali Xiao Long juga memberi arahan.


_____________


PLANET ORION.


BOOMMMMM.


Ledakan keras terjadi di puncak gunung. Aray besar yang selama ini menutupi puncak gunung dari pandangan orang biasa kini hancur berantakan menyisakan debu-debu berterbangan.


Juminten merapatkan giginya. Replika mahkota yang di atas atap secara perlahan mendekat dan memasuki cincin ruangannya. Dia sedikit menarik nafas lega. Setidaknya mahkota yang asli telah aman bersama orang-orang yang tepat.


Dari balik debu yang berterbangan, muncul sebelas orang laki-laki dan sepuluh wanita. Diantara sebelas orang laki-laki itu, seorang pemuda yang cukup tampan tersenyum ramah.


"Ah maafkan kami nona. Saya tidak tahu bahwa ada penghuninya di puncak ini. Perkenalkan Saya Paijo Kaisar Surga" Paijo maju dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Ah betulkah kalian tidak tahu. Sungguh naif. Heh" Juminten tersenyum sinis.


"Aduh nona. Janganlah bersikap seperti itu di depan Kaisar ini. Setidaknya beri tahu nama anda." Paijo menyunggingkan senyum manis


"Cuih... Senyum itu membuat ku ingin muntah. Langsung saja, apa tujuan kalian ke sini" Juminten yang kesal segera mengakat pedangnya ke arah Kaisar Paijo dan anak buahnya.


" Oh oh oh... Nona. Anda sangat tidak sabaran." Paijo perlahan berjalan mendekati Juminten.


"Tentu saja kami menginginkan sesuatu yang Nona simpan." Paijo yang berjalan perlahan sedikit demi sedikit mengeluarkan aura kultivasi serta aura membunuhnya.


"Nona, anda pasti tahu bahwa di semesta ini tidak seorang pun yang mampu mengalahkan saya. Jadi lebih baik nona cepat menyerahkan Mahkota itu dan saya akan membawa nona ke surga dan menjadikan anda makhluk abadi." Paijo berhenti berjalan setelah jaraknya dengan Juminten sekitar 10 meter.


Juminten yang menyelimuti dirinya dengan energi Qi perlahan mundur ke belakang mengambil jarak dari Paijo dan aura yang keluarkannya. Sedangkan pondok sederhananya telah roboh ketika Kaisar Paijo mengeluarkan auranya.


"Kaisar Paijo yang terhormat. Bagaimana mungkin anda mau memiliki mahkota ini sedangkan mahkota ini ada pemiliknya. Apakah kehormatan anda sebagai Kaisar Surga tidak memberi anda wajah"


"Nona, jangan mengatakan lelucon seperti ini. Bukankah itu adalah mahkota semesta yang tercipta dari kesalahan ruang dan waktu. Bagaimana mungkin ada yang memilikinya." Kaisar Paijo mengendurkan Aura membunuhnya saat mengetahui gunung tempat mereka saat ini mulai musnah sedikit demi sedikit.


HAHAHA....


"Kaisar Surga, ternyata anda lebih bodoh dari yang saya kira. Anda seperti katak dalam sumur yang mengetahui luasnya langit sebesar lubang sumur itu. Hahah lelucon macam apa ini, bagaimana mungkin Kaisar Paijo menjadi Kaisar Surga. Apakah surga sungguh bodoh. Bwahaha" Juminten tertawa terbahak sambil memegang perutnya.


Paijo menggerutukan giginya.


"Hahaha Nona, saya kini dapat mengetahui keberadaan Mahkota itu. Ternyata anda lebih bodoh dari saya. Sia-sia saja anda menutupi keberadaannya namun ketahuan karena kebodohan anda" Paijo yang merasakan energi vitalitas segera memandang cincin yang ada di jari kelingking Juminten.


Juminten yang mengetahui itu pura-pura memasang wajah pucat. 'Sungguh Kaisar Paijo ini memang benar-benar bodoh.' Batin Juminten dalam kepura-puraannya.


"Heh, sepertinya mahkota ini sudah ketahuan. Ya mau bagaimana lagi" Juminten memakai armor serta mengacungkan pedangnya yang kedua kalinya pada Kaisar Paijo.


"Nona, anda melakukan kesalahan yang sama dua kali. Yaitu mengacungkan pedang kepada seorang Kaisar Surga. Tindakan tidak sopan anda cukup menjadi alasan bagi saya untuk menangkap dan mengadili serta menghukum mereka yang tidak patuh Pada Kaisar." Kaisar Paijo kembali berjalan mendekati Juminten dan mengeluarkan aura yang lebih besar dari sebelumnya.


"Heh, bagi orang seperti anda, kesopanan dan tata krama hanyalah kedok demi mendapatkan misi anda. Saya terlalu sering bertemu dengan orang seperti anda. Dan akhirnya mereka semua mati di bawah pedang saya." Juminten juga mengeluarkan aura membunuhnya yang cukup besar. Dua aura saling bertemu dan menghancurkan puncak gunung itu dengan cepat.


BOOMMMMM


BOOMMMMM


BOOMMMMM


Ledakan terjadi di sekitar gunung Tanpa Nama itu menerbangkan debu-debu pekat membubung ke angkasa.


"Nona, saya datang ke tempat ini tidak untuk membuat masalah. Kenapa anda tidak menyerahkan mahkota itu dengan baik-baik. Saya akan mengampuni sikap anda karena mengacungkan pedang di depan saya." Paijo memandang tajam ke arah Juminten.


Saat ini gunung dan puncak gunung itu telah rata dengan tanah. Juminten, Kaisar Paijo dan anak buahnya berdiri melayang-layang di bekas puncak gunung.


"Dasar Kaisar hina, jika memang anda datang tanpa membuat masalah tidak seharusnya menghancurkan aray yang ada. Anda bisa masuk dan berkata baik-baik kepada saya. Mana ada tamu menghancurkan rumah orang yang menjamunya. Cuiih.. Kasihan alam semesta ini memiliki Kaisar picik seperti anda" Juminten meludah ke depan Kaisar Paijo. Hal itu membuat darah Kaisar Paijo mendidih.


Juminten yang merasa hawa membunuh Paijo semakin tebal, dia segera melesat cepat ke arah Paijo. Sangat cepat. Seperti petir yang menyambar bumi di siang hari. Namun kecepatan itu masih terlalu lambat di mata Kaisar Paijo.


Juminten menghunuskan pedang panjang miliknya dan mengayunkan tepat ke leher Paijo.


TRANK....


Suara baja beradu. Suara itu mampu menghempaskan beberapa pengawala Paijo yang masih di tahap jenderal Surga. Paijo menahan serangan senjata Juminten dengan pedang surgawi miliknya.


"Hohoho.... Sepertinya Nona telah berada di tahap Kaisar Dewa awal. Lumayan. Namun masih belum layak menantangku" Kaisar Paijo mengempaskan pedangnya dan Juminten terpental jauh ke belakang.


Uhhuk...


Seteguk darah segar mengalir dari mulutnya.


'Sialll, hanya dengan menghempaskan pedangnya saja sudah membuatku terluka. Kaisar Surga bukan julukan yang main-main.'


Juminten berdiri tegak. Di mengusap darah yang mengalir dari bibirnya.


"Hohoho. Dasar sampah. Ternyata masih mampu berdiri" Kaisar Paijo melesat cepat ke arah Juminten dan melayangkan satu tendangan ke arah tulang rusuk Juminten. Juminten yang telat menyadari hal itu hanya mampu melindungi tulang rusuknya dengan energi qi.


Kraakkk


Aaakkkhh


BOOMMMMM


Juminten terbatuk-batuk dan bersusah payah berdiri dengan sisa-sisa tenaganya.


"Nona, di mata saya anda hanyalah semut yang baru lahir. Hahaha..... Itulah akibatnya anda berani menghalangi jalan saya." Kaisar Paijo yang masih melayang di atas segera turun dan berdiri tepat di depan Juminten yang sudah tidak berdaya. Juminten yang hendak berdiri dan menganyukan pedangnya, dengan cepat pula Kaisar Paijo mengayukan pedangnya ke lengan Juminten yang memegang pedang.


Slaashh


Aakkhh


Lengan Juminten yang putus bergerak-gerak. Pedangnya masih tergenggam erat di lengan yang sudah jatuh di tanah itu. Tangannya yang terpotong mengucurkan darah bak air terjun Niagara. Juminten mengalirkan Qi ke tangannya menahan pendarahan dan rasa sakit yang dideritanya.


Paijo tersenyum lebar. Dia mengambil lengan Juminten yang telah terpotong, melepaskan genggaman pedang, dan mengambil cincin ruang dari jari kelingking. Paijo tersenyum lebar dan berjelan mendekati Juminten yang telah pucat pasi. Tangan kanan Paijo memegang kedua pipi Juminten dan menarik ke arahnya.


"Nona, saya sudah mendapatkan apa yang saya mau. Hoho... Wajah cantik ini sangat disayangkan jika disia-siakan begini. Wajah cantik begini sepertinya sangat enak untuk makan anjing-anjing neraka milikku. Hahahaha...."


Kaisar Paijo kembali memandang Juminten.


"Nona, bagaimana penampilan saya tadi. Bahkan saya belum berkeringat sama sekali dan Nona telah terpotong satu tangannya. Hadeuh. Sungguh bodoh anda terpilih menjadi penjaga mahkota semesta ini." Paijo berkata sambil menunjukkan cincin di genggaman kirinya.


"Hahaha.... Kaisar Paijo, anda memang bodoh. Tidak kah anda memperhatikan cincin itu lebih detail. Lihat lah, apakah anda mampu membuka segel yang ada di cincin itu. Tanpa saya dan Tuan saya, di alam semesta ini tak ada satupun yang mampu membukanya. Hahah" Disela-selah rasa sakitnya yang luar biasa, Juminten memaksa tertawa terbahak-bahak.


Mendengar hal itu, wajah Paijo menjadi gelap. Dia berdiri dan memandang cincin di genggamannya. Benar apa yang dikatakan Juminten. Dia dapat melihat segel dengan simbol-simbol dan mantra yang belum pernah dia lihat sebelumnya mengelilingi cincin emas di genggamannya.


'Hemm... Simbol apa ini.? Apa mungkin simbol Buda Kuno atau simbol suku maya.? Tapi kenapa sangat asing. Seperti dari dunia lain. Kenapa aku tidak mengetahuinya sebelumnya. Hemm.... Wanita ini siapa dia sebenarnya.'Batin Kaisar Paijo sambil memegang dagunya.


"Hahaha... Tidak masalah jika aku tidak bisa membukanya. Aku hanya tinggal menunggu Tuan yang nona maksud lalu membunuhnya. Hahaha, gampang kan. Jika aku tak bisa memiliki mahkota ini maka dia pun tidak boleh memilikinya. Malah lebih baik dia mati aja sekalian. Hahaha..... " Kaisar Paijo yang wajahnya menghitam karena marah segera mendekati Juminten. Pedang surgawi miliknya muncul di tangan kanannya.


Slaasshh....


Aakkhh...


Tangan kiri Juminten melayang dan jatuh di atas tanah. Kini kedua lengan juminten yang telah putus berubah menjadi menjadi dua pohon kecil.


Kaisar Paijo yang melihat itu kaget bukan kepalang. Begitu juga dengan para pengawal yang melayang tak jauh darinya lebih kaget lagi. Kini firasat mereka menjadi tak enak. Juminten yang melihat hal itu segera tersenyum lebar dan menangis. Dia sesenggukkan menangis. Hal itu membuat membuat Paijo dan pengikutnya tambah heran.


Apa orang ini stres kehilangan lengannya.


"Selamat datang kembali Tuan. Hiks... Setidaknya aku masih hidup saat Tuan datang. Dan maaf Tuan saya masih sangat lemah" Diantara isak tangis Juminten terdengar gumaman yang cukup jelas ditelinga Paijo. Paijo yang mendengar hal itu kembali mengayunkan pedangnya. Namun sebelum pedang itu mengenai leher Juminten sesuatu terjadi.


Sssseeerrrrrr........


Satu suara bergetar yang cukup besar terdengar dari langit. Semua orang memandang. Satu portal hitam yang sangat besar menutupi seluruh langit Plenet Orion. Bahkan Portal itu lebih besar dari Planet Orion itu sendiri. Dari Portal itu terbukalah lubang, tidak bukan lubang tapi kawah yang sangat besar. Kawah itu terbuka dan tidak ada siapapun yang keluar. Lalu dengan cepat Kawah itu menutup kembali namun portal itu masih melayang di langit sana. Semua orang terdiam. Namun satu suara yang cukup berwibawa mengagetkan Paijo.


"Juminten, kamu tidak apa-apa"


Kaisar Paijo segera berpaling ke arah suara yang tak jauh dari dekatnya.


'Sial, sejak kapan laki-laki ini di sini. Apa-apaan ini. Sial, kenapa aku tidak merasakan kehadirannya.' Gumam Kaisar Paijo yang jantungnya berdetak cepat. Kaisar Paijo dapat melihat laki-laki yang datang entah dari mana itu sedang mengobati Juminten. Matanya terbelalak saat melihat kedua lengan Juminten telah kembali utuh seperti sedia kala.


"Tuan Pemusnah terima.... "


"Tunggu" Tang Xiao menghentikan ucapan Juminten. Juminten mendongakkan kepalanya.


"Sekarang namaku Tang Xiao. Jadi panggil aku sesuai namaku ya." Ucap Tang Xiao senyum sambil mengelus kepala Juminten.


"Iya Tuan Tang. Lalu kemana yang lain Tuan?" Tang Xiao bertanya sambil melihat ke sekelilingnya namun dia tidak menemukan orang yang dicarinya. Hanya ada orang-orang yang cukup ramai yang memperhatikan mereka.


"Yang lain di dunia jiwa. Di sana mereka menunggumu." Tang Xiao melambaikan tangannya dan muncul satu portal seukuran manusia.


"Masuklah. Pulihkan keadaanmu di sana."


"Terima kasih Tuan Tang" Juminten berdiri kembali lalu membungkukkan badan kemudian berjalan memasuki portal itu.


"HEEII kurang ajar. Siapa yang mengizinkan kamu pergi." Sebuah bentakan yang cukup keras terdengar dari Kaisar Paijo. Dia hendak mengejar Juminten yang telah memasuki Portal kecil itu namun langkahnya terhenti ketika Tangan kanan Tang Xiao terbentang di hadapannya.


"Kaisar, anda tidak akan pernah bisa mengejarnya" Ucap Tang Xiao santai.


"Ohoho.... Tuan rambut biru, mungkin kah anda tuan dari sampah tadi?" Tanya Paijo mengejek


"Ya saya tuannya dan perkenalkan nama saya Tang Xiao. Dan berhenti memanggil seseorang dengan julukan sampah." Tang Xiao menatap dingin Kaisar Paijo.


"Oh Tuan Tang kebetulan sekali saya mencari anda. Ini cincin bawahan anda. Dan katanya hanya Tuan yang bisa membuka segel cincin itu." Kaisar Paijo melemparkan cincin Juminten kepada Tang Xiao. Tang Xiao menangkapnya dan mengangguk-anggukan kepalanya.


" Ya memang saya mampu membukanya karena saya yang memasang aray di cincin ini. Namun kenapa saya harus membukannya untuk anda." Tang Xiao melempar-lemparkan cincin emas di tangannya ke udara.


"Tuan Tang, yang saya katakan bukanlah permintaan, tapi perintah seorang Kaisar. Tidak ada ruang bagi anda negosisasi." Ucap Paijo sambil bersedekap.


"Hoohh... Perintah? Hahah. Tuan Kaisar, anda terlalu memandang tinggi diri anda sendiri. Dan sepertinya anda terlalu percaya terhadap kemampuan anda. Yah memang anda lebih cocok disebut katak dalam sumur." Balas Tang Xiao sambil memanikan cincin emas Juminten di jarinya. Merasa tidak dihargai, Paijo semakin meningkatkan kewaspadaannya. Dia juga masih berusaha membaca tingkatan pemuda berambut biru di hadapannya itu.


"Tuan Tang, sekali lagi saya memeri.anda atas nama surga untuk membuka segel itu." Ucap Paijo mengeluarkan aura membunuhnya..


"Cih merepotkan saja. Baiklah mari kita lihat isi di dalamnya. " Balas Tang Xiao mengenakan cincin itu lalu mengeluarkan satu mahkota yang permata merah di tengahnya memancarkan warna 7 rupa. Dia mengambil mahkota itu dan mengenakan mahkota itu di atas kepalanya.


Klop. Mahkota dan kepala Tang Xiao benar-benar klop. 'Hemm... Bagaimana Juminten bisa membuat replika mahkota seperti ini. Benar-benar persis.' Gumam Tang Xiao dalam hatinya.


"Hei kurang aja mahkota itu milik ku. Mati kau"


BOOMMMMM......


Debu berterbangan dan menyisakan dua manusia yang berhadap-hadapan..


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...