The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 48. ISTANA MERAH



"Kakek aku sudah siap. Ayo kita berangkat" Ucap Silvie yang telah sempurna dengan penampilannya. Seharian kemarin dia sudah membereskan barang-barangnya termasuk buku-buku serta alat-alat memasak lainnya. Dia memasukkan barang-barang itu di cincin ruang miliknya. Hanya pedan Putih dengan gagang permata yang terselip di pinggangnya.


Penampilannya hari ini terlihat fresh seperti seorang remaja beranjak dewasa. Wajahnya yang putih bersih tidak berhiaskan apa-apa. Hanya bulu matanya yang terlihat lentik. Kepribadiannya yang santun dan polos terpancar dari matanya yang berwarna coklat bening. Pakaian yang dikenakannya seperti pakaian yang dikenakan para kultivator wanita pada umumnya.


"Hem.. Penampilan yang cocok sekali. Selama tujuh belas tahun di sini ternyata cucu kakek telah banyak mempelajari dunia luar." Ucap Kakek tua yang bernama Danzho saat melihat penampilan cucunya itu. Dia menjadi teringat dengan wanita yang ada di kuburan dekat air terjun tujuh warna.


"Lihatlah. Silvie kecil persis dengan dirimu." Batinnya dengan sedih.


"Baiklah ayo pergi."


Wossh..


Tiba-tiba muncul portal di depan mereka. Danzho memasuki portal itu diikuti Silvie dengan girang


......................


"Kakak ketiga, apa yang menarik dengan menunggu badai pasir? Lebih baik istirahat di tenda sambil makan buah-buah segar dan meminum anggur." Celoteh Denas di samping Tang Xiao. Mereka berdiri cukup jauh dari tenda-tenda yang didirikan anggota Jessika.


Di depan mereka sekitar, badai gurun menggulung denga cepat. Menghempaskan apa saja yang dilaluinya. Badai gurun yang sangat besar dan cukup mengerikan. Terlihat dalam badai itu ada api yang menjilat-jilat.


"Gila, Badai apaan ni? Badai api atau badai pasir? Panasnya aja sudah terasa sampai ke sini. Pantaslah Kakak kedua mengatakan kita tidak bisa mengatasinya." Ucap Denas. Dia tampak ngeri melihat badai yang semakin dekat ke arahnya. Tanpa disadari, Denas refleks memeluk lengan Tang Xiao dan bersembunyi di baliknya.


Tang Xiao membiarkan hal itu walaupun dia merasa sangat risih. Dia masih fokus dengan badai di depannya yang tampak menarik. Misteri di dalamnya membuat dia merasa penasaran. Badai semakin dekat, Denas semakin bersembunyi di belakang Tang Xiao dan semakin erat memeluk lengan Tang Xiao.


Wusssshhhhhh


Badai yang besar itu menggulung mereka berdua. Tang Xiao berdiri santai tidak bergerak sama sekali. Denas menutup matanya takut melihat apa yang terjadi.


Dalam badai yang sangat gelap itu, muncul cahaya keemasan menyelimuti tubuh Tang Xiao dan Denas.


"Kekeke ada dua manusia di dalam badai. Keke ini menarik, cukup menarik." Satu makhluk yang bukan manusia bukan juga Mythical Beast tiba-tiba muncul di depan Tang Xiao dan Denas.


Makhluk itu diselimuti api yang berkobar dan menjalar-jalar mencoba meraih tubuh Tang Xiao dan Denas namun selalu gagal begitu menyentuh cahaya emas di tubuh mereka berdua. Denas yang mendengar suara berat tadi semakin merinding. Badannya di penuhi keringat panas dingin.


"Kekeke.... Santapan kali ini cukup sulit jika kau sendiri yang menanganinya." Satu makhluk yang sama muncul lagi di depan Tang Xiao dan Denas. Makhluk yang barusan muncul segera meraih tubuh Tang Xiao dan Denas dengan lidah api menjalar namun tetap saja gagal. Bahkan kali ini lidah api yang menyentuh Tang Xiao dan Denas tersedot oleh cahaya emas yang menyelimuti tubuh mereka.


"Apa yang terjadi" Tanya makhluk itu kebingungan kepada temannya di sebelah.


"Kekeke ini semakin menarik. Lebih baik kita panggang saja mereka." Balas yang satunya sambil mengeluarkan api yang sangat besar dari tubuhnya dan mengelilingi Tang Xiao dan Denas. Makhluk yang satunya juga mengeluarkan api yang sama besarnya dan segera melahap mereka berdua.


Api itu sangat besar sampai-sampai terlihat dengan jelas dari luar badai pasir.


Denas yang ketakutan semakin menggigil. Walaupun dia tidak faham apa yang dikatakan dua makhluk aneh di depannya, namun dia tahu bahwa nyawa mereka terancam. Denas memeluk erat tubuh Tang Xiao dari belakang sekujur badannya telah menggigil ketakutan.


Tang Xiao yang mengerti ketakutan adik keempatnya ini mencoba menenangkannya sementara api di sekitar mereka tidak padam-padam. Tang Xiao mengalirkan energi spirutualnya kepada Denas agar menjadi sedikit lebih tenang.


"Adik keempat bukalah matamu. Di sini tidak ada apa-apa melainkan sebuah taman yang sangat indah dipenuhi kupu-kupu yang terbang riang diantara bunga-bunga." Bisik Tang Xiao di telinga Denas.


Denas perlahan membuka matanya dan benar saja dia telah berada di tengah taman seperti yang dikatakan kakak ketiganya.


"Kakak kita ada di mana ini?" Tanya Denas penasaran. Dia melihat sekeliling dan menemukan sebuah Istana Merah yang sangat megah yang belum pernah dilihatnya di dunia. Istana itu menjulang kokoh di atas bukit kecil yang terletak di ujung pandangannya. Denas terbuyar dari lamunannya saat seekor kupu-kupu bertengger di pundaknya lalu terbang kecil-kecil di depannya kemudian terbang secara perlahan menuju Istana Merah di depannya. Seolah kupu-kupu itu mengajak Denas untuk memasuki Istana Megah yang tidak pernah dibayangkannya.


"Kupu-kupu kecil, bolehkan orang sepertiku memasuki istana itu?" Tanya Denas pada kupu-kupu yang terbang perlahan di depannya. Kupu-kupu kecil itu naik turun seolah mengatakan 'tentu saja boleh. Siapapun boleh masuk tanpa rasa khawatir sedikitpun.' Lalu kupu-kupu kecil itu berhenti tepat di depan hidung Denas, terbang merendah kemudian terbang tepat di depan Denas lalu kupu-kupu itu terbang secara perlahan menuntun Denas memasuki Istana Merah.


Denas yang mengerti isyarat kupu-kupu kecil itu segera mengikutinya mendekati Istana Merah. Perlahan Denas mengikuti kupu-kupu kecil dan akhirnya tiba di depan pintu gerbang istana merah. Sampai di sini, Denas menjadi gugup melihat Istana Merah yang benar-benar sangat indah jika dilihat lebih dekat. Pintu gerbangnya saja sudah membuat nyalinya ciut untuk memasuki istana itu. Dia merasa menjadi sangat kecil dan rendah saat di hadapan Istana Merah di depannya. Tempat luar biasa seperti ini hanya pernah didenganya melalui dongeng-dongeng sebelum tidur yang dibacakan ibunya. Bahwa seorang Pangeran gagah perkasa, mempersunting sang pujaanya di hadapan Istana Megah tak terkira.


Perlahan pintu gerbang di depannya terbuka lebar ke samping. Pintu gerbang yang otomatis terbuka saat sesesorang hendak memasuki istana. Pintu gerbang yang dimantari dengan sihir pengenal. Dengar perlahan dan jantung yang berdegup kencang, Denas melewati gerbang besar yang telah terbuka lebar untuk memasuki istana merah di depannya.


Sementara itu sekelompok kupu-kupu yang berada di belakang Denas berbincang-bincang.


"Dari mana pria itu datang? Tidak mungkin dia bisa memasuki istana ini dengan sendirinya." Ucap seekor kupu-kupu.


"Ya tentu saja pria itu adalah kawan dekat tuan. Tanpa tuan mengizinkan tidak ada satupun yang masuk ke sini."Jawab yang lain.


"Sekarang bukan itu masalahnya. Apa kalian tidak merasa ada yang aneh dengan pria itu?"


"*Ah iya aku juga merasa aneh dengan pria itu. Tapi kurasa tuan tidak mengetahuinya."


"Bisa jadi tuan tidak tahu. Jika tuan tahu tidak mungkin pria itu datang sendiri ke sini. Pasti tuan telah menemaninya."


"Ah ya sudahlah lebih baik kita biarkan saja. Toh tuan pun tidak akan kenapa-napa dengan kehadiran pria itu*"


Sekelompok kecil kupu-kupu itu menyudahi percakapan mereka dan terbang kembali mencari bunga-bunga untuk dihisap sari madunya guna keberlangsungan hidup.


......................


"Kakak pertama tidak kah kamu merasa badainya terlalu lama? Tidak seperti biasanya." Ucap Jessika di dalam tenda. Raut wajahnya tampak khawatir saat memikirkan dua adik bodohnya keluar dari tenda dan tidak ada tanda-tanda dari mereka meski token jiwa mereka di tangan Jessika masih terlihat baik-baik saja dan masih bercahaya.


"Adik kedua memang belum melihat dan mengetahui seperti apa adik ketiga. Namun percayalah padaku, mereka baik-baik saja." Ucap Andri menenangkan Adik keduanya ini. Saat ini Andri sedang berbaring di ranjang yang tidak jauh dari mereka. Dia merasa mengantuk sehabis minum Anggur Bulan Perindu.


"Hoaam... Kebiasaan lama tidak bisa dibuang. Dasar kenapa harus di saat sperti ini." Gumam Andri. Dia memang selalu merasa sangat mengantuk setiap selesai minum Anggur Bulan Perindu saat masih berada di Benua Land Of Soul dan menjadi jenius tak terkalahkan di benuanya.


"Kakak pertama bagaimana sih bisa-bisanya dia tidur saat kedua adiknya masih di luar sana dan tidak ada kabar sama sekali. Apa memang seperti ini sikapnya?" Gerutu Jessika saat melihat Andri tidur di ranjang yang seharusnya ditempatinya.


Jessika sesekali melirik Andri yang tertidur pulas bagai bayi dalam ayunan. Tiba-tiba Jessika teringat semua perkataan Andri kepadanya. Dia menjadi sangat penasaran dengan identitas Andri.


Secara perlahan, Jessika melangkah mendekati Andri yang tidur. Sekitar satu meter jauhnya dari ranjang, Jessika berhenti. Dia memperhatikan wajah tampan Andri dan mengingat-ingat wajah Andri yang mungkin wajah seseorang yang dikenalnya. Jessika maju beberapa langkah kecil. Dia menatap lekat wajah tampan Andri namun tidak mengingat siapa Andri dan merasa belum pernah mendengar atau bertemu dengan Andri.


"Ini aneh. Kakak pertama cukup mengenalku sedangkan aku tidak mengenalnya. Kakak pertama bukan seseorang yang merubah dirinya menjadi lebih muda. Siapa sebenarnya orang ini dan kenapa dia begitu mengenalku." Gumam Jessika sambil menopangkan dagunya di atas kedua tangannya yang diletakkannya di tepi ranjang dekan tubuh Andri.


Jessika celingak celinguk kesana kemari memastikan tidak ada orang, kemudian dia mendekatkan wajahnya ke wajah tampan Andri yang terlelap hingga hidung keduanya hampir bersentuhan.


Jessika menatap lekat wajah Andri yang sangat dekat dengannya. Nafasnya dan nafas Andri saling bertemu. Tiba-tiba wajahnya merona.


"Kakak pertama, kamulah alasanku bersedia menjadi adik keduamu." Gumam lirih Jessika. Matanya berkaca-kaca menahan sesuatu.


Jessika dengan cepat mengangkat wajahnya dan mengusap matanya serta mengukuhkan hatinya. "Tidak. Aku harus kuat. Inilah jalanku dan pilihanku. Sedari awal aku telah menyakiti hati seseorang dan aku tidak ingin terjadi yang kedua kalinya. Bahkan aku belum meminta maaf atas kenaifanku." Batin Jessika lalu melangkah kembali ke meja tempat mereka berempat berkumpul sebelumnya.


Sementara itu Andri yang sebenarnya tidak tidur, menahan degup jantungnya yang tidak berhenti berdetak kencang. Dari awal dia tahu apa yang dilakukan Jessika padanya. Tanpa disadarinya, setetes air mata mengalir dari sudut matanya dan membasahi bantal Jessika. Dia membawa semua masalahnya ke dalam lelapnya saat itu juga.


Jessika duduk dengan tenang di kursi. Menata hati dan jiwanya agar tidak menggoyahkan keyakinannya selama ini. Sebagai seorang perempuan yang rapuh, bisa saja dia tumbang suatu hari nanti sekuat apapun dia. Takdir itu, hukum alama yang sudah menjadi kodrat seorang wanita.


Dia samar-samar teringat dengan nama Andri, namun dia tidak tahu dimana pernah mendengarnya atau mengenalnya. Setiap kali mengingat hal itu, seperti ada sesuatu yang hilang. Ibarat puzle yang satu kepingannya disembunyikan, kira-kira begitulah yang dialaminya sekarang.


"Kakak kedua."


Satu suara mengagetkan Jessika dari lamunannya. Sontak dia berdiri dan terlonjak dari tempat duduknya. Tang Xiao dan Denas telah berdiri di sampingnya dengan tersenyum.


"Sejak kapan kalian berdiri di situ?"


"Sebenarnya baru saja kak. Cuman kakak tidak menyadari kedatangan kami saat masuk. Kami pikir kakak kedua terkena ilmu guna-guna oleh Kak Andri." Jawab Denas sekenannya.


"Guna-guna apa. Dasar kalian membuat orang khawatir saja. Sini kakak kedua jewer kuping kalian." Balas Jessika sambil menggulung lengan bajunya dan hendak menjewer kuping dua adik nakalnya.


Tang Xiao dan Denas berlari menghindari tangan Jessika. Mereka berdua tertawa.


"Kakak kedua ampun. Kami bukan anak nakal." Ucap mereka berdua berlari mengitari meja makan menghindar dari kejaran Jessika.


"Sebagaik kakak sudah sewajarnya mendidik adiknya yang bandel dan keras kepala. Sini kakak buat perhitungan." Balas Jessika tak mau kalah. Dia berlari-lari kecil menangkap Tang Xiao dan Denas yang tertawa-tawa kecil sambil menghindarinya mengitari meja makan mereka.


Andri yang terbangun dari tidurnya duduk menopang dagu melihat ketiga adiknya berkejar-kejaran seperti anak kecil. Dia tersenyum lebar. Hal sederhana seperti ini memenuhi hatinya, menghangatkan, mengukir kenangan, menjadi sesuatu yang tak bisa dilupakan meski raga sudahpun dimusnahkan.


"Tetua muda, waktunya makan siang." Seorang laki-laki tua masuk ke dalam tenda dan memberi hormat. Dia sempat tertegun saat melihat tetua mudanya mengejar-ngejar dua orang pemuda yang sempat menyelamatkan mereka. Sedangkan yang seorang lagi memandang mereka penuh arti dari tempat tidur tetuanya. Berbagai macam prasangka memenuhi banak laki-laki tua itu. Dia tidak tahu apa yang telah dilakukan tetua muda mereka bersama dengan tiga pemuda tampan selama badai berlangsung.


Jessika, Denas dan Tang Xiao segera menghentikan tingkah mereka. Mereka terlihat kaku saat ditatap oleh laki-laki tua dengan pandangan penuh curiga.


"Tetua Lao. Jaga pikiran anda jika tidak jangan salahkan aku melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan untuk anda. Ini tidak seperti yang anda bayangkan." Ucap Jessika dingin. Tatapannya mengandung niat membunuh.


Tetua Lao menelan ludag. "Mohon maafkan kesalahan orang tua bodoh ini tetua muda." Ucap tetua Lao membungkuk. Walaupun tetua Lao memiliki kultivasi yang lebih tinggi dari Jessika, namun karena kedudukan Jessika yang lebih tinggi dari tetua Lao dan sebagai calon Ketua Sekte Azure Dragon, tetua Lao mau tidak mau harus menghormati Jessika.


Terlebih saat ini kultivasi Jessika yang sudah berada di ranah Legend bintang dua di usia baru menginjak tujuh belas tahun. Seorang 'monster' dari Sekte Azure Dragon. Sedangkan di usia semuda itu, tetua Lao baru berada di ranah Grand Master dan saat ini kultivasi tetua Lao masih berada di ranah Legend bintang sembilan. Suatu perbedaan yang sangat jauh. Hanya masalah waktu saja bagi Jessika melampaui kultivasi tetua Lao.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Up setiap hari tapi tidak tentu kapan -sekadar info-