
KEHIDUPAN PERTAMA.
Oek...Oke..Oek...Oek...
"Selama tuan, anak anda telah lahir dengan selamat dan sehat. Seperti ibunya, dia sangat cantik dan imut." Seorang bidan wanita menyerahkan bayi perempuan yang baru lahir kepada seorang pemuda tampan. Pemuda itu menerima anak itu dengan terharu dan air mata mengalir.
"Selamat datang ke dunia ini anakku." Ucap pemuda itu haru. Lalu dia berpaling ke istrinya yang lemah tersenyum bahagia.
"Sayang, terima kasih telah bertahan. Terima kasih telah berjuang. Terima kasih telah memberikan kebahagiaan yang sempurna ini." Ucap pemuda itu sambil mencium kening gadis istrinya dan membelai lembut kepalanya.
Istrinya itu hanya tersenyum lebar mendengar ucapan suaminya. Dia mengusap air mata yang mengalir dari pipinya.
"Sayang, seharusnya aku yang menangis di sini. Melihatmu menangis bahagia ini hatiku terasa tenang." Balas si istri lembut.
Waktu berjalan seperti biasanya, tidak terasa waktu sudah berjalan dengan cepat dan sudah dua puluh tahun berlalu sejak bayi itu lahir. Kini dia telah menjadi seorang gadis pujaan setiap pria di kotanya. Gadis itu didik dengan adab bangsawan yang luhur dan berpendidikan yang tinggi. Gadis itu tumbuh dalam pingitan asuhan keluarganya. Meskipun begitu dia tumbuh menjadi gadis yang mandiri dan matang, kuat dan cerdas.
Ayah ibunya adalah orang yang sangat ketat terhadap pendidikan dan pergaulan sehari-harinya. Tidak ada yang mengetahui kecantikan gadis itu kecuali para pelayan di rumahnya.
Walau begitu, kecantikannya yang semerbak kasturi itu tetap tercium oleh para kumbang jantan yang haus akan manisnya madu.
Beberapa bangsawan tingkat tinggi telah datang dan meminang gadis cantik itu, namun sayangnya tidak ada dari mereka yang mampu memetik mawar merekah itu.
Karena lelah dengan semua itu, gadis cantik itu kabur dari rumah dan menyamar menjadi rakyat biasa yang berkelana. Dia pergi ke desa-desa, kota-kota serta Kerajaan lainnya untuk menghindari orang-orang yang datang meminangnya.
"Nona, siapa anda dan kenapa bisa terluka begini?" Tanya seorang pemuda kepada gadis itu yang sedang berteduh di bawah pohon setelah melawan beberapa Beast.
Gadis itu menoleh kepada pemuda yang bertanya. Dia sedikit terkejut karena tidak merasakan kedatangan pemuda di hadapannya ini.
"Maaf saya hanya seorang pengelana." Jawab gadis itu datar sambil mencoba memulihkan luka-lukanya yang cukup parah.
Pemuda itu menggelengkan kepalanya.
"Sungguh gadis yang keras kepala." Batin pemuda itu lalu menaruh pedangnya di tanah dan berjongkok di depan gadis itu.
"Apa yang kau lakukan. Jangan macam-macam denganku. Walaupun aku terluka parah bukan berarti aku tidak bisa membunuhmu." Ucap gadis itu mengambil pedangnya dari cincin ruang miliknya kemudian menghunuskannya ke leher pemuda di depannya.
Pemuda itu terkejut melihat gadis itu mengeluarkan pedang yang sebelumnya tidak ada. Lalu pemuda itu melirik jari tangan gadis itu dan menemukan sebuah cincin di jari manisnya.
"Bukan perempuan sembarangan. Kalo bukan dari sekte besar, atau keluarga kerajaan atau dari bangsawan tingkat tinggi." Batin pemuda itu menggeleng-geleng.
"Nona, anda sedang terluka parah dan Kebetulan saya adalah seorang ahli pengobatan. Izinkan saya mencoba memeriksa anda." Ucap pemuda itu lembut sambil memandang gadis di depannya.
"Kenapa aku harus percaya padamu dan alasan apa kamu mau membantu orang yang tidak kamu kenal?" Tanya gadis itu curiga.
Pemuda itu tersenyum. "Saya berasal dari asosiasi pengobatan." Ucap pemuda itu sambil mengeluarkan tanda pengenal miliknya yang berbentuk token dengan ukiran bunga Krisan di tengahnya.
"Alasan saya menolong anda apakah perlu sebagai seorang manusia? Kami para tabib tidak terlalu memikirkan alasan menyembuhkan orang-orang dan mendahulukan keselamatan dan nyawa di atas segalanya sekalipun itu adalah pihak musuh." Lanjut pemuda itu sambil menyimpan kembali token identitasnya di saku bajunya.
"Katakan alasanmu hanya karena ingin menyentuhku dan mengambil kesempatan langka lainnya, betulkan?" Tanya gadis itu tidak bergeming dan tetap menghunuskan pedangnya di leher pemuda itu.
"Jika ingin sudah saya lakukan sejak tadi tidak perlu meminta izin anda. Kami para tabib meskipun lemah namun memiliki tehnik melumpuhkan yang sangat kuat. Bahkan saya memiliki beberapa racun mematikan untuk melindungi diri saya." Balas pemuda itu tersenyum.
"Kami para tabib tidak seperti kalian para pendekar yang hanya mementingkan kekuatan, dan kekuasaan tanpa melihat sisi lain sebuah kemanusiaan. Terserah jika anda tidak ingin saya sembuhkan, mungkin kebaikan saya memang hanya untuk orang-orang baik saja." Lanjut pemuda itu mengambil pedangnya yang tergeletak dan perlahan bangkit berdiri tanpa menyentuh pedang yang terhunus ke lehernya.
Gadis itu terkejut dengan kepribadian pemuda di depannya ini. Tegas dan lugas, apa adanya tidak bertele-tele.
"Tuan tabib, demi rasa kemanusiaan anda bisakah anda membantu saya." Ucap gadis itu lembut dan mengubah nada bicaranya kepada pemuda yg sudah melangkah pergi itu.
Pemuda itu menghentikan langkahnya dan menoleh, dia tidak lagi melihat tatapan dingin seperti sebelumnya yang kini dilihatnya adalah tatapan memohon dan berbelas kasih.
Pemuda itu kembali berjongkok di depan gadis itu dan meletakkan pedangnya di samping. Dia mengeluarkan beberapa botol giok yang berisi herbal dari tas kecil di punggungnya.
"Maaf nona jika saya menyentuh anda." Ucap pemuda itu sambil membuka beberapa tutup botol herbalnya.
"Hemm.." Gadis itu mengangguk dan tidak berbicara apa-apa.
Pemuda itu mengangkat lengan kanan gadis itu yang dipenuhi dengan cakaran lalu meneteskan setetes cairan bening ke luka-luka gadis itu kemudian mengoleskannya ke seluruh luka di lengan gadis itu. Setelah mengoleskannya, pemuda itu membalut luka gadis itu dengan perban putih.
Gadis itu diam menahan rasa perih akibat bertemunya obat dan luka. Dia terlihat lega saat pemuda itu selesai memperban lengan kanannya.
"Sekarang mengobati luka di dada sebelah kiri Anda." Ucap pemuda itu dengan sedikit ragu.
Gadis itu terdiam sesaat tampak sedang memikirkan apa yang seharusnya dilakukannya. Setelah berpikir sejenak, gadis itu membuka baju lebarnya dengan wajah merona merah. Kemudian gadis itu membuka baju bagian dalamnya setengah dada dan membuka baju lapisan ketiganya hingga ke dada batas luka itu bisa disembuhkan.
Tampak lah kulit putih mulus di hadapan pemuda itu. Wajah pemuda itu juga merona merah bahkan hidungnya mimisan mengeluarkan darah. Otaknya ngelag melihat pemandangan di depannya yang belum pernah dilihatnya sama sekali.
"Sudahkah anda selesai memandangi tubuh saya?" Ucap gadis itu dingin sambil mengeluarkan aura menekan pemuda di depannya.
Pemuda itu tersadar dari lamunannya sambil memukul-mukul kepalanya dan tangannya.
"Ma.. maaf nona... Sa...saya tida senga..ja." Jawab pemuda itu tergagap dan meminta maaf.
Pemuda itu kembali fokus dengan pengobatannya. Dia melakukan hal yang sama dengan mengobati luka di lengan gadis itu. Dia mengoleskan obat dengan penuh debaran di dada, melakukan hal seperti ini adalah yang pertama kali dalam hidupnya.
Gadis itu juga merona merah wajahnya. Bahkan debaran jantungnya yang berdetak kencang dapat dirasakan pemuda itu. Gadis itu baru pertama kalinya membuka bajunya di hadapan orang asing meskipun hanya sedikit.
Tidak berapa lama, pemuda itu selesai dalam mengobati luka-luka gadis itu. Tidak ada percakapan sama sekali diantara mereka.
"Tuan tabib siapa nama anda?" Tanya Gadis itu setelah selesai mengenakan kembali bajunya.
"Nama saya Rangga nona." Jawab tabib Rangga sambil membereskan obat-obatannya.
"Anda tidak bertanya nama saya?" Tanya gadis itu aneh.
"Pantaskah saya yang rendahan ini mengetahui nama nona?" Jawab Rangga mengajukan sebuah pertanyaan.
"Anda adalah penyelamat saya, sudah seharusnya anda mengetahui nama saya." Jawab gadis itu sambil memberi isyarat kepada Rangga untuk duduk di sebelahnya.
"Sudah seharusnya bagi orang diselamatkan memberi tahu namanya tanpa perlu ditanya." Balas Rangga santai tidak peduli.
"Baiklah kali ini saya mengalah. Nama saya Anastasya." Balas Anastasya.
"Maaf nona Anastasya, saya tidak bisa berlama-lama disini. Saya harus melanjutkan perjalanan saya." Ucap Rangga bangkit dari duduknya dan mengalungkan tas kecil yang hanya bersisi obat-obatan.
"Tuan tabib tolong tunggu sebentar. Saya orang yang kompetitif. Saya tidak bisa menerima kebaikan anda yang berharga tanpa bisa membalasnya. Biarkan saya jadi orang baik yang tahu terima kasih." Ucap Anastasya bangkit dari duduknya. Dia merasa sangat takjub dengan pengobatan Rangga. Baru sesaat luka-lukanya telah pulih walau belum sempurna. Namun itu sudah cukup baginya mengeluarkan sembilan puluh persen kekuatannya.
Rangga berhenti. Dia terlihat berpikir sesaat.
"Bagaimana saya jika ingin dirimu?" Tanya Rangga memasang wajah serius.
"Aapaa... Jangan bercanda tuan Rangga. Saya tidak semudah itu." Jawab Anastasya sedikit meninggikan suaranya.
"Hahaha nona Anastasya, apa yang sedang anda pikirkan. Kebetulan saya sedang melakukan perjalanan ke suatu Negara dan saya rawan dengan keamanan saya yang selemah ini. Jika anda ingin berbuat baik, maka biarkan anda mengikuti dan melindungi saya hingga sampai ke tujuan saya." Ucap Rangga santai namun serius.
"Semudah itukah?" Tanya Anastasya. Rangga mengangguk pelan
"Baik saya setuju. Saya bisa berbagi pengalaman dengan anda." Ucap Anastasya mengulurkan tangannya.
Rangga menjabat tangan lembut Anastasya dan perjalanan hidup dan cinta kedua orang manusia dimulai dari sini.
"Karena sekarang kita adalah teman, tidak mungkin kita berbicara dengan formal, benarkan tuan Rangga?" Ucap Anastasya di perjalanan. Mereka berjalan kaki keluar hutan tempat mereka bertemu tadi.
"Saya setuju. Lalu seperti apa saya harus memanggil anda?" Tanya Rangga.
"Katanya setuju lalu kenapa masih bicara formal." Ucap Anastasya sewot.
"Oh ternyata kamu tidak sedingin yang aku kira." Balas Rangga setelah melihat ekspresi Anastasya.
"Sekarang kita adalah teman kenapa aku harus bersikap seperti itu kepada teman." Balas Anastasya.
"Sepertinya kamu dalam pendidikan yang tinggi selama di rumah." Balas Rangga.
"Jujur saja aku kabur dari rumah karena ketatnya pendidikan yang ku terima." Balas Anastasya.
"Hidup seorang bangsawan memang tidak semudah yang dibayangkan." Gumam Rangga. "Dan sepertinya kamu begitu tertekan." Lanjut Rangga.
"Tidak ada yang mudah hidup di dunia ini. Entah pendekar atau warga sipil setiap hari ada saja yang meregang nyawa dengan tanpa alasan."
"Lalu kenapa kamu masih kabur dari rumah jika sudah memahaminya."
"Aku kabur karena tidak tahan dengan semua teori tentang hidup. Aku ingi merasakan hidup sesungguhnya seperti apa. Di rumah aku ibarat putri, namun ketika di luar tidak ada satupun yang peduli."
"Kurasa aku adalah orang yang pertama peduli padamu setelah kabur dari rumah."
"Ya aku akui begitu. Karena itu juga aku tidak ingin melepaskanmu."
"Apa kamu berencana menyukaiku?"
"Tidak, aku tidak berencana. Aku kagum karena kebaikanmu yang tanpa pamrih menolong ku."
" Hemm.. Aku rasa penggemar ku telah bertambah satu orang."
"Aku berencana atau tidak itu bukan urusanmu. Aku ini laki-laki normal, jadi wajar jika suatu hari aku punya rencana itu."
"Aku harap kamu tidak punya. Keluargaku bukanlah orang yang mudah untukmu."
"Aku tidak peduli tentang itu. Hidupku adalah hidupku dan kebahagiaanku akan aku cari seperti apapun itu."
"Aku harap ketidak pedulian mu itu tidak berguna sama sekali."
"Tenang saja aku orangnya peduli kok. Kalo tidak, mungkin kamu sudah tidak berada di sini beradu kata denganku."
"Oh benarkah? Bagaimana jika aku berubah jahat dan mengambil nyawamu tanpa peduli kamu adalah penolongku?"
"Jika begitu, di kehidupan selanjutnya aku akan meminta pertanggung jawaban."
"Tidak peduli berapa kehidupan yang kamu lewati, aku akan ada di sana untuk membunuhmu."
"Tidak peduli berapa kehidupan yang akan kujalani, aku akan selalu meminta pertanggung jawaban."
"Jika begitu tidak akan aku biarkan kamu menjalani kehidupanmu selanjutnya."
"Tapi kamu tidak akan melakukan itu disaat kamu adalah seorang yang baik dan lembut hati."
"Sikap baikku bergantung pada orang yang memperlakukanku."
"Itu terserah padamu. Suatu hari kamu akan mengerti bagaimana bersikap seharusnya kepada orang lain yang berbeda meskipun dia memperlakukanmu dengan buruk."
"Hemm... Kita lihat saja nanti. Terima kasih telah mau menemaniku ngobrol seperti ini."
"Tidak peduli seperti apapun, selama kamu ingin kamu berbicara selama itu pula aku akan menemanimu."
"Hem.. Di depan sana sudah jalan raya. Ke arah mana kita seharusnya?" Tanya Anastasya sambil menunjuk beberapa anak jalan raya di depan mereka.
"Ke arah tenggara. Di sanalah ada seseorang yang ingin kutemui." Jawab Rangga.
"Apakah kekasihmu?" Tanya Anastasya lagi.
"Bukan, dia adalah saudariku. Ku harap kamu dan dia bisa berteman dengan baik." Jawab Rangga.
"Apakah tujuan utamamu adalah saudarimu itu?" Tanya Anastasya lagi.
"Tidak, tujuanku adalah untuk membunuh seseorang." Jawab Rangga dingin.
"Apaaaa...."
...…………...
Begitulah... Perjalanan mereka berdua menemui arah yang tidak disangka-sanga. Setelah berbulan-bulan dalam kebersamaan, seperti kata pepatah Weting Trisno Jalaran Soko Kulino. Cinta itu datang karena seringnya bersama.
Sayangnya cinta mereka tidak semudah yang dibayangkan. Badai besar menghadang dan menghalangi cinta mereka dari orang-orang terdekat mereka. Cinta yang beda kasta itu mendapat haluan luar biasa dan menyakitkan. Semua orang seolah bekerja sama menghalangi cinta mereka.
Mulai dari surat yang berstempel pihak kerajaan hingga duel hidup mati di atas arena seperti yang sedang terjadi saat ini.
"Kakak Rangga kumohon, tolong berhentilah. Mereka bukan lawanmu." Teriak pilu Anastasya dari luar arena kepada Rangga yang sudah tidak dapat berdiri dengan tegap.
Anastasya yang hendak menolong Rangga di atas arena, segera di halau oleh beberapa pendekar tingkat atas.
Sedangkan Rangga sendiri sedang menghadapi lima orang pendekar yang lebih tinggi darinya. Dia saat ini bertumpu di atas pedangnya akibat luka-luka yang diterima sangat fatal.
Dia memandang Anastasya yang berdiri bercucuran air mata di bawah arena. Dia mencoba memberontak orang-orang yang menghadangnya.
"Aku masih mampu melawan mereka. Kamu adalah kebahagiaanku kamu harus tetap bahagia. Aku tidak mau melihatmu terluka sedikitpun. Berhentilah mengkhawatirkan aku dan duduk manislah sambil menonton dan menyambut kemenangan ku" Balas Rangga dari atas arena.
Kondisinya sangat memprihatinkan. Beberapa luka tebasan pedang dan tusukan tombak di badannya mengeluarkan darah yang cukup banyak.
"Anak muda, kamu memang hebat bisa bertahan dari kami berlima ketika kami mengeluarkan jurus andalan masing-masing." Seorang dari lima orang di atas arena memberinya tepuk tangan.
"Sayangnya bakatmu ini tidak berguna melawan kekuatan absolut." Ucap seorang lagi.
"Pergilah dari sini dan jauhi nona Anastasya kami." Yang seorang lagi tertawa mengejek
Rangga tertawa panjang di atas arena.
"Bukan kalian yang berhak menentukan pantas atau tidaknya aku. Kalian sebaiknya simpan urat malu kalian dan kembali lawan aku." Ucap Rangga dingin.
"Oh semut yang hampir mati masih berani menggigit, ini rasakan." Ucap seorang yang lebih tua dari mereka melompat ke arah Rangga dan menusuk dadanya.
"Tidakkkkkkkkk......." Teriak histeris Anastasya dari luar arena.
Wusshh...
Wuussh...
Craasshhh.....
Pedang yang dingin dan berlumuran darah itu menusuk tepat di jantungnya. Darahnya berlumuran darah tanpa henti. Semua orang tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Akhir yang menyedihkan.
"Ti...dak... hikss.... ti...dak.... Ka...lian..tidak...boleh...menyen..tuh... kakak... Rangga...." Ucap pelan Anastasya yang telah berdiri di depan Rangga dan menerima tusukan pedang itu tepat di jantungnya yang harusnya diterima Rangga di dada sebelah kanannya.
Badannya terkulai lemas dalam pelukan Rangga.
"Kakak... Teri..ma..kasih.....telah.... mencintai ku...sepe...nuh...hati.... akan...kubalas...cinta... i..ni... di....ke...hi..du...se...la..n...jut...nya...." Ucap Anastasya semakin lemah dan lemah hingga akhirnya tangannya yang membelai wajah Rangga terkulai di tanah. Tubuhnya berubah jadi dingin dan kaku, nafasnya sudah tidak berhembus lagi.
"Aaaagghhhhhhhhhhh........." Rangga menjerit histeris di atas arena mengagetkan semua makhluk yang berada di sekitar.
"Tidak.... Hikss.... Adik Ana... Tidak... Hiks..... Aagghhh.... Adik.... Adik.... Hiks...." Air mata tak terbendung mengalir deras membasahi pakaiannya yang berlumuran darahnya dan darah Anastasya. Dia membelai-belai kepala dan pipi kekasihnya itu tanpa berhenti menangis.
"Adik.... Ana... Bukankah kita berjanji hidup bersama selamanya bahkan kematianpun tidak dapat memisahkan kita? Aku akan membuktikan hal itu." Ucap Rangga mengambil pedangnya yang tergeletak di sampingnya. Dia lalu menatap tajam wajah orang yang telah menusuk Anastasya hingga mati dan menatap wajah-wajah orang yang telah membuat mereka menderita sebanyak ini.
"Akan aku ingat wajah bajingan tak tahu malu seperti kalian. Di kehidupan selanjutnya akan aku tuntut bahkan kalian tidak akan pernah bisa lari dari tuntutan itu." Ucap dingin Rangga emosi. Semua orang hanya diam dan bisu tidak dapat berbuat apa-apa.
Rangga kemudian mencium pipi dan kening Anastasya.
"Dik Ana, di kehidupan ini kita tidak bisa bersama, maka kehidupan selanjutnya akan aku pastikan kita akan menghabiskan waktu bersamamu selamanya." Ucap Rangga.
Craasshhh...
Rangga menusukkan pedangnya ke jantungnya sendiri dengan tersenyum bahagia. Hidup ini memang tidak adil. Janganlah bersikap naif dan kekanak-kanakan seolah dirimu adalah yang pali benar, paling tersakiti, paling bahagia, paling menderita. Jangan menghukum orang lain hanya dengan sebatas apa yang kamu dengar dan lihat dari luarnya.
..................
"Tuan silahkan minum air ini?" Seseorang menghentikan langkah Anastasya.
"Ini air apa?" Tanya Anastasya curiga kepada orang yang berpakaian aneh itu sambil menyodorkan semangkuk air hitam.
"Air Pelupa Ingatan. Anda akan dilahirkan kembali dan ingatan Anda di kehidupan selanjutnya harus dilupakan." Jawab orang berpakaian aneh itu.
"Termasuk ingatan orang yang aku cintai?" Tanya Anastasya lagi.
Orang itu mengangguk. "Ya, semua ingatan kehidupan anda termasuk kehidupan orang yang anda cintai." Jawab orang itu.
"Bagaimana jika aku tidak meminumnya?" Tanya Anastasya lagi.
"Ingatan masa lalu akan begitu menyakitkan jika diingat di kehidupan berikutnya. Saya harap anda akan berpikir dua kali." Jawab orang itu.
Anastasya terdiam lalu berjalan ke arah jembatan berkabut yang ada di depannya.
"Bagaimana mungkin cinta yang begitu membahagiakanku dan kurelakan hidupku untuknya aku lupakan begitu saja. Cinta yang kumiliki ini adalah penawar rasa sakit dari ingatan yang lalu." Ucap Anastasya tanpa mempedulikan orang yang membawa mangkuk air itu.
"Berhenti tuan, sebelum melewati jembatan reinkarnasi anda terlebih dahulu harus meminum air ini." Ucap seseorang menghentikan langkah Rangga.
"Apakah orang sebelum aku meminum air ini?" Tanya Rangga kepada orang itu sambil mengambil mangkuk kecil berisi air hitam dari tangan orang aneh.
"Tidak, dia tidak meminumnya. Dia membiarkan ingatan tentang kehidupan cintanya tetap ada meskipun kehidupan selanjutnya. Aku taku orang itu tidak bisa bahagia." Jawab orang aneh itu.
"Tahukah kamu apa yang paling menyakitkan dan tidak membuatmu bahagia, tuan?" Tanya Rangga kepada orang aneh di depannya.
"Apa itu?"
"Yaitu tidak dapat bersama dengan orang yang kamu cintai yang merelakan hidupnya untukmu serta dipaksa untuk melupakannya." Jawab Rangga sambil membuang air hitam dari tangannya lalu berjalan melewati jembatan di berkabut di depannya.
"Huff... Apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa dua manusia itu begitu keras kepala?" Tanya orang aneh itu lalu mengambil mangkuk kecil dari lantainya dan kembali ke posisi sebelumnya.
"Apa itu cinta?" Gumam orang aneh itu tidak mengerti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf hari ini up-nya telat...