
Wuushh...
Wasit arena satu itu mengibaskan tangannya dan seketika darah yang berceceran di lantai arena serta potongan-potongan lengan Ling Hao, menghilang tak tersisa. Setelah itu dia memanggil ketua dari masing-masing kelompok yang bertarung selanjutnya.
...ARENA 1...
...BABAK ELIMINASI...
...LIGHTNING BLUE VS PLUM BLOSSOM...
Begitu juga dengan arena kedua. Bahkan pertarungan gelombang kedua telah mulai. Sebelumnya, pertanding dimenangi oleh Blue Dragon dengan anggota dua orang yang masih bertahan di arena. Saat ini arena dua terlihat lebih heboh, sebab di sana ada seorang kultivator di ranah Saint Expert yang meskipun sudah berusia hampir separuh abad.
...ARENA 2...
...BABAK ELIMINASI...
...RED ROSE VS BLACK TITAN...
Kelompok Red Rose terdapat seorang di ranah Saint Expert begitu juga dengan kelompok Black Titan. Sepertinya para panitia cukup faham dalam membentuk pertarungan kelompok secara adil.
Pertarungan di kedua arena berjalan lancar. Tidak ada hal membuat ngilu seperti yang terjadi di arena 1 pada pertandingan gelombang pertama. Namun begitu pertarungan tetap menarim karena di kedua arena sama-sama terdapat kultivator ranah Saint Expert yang bertarung.
Tentu saja tidak seperti sebelumnya, pertarungan diserahkan sepenuhnya pada yang kuat. Jika yang kuat kalah maka anggota lainnya juga akan kalah. Jadi yang bertanding hanya yang berada di ranah Saint Expert saja.
Tang Xiao menonton pertandingan tersebut agak di belakang para penonton lainnya. Ketika dia terlihat fokus menonton pertandingan, seseorang berdehem di samping.
"Ehemm... Sepertinya cukup menarik."
Tang Xiao menoleh, di sampingnya telah berdiri puteri Rina memegang sulingnya sambil terseyum ke arahnya di balik cadar.
"Puteri Rina, anda tidak bersama Raja dan Ratu?" Tanya Tang Xiao sambil menunjuk kursi yang diduduki Raja dan Ratu Kerajaan Nusantara. Tampak satu kursi mewah yang berada di tengah-tengah Raja dan Ratu kosong melompong. Semua orang sudah tahu bahwa itu untuk Puteri Rina.
"Jika aku duduk di situ, tentu saja aku tidak dapat membuat kelompok dalam turnamen ini." Jawab Rina yang sudah terlihat santai berbicara dengan Tang Xiao.
"Sebagai Puteri dari Kerajaan Nusantara, tentu saja tidak membutuhkan hal-hal seperti turnamen ini jika ingin memasuki Sekte Rembulan Emas atau Sekte Bintang Kejora." Balas Tang Xiao sambil melirik Rina yang berdiri tepat di sampingnya. Meski samar, Tang Xiao dapat mencium aroma wangi dari tubuh Rina.
"Memang sangat mudah bagiku untuk masuk ke dua Sekte besar itu, namun justru identitaskulah yang memaksaku harus bersikap keras pada diri sendiri dan berjalan di jalan yang penuh tantangan. Identitasku juga yang memaksaku untuk terus tegap dan kuat meski aku sudah tidak mampu lagi." Ucap Rina sambil menggenggam erat suling pemberian Tang Xiao.
Tang Xiao menoleh ke arah Rina yang tetap santai sambil melihat pertandingan yang berlangsung. Kedua orang itu berdiri paling belakang sehingga tidak ada yang menyadari kehadiran Puteri Rina dan Tang Xiao.
"Sesuai janjiku, jika kita bertemu kembali akan aku ajari cara menggunakan suling ini sebagai senjata." Ucap Tang Xiao sambil menunjuk suling putih di tangan Rina.
Rina tersenyum di balik cadarnya, dia mengagguk pelan dan menyerahkan suling itu kepada Tang Xiao lalu berdiri tepat di depan pemuda itu. Tang Xiao sedikit kaku melihat Rina telah berdiri di depannya hanya dengan jarak setengah meter saja.
"Puteri Rina, sebaiknya kita ke tempat yang lebih kondusif agar mudah dalam memahaminya."
"Baik, aku akan mengikuti tuan Tang sekalipun itu ke ujung dunia."
Tang Xiao melangkah meninggalkan kerumunan penonton diikuti oleh Rina di belakangnya. Mereka berjalan menuju taman ibu kota yang cukup jauh dari arena turnamen. Di taman yang luas dan indah itu, terlihat cukup sepi. Hanya ada beberapa orang yang tampak bercengkrama dan sepertinya mereka orang biasa bukan kultivator. Sepertinya semua orang ikut menonton turnamen yang berlangsung.
Tang Xiao membawa Rina ke taman yang dekat dekat air mancur berwarna warni. Di kolam air mancur itu terdapat ikan-ikan hias dengan berbagai warna berenang kesana kemari. Tang Xiao dan Rina duduk dibangku taman yang cukup sempit yang hanya bisa ditempati dua orang, itupun dengan jarak yang cukup dekat.
Tang Xiao mempersilahkan Rina duduk di sampingnya. Pemuda itu sedikit grogi saat aroma wangi kembali tercium dari tubuh Rina.
"Tuan Tang mau sampai kapan anda diam tanpa mengajarkan apapun." Ucap Rina setelah duduk cukup lama dan menunggu Tang Xiao bicara namun tak kunjung bicara.
"Eh iya.. Aku hampir lupa karena melihat ikan-ikan kecil itu saling berkejaran dalam air." Ucap Tang Xiao menyembunyikan groginya sambil menunjuk kolam air mancur tak jauh di depan mereka.
"Kenapa tidak melihat pemandangan di samping tuan ini?" Tanya Rina menggoda Tang Xiao.
"Ehem.. Terlalu indah untuk dipandang untuk pungguk rendah seperti diriku." Balas Tang Xiao tersenyum lebar.
"Aku bukan rembulan milik semua orang, aku hanyalah seekor kunang-kunang yang mencari kehangatan dalam dinginnnya malam."
"Oh tenang saja tuan Puteri, ini masih siang belum malam kok." Jawab Tang Xiao ngasal.
"Hihi.. Tuan Tang tampaknya suka bercanda."
"Puteri Rina, mau mendengar cerita asal usul seruling ini?" Tanya Tang Xiao mengalihkan pembicaraan.
Rina menoleh, "Tentu saja tuan Tang. Aku adalah seorang pendengar yang baik." Jawab Rina.
Tang Xiao mengubah posisi duduknya. Wajahnya terlihat serius, tatapan matanya seolah memancarkan keyakinan. Melihat hal itu, Rina menutup mulut melihat tingkah Tang Xiao yang lucu menurutnya. Kemudian Tang Xiao mulai menceritakan asal usul seruling cantik. Didalam cerita itu, Tang Xiao membumbui sedikit kebohongan untuk menutupi identitasnya. Siang itu, Tang Xiao dan Puteri Rina semakin akrab, dan taman kota Paviliun Bintang adalah sesuatu yang menyakitkan bagi seseorang yang memperhatikan Tang Xiao dan Rina dari jauh. Orang itu memegang dadanya yang terasa ada batu besar menghimpit. Orang itu pergi dengan menahan rasa sesak di dadanya.
Sementara itu kelompok Hanzho dan Rangga sedang menonton pertandingan di atas arena. Bersama mereka telah ada kakek Lao yang ikut bergabung. Dua Naga yang bersembunyi di ilalang itu dan tidak ada yang mengetahui, tampak akrab berbicara.
Tetua Lan dan tetua Yan masih menanti dengan sabar orang yang mereka cari. Mereka berdua telah menyembunyikan aura ke titik hingga Rangga pun tak merasakannya. Mereka juga mengenakan cadar agar tidak diketahui orang yang mereka cari. Tentu saja yang mereka cari adalah Dewi Nawang Sari, pewaris tahta Kerajaan dari Benua Land Of Heaven.
...ARENA 1...
...BABAK ELIMINASI...
...SCORPION KING VS BLACK SCORPION...
Pertandingan yang cukup menggairahkan para penonton, karena kedua kelompok merupakan kelompok yang kuat. Yang paling rendah diantara mereka saja berada di ranah Legend bintang dua. Pertandingan kedua kelompok itu adalah yang paling menarik diantara kelompok-kelompok sebelumnya. Taruhan diantara para penonton juga semakin besar dan semakin banyak.
...ARENA 2...
...BABAK ELIMINASI...
...CRYSANTHUM VS WHITE DRAGON...
Arena dua tidak kalah menarik dari arena satu. Arena dua terdapat hal yang sangat menarik yaitu, Ririn satu kelompok dengan Silvie. Entah bagaiaman caranya dua orang itu bisa terlihat akrab, namun yang jelas kelompok lawan mereka sedang kewalahan melawan kedua gadis cantik itu padahal memiliki tingkat kultivasi yang hampir setara hanya beda satu atau dua bintang saja.
Dari kelompok White Dragon hanya dua orang yang maju yaitu Silvie dan Ririn. Sementara itu dari kelompok Crysanthum, semua anggota maju bersama, namun mereka terlihat sedang kesusahan hanya melawan dua orang gadis itu. Para penonton juga dibuat takjub dengan kelincahan kedua gadis itu.
Silvie begitu lihai dalam memainkan pedangnya. Dan tentu saja jurus pedang yang digunakannya itu tidak diketahui oleh para penonton, baru pertama kali bagi mereka melihat jurus pedang yang seakan sedang menari dibawah guyuran hujan itu.
Sementara Ririn juga seorang pendekar pedang. Jurus pedangnya yang terkenal dari Benua Land Of Sword meskipun jurus yang sudah dikenal, namun akan berbeda bila Ririn yang menggunakannya. Seakan mereka dapat melihat bunga-bunga yang bermekaran setiap kali Ririn mengeluarkan jurus-jurus pedang andalannya.
Ririn dan Silvie mengetahui bahwa lawan mereka sedang dalam keadaan terdesak, segera melancarkan jurus terakhir.
PEDANG HUJAN METEOR
PEDANG BULAN SABIT
Ririn dan Silvie mengeluarkan jurus andalan mereka. Di langit tiba-tiba muncul meteor yang turun deras seperti hujan. Sementara itu dari balik meteor keluar cahaya bulan yang menyilaukan lalu menghantam lima orang lawan mereka hingga terbang keluar arena menyisakan kepulan asap yang cukup tebal.
Wasit arena dua melambaikan tangannya menghilangkan kepulan asap. Di atas arena telah berdiri tegak Silvie dan Ririn dengan pose yang yang elegan. Mereka berdua sama-sama menyarungkan pedangnya lalu saling menatap kemudian terseyum merayakan kemenangan indah mereka.
"Pertandingan dimenangkan Kelompok White Dragon." Ucap sang wasit mengumumkan kemenangan Silvie dan Ririn.
Teman-temannya segera naik ke arena dan saling berpelukan. Kelompok mereka terdiri dari wanita semua dan yang paling muda adalah Silvie dan Ririn. Setelah selebrasi kemenangan, kelompok itu segera turun dari arena kemudian dilanjutkan pertandingan kelompok selanjutnya.
"Tuan Lao, cucu anda memang hebat seperti yang diharapkan." Ucap Rangga dari tribun penonton.
"Gadis yang bersama Silvie juga ternyata hebat. Aku tidak menyangka jurus pedangnya sudah dikuasai dengan sempurna diumur yang begitu muda." Jawab Kakek Lao santai.
"Tentu saja, ini adalah turnamen yang hanya diadakan puluhan tahun sekali. Sudah pasti setiap sekte melatih murid-muridnya pada tahap yang sempurna." Balas Rangga mengangguk.
"Namun, aku masih penasaran dengan gadis bertopeng yang melawan musuhnya yang lebih kuat darinya hanya sendirian bahkan memenangkan pertandingan itu." Ucap Kakek Lao sambil pandanganyannya menyisiri setipa kelompok mencari orang yang dimaksudnya.
"Aku juga tidak bisa melihat tingkat kultivasi gadis itu. Baru kali ini ada yang bisa menghalangi penglihatanku dan itu dari seorang gadis kecil. Membuatku malu saja." Ucap Rangga menggelengkan kepalanya.
"Nah itu kelompok gadis itu." Ucap Kakek Lao sambil menunjuk ke arah sekelompok anak muda bertopeng. Ya itu adalah kelompok Tang Xiao yang sedang menyaksikan pertandingan di arena satu.
"Hemm.. Memang aneh, teman-temannya yang lain telah menyembunyiak kultivasi mereka dengan sangat sempurna kecuali pemuda gempal yang berada di ranah Legend itu. Tapi jika dilihat lebih jauh justru anak iitu yang paling lemah diantara mereka." Ucap Rangga setelah memperhatikan sesaat kelompok Tang Xiao.
"Tuan Rangga mempunyai penglihatan yang bagus bisa mengetahui hingga sedetail itu. Kurasa kelompok itu akan menjadi lawan yang sangat tangguh untuk kelompok White Dragon." Balas Kakek Lao menanggapi ucapan Rangga yang juga dapat dirasakannya.
"Ya bisa jadi mereka dari Kerajaan-kerajaan maupun sekte-sekte tersembunyi yang sudah sangat lama tidak menampakan diri." Ucap Rangga.
"Ya bisa jadi seperti itu. Sejak ribuan tahun silam, telah begitu banyak sekte yang mengasingkan dirinya dari dunia ini dan hanya berusaha mencari keabadian. Salah satunya Sekte Rembulan Emas dan Sekte....
Meskipun kedua sekte itu telah menutup dirinya, namun mereka memberikan kesempatan kepada yang lain untuk memasuki sekte itu melalui jalur seperti ini." Balas Kakek Lao sambil memperhatikan pertandingan di kedua arena.
"Yah sampai saat ini hanya kedua sekte itu yang masih mau berhubungan dengan dunia luar. Sekte-sekte lainnya yang pernah besar di dunia ini tidak ada kabar sedikitpun dari mereka. Entah mereka masih ada atau tidak sulit sekali dijelaskan." Balas Rangga yang penglihatannya masih menyusuri para penonton.
Rangga terlihat sedang mencari seseorang, meskipun samar, aura orang itu sempat terasa sesaat dan tidak lama ini dia pernah menjumpai orang itu. Saat masih berada di kota Kerajaan Funisia sewaktu dia memainkan musiknya sebelum dia bertemu dengan kelompok Ranzo, orang itu pernah tinggal sebentar dengannya meskipun hanya dua hari. Namun sayangnya aura orang itu lenyap begitu saja tidak dapat diketahuinya kemana orang itu. Dia kembali melihat pertandingan di atas arena satu dan dua sambil terus mencari orang itu diantara ratusan para kultivator yang memenuhi lapangan.
......................
Di sebuah dimensi yang berada di Immortal Realm, tampak beberapa orang sedang melayang-layang memperhatikan ribuan dunia dari dimensi Mortal Realm.
Diantara ribuan dunia yang mereka perhatikan tiba-tiba sebuah dunia bersinar sangat terang hingga sinarnya itu menembus cakrawala. Makhluk transenden yang memperhatikan dunia itu tampak terkejut dengan kejadian itu. Seorang dari mereka mencoba memperbesar dunia yang bercahaya itu.
"Ini dari dunia manusia kah?" Tanya seorang dari makhluk transenden itu.
"Jika dilihat dari aura yang ada di dunia itu, tampak seperti dunia para kultivator. Dan jika dilihat dari cahaya menyilaukan tadi, sepertinya ada diantara mereka yang sudah mencapai ranah Immortal dan mungkin sudah berada di ranah Supreme God." Jawab yang lain menganalisa sambil memainkan jarinya memutar-mutar dunia visual yang berada di layar depannya. Dunia visual itu mewakili apa yang sedang terjadi di dunia itu secara real time. Begitu juga dengan dunia lainnya.
"Baiklah sebaiknya kita buka jalur portal ke dunia itu dan tarik dunia itu ke dimensi Immortal Realm. Jika tetap berada di dimensi Mortal Realm, keseimbangan Mortal Realm akan terganggu dan bisa terjadi hal yang tidak diinginkan." Ucap yang lain dalam ruangan itu.
"Lalu bagaimana dengan makhluk Immrotal dari dark dimensi? Dunia baru itu akan sulit beradaptasi dengan dimensi Immortal Realm dan lebih rentan terhadap serangan makhluk dark dimensi."
"Untuk sementara aku sendiri yang akan menjaga dunia itu sampai dunia itu sudah mampu melindungi dirinya sendiri." Ucap salah seorang yang tiba-tiba telah berada dalam ruangan itu.
"Ah Yang Mulia. Kami akan merasa tenang jika begitu." Ucap yang lain memberi hormat kepada pria yang berbicara tadi.
"Aku ingin mengetahui seberapa kuat sekarang ini makhluk dari Dark Dimensi yang sering mengganggu dan membuat onar di beberapa dunia yang lemah. Sebagai salah seorang penanggung jawab dimensi Immortal Realm, tentu aku harus menebus kelalaianku menjaga dunia yang telah hancur. Dan kali ini aku harus berhasil." Ucap pria itu kemudian menghilang dari ruangan itu tanpa jejak.
Orang-orang yang sudah terbiasa dengan pria itu kembali fokus ke layar depan mereka. Kini mereka sedang merencanakan bagaimana caranya masuk ke dunia itu tanpa membuat orang-orang di dalamnya ketakutan dan melawan. Serta bagaimana pergerakan mereka tidak diketahui makhluk Immortal dari Dark Dimensi.
Setelah cukup lama berunding mencari solusi dan kesempatan yang pas, para Immortal itu segera pergi dari tempat mereka menyisakan satu orang mengawasi gerak gerik orang-orang dari Dark Dimensi.
......................
Dark Dimensi adalah sisi tergelap dalam Immortal Realm. Dark Dimensi ini dihuni oleh berbagai macam makhluk Immortal yang sangat ganas dan banyak dari mereka adalah para buronan Immortal Realm.
Para penghuni Dark Dimensi berasal dari berbagai suku dan klan. Ada Klan Iblis, Klan Siluman, dan masih banyak klan lainnya. Ada juga klan Dewa Manusia yang menghuni Dark Dimensi karena melakukan kejahatan sehingga mereka dibuang ke sana. Bahkan ada satu orang dari Klan Dewa yang berada di ranah Almighty God dibuang dan diasingkan ke Dark Dimensi sebagai hukuman karena pernah membunuh tanpa alasan satu ras manusia biasa tanpa sisa.
Light Dimensi yang merupakan kebalikan dari Dark Dimensi tidak hanya dihuni oleh manusia saja. Ada juga Klan Iblis, Klan Monster dan berbagai klan dan suku lainnya yang hidup di Light Dimensi. Mereka yang tinggal dalam Light Dimensi harus mematuhi semua peraturan dan tata tertib yang berlaku. Jika tidak, harus berakhir di Dark Dimensi yang mengerikan
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Guyss😀😀
Maaf ni pada nunggu lama.
Dua minggu ini aku menjadi versi dari diri terburukku atau aku menyebutnya Kiris Iman. Ya dua minggu ini aku bukan diriku yang biasanya. Aku merasa sangat terpuruk dalam masalahku.
Yah, seperti apapun itu, sesungguhnya Tuhan itu tidak mencoba seseorang melebihi batas kemampuannya. Dan Saat ini secara bertahap, aku mencoba kembali menjadi versi terbaik diriku walau apapun yang terjadi.
Aku mengatakan ini bukan untuk dikasihani atau mendapat empati, namun untuk memberi penjelasan pada para readers budiman yang menanti kelanjutan novel ini agar tidak menduga-duga hal-hal yang tidak diinginkan.
Terima kasih para readers budiman yang masih setia di sini dan terus mendukung novel ini. Jujur saja, jejak tangan yang anda ketik di novel ini menjadi salah satu penyemangat paling besar bagiku dalam melanjutkan novel ini.
Alasannya masih ketidaktahuan
Apa dan siapa yang memulai,
mengapa sebenarnya kita berakhir?
Apakah kau tau kacauku tanpamu?
Pernahkah aku terlintas dalam pikiranmu, seperti namamu yang selalu di pikiranku?
Di saat itu, kuharap tak seorang pun melihat tangisku. Aku merindukanmu.