
"Hai kalian berhenti." Teriak salah seorang bertopeng menghentikan perjalanan Hendra Setiawan dan kelompoknya. Sepuluh orang bertopeng hitam itu mengenakan jubah merah terdapat lambang ular di lengan kanan jubah itu.
"Siapa kalian berani menghentikan kami." Balas salah seorang pengawal Hendra.
"Kalian tidak perlu tahu. Jika kalian ingin selamat serahkan harta dan gadis cantik itu." Seru orang bertopeng hitam lalu menampakkan kultivasinya yang berada di ranah Saint bintang lima diikuti oleh sembilan orang bertopeng lainnya yang rata-rata berada di ranah Saint bintang empat atau lima kecuali satu orang yang berada di ranah Ancestor bintang bintang dua yang terlihat seperti pemimpin para manusia bartopeng itu.
Hendra yang melihat kultivasi orang-orang bertopeng itu menelan ludah. Dia yang berada di ranah Legend bintang dua hanya akan menjadi bulan-bulanan para berandalan bertopeng itu. Diantara para pengawal yang dibawanya yang terkuat hanya berada di ranah Saint bintang enam dan itupun hanya satu orang tentu tidak akan mampu melawan sembilan orang bertopeng di ranah Saint bintang lima.
"Hei kalian para manusia bertopeng sialan, tidak kah kalian tahu siapa aku. Aku adalah tuan muda dari keluarga Setiawan. Empat keluarga besar Kekaisaran Mauriya dan beraninya kalian merampokku? Nyali dari mana yang membuat kalian berani congkak dihadapanku." Ucap lantang Hendra sambil melirik gadis di sebelahnya yang terlihat santai dan biasa saja.
"Nona Silvie sebaiknya nona mundur dulu biar aku akan menghadapi mereka." Ucap Hendra yang mendekati kuda Silvie dan memegang kedua tangan gadis itu.
Silvie menarik tangannya dari genggaman Hendra. Dia yang belum pernah dipegang tangannya menjadi malu.
"Terima kasih kak Hendra." Ucap Silvie malu. Dia mundur ke samping kakeknya dan membiarkan Hendra beserta pengawalnya menghadapi orang-orang bertopeng itu.
......................
"Apa?" Seru Jessika terkejut mendengar penuturan adik keempatnya, Denas.
Denas mengangguk pelan.
"Adik keempat sejak kapan?" Tanya Jessika tidak percaya setelah terdiam sejenak. Dia masih belum percaya cerita Denas sepenuhnya.
"Sudah lama. Aku memang suka begini untuk kehati-hatian aja." Tutur Denas jujur.
"Lalu kakak pertama dan adik ketiga mengetahui hal ini gak?" Tanya Jessika lagi.
Denas menggelng. "Aku tidak berniat memberi tahu mereka untuk saat ini."
"Mau sampai kapan seperti ini terus?" Tanya Jessika lagi.
"Aku juga tidak tahu kak. Entah kakak pertama dan kakak ketiga akan menerimaku atau tidak nantinya." Jawab Denas seakan putus asa.
Jessika mendekat dan menggenggam erat pundak Denas.
"Kakak percaya mereka akan menerimanya. Adik ketiga meskipun kadang terlihat dingin namun dia orang yang sangat perhatian. Kakak pertama dengan sifatnya yang ramah tidak mungkin tidak menerimanya." Ucap Jessika menenangkan Denas sekaligus membesarkan hati adik keempatnya.
"Kakak kedua aku harap bisa menjaga hal ini. Aku mengatakannya pada kakak karena aku percaya kakak bisa menjaganya. Hanya kakak satu-satunya harapanku di sini." Ucap Denas sambil menatap Jessika.
Sesaat Jessika merasa terpana dengan wajah Denas.
"Tenang saja sebagai kakakmu ten1tu tidak akan tega melihat adiknya dalam kesedihan. Biar nanti kakak yang akan menghajar kakak pertama dan adik ketiga jika mereka tidak menerima hal ini." Ucap Jessika tegas.
Denas tersenyum simpul melihat tingkah kakak keduanya ini.
"Lalu pada kemana kakak pertama sama adik keempat? Kenapa mereka tidak masuk-masuk." Ucap Jessika melihat sekeliling di dalam tenda. Saat dia terbangun dari tidurnya, dia tidak melihat Andri yang sedang berkultivasi dan juga tidak melihat Tang Xiao yang sering duduk di dekat Andri. Dia hanya melihat Denas yang tertidur pulas sekali seperti bayi. Tak lama kemudian Denas bangun dan menceritakan sesuatu saat melihat tidak ada Andri dan Tang Xiao dalam tenda.
"Awalnya aku ingin menutupi ini dari kakak kedua juga. Namun akan lebih baik jika kakak kedua tahu dan membantuku nanti." Ujar Denas kemudian.
Jessika medesah pelan. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan adik keempatnya ini. Namun alasannya menutupi ini semua bisa sedikit dimengerti.
"Lalu bagaimana dengan keluarga adik keempat?" Tanya Jessika kemudian.
"Entahlah. Yang pasti aku tidak akan kembali ke sana untuk beberapa lama sampai aku cukup kuat."
"Bukankah kamu saat sudah kuat. Dengan kultivasi seperti ini di usia yang masih belia, kamu sudah dianggap jenius monster diantara para jenius. Aku yang saat ini saja sudah bukan lagi lawanmu."
"Masalahnya tidak sesederhana itu kak. Aku baru bisa memutuskan hidupku sendiri jika sudah berada di ranah Saint Expert sebelum usia dua puluh tahun." Jawab Denas mendesah pelan.
"Apa??... Ranah Saint Expert sebelum usia dua puluh tahun? Gila, benar-benar gila." Seru Jessika tak percaya sekaligus ngeri. Jessika serasa dibuat takut jika benar-benar ada kultivator ranah Saint Expert di umur dua puluh tahun. Rata-rata kultivator yang berada di ranah Saint Expert berumur lima puluhan tahun dan itu sudah dianggap jenius. Namun adik keempatnya ini dituntut harus sudah berada di ranah Saint Expert sebelum berusia dua puluh tahun, benar-benar tidak masuk akal. Tiba-tiba Jessika merasa bahwa beban yang disyaratkan keluarganya kepadanya benar-benar berat dan di luar batas kemanusiaan. Dia merasa adalah pilihan tepat bagi adiknya untuk menceritakan semua itu kepadanya. Dia merasa sangat mengasihani adiknya ini di usia yang begitu muda sudah mendapat beban yang tidak masuk akal. Sebagai kakak dia merasa tiba-tiba ingin menangis melihat kondisi adiknya ini.
Lalu tanpa segan dan mungkin nalurinya sebagai kakak, dia memeluk adik keempatnya ini dengan mata berkaca-kaca.
Denas yang dapat merasakan ketulusan kasih sayang dari kakak keduanya ini menjadi terharu dan balas memeluk dengan mata yang berkaca-kaca pula. Dia dapat merasakan kehangatan pelukan dari kakaknya yang begitu mengasihininya.
"Terima kasih kakak, terima kasih banyak." Hanya itu yang bisa diucapkan Andri di sela-sela pelukannya.
"Baiklah sekarang sudah pagi. Sudah waktunya membuat sarapan." Ucap Jessika melepas pelukannya lalu tersenyum. Denas mengangguk lalu bangkit mengikuti Jessika.
Tak lama kemudian Tang Xiao dan Andri masuk ke tenda dan melihat Jessika dan Denas sedang memasak, kedua orang itu duduk di meja. Tang Xiao yang hendak membantu memasak dicegah oleh Denas dengan mengatakan sebaiknya biar mereka berdua saja yang memasak. Tang Xiao pun mengangguk dan kembail ke tempat duduknya.
"Adik kedua kamu tidak menceritakan apa yang barusan terjadi?" Bisik Andri di dekat Tang Xiao sambil memperhatikan Jessika dan Denas yang sedang masak.
Tang Xiao menggeleng. "Tidak perlu Kak. Toh gak ada gunanya." Jawab Tang Xiao
"Kalo mereka meihat pertempuran tadi jawab apa nanti?" Tanya Andri lagi.
"Tentu mereka tidak akan melihatnya. Dimensi tempat kita melawan Iblis tadi telah aku pindahkan jadi mereka tidak akan tahu." Jawab Tang Xiao santai seolah semua itu angin berlalu.
Tapi tidak halnya dengan Andri. Dia menutup mulut saat terkejut dengan tuturaTang Xiao tadi. Dilihat dari segi manapun, Andri tidak pernah tidak merasa takjub dengan hal-hal luar biasa yang selalu dilakukan adik ketiganya ini. Entah itu dengan sengaja ataupun tidak.
Terlebih saat Tang Xiao melawan para Iblis Vajra tadi malam. Pertempuran yang berakhir hingga menjelang fajar itu, benar-benar membuat Andri terpukau dan tidak pernah percaya jika tidak melihatnya secara langsung. Dengan mudahnya, Tang Xiao mampu membunuh para Iblis itu tanpa terluka sedikitpun bahkan terkesan Tang Xiao hanya bermain-main dan tidak menganggap mereka sama sekali sebagai ancaman.
Padahal saat itu Andri merasa sangat ketakutan dan hendak kabur andaikan tidak dalam prisai energi, ketika kemuculan kloning Iblis Vajra yang sama kuatnya dengan Iblis Vajra itu sendiri.
Semua itu ibarat mimpi malam hari yang berlalu namun dia mendapatkan beberapa item yang sangat berguna untuknya berkultivasi. Diantaranya adalah kepala Iblis Vajra, tanduknya, jantung hitamnya, dan Demon Core yang terdapat di senjata masing-masing Iblis. Sebuah berkah yang tidak disangka-sangka tanpa perlu bersusah payah.
Andripun menjadi faham kenapa Tang Xiao tidak perlu menceritakan pertempuran barusan kepada Jessika dan Denas yang tidak akan percaya sama sekali. Siapa juga yang mau percaya dengan cerita seorang kultivator ranah Grand Master bintang sembilan mampu menang dengan mudah melawan sebelas Iblis Vajra yang ada di ranah Half God. Tidak, tidak akan ada yang percaya tanpa melihat langsung pertempuran itu.
Andri menghela nafas panjang. Semakin dia mengenal adik keduanya, semakin dia merasa asing dan jauh darinya. Walau terkadang sering berbuat konyol, namun jika telah berurusan dengan sesuatu yang berhubungan dengan nyawa, dia akan berbeda dari sebelumnya seolah dia memiliki kepribadian ganda.
"Kakak pertama apa yang kamu lamunkan? Jangan-jangan lagi membayangkan kakak kedua sedang memasak di rumah dan kakak pertama menggendong anak kalian yang masih kecil kan?" Ucap Tang Xiao menggoda kakak pertamanya yang terlihat sangat serius melihat ke arah Jessika dan Denas.
Cetuk...
Andri menjitak kepala Tang Xiao.
"Anak kecil memang harus dihukum karena nakal." Ujar Andri sambil memegang sebatang ranting kayu lalu mengejar Tang Xiao sambil pura-pura memukul betis betis Tang Xiao. Persis seperti seorang ayah yang mengajari anaknya karena nakal.
"Teng teng teng.. Waktunya sarapan." Suara Denas menghentikan perbuatan konyol Andri dan Tang Xiao. Aroma sedap dari makanan yang dimasak menggugah selera mereka semua.
Jessika dan Denas terlebih dahulu mengantarkan makanan yang telah dimasak ke tenda-tenda anggota yang lain.
"Semenjak tetua muda mendapat mengangkat saudara tiga pemuda tampan itu, sikap nona berubah drastis." Celoteh salah seorang dari mereka begitu Jessika dan Denas keluar dari tenda mereka.
"Shuutt.. Sudahi membicarakan tetua muda. Apapun yang terjadi nanti semoga tetua muda tetap akan baik-baik saja hingga misi ini selesai." Yang lain menimpali.
Anggota yang lain mengangguk setuju lalu mulai sarapan pagi yang setiap hari mendapatkan menu yang berbeda semenjak tetua muda mereka mengambil alih tugas pengkonsumsian. Sejak itu juga tetua muda mereka menjadi lebih hangat dan lebih ceria dari biasanya.
Entah apa yang telah terjadi, namun setidaknya mereka dapat melihat senyum riang dari wajah tetua muda mereka yang selama ini sudah lupa bagaimana cara tersenyum dengan benar. Kehadiran tiga pemuda tampan di kelompok mereka, membawa berkah yang tak ternilai.
"Kakak pertama berapa lama lagi akan naik ke ranah Saint?" Tanya Tang Xiao ketika sedang sarapan. Saat ini, Andri sudah berada di ranah Legend Bintang satu yang sebelumnya di ranah Grand Master bintang sembilan. Setelah melakukan kultivasi selama satu bulan penuh, Andri langsung naik melesat naik dengan cepat.
"Mungkin butuh waktu sekitar enam bulanan jika ada energi yang cukup." Jawab Andri terlihat berpikir tentang kecepatan kultivasinya saat ini yang sudah dibantu Akar Roh Surgawi serta Api Sembilan Surgawi yang sudah menyatu dengan dirinya.
"Masih sangat lama, sedangkan turnamen antar benua tinggal satu bulan lagi. Jika masih berada di ranah Legend, kita tidak bisa mengharumkan nama kita." Ucap Tang Xiao kemudian.
Andri, Jessika dan Denas diam sambil menikmati makannya. Mereka merasa setuju dengan pemikiran Tang Xiao tentang turnamen. Turnamen antar benua sangatlah bergengsi. Tidak heran jika banyak Kekaisaran besar di dunia telah mempersiapkan para jenius sejati mereka ikut berpartisipasi dalam kompetisi ini.
"Lalu apa rencana adik ketiga?" Tanya Andri kemudian.
Tang Xiao melambaikan tangannya lalu muncullah dua tempat batu berwarna biru yang dipenuhi dengan energi langit dan bumi. Semua orang terbelalak melihat dua batu besar yang lebih mirip ranjang itu.
"Ini adalah Permata Jade Biru yang berisi energi spiritual langit dan bumi. Kakak pertama dan kakak kedua berkultivasi selama sebulan ini. Kurasa Permata Jade Biru ini sudah cukup menaikkan kultivasi kakak pertama dan kedua ke ranah Saint bintang satu atau dua. Selama satu bulan kedepan aku dan adik keempat yang akan mengurus semua keperluan pasukan dan keselamatan mereka. Pokoknya selama satu bulan kedepan kakak pertama dan kedua harus berkultivasi tertutup dan tidak perlu mengurus hal lainnya." Ucap Tang Xiao datar. Dia melanjutkan makan tanpa melihat ekspreksi kakak pertama dan kakak keduanya.
Andri dan Jessika saling pandang. Mereka tidak mengerti apa tujuan dari adik ketiganya ini yang seenaknya memerintahkan mereka berkultivasi secara tertutup selama satu bulan penuh.
Tidaklah mudah menaikan tingkat kultivasi ke ranah Saint dari ranah. Rata-rata para jenius membutuhkan satu tahun agar bisa naik ke ranah Saint sedangkan bagi orang biasa butuh waktu dua atau tiga tahun untuk naik. Bahkan ada yang lebih lama dari itu.
Kini mereka berdua malah dipaksa naik ke ranah Saint dalam waktu satu bulan. Kecepatan yang benar-benar gila dan di luar akal. Ketika Jessika hendak menolak karena hal itu mustahil, Tang Xiao berkata duluan.
"Ingat, tujuan kita adalah memenangkan turnamen antar benua. Keluarga, sanak saudara, teman bahkan musuh akan melihat penampilan kita. Kakak pertama dan kakak kedua memiliki musuh yang banyak.
Kakak pertama yang sudah tidak dianggap sebagai keluarga dan bahkan dianggap sebagai aib, dibuang oleh saudara, dikucilkan teman-teman, dihina dan dicaci maki dan telah dianggap sampah tak berguna, sudah saatnya membalikkan semua ucapan para bedebah sialan itu. Sudah saatnya kakak pertama mengembalikan harga diri di depan keluarga, saudara, teman-teman dan musuh yang pernah menghina dan mencampakkan kakak pertama. Bungkam mereka semua dengan kekuatan dan buktikan bahwa sampah yang dulu menjadi aib telah menjadi permata tak ternilai harganya yang hanya ada satu di dunia.
Sedangkan kakak kedua, buktikan bahwa kakak memang pantas menjadi calon ketua Sekte Azure Dragon, buktikan kepada orang-orang yang tidak menerima posisi kakak agar orang-orang itu tahu tempat dan sadar diri. Buktikan kepada Ketua Sekte Azure Dragon bahwa dia tidak salah memilih kakak sebagai pewarisnya dan buktikan bahwa Sekte Azure Dragon memang pantas menjadi sekte terbesar di dunia.
Memang tidak mudah melalui hal itu, namun dengan tekad yang kuat serta keyakinan, semua itu bisa dilalui meskipun harus berjalan di atas pedang, berenang di lautan api, dan mendaki gunung berduri." Ucap Tang Xiao berapi-api. Gayanya bak orator ulung dalam menyemangati pasukan empat lima melawan para penjajah.
Andri dan Jessika terdiam mendengar pidato Tang Xiao. Kini tiba-tiba darah mereka mendidih dan ingin cepat-cepat naik ke ranah Saint dengam tidak sabaran. Mereka dengan senang hati menerima usulan adik ketiga mereka itu meskipun terlihat mustahil.
"Lalu bagaiaman dengan adik keempat? Bukankah dia juga perlu untuk meningkatkan kultivasinya ke ranah yang sama?" Tanya Andri yang tidak mengetahui kultivasi sebenarnya Adik keempatnya.
"Adik keempat sudah berada diranah Saint bintang dua." Jawab Tang Xiao lebih dulu sebelum Jessikan dan Denas menjawabnya.
"Apa? Sejak kapan?" Tanya Andri kaget tidak percaya.
"Hehe sejak kita pertama bertemu, aku sudah berada di ranah Saint bintang satu dan baru-baru ini meningkat satu bintang." Jawab Denas manyun.
"Kakak ketiga sudah tahu sejak awal tingkat kultivasiku. Sedangkan kakak kedua baru tadi pagi aku beri tahu." Sambung Denas tanpa melihat ekspreksi Kakak pertamanya itu yang dibuat takjub.
"Monster, benar-benar monster para jenius." Gumam Andri kagum.
"Kakak pertama tidak marah kepadaku sudah menyembunyikan hal ini?" Tanya Denas saat mendengat ucapan Andri.
"Ya tidaklah. Aku malah merasa sangat senang ternyata adik termudaku adalah yang terkuat." Jawab Andri bangga.
"Sekarang bagaimana dengan adik ketiga? Bukankah saat ini adalah yang terendah tingkat kultivasinya?" Tanya Jessika kemudian.
"Ya bukanhkan kami nanti akan menjadi beban jika tidak berkultivasi?" Tanya Denas sambil bercanda.
"Oh siapa bilang aku jadi beban. Inilah ranah kultivasiku sebenarnya." Jawab Tang Xiao membuka sedikit segel kekuatannya.
Wuushh..
"Apa? Ranah Saint bintang lima? Gila, monster diantara para monster." Gumam Andri, Jessika dan Denas yang terlonjak dari tempat duduknya karena ngeri melihat kultivasi Tang Xiao.
"Ah sudahlah aku tidak ada selera makan lagi. Lebih segera kultivasi." Ucap Jessika bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju Permata Jade Biru.
"Ah aku merasa gila dengan kenyataan seorang remaja berusia lima belas tahun berada di ranah Saint bintang lima. Aku akan segera berkultivasi dan jangan menggangguku." Ucap Andri yang juga menyusul Jessika dan segera duduk di atas Permata Jade Biru sebesar ranjang itu.
"Pfftt... Kakak ketiga berhasil membujuk mereka." Ucap Denas sambil menutup mulutnya menahan tawa.
"Namun kakak benar-benar berhasil menyembunyikannya dengan baik." Lanjut Denas lagi yang hanya dijawab Tang Xiao dengan tersenyum.
"Kakak pertama dan kakak kedua tenang aja. Aku memiliki tempat kultivasi yang sangat cocok untuk siapapun. Aku bisa berada di ranah seperti ini karena berkultivasi di tempat itu. Di tempat itu waktu berjalan lebih cepat. Jadi satu tahun di tempat itu sama dengan satu bulan di dunia ini. Kakak berdua bisa berkultivasi dengan tenang dan tidak perlu memikirkan tentang makanan selama berada di sana, sudah ada yang mengurusnya." Ucap Tang Xiao lalu melambaikan tangannya.
Wusshh...
Jessika dan Andri lenyap dari tempatnya tanpa meninggalkan jejak apapun. Denas terlonjak dari duduknya melihat kedua kakaknya itu tiba-tiba hilang entah kemana.
"Adik keempat tidak usah bingung. Kakak pertama dan kedua mulai saat ini sudah berkultivasi dan tidak akan keluar sebelum waktu yang ditentukan. Kita akan melihat sejauh apa kultivasi mereka setelah satu bulan nanti." Ucap Tang Xiao yang mengerti kekagetan Denas.
"Lalu apa rencana kita saat ini kak?" Tanya Denas kemudian
"Rencana kita menemukan rahasia gurun ini dan menemukan istana yang terpendam dalam waktu satu bulan serta keluar dari sini." Jawab Tang Xiao bangkit dan membereskan meja makan.
Denas berdiri dan membantu membereskan. Beberapa orang anggota Sekte Azure Dragon datang dan membawa barang-barang bekas makan makan yang telah dibersihkan.
Tak lama kemudian setelah membereskan meja makan, Tang Xiao membuka peta Gurun Fajar Merah pemberian Jessika sebulan yang lalu. Di peta itu terdapat beberapa tempat yang diduga menjadi pintu masuk menuju istana terpendam yang dirumorkan.
"Hemm.. Sepertinya ini adalah jalan yang benar menuju kesana jika melihat dari beberapa jalur yang telah kita lalui. Kakak kedua juga pernah bilang bahwa pintu ini pernah terjadi beberapa anomali yang mengeluarkan energi kuat." Gumam Tang Xiao mengamati peta di depannya.
"Baiklah waktunya kita menjelajah Gurun Fajar Merah ini." Ucap Denas penuh semangat.
"Ayo." Balas Tang Xiao melipat peta gurun lalu menyimpannya di ruang jiwa miliknya.
Kemudian Tang Xiao dan Denas ditemani anggota Sekte Azure Dragon melanjutkan perjalanan mereka. Tenda mereka hilang semua setelah Tang Xiao melambaikan tangannya. Seolah sudah biasa, para anggota Sekte Azure Dragon tidak lagi merasa takjub dan sudah biasa melihat kebiasaan Tang Xiao menghilangkan dan memunculkan tenda mereka dimana saja sesukanya.
Sementara itu jauh di bawah Gurun Fajar Merah, sekelompok makhluk sedang berdiskusi mengenai sekelompok orang yang akan berhasil memasuki tempat mereka.
"Tidak apa biarkan saja. Jika mereka mampu kenapa tidak kita berikan dan jika tidak mampu mereka sendiri yang akan menanggung akibatnya." Salah seorang yang terlihat sebagai ketua memutuskan perkara mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Agak telat upnya karena hari ini ada gotong royong dan semua wajib ikut.😈😈