
Tang Xiao manggut-manggut mendengar penjelasan Xiao Long. Walaupun sebenarnya ada beberapa hal yang telah diketahuinya. Kemudian Tang Xiao teringat akan beberapa hal.
"Baiklah Xiao Long, aku akan pergi dulu. Kalian bertiga lanjutkan saja percakapan yang tertunda"
"Tuan hendak kemana? "
" Ke beberapa dunia jiwa ku yang lain. " Kemudian Tang Xiao menjentikkan jarinya dan dia menghilang dari dekat Xiao Long. Xiao Long menghela nafas panjang kemudian dia berjalan ke arah dua sahabatnya yang masih bercengkrama.
Kini Tang Xiao berdiri di sebuah tanah luas yang dipenuhi berbagai macam tanaman herbal sejauh mata memandang. Langit biru diatasanya terlihat cerah. Tapi dia tidak menemukan matahari. Hanya langit biru tanpa batas di atasnya. Tang Xiao melihat sekelilingnya. Depan, belakang, kiri, kanan Tang Xiao terdapat herbal-herbal yang sangat langka. Bahkan tanaman herbal di dunia ini yang dianggap sebagai cerita, disini berserakan bagai jamur musim hujan. Bahkan di antara tanaman itu sudah berbuah lebat karena usianya yang mencapai jutaan tahun. Tang Xiao dapat membayangkan jika dunia tahu bahwa Tang Xiao memiliki tanaman seperti ini. Tang Xiao mengenali semua tanaman ini. Mulai dari Teratai Api Salju berumur 1 juta tahun, hingga Ginseng Madu Malam berumur ratusan juta tahun.
Setelah puas melihat-lihat tanaman sekitarnya, Tang Xiao kembali menjentikkan jarinya dan menghilang dari tempat itu. Kini Tang Xiao berada di satu ruangan yang sangat luas. Dinding ruangan itu terbuat dari giok hijau tanpa pintu maupun jendela. Terpampang di depan Tang Xiao tumpukan jutaan pil dengan berbagai macam jenis, khasiat dan ukuran. Mulai dari pil Pengembali Tenaga, hingga Pil Pengembali Anggota Tubuh dengan efektivitas 100%. Bisa terjadi peperangan skala benua jika orang-orang mengetahui Tang Xiao memiliki gunungan pil yang tak terhitung jumlahnya. Tang Xiao mencoba mengambil satu pil berwarna merah jambu kemudian memakannya. Namun pil itu tidak mempunyai efek apa-apa bagi Tang Xiao, hanya kesiuran angin ditubuhnya sesaat.
Setelah selesai melihat -lihat pil, Tang Xiao menjentikkan jarinya. Kini Tang Xiao berdiri di ruangan yang lebih luas dari tempat penyimpanan pil tadi. Di sisi kanan rungan, terdapat ratusan rak yang sangat besar berisi tumpukan senjata-senjata dan armor dengan berbagai macam tingkat. Yang terendah dari senjata dan armor berada di tingat Dewa. Aura yang keluar dari tumpukan senjata itu mampu membunuh seseorang yang berada di tingkat perunggu. Sedangkan di sisi kiri ruangan itu terdapat rak yang tak kalah jumlahnya dari rak sebelah kanan. Rak sebelah kiri itu terdapat tumpukan kitab jurus dan tekhnik. Tingkat yang paling rendah dari kitab-kitab itu adalah tingkat Nirwana.
Tang Xiao menjentikkan jarinya. Kini dia berada di tengah-tengah tumpukan harta yang sangat banyak. Ada permata, intan, mutiara, koin emas, uang kertas, serta emas tail. Setiap harta terdari dari satu tumpukan yang menggunung menjulang ke langit. Pucuk dari gunungan harta itu tidak terlihat dari bawah. Tang Xiao jatuh terduduk melihat itu semua. Dia tidak menyangka akan sekaya itu dirinya yang dahulu.
Kemudian Tang Xiao menjentikkan jarinya. Kini dia berada di satu tempat yang di dalam ada bola raksasa berwarna bening. Dalam bola itu terdapat berbagai macam roh-roh berterbangan. Ketika roh-roh itu melihat Tang Xiao mereka terduduk berlutut, dan mengucapkan sesuatu "Tuan...."
"Hemm... "
Tang Xiao hanyq mengangguk. Dia ingat bahwa roh-roh itu adalah roh jahat yang berkeliaran di alam semesta. Mereka sering melahap apa saja. Bahkan Lubang Hitam pun tak luput jika roh-roh itu kelaparan. Namun setelah Tang Xiao menangkap mereka semua, dia menundukkan mereka dan membuat segel di tubuh roh-roh itu, Tang Xiao menaruh mereka di bola itu. Bola itu telah disegel Tang Xiao dengan menggunakan hukum relativitas jiwa. Sehingga mereka tidak akan lapar sampai kapanpun. Kecuali mereka dikeluarkan. Sebagian roh-roh Itu telah dijadikan Tang Xiao sebagai roh senjata yang ada dalam gudang jiwanya. Roh yang sudah menjadi dalam senjata, tak akan pernah merasakan lapar dan haus selamanya.
Tang Xiao menjentikkan jarinya. Kini dia berada di dunia yang luas. Langit cerah mamayungi dari atas. Semilir angin bertiup sepoy-sepoy. Kicauan burung saling bersahutan membentuk ritme nada mengalun indah. Di depan Tang Xiao tampak jalan besar dari granit hitam berkelok-kelok menuju gunung dan lembah di depannya. Sebuah gunung tinggi menjulang ke langit. Pucuk gunung itu tertutupi salju yang terus turun dari langit seolah-olah lagi musim salju. Sedangkan di dekat gunung itu, terdapat lembah yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga tertata rapi. Kontras dengan gunung di sebelahnya, lembah itu panas dan cerah, seperti sedang musim panas.
Di sisi kiri Tang Xiao berdiri, terdapat sungai jernih yang luas. Di dalamnya terdapat berbagai jenis ikan dan ukuran. Di pinggiran sungai itu ada gazebo terbuat dari mutiara putih dan berkilau. Gazebo itu berderet rapi mengitari sungai. Sementara di sebelah kanan Tang Xiao, terdapat hutan hujan tropis yang sangat luas. Bau kayu basah tercium dari hutan. Berbagai macam hewan spiritual dan hewan buas serta hewan siluman terdapat dalam hutan itu. Tang Xiao lalu melihat kebelakangnya. Pemandangan di belakangnya membuat nafasnya tercekat. Sekitar 50 orang pemuda dan pemudi berbaris rapi merunduk ke arah Tang Xiao. Tingkatkan 100 orang itu berada pada Prajurit Ilahi. Jika salah seorang keluar ke dunia, maka lambaian tanganya saja mampu menghacurkan satu planet.
Tang Xiao mendekati Istana itu. Pemuda dan Pemudi yang berbaris memberikan jalan sambil merunduk dan berkata
"Selamat Datang kembali Tuan."
"Hemm....." Tang Xiao tersenyum. Dia tidak terbiasa diperlakukan seperti itu. Dia terus berjalan ke istana itu. Di hadapan istana itu dia terlihat sangat kecil. Pintu istana itu terbuka sendiri ketika dia sudah dekat dengan pintu itu. Dia sejenak tertegun. 'Hem.. Pintu otomatis ya...'. Tang Xiao berguman dalam hatinya. Begitu dia memasuki istana, harum minya misik tercium dari dalam. Keharuman itu membuat dirinya sangat nyaman. Di kehidupan keduanya ini, dia tidak pernah mencium harum semerbak seperti ini. Tang Xiao menghilang dari tempat dia berdiri menuju ke singgasana yang ada di ruangan itu. Dia begitu terpukau dengan kemegahan istana itu. Singgasana yang terbuat dari berbagai macam batu mulia nan indah. Permata kecil-kecil bertaburan di bawah tempat kaki diletakkan ketika duduk. Tang Xiao pun duduk di singgasana itu. Dia terlihat begitu gagah dengan rambut biru dan mata birunya itu. Perasaan yang dulu pernah ada, kini sedikit bisa dirasakannya. Tang Xiao tertawa lepas memikirkan dirinya sendiri. 'Hidup memang penuh mistri. Dari dulu aku selalu tak pernah berhasil menyingkap rahasia di balik dimensi kekosongan itu. Namun kini akan berbeda, aku akan melampaui kekuatan ku yang pernah ada dan menyingkap rahasia yang tak kuketahui .'
Tang Xiao menjentikkan jarinya. Tiba-tiba dihadapannya berdiri tiga orang abdinya. Dia tersenyum karena mampu menguasai ilmu teleport ruang. Kemudian Tang Xiao mendiskusikan apa akan dilakukan selanjutnya.
"Kami semua ikut keinginan Tuan. Kemanapun Tuan pergi jelas kami harus ikut."
"Baiklah... Sekarang ini aku ingin kembali ke sekte dulu. Ada beberapa hal yang harus aku lakukan."
"Apakah tuan akan membalas dendam ke orang yang menyengsarakan Tuan?" Tanya Xiao Long penasaran.
"Tidak, aku tidak seperti itu. Mereka sebenarnya orang baik. Namun ke egoisan mereka menelan hati mereka. Diberi sedikit pelajaran, mereka akan cepat berubah. Terlebih lagi jika keluarga mereka diancam, maka mereka akan terkencing-kencing di celana." Tang Xiao menyeringai seram. Aura diruangan itu tiba-tiba menjadi berat. Matanya yang biru menatap tajam ke depan. Nafsu membunuh keluar dari tubuhnya membuat ketiga orang abdinya menggigil.
Hahahaha.......
Tang Xiao tertawa lepas. Keadaan menjadi normal kembali. Ketiga abdinya dapat bernafas lega. Sesaat mereka dapat merasakan Dewa Kematian berada di dekat mereka. Tang Xiao membuat segel tangan. Di depannya muncul portal keemasan. Tang Xiao terbang ke arah portal itu dan memasukinya. Portal itu hilang bersamaan dengan masuknya Tang Xiao. Ketiga abdinya menarik nafas panjang. Tiba-tiba terdengar suara di kepala mereka 'Kalian tetap disini. Akan aku panggil jila aku membutuhkan kalian. Xiao Long jangan ganggu kedua saudaramu itu'. Ketiga abdinya itu tersenyum lebar. Terutama Xiao Yang dan Xiao Ying. Tanpa banyak bicara, Xiao Long menghilang dari tempat itu. Tanpa basa-basi, Xiao Ying menggenggam tangan Xiao Yang dan keluar dari tempat itu menuju taman indah di depan istana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa krisannya ya gaes 😀😀...