
Tang Xiao dan Denas berjalan keluar pintu tempat mereka berkumpul. Mereka keluar dengan tanpa mempedulikan orang-orang tua yang heboh atas perubahan yang terjadi pada tubuh mereka.
Tang Xiao dan Denas tidak tahu bahwa di luar sana sedang terjadi kegemparan besar. Kegemparan karena munculnya sebuah istana besar di Gurun Fajar Merah. Kemunculan istana itu bersamaan dengan munculnya cahaya biru keemasan yang saling bertaut dan naik menembus langit.
Orang-orang yang masih berada di Gurun Fajar Merah berkumpul bersama dan menunggu pintu gerbang besar yang mengelilingi seluruh istana dari segala sisi. Istana itu berwarna coklat tua dengan gaya artistik modern yang belum pernah dilihat orang-orang sekarang.
Sekelompok besar telah terbentuk dan bekerjasama untuk memasuki istana Gurun Fajar. Begitulah orang-orang di luar mengatakannya. Hiruk pikuk terdengar dari sana sini merencanakan apa yang akan mereka lakukan nanti.
"Kita memiliki dua orang kultivator ranah Holy Ancestor bintang tiga. Kita serahkan saja pada mereka. Hasilnya nanti biar mereka dapat separuh dan sisanya kita bagi-bagikan." Ucap salah seorang dari kelompok besar itu memulai pembicaraan.
"Saya setuju. Kita tidak tahu bahaya apa saja di dalam istana semegah itu. Jika ada pelindung sekuat mereka, asalkan bisa selamat dapat sedikit saja aku tidak masalah." Yang lain menimpali.
"Bagaimana jika mereka berkhianat?" Tanya yang lain yang masih ragu dengan usul tersebut.
"Kita akan membuat perjanjian resmi dengan mereka dengan mempertaruhkan kehormatan mereka sebagai kultivator tingkat tinggi. Sebagai salah satu kultivator tingkat tinggi dunia, mereka lebih mementingkan kehormatan dan martabat mereka daripada harta yang tak seberapa." Ucap yang lain membahas detail kerjasama.
"Ya aku juga setuju. Mari segera kita buat kontrak kerjasama itu sebelum mereka berubah pikiran." Ucap yang lain lalu mengambil tinta dan kertas kemudian membuat sebuah segel sihir di atas kertas tadi.
Permukaan kertas yang awalnya putih, kini tiba-tiba muncul tulisan berwarna hitam yang menulis detail kerjasama. Kemudian orang yang membuat segel itu membawa dan menyerahkannya kepada orang yang dimaksud. Setelah membaca seluruh kontrak kerjasama, dua orang itu mengangguk dan mengucurkan sedikit darah mereka di atas kertas kerjasama itu.
Setelah selesai dengan urusan itu, kedua orang yang dimaksud akhirnya bergabung dengan kelompok yang membuat perjanjian kerjasama. Orang-orang menyambut kedatangan mereka senang. Kini masalah keamanan tidak lagi mereka risaukan sebab sudah ada dua pelindung tingkat tinggi di sisi mereka. Saat ini mereka hanya perlu menunggu waktu agar pintu gerbang terbuka.
Beberapa kelompok yang lain telah mencoba membuka pintu itu dengan paksa dengan berbagai cara. Namun semua usaha mereka itu sia-sia bahkan serangan mereka mental kembali dan mengenai diri mereka sendiri. Akhirnya ketua itu menghentikan penyerangan dan lebih baik menunggu dari pada banyak yang terluka sebelum masuk ke dalam istana.
Boomm....
Tiba-tiba pintu gerbang itu pecah dan pecahannya berterbangan ke arah mereka. Kelompok-kelompok itu telah bersiap-bersiap dengan serangan yang akan terjadi nanti. Namun mereka tidak mendapati serangan itu melainkan dia orang pemuda tampan berjalan santai dari dalam istana itu. Mereka menjadi lebih waspada saat melihat kedua pemuda itu memancarkan aura yang menakutkan. Seluruh kelompok yang ada di area Istana Gurun Fajar mempersiapkan diri melawan dua pemuda tak dikenal yang tiba-tiba muncul dari balik gerbang yang pecah.
"Kakak ketiga, kenapa mereka ini?" Tanya seorang pemuda yang lebih kecil kepada orang di sebelahnya. Pemuda yang lebih kecil itu tampak bingung melihat kerumunan orang yang sedang bersiap-siap menyerang mereka.
"Mungkin mereka mengira kita adalah monster yang keluar dari istana." Jawab orang yang ditanya dengan santai tanpa teralihkan dengan ratusan orang di depannya.
......................
Tang Xiao dan Denas yang keluar dari dalam ruangan tempat mereka berkumpul sebelumnya, seketika langsung dapat melihat cahaya matahari yang menyilaukan.
"Ugh.. Cahaya matahari kenapa bisa masuk ke lorong ini? Apa jangan-jangan pasir di atas ambles ke bawah?" Tanya Denas sambil menghalau sinar matahari yang menyilaukan dengan kedua tangannya.
"Bukan pasirnya yang amblas, tapi istananya yang muncul ke permukaan." Jawab Tang Xiao melihat sekitaran yang telah berubah. Dari dalam lorong yang awalnya gelap gulita, kini terang dengan cahaya matahari siang.
"Hah Muncul?" Tanya Denas tidak mengerti lalu melihat sekelilingnya. Dia tampak terkejut dengan perubahan sekitarnya. Lorong yang gelap dan hitam telah tiada dan berubah menjadi lorong terang yang bermandikan cahaya matahari. Relief-relief yang ada di tembok kini dapat terlihat dengan jelas.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Gumam Denas.
"Semua terjadi karena cahaya emas yang menyegel istana besar ini telah tidak ada begitu juga dengan segelnya yang hilang seiring dengan tiadanya cahaya emas itu." Jawab Tang Xiao asalan.
"Apa memang ada kejadian seperti itu kak?" Tanya Denas masih tak percaya.
"Lah adanya kenyataan seperti ini." Jawab Tang Xiao mengangkat bahu.
Denas terdiam. Dia tidak sedang memikirkan ucapan Tang Xiao melainkan dia harus melaporkan sesuatu seperti ini kepada keluarganya. Mereka tentu harus tahu berita ini dengan cepat. Namun dia telah bertekad tidak akan kembali ke keluarganya sebelum menjadi kuat. Dan saat ini dia masih sangat lemah untuk kembali ke keluarganya. Dia mengurungkan niatnya itu. 'tidak lama lagi ayah pasti akan mengetahui hal ini. Biarlah aku tetap di sini bersama kakak ketiga.' Ucap Denas dalam hati sambil memandang Tang Xiao dari samping.
"Sebaiknya kita segera keluar dari sini sebelum ada kejadian yang tidak diinginkan di luar sana." Ucap Tang Xiao tanpa menoleh.
"Hem.." Denas mengangguk dan berjalan di samping Tang Xiao dengan perasaan malu.
Tak lama berjalan, mereka bertemu dengan kelompok Kevin yang jumlahnya tinggal sedikit. Sepertinya mereka menemui sesuatu yang tidak beruntung di dalam lorong.
"Apa kalian berhasil menemukan ruang utamanya?" Tanya Kevin penasaran saat melihat ada perubahan besar pada Tang Xiao dan Denas.
"Belum. Hanya saja kami menemukan sedikit keberuntungan yang tidak disengaja. Kami segera keluar dari dalam lorong, begitu merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada istana ini." Jawab Tang Xiao cepat sedikit berbohong sebelum dijawab Denas.
"Lalu bagaimana dengan tuan Kevin? Kenapa sisanya tinggal segini?" Lanjut Tang Xiao tanpa memberikan jeda kepada Kevin untuk mencerna jawaban Tang Xiao.
"Kami menemukan ruangan yang aneh dan akibatnya kami kehilangan banyak rekan." Jawab Kevin sedikit sedih.
"Apa kalian juga keluar karena merasakan keanehan istana ini?" Tanya Denas.
"Awalnya kami berlari keluar karena dikejar ular raksasa Mythical Beast tingkat sembilan. Beberapa rekan yang terlambat lari telah dilahap oleh ular itu. Kemudian kami berhenti di suatu ruangan yang cukup gelap setelah merasa tidak diburu ular itu. Sesaat kemudian, sebuah cahaya biru keemasan yang tidak diketahui asalnya menerangi seluruh ruangan tempat kami bersembunyi. Setelah cahaya itu hilang, istana ini tiba-tiba bergetar hebat dan kemudian berhenti. Kami keluar dari ruangan dan menemukan cahaya matahari yang menyilaukan. Kami baru sadar bahwa Istana besar ini telah muncul di permukaan." Jawab Kevin sambil mengingat-ingat kejadian yang baru dialaminya.
"Hem.. Cahaya biru keemasan? Cahaya dari mana itu?" Gumam Tang Xiao yang memang tidak mengetahui asal cahaya itu.
"Ah sudahlah lebih baik kita segera keluar dari istana ini. Sepertinya telah banyak orang berkumpul di luar sana." Gumam Tang Xiao berjalan mendahului kelompok Kevin sambil menarik lengan Denas.
"Kakak pertama, apa kamu percaya cerita ketua Kevin tadi?" Tanya Denas lewat pikiran saat dia dan Tang Xiao sudah sedikit menjauh dari kelompok Kevin.
"Hanya orang bodoh yang percaya cerita orang tua itu." Jawab Tang Xiao melepas lengan Denas setelah cukup jauh dari kelompok Kevin.
"Sebenarnya cerita orang tua itu benar loh." Ucap Tang Xiao santai.
"Hah? Benar dari segi mana kak?" Tanya Denas bingun.
"Benar-benar orang bodoh yang mempercayai cerita orang tua itu." Jawab Tang Xiao berjalan cepat mendahului Denas.
"Cih dasar gila!" Gerutu Denas dari belakang.
Setelah berjalan menyusuri lorong istana dengan cukup lama, akhirnya mereka tiba di pintu gerbang. Sebuah pintu yang cukup lebar dan tinggi menjulang. Seluruh istana di selimuti dengan energi penghalang sehingga tidak satupun yang bisa masuk lewat pintu. Hanya ada satu jalan yaitu pintu gerbang besar itu.
"Kakak ketiga, tidak ada satupun Mythical Beast atau monster yang menjaga lorong. Banyak lorong-lorong baru yang kita lewati padahal." Gumam Denas.
"Para monster itu yang sudah terbiasa dengan kegelapan, masih harus beradaptasi dengan cahaya matahari. Aku juga tidak dapat menemukan satupun dari mereka meski sudah menggunakan pencarian energi." Balas Tang Xiao tanpa menoleh.
"Hemm... Di luar kenapa tidak ada suara siapa-siapa padahal jelas ada begitu banyak orang." Ucap Denas sambil mendongak melihat gerbang besar di depannya. Ada tulisan besar di gerbang yang berjudul FORBIDDEN KINGDOM.
"Luar dan dalam telah dipasangi aray pelindung kedap suara sehingga orang luar tidak mendengar apapun yang ada di dalam begitu juga sebaliknya. Sepertinya dulu istana ini benar-benar seperti yang diceritakan orang-orang tua itu." Balas Tang Xiao sambil menyentuh gerbang besar di depannya.
"Dari segi historical, Istana ini mungkin akan berbuat seperti dulu lagi jika telah muncul di permukaan." Ucap Denas menoleh ke arah Tang Xiao.
"Tidak akan terjadi hal seperti itu. Istana ini telah terpasang Aray pengutuk. Jika penghuni di dalamnya berbuat sesuatu yang membuat umat manusia menderita, aray pengutuk yang ada di dalam istana ini akan aktif dan membuat para penghuni istana kembali ke dalam kegelapan tanpa pernah bisa melihat cahaya lagi sekalipun mereka telah mati." Jawab Tang Xiao santai.
"Dari mana kakak ketiga tahu hal itu?" Tanya Denas curiga.
"Setelah aku menyatu dengan cahaya emas di dalam, beberapa ingatan cahaya emas itu menjadi ingatanku. Dan yang paling penting adalah ingatan itu menyimpan cara untuk masuk ke Divine Realm tanpa bersusah payah. Pada dasarnya sih istana ini adalah milik kakak ketiga mu ini." Jawab Tang Xiao membusungkan dadanya.
"Hah? Istana seperti ini adalah milik kakak ketiga? Bukankah itu terlalu tidak masuk akal?" Tanya Denas mencibir tidak percaya.
"Itu benar adanya."
Pertanyaan Denas itu dijawab oleh orang dari belakang. Denas sedikit terkejut karena tidak merasakan kehadiran mereka. Dia menoleh dan mendapati bahwa orang-orang tua yang telah menjadi muda itu telah berdiri di belakang mereka. Diantara mereka ada kelompok Kevin yang sepertinya sedang dalam posisi tidak mengenakan.
"Maksudnya?" Tanya Denas yang tidak terlalu faham ucapan orang-orang itu.
"Sejak datangnya cahaya emas berjuta-juta tahun lalu, cahaya itu telah mengambil seluruh kepemilikan istana ini tanpa siapapun yang bisa membantahnya. Seluruh orang yang tidak setuju atas hal itu, mati mengenaskan. Saat itu istana ini menjadi lautan darah para pemiliknya sendiri. Seluruh manusia di istana ini musnah kecuali beberapa anak kecil yang dijadikan budak oleh pemilik sebelumnya. Melihat kami masih kecil, cahaya emas itu tidak membunuh kami malah memberi anak-anak kecil itu kekuatan hidup yang berlimpah. Cahaya emas itu mengajarkan anak-anak kecil itu berkultivasi dan menjadi abadi. Setelah beberapa puluh tahun kemudian anak kecil itu menjadi dewasa dalam asuhan cahaya emas itu. Ya anak-anak kecil itu adalah kami yang sekarang ini ada di depan kalian. Selama kami berada dalam asuhan itu, tidak satupun kami menerima perlakuan kasar darinya. Bahkan cahaya emas itu jauh lebih baik dari pada manusia yang kami kenal selama ini.
Sejak itulah kami mengakui cahaya emas itu menjadi tuan kami dan tidak akan pernah meninggalkan nya apapun yang terjadi. Setelah dirasanya cukup kami dalam berkultivasi, cahaya emas itupun tidur dan tidak pernah bangun hingga tuan Tang dan tuan Denas datang dan tuan Tang berhasil menyatu dengan cahaya emas itu. Dengan kata lain, cahaya emas itu sudah berubah menjadi tuan Tang dan tuan Tang adalah cahaya emas itu. Jadi apapun yang dimiliki cahaya emas itu juga menjadi milik tuan Tang." Jawab seorang laki-laki yang terlihat lebih kuat dari mereka.
Denas terdiam mendengar cerita orang itu. Dia menatap tajam ke arah orang itu dan tidak menemukan sedikitpun kebohongan di matanya. Meskipun tingkat kultivasi yang dimiliki oleh oleh sepuluh orang di depannya sudah tidak bisa dijangkaunya, namun tidak ada aura menindas yang keluar dari mereka. Itu menunjukan bahwa penguasaan kekuatan mereka benar-benar di tahap yang sempurna.
"Bukankah berarti aku juga termasuk salah satu pemilik istana ini?" Tanya Denas.
"Karena tuan Denas adalah saudara dari tuan Tang, berarti anda menjadi pemilik kedua dari istana ini." Jawab orang itu tersenyum.
Hup... Denas menutup mulut tidak percaya. Dia memandang Tang Xiao yang meminta penjelasan.
Tang Xiao mengangguk. "Adik keempat aku mempercayaimu. Jadi jangan sia-siakan kepercayaan ini padamu." Ucap Tang Xiao menepuk pundak Denas.
"Bukankah ini terlalu besar hanya untuk sebuah istana?" Tanya Denas melihat sekelilingnya.
"Memang seperti ini lah istana para penguasa pada zaman dahulu. Terlebih istana ini dibangun dengan darah orang-orang tidak bersalah. Saya harap tuan Denas dapat menjadi pemilik istana yang bijak sana." Jawab orang itu.
"Hem... Lalu kenapa kelompok orang tua itu ada bersama kalian?" Tanya Denas penasaran. Pertanyaan itu mewakili rasa penasaran Tang Xiao.
"Ketika kami keluar, mereka hendak menyerang kami melihat kami tidak menampakkan aura kultivasi. Sayangnya mereka bertemu dengan orang yang salah." Jawab orang itu lalu melemparkan Kevin dan kelompoknya ke pintu gerbang dengan keras.
Bomm...
Pintu gerbang yang besar itu terbuka akibat lemparan tadi. Dan orang-orang yang ada di luar mempersiapkan diri menghadapi penyerangan yang tidak dapat di tebak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih para readers yang mendoakan author baik secara tersurat maupun tersirat.
Bagi readers yang kuis namanya menjadi salah satu tokoh di novel ini, mohon bersabar ya. Kami tidak lupa kok🤗🤗
Hanya mencari tokoh yang sesuai dengan permintaan.
Mari saling mendoakan, apapun agamamu kita semua dituntut mendoakan kebaikan terhadap orang lain.
**Selamat hari lahirnya bangsa Indonesia. Semoga lekas sembuh Nusantara ku🤲🤲
"Ketenangan bukanlah berdiri di bawah payung ketika hujan, tetapi ketika mampu menari dibawah hujan."
-Dvntra**