The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 36. TETUA GUMEI



"Katakan siapa yang telah membunuh orang dari Aula Jiwa" Seorang tetua tua berkata ringan namun suaranya dipenuhi tenaga dalam sehingga mampu memekakkan telinga bahkan mampu membuat tuli seorang kultivator di ranah Master. Para pasukan yang tidak sanggup bertahan, berjatuhan di tanah dengan lemah. Telinga mereka mengeluarkan darah karena telah pecah akibat teriakan tadi.


Tetua yang berteriak tadi melihat orangnya telah tidak bernyawa tergeletak begitu saja di tanah, menjadi lebih marah. Dia mengeluarkan aura membunuhnya yang mampu menekan siapa saja.


Sekali lagi tetua itu berteriak " Katakan siapa yang membunuhnya jika tidak kalian semua tidak akan bisa melihat matahari besok."


Ancam tetua itu menambah tekanan di udara.


"Heh satu lagi sampah dari Aula Jiwa menyerahkan myawanya." Gumam Tang Xiao.


Ucapan Tang Xiao didengar oleh Tetua Aula Jiwa itu yang berhasil membuatnya seperi kebakaran jenggot. Tetua itu sangat murka wajahnya merah padam.


SWOSHH...


Aaakkk...


Tetua itu mengeluarkan aura yang begitu besar. Bagai badai yang menerjang, seluruh orang yang berada di sekitar tetua itu terhempas jauh termasuk Raja Park dan kelompoknya. Energi kemarahan yang keluar dari tubuhnya meluap-luap tak terbendung. Debu berterbangan menggumpal ke udara. Banyak prajurit yang berada di bawah ranah Master telah pingsan begitu terhempas jauh.


"Sudah kukatakan jika tidak ada yang mengaku maka tidak ada satupun diantara kalian yang bisa melihat matahari terbit besok pagi." Ucap tetua itu di tengah debu yang membubung. Walaupun aura tenaga dalam yang dikeluarkan tetua itu sudah berhenti namun sisa-sisa dari debu yang berterbangan masih sangat pekat.


Raja Park yang terhempas sejauh sepuluh meter mengumpulkan sisa-sa tenaganya untuk menolong anaknya yang tergelatak disampingnya dalam keadaan setengah sadar. Tubuh mereka dipenuhi debu. Raja Park melepas zirah anaknya dan menghalau debu yang berterbangan di sekitar agar bisa bernafas.


Huuuppp


Huuufff...


Pangeran Park menarik nafas panjang. Wajahnya memucat karena kekurangan oksigen untuk dihirup. Namun setelah beberapa kali bernafas rona wajahnya kembali seperti semula. Tabib Kim segera berdiri begitu dia terhempas dan mengeluarkan beberapa botol pil lalu meminumkannya ke beberapa prajurit yang ada di sisinya. Dia tidak peduli entah itu pasukan Kerajaan atau pasukan pemberontak. Sebagai seorang tabib, jiwanya merasa terpanggil untuk menolong mereka yang membutuhkan. Jenderal Kim juga segera bangun dan melakukan seperti yang dilakukan Raja Park pada beberapa prajurit dan komandan di sekitarnya.


"Dasar orang tua keras kepala, apakah orang-orang dari Aula Jiwa hanya pandai dalam menggertak?" Satu suara cukup lantang terdengar dengan jelas dibalik debu-debu yang berterbangan. Beriringan dengan suara itu, tiba-tiba angin kembali berhembus kencang. Namun kali ini, angin yang behembus kencang menghilangkan seluruh debu yang berterbangan seakan tidak pernah ada. Di balik angin yang keluar itu, ada sesuatu seperti buff yang memulihkan dan mengobati semua orang yang ada di medan pertempuran.


Begitu debu-debu itu hilang tak bersisa, semua orang terbelalak dengan mulut terbuka lebar. Tang Xiao, berdiri dengan santai menyilangkan tangannya ke depan dada. Terlihat cahaya kuning keemasan mengelilingi dirinya seperti shield pertahanan. Tang Xiao menatap tetua di hadapanya dengan tajam. Wajahnya tersenyum mengejek.


"Tetua tua, lebih baik anda segera pergi dari sini sebelum saya berubah pikiran. Dan ingat jangan lagi mencoba mengusik kerajaan ini apapun taruhannya. Jika tidak, maka Aula Jiwamu akan musnah dari muka bumi ini." Ucap Tang Xiao tegas yang diiringin niat membunuh yang begitu besar.


Melihat hal itu, semua orang itu melongo tak berbicara sama sekali. Mereka masih merasakan ketakutan akibat aura yang dikeluarkan tetua Gumei walaupun mereka sudah merasa tenang akibat energi yang dikeluarkan Tang Xiao.


Tapi saat ini mereka tidak mengerti apa yang telah terjadi antara Tang Xiao dan Tetua Gumei. Tetua Gumei yang berada di ranah Saint sedang ketakutan saat mendengar kata-kata dari seorang yang berada di ranah Grand Master? Tidak kah terlalu berlebihan dengan adegan ini? Mana mungkin seseorang yang masih sangat muda dan belum berpengalaman mampu menekan seseorang yang mempunyai kekuatan dan posisi hanya dengan kata-kata belaka? Ini tidak masuk akal. Adegan yang belum pernah terjadi sepanjang hayat dan tidak terbayangkan sama sekali telah disaksikan dengan mata kepala sendiri.


Semua orang yang melihat hal itu berspekulasi masing-masing dengan pikiran mereka dan berbisik-bisik dengan temannya.


"I...iya... Tu...tuan mu..muda... Ma..af te..lah meng..ganggu." Ucap Tetua Gu setelah merasa tidak lagi terkunci dan bisa berbicara. Satu portal muncul dihadapan tetua Gu dan dia segera memasukinya dengan terburu-buru dan ketakutan.


Suasana hening seketika. Para prajurit tudak berani berbicara bahkan tidak ada yang berani diantara mereka yang menarik nafas dengan kuat takut menyinggung monster yang sedang berdiri santai di depan mereka. Hanya terdengar suara desiran angin yang bertiup di lembah tempat mereka bertempur sebelumnya.


"HORE... KITA MENANG" Teriak Raja Park setelah mampu menguasai dirinya dari keterjutan tak terduga beberapa kali berturut-turut. Para prajurit segera menyadari apa terjadi juga berteriak penuh kemenangan.


HORE MENANG..


MENANG MENANG MENANG.


Para pasukan kerajaan bersorak-sorak ria gembira saling berpelukan senang. Pasukan pemberontak yang tersisa hanya bisa tersenyum kecut menerima kekalahan mereka dan menunggu hukuman apa yang sedang menunggu mereka di Kerajaan. Para pasukan kerajaan segera menangkap dan mengikat mereka agar tidak ada yang kabur atau lari.


Raja Park, Tabib Kim, Jenderal Kim dan Pangeran Park menghampiri Tang Xiao dan membungkuk setengah badan.


"Terima Kasih sebesar-besarnya tuan muda Tang Xiao. Sungguh basar jasa anda menyelamatkan negara ini." Ucap mereka bersama. Melihat hal itu Tang Xiao menjadi canggung.


"Sama-sama Yang Mulia Raja. Saya melakukan ini semua karena sebagai rasa terima kasih saya telah menyelamatkan saya saat pingsan di jalan kemarin." Balas Tang Xiao senyum ramah.


Raja Park yang sangat terharu atas perbuatan Tang Xiao segera memeluknya. Dia mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Tang Xiao dan mengatakan akan memberi hadiah yang sangat besar nantinya.


Setelah perayaan kemenangan kecil-kecilan itu berakhir, seluruh pasukan kembali ke kamp mereka sambil membawa pasukan pemberontak dan jasad kawan-kawan mereka untuk dibawa ke Kerajaan agar bisa dikebumikan dengan layak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...