The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 91. TANG XIAO DIJODOHKAN??



Alun-alun Kota Paviliun Bintang yang awalnya riuh dan ricuh karena hanya Tang Xiao yang tidak mendapat apa-apa padahal dia telah menjadi perbincangan hangat diantara para kultivator yang menonton pertandingannya, menjadi hening seketika saat merasakan dua hawa kehadiran yang jauh lebih kuat dari delapan orang sebelumnya tiba-tiba hadir begitu saja di atas kepala mereka. Seorang pemuda dan seorang pria tua.


Kedua orang itu segera turun ke podium dan berdiri menghadap ke Tang Xiao yang tidak terkejut dengan kehadiran mereka.


"Anak muda, terima kasih telah menyelamatkan kami meski sesaat. Jika tidak kamu mungkin kami tidak dapat berdiri di sini." Ucap kedua orang itu sambil mengepalkan kedua tangannya ke depan dada.


"Tidak masalah tuan. Saya tidak sengaja menemukan tuan saat hendak berlari menyelamatkan diri dari kejaran musuh." Jawab Tang Xiao singkat sambil mengepalkan kedua tangannya ke depan dada membalas hormat orang yang lebih tua darinya.


"Hahaha anak muda jangan panggil aku tuan, panggil saja kakek Lao. Dan kamu cukup hebat bisa bertahan di bawah tekanan pertempuran kami." Ujar Kakek Lao sambil menepuk-nepuk bahu Tang Xiao seolah kedua orang itu telah lama dekat.


"Nak Tang, bukannya kamu masih mengenalku?" Tanya Rangga tersenyum.


"Tentu saja paman Rangga. Aku tidak akan lupa tujuan kita setelah ini." Balas Tang Xiao terkekeh mendengar ucapan Rangga.


Kejadian tersebut disaksikan seluruh orang yang ada di alun-alun dan membuat mereka hampir tidak bisa bernafas.Seolah-olah orang-orang itu merasa iri dengan kejadian tersebut dan ingin berada di posisi pemuda berambut biru.


Wuushh..


Kakek Lao mengeluarkan dua buah permata sembilan warna dan sebuah pedang serta koin emas yang berjumlah dua juta koin lalu memberikannya kepada Tang Xiao. Selain itu, kakek Lao juga memberikan dua botol giok yang tidak diketahui apa isinya serta sebuah gulungan berwarna hitam. Tidak ada yang tahu gulungan apa itu kecuali seorang gadis muda yang berdiri tak jauh dari podium. Gadis itu menutup mulutnya tak percaya melihat gulungan itu diserahkan kepada Tang Xiao.


Tak mau kalah, Rangga juga memberikan dua buah permata sembilan warna sebesar kepala bayi serta dua botol giok yang tidak diketahui apa isinya serta koin emas dua juta koin. Tak hanya itu Rangga juga memberikan sebuah perkamen hitam yang tidak ada yang mengetahui apa itu.


Tang Xiao menerima itu semua dengan muka kebingungan. Dia kebingungan buat apa semua ini nantinya karena hampir semua pemberian itu tidak berguna baginya. Empat botol giok itu untuk meningkatkan ranah kultivasi dengan gila-gilanya meskipun sudah berada di ranah Saint Expert. Perkamen serta gulungan itu adalah benda yang tidak berguna baginya karena itu adalah jurus-jurus rahasia serta array pelindung yang sangat rendah jika dibandingkan dengan jurus terendah miliknya. Tang Xiao tidak bisa mempelajari jurus yang lebih rendah dari jurus terendah miliknya.


Permata sembilan warna juga tidak berguna untuknya karena baginya tidak ada nilai jika dibandingkan dengan permata yang dimiliknya. Bahkan permata yang dimilikinya satu saja bisa menjadi rebutan para dewa.


Dan empat juta koin emas itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tumpukan harta Tang Xiao yang membentuk gunung-gunung raksasa. Alih-alih empat juta koin emas, harta terendah yang dimiliki Tang Xiao adalah koin emas itu sendiri.


Namun sikapnya itu disalah artikan oleh Kakek Lao dan Rangga. Mereka mengira bahwa pemuda itu terlalu terkejut menerima harta-harta itu. Kakek Lao dan Rangga tersenyum.


"Anak muda, tidak usah terkejut dengan hadiah ini. Kami sengaja memberikan ini sebagai ucapan terima kasih karena menyelamatkan nyawa kami serta selamat kkarena menjadi juara dalam turnamen kultivator antar benua ini." Ucap kakek Lao."


"Sudah sepantasnya kamu menerima ini nak Tang. Tidak usah takut orang-orang akan merebut harta mu ini. Kamu sudah menjadi salah satu orang paling berbakat di turnamen kali ini, dari itu kamu akan mendapat perlindungan ekstra dari Paviliun Bintang. Jika orang-orang itu berani berurusan denganmu maka mereka juga telah berurusan dengan Paviliun Bintangku." Ucap Kakek Lao tegas. Suaranya itu menggema ke seluruh alun-alun sehingga setiap orang mampu mendengar jelas pernyataan itu.


Beberapa dari orang-orang itu menelan ludah mendengar pernyataan kakek Lao, sebab awalnya mereka memang berniat merampas harta-harta suatu saat nanti. Namun mendengar peryataan barusan, mereka membatalkan seluruh niatnya. Siapa orang yang mau berurusan dengan Paviliun Bintang yang dilindungi seorang ranah Immortal dan empat orang ranah Demi God. Tidak ada orang gila yang mau merampas itu.


Tang Xiao terbengong melongo mendengar pernyataan Kakek Lao yang semangat dan sungguh-sungguh itu. Ingin sekali pemuda itu mengatakan maksud dari sikapnya barusan, namun mengucapkan hal itu termasuk mustahil. Mengucapkan itu sama saja dengan memberi tahu identitasnya. Pada akhirnya Tang Xiao tidak punya pilihan selain menerima hadiah-hadiah itu.


"Mungkin lebih baik menerimanya. Akan lebih bermanfaat jika kuberikan pada kakak pertama dan kedua maupun saudara Arya." Gumam Tang Xiao.


"Terima kasih kakek Lao, terima kasih Paman Rangga. Saya akan menerima hadiah ini dengan senang hati." Ucap Tang Xiao sambil mengepalkan kedua tangannya ke depan dada.


"Ya ya ya anak muda. Aku suka pemuda sepertimu. Ah aku mempunyai cucu yang sangat cantik dan berbakat serta cerdas. Bagaimana jika kau menjadi pasangannya. Aku yakin dia akan senang memiliki pasangan sepertimu." Ucap Kakek Lao santai. Dia tidak peduli dengan suasana sekitar yang masih suasana formal.


"Uhuukkkk..." Tang Xiao tersedak tiba-tiba mendengar ucapan Kakek Lao yang begitu terang-terangan tersebut. Terlebih dihadapan orang ramai seperti ini. Di satu sisi, ucapan kakek Lao ini bisa dianggap sebagai perjodohan sepihak. Dan di sisi lain, ucapan kakek Lao ini bisa diartikan bahwa jangan ada yang berani merebut Silvie ataupun Tang Xiao karena mereka telah dijodohkan.


Rangga juga tak kalah terkejutnya mendengar ucapan itu. Dia jadi teringat dengan Kekasihnya dan putri Denas yang memiliki nama asli Dewi Nawang Sari. Bukan cuma Rangga, Andri, Jessika dan Arya juga menjadi terkejut dan sedikit merasa tidak suka dengan ucapan kakek Lao tadi. Jelas sekali ketiga orang itu tidak menyetujui ucapan kakek tua itu yang bicara sembarangan. Bahkan Jessika ingin maju dan menolak ucapan kakek Lao namun gadis itu segera dicegah oleh Andri.


Tang Xiao bingung harus menjawab apa. Jelas dia tidak bisa mengatakan menolak dan mengatakan bahwa dia punya kekasih. Pemuda itu takut menyakiti hati kakek Lao maupun cucunya. Tapi jika dia tidak mengatakannya, Tang Xiao takut kakek Lao benar-benar akan menjodohkannya dengan cucunya.


Dengan pertimbangan yang matang dan pemikiran yang cepat, Tang Xiao akan mengatakan yang sebenarnya. Pemuda itu hendak maju, namun Rangga telah berjalan mendekati kakek Lao. Terlihat dari wajah Rangga yang serius seperti hendak mengatakan sesuatu yang penting.


Rangga berbisik-bisik di telinga Kakek Lao. Dan kakek Lao mendengar bisikan itu dengan mimik wajah yang berubah-ubah.


Semua orang di alun-alun hanya terdiam tak tahu harus berbuat apa. Meski begitu mereka sangat penasaran dengan apa yang diperbincangkan kedua orang hebat itu, tidak mungkin mereka mengabaikan apa yang sedang mereka ucapkan. Dengan sabar, orang-orang menunggu apa yang terjadi selanjutnya.


Kakek Lao tersenyum lebar mendengar ucapan Rangga barusan yang berbisik di telinganya. Dia melihat ke arah Tang Xiao lalu melihat ke arah orang-orang yang berdiri tak jauh podium. Pandangan matanya tertuju ke seorang gadis cantik nan menawan. Gadis itu Silvie. Kakek Lao berjalan mendekati Tang Xiao sambil menepuk-nepuk bahu pemuda itu.


"Hahaha anak muda tidak perlu khawatir dengan ucapanku barusan. Mungkin cucuku hanya kurang cepat mengenalmu saja. Namun, bagi pemuda hebat sepertimu tidaklah masalah memiliki kekasih lebih dari satu. Hahaha...." Kakek Lao terbahak sambil menepuk-nepuk pundak Tang Xiao.


Pemuda itu akhirnya bernafas lega melihat Kakek Lao bisa menerima penjelasan Rangga. Meskipun berbisik, ucapan Rangga tadi didengar dengan jelas oleh Tang Xiao sehingga Tang Xiao bisa tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


"Baiklah anak muda. Jika kamu tertarik dengan cucuku yang sangat cantik itu, segera beritahu aku. Aku akan membujuk cucuku. Oke.." Bisik Kakek Lao sambil mengedipkan sebelah matanya.


Wuushh..


Kakek Lao dan Rangga menghilang dari atas podium setelah dirasa tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Kedua orang itu tiba-tiba muncul di dekat podium dan langsung menghilang begitu saja saat Kakek Lao telah menyentuh pundak Silvie dan Rangga menyentuh pundak Della.


Kejadian itu begitu cepat hingga orang-orang terbengong dengan apa yang terjadi. Mereka baru ngeh saat dua orang di dekat mereka hilang begitu saja.


Ketua Victor dan yang lainnya kembali maju ke depan podium menghadap orang-orang yang masih berdiri menunggu apa langkah selanjutnya.


"Baiklah hadirin sekalian, dengan penyerahan hadiah ini, menandakan bahwa turnamen beladiri antar benua telah berakhir dan selamat kepada mereka yang terpilih sebagai kandidat finalis. Selamat juga kepada kalian yang terpilih belajar ke tempat yang lebih baik dari yang ada di benua ini."


"Kalian adalah masa depan bangsa. Kesuksesan dan keberhasilan kalian akan membawa pengaruh besar di dunia ini."


"Kami berharap kalian akan kembali dan mengabdi ke benua kalian masing-masing tanpa melupakan tempat kalian."


"Dan ingatlah.. Jangan sesekali kalian menjadi penghianat untuk negeri kalian sendiri. Jika hal itu terjadi, bersiaplah nasib kalian akan berakhir sama dengan kesepuluh orang itu."


Kedelapan orang penting itu bergantian memberikan kata-kata terakhir sebelum semua orang bubar dan mengikuti jalannya masing-masing.


"Dan untuk kalian..." Kedelapan orang penting itu menunjuk kepada para finalis.


"Token yang telah kalian pegang adalah identitas kalian sebagai murid inti di sekte atau kerajaan tempat kalian yang telah dipilih oleh masing-masing sekte dan kerajaan sesuai dengan kebutuhan kalian." Ucap Victor tenang. Dia sebagai penengah diantara tiga utusan sekte dan kerajaan itu lebih banyak berbicara.


Tentu saja mendengar itu, para finalis yang ada di atas podium itu terkejut tidak percaya. Terutama mereka yang masih muda-muda seperti Rina, Arya dan lainnya. Bisa dibilang akan terjadi cekcok antar murid inti di dalam akademi atau sekte nantinya.


"Kalian tidak usah khawatir apa yang terjadi nanti karena kalian yang terpilih ini akan otomatis menjadi murid para tetua utusan dan para tetua ini lah yang akan mengajar kalian secara langsung. Dan tentu saja asrama kalian tidak jauh-jauh dari guru kalian. Jadi yang perlu kalian siapkan adalah mental dan keinginan serta kegigihan kalian kelak." Lanjut Victor yang memahami perasaan anak-anak muda di depannya ini.


Victor mengucapkan beberapa kata lagi untuk menyemangati orang-orang yang dipilih secara khusus dan dipilih secara umum oleh ketiga kekuatan itu.


Tentu saja kebanyakan dari mereka yang dipilih merasa bahagia dan bangga. Terlebih mereka para finalis yang langsung diangkat menjadi murid inti. Tentu nama mereka akan melejit cepat dan menjadi perbincangan hangat di antara para kultivator dunia.


"Haih... Aku tidak tahu apakah kita pergi ke Sekte terlebih dahulu atau langsung ke tempat adik keempat." Ucap Andri pada Jessika melalui pikiran.


"Aku lebih suka langsung ke tempat adik keempat. Aku yakin dunia di sana jauh lebih indah dari benua ini. Ah aku sudah tidak sabar pergi ke dunia adik keempat." Balas Jessika semangat sambil mengepalkan tangannya ke depan.


Orang-orang sekitar merasa heran dengan tingkah kedua sejoli itu yang saling berbisik-bisik. Beda halnya dengan Tang Xiao, dia juga memiliki pendapat yang sama dengan kedua kakaknya itu. Namun dia harus mencari seseorang yang berpengaruh yang dengan kehadirannya bisa membuat kedelapan orang itu bertekuk lutut.


Victor dan beberapa orang lainnya masih bicara bergantian mengenai langkah apa selanjutnya. Jessika dan Andri masih membahas apa apakah mereka akan pergi ke akademi Sekte atau pergi menjemput adik keempat mereka. Sementara Tang Xiao masih memikirkan siapa yang akan menggantikannya bernegoisasi dengan orang-orang tua itu agar dia dan kedua kakaknya tidak pergi ke sekte yang ditunjuk.


"Baiklah... Sekarang waktunya bagi para finalis untuk memperkenalkan dirinya masing-masing. Siapa nama kalian, berapa umur serta dari mana kalian berasal. Serta tingkat kultivasi kalian." Ucap Victor sambil melirik Tang Xiao, Andri dan Jessika saat mengatakan tingkat kultivasi. Hanya ketiga orang itu saja yang tidak ada satupun yang tahu tingkat kultivasinya. Bahkan gurunya sendiri, Kakek Lao tidak mengetahui tingkat kultivasi ketiga orang itu.


Setelah mengatakan itu Viktor dan tujuh orang lainnya mundur ke belakang membiarkan para finalis menunjukkan identitas serta kekuatan mereka.


Diawali oleh kelompok Black Rose satu persatu hingga giliran Rina.


"Perkenalkan nama saya adalah Gantari Rina Enda. Berasal dari Kerajaan Nusantara. Saya putri tunggal di Kerajaan. Umur saya lima belas tahun. Saya berada di ranah Legend bintang Enam."


Wuushh...


Rina membuka tingkat kultivasinya namun tidak ada reaksi yang berlebihan. Hampir semua orang mampu melihat kultivasi Rina meskipun ditutupin sekalian. Namun tetap saja orang-orang masih kagum dengan umur yang begitu mudah sudah berada di ranah Legend bintang enam. Sungguh suatu jenius.


Selanjutnya adalah kelompok Young Ashura. Arya pertama kali maju. Dan sama seperti Rina tidak ada yang spesial. Dia juga membuka topengnya menunjukan wajahnya yang lumayan tampan.


Selesai Arya, giliran Jessika maju dan memperkenalkan diri.


"Nama Saya Jessika Meisi Daros dari Benua Land Of Soul ini Saya berumur 16 tahun dan tingkat kultivasi saya sekarang adalah ini." Jessika tidak menyebutkan dari Kekaisaran mana dia berasal.


Wusshhhhh....


Ranah Saint bintang tujuh.


Suasan senyap seketika. Tidak ada dari mereka yang berbicara . Semua orang larut dalam pikiran masing-masing. Bahkan Victor tujuh orang lainnya tidak bisa menahan rasa kagum dan terkejut mereka. Belum pernah mereka mendengar seorang remaja di umur lima belas atau enam belas tahun berada di ranah Saint bintang tujuh. Jelas hal itu sangat mengejutkan semua orang yang hadir.


"Ugh.. Aku merasa telah menyia-nyiakan hidupku selama ini. Aku telah berumur kepala tiga dan aku baru di ranah Legend bintang delapan. Sial.. Aku tidak percaya ini." Gumam seorang kultivator dari kerumunan orang. Orang itu terlihat putus asa.


"Aku juga... Ahh.. Aku merasa menyesal dengan ini. Aku di hadapan gadis itu seperti serangga di hadapan rembulan.. Sial..." Sahut yang lain.


Sebagian dari orang yang hadir telah mengeluh dengan hidup mereka.


Jessika mundur perlahan dengan tersenyum puas. Dia juga telah membuka topengnya sehingga orang-orang semakin iri dengannya. Terutama para wanita muda. Tentu saja para pengeran dari beberapa Kekaisaran tidak berkedip saat memandang kecantikan Jessika.


Kini giliran Andri. Pemuda itu maju perlahan sambil menggenggam erat tangan kekasihnya, Jessika. Gadis itu sesaat tersipu malu dan hatinya terasa hangat.


"Perkenalkan nama saya adalah Andri Arganta Bagaskara. Berasal dari Benua Land Of Soul. Sebelum saya menunjukkan kultivasi saya, ada sebuah cerita menyedihkan tentang saya. Namun dengan kesedihan itu, saya bangkit menerjang segala batu penghalang." Ucap Andri sambil menggenggam erat tangan Jessika. Suasana hening seketika.


"Saya yakin ada cukup banyak orang yang tahu dengan kisah saya. Dulu saya adalah seorang jeniua tanpa tanding di benua ini. Setiap hari dikelilingi banyak orang. Keluarga, kawan dan sahabat, semua ingin menjilatku.


Suatu hari yang menyenangkan, tiba-tiba aku jatuh terpuruk ke dalam jurang terdalam yang menyakitkan. Keluarga, kawan dan sahabat yang selalu menjilatku, seolah tidak mengenalku sama sekali. Bahkan keluargaku, selain ibunda ratu, tidak yang menganggapku.


Namun takdir berkata lain. Dengan kerja keras dan semangat dari orang yang mencintaiku, aku bisa berada di posisi ini. Gadis jelita di sebelahku ini dulunya adalah tunanganku. Namun dengan terpaksa, orang tuanya menghapus ingatannya tentangku sehingga ketika pertama kali bertemu, aku merasa bahagia dan tersiksa dalam bersamaan.


Namun semua itu berakhir ketika kami bertemu dengan adik ketiga. Kehadirannya menjadi penyejuk sekaligus petunjuk bagi kami. Bisa bertemu dengan orang tulus seperti adik ketiga adalah sebuah kehormatan dan anugerah. Aku juga bertemu seorang guru yang sangat menyayangiku dan sabar terhadapku. Berkat beliaulah aku bisa menjadi seperti ini. Bertemu dengan beliau juga merupakan kehormatan tak terhingga.


Aku dan kekasihku ini telah mempertimbangkan dengan sangat baik, bahwa kami bukanlah bagian dari Kekaisaran Alfa maupun Kekaisaran Gama. Bukan kami yang menginginkan itu, tapi mereka sendiri yang ingin kami pergi dari Kekaisaran mereka. Jika.... Jika diantara dua Kekaisaran tersebut ada yang berusaha membujuk atau menawari kami kembali ke Kekaisaran masing-masing, maka kami berdua tidak akan mengikuti sekte yang telah ditunjuk sebelum kedua Kekaisaran tersebut musnah dari dunia ini.


Saat ini aku berumur tujuh belas tahun dan hanya segini cerita yang dapat kusampaikan. Adapun tingkat kultivasiku saat ini adalah ini."


Wuushhh..


Aura ranah Saint puncak keluar dari tubuh Andri. Tak cukup sampai situ, tiba-tiba keluar ledekan teredam dari tubuh Andri menunjukan bahwa pemuda itu telah naik tingkat ke ranah Ancestor bintang satu.


Suasan kembali hening bahkan jauh lebih hening dari sebelumnya. Setiap orang tergagap dengan apa yang mereka hendak ucapkan. Kata-kata mereka terhenti di tenggorokkan namun pikiran mereka melayang kemana-mana.


Tentu saja, pernyataan Andri barusan adalah hal yang sangat mengejutkan. Apa yang telah dilakukan kedua Kekaisaran tersebut sehingga membuat kedua sejoli itu sampai harus bertindak segitu jauhnya demi melampiaskan rasa kekesalan dari hati yang paling dalam. Bukan cuma memiliki bakat yang luar biasa, kedua sejoli tersebut ternyata memiliki cerita yang cukup mengenaskan. Begitulah yang dipikir orang-orang saat ini.


Victor dan tujuh orang lainnya meskipun telah memiliki umur sudah lebih dari seabad, menyaksikan hal luar biasa yang barusan terjadi adalah yang pertama kalinya. Bagaimana mungkin seseorang bisa naik tingkat begitu saja ketika mengeluarkan aura kultivasinya. Terlebih fondasi kultivasinya otomatis stabil tanpa harus berusaha menstabilkannya.


Andri dan Jessika mundur dengan tersenyum puas dan lega. Meskipun malu-malu, Jessika sangat senang kekasihnya itu mengakui hubungan mereka di hadapan khalayak ramai. Terlebih lagi diantara orang-orang yang hadir di alun-alun itu ada kedua orang tua mereka yang pasti sangat terkejut melihat mereka berdua dan mendengar apa yang dikatakan Andri.


Diantara kerumunan orang-orang yang memenuhi alun-alun Kota Paviliun Bintang, terdapat dua orang wanita yang menangis sesenggukkan di dada suami mereka. Kedua wanita itu adalah ibu dari Andri dan Jessika.


Andri menyikut Tang Xiao yang sedang terbengong seperti memikirkan sesuatu. Pemuda berambut biru tampak terkejut saat disikut pelan oleh Andri. Tang Xiao menoleh dan melihat Andri memberi isyarat untuk maju ke depan memperkenalkan dirinya. Dia adalah yang terakhir yang belum memperkenalkan dirinya diantara kontestan lain.


Tang Xiao maju dengan ragu. Sebenarnya dari tadi, dari sejak awal Andri memperkenalkan dirinya, Tang Xiao sedang sibuk memikirkan alasan yang tepat dan masuk akal agar dia dan kedua saudaranya tidak jadi pergi mengikuti sekte yang ditunjuk dan belajar di sana. Menurut Tang Xiao sendiri, jika kedua saudaranya masuk sekte yang ditunjuk, maka perkembangan mereka akan sangat lambat tidak maksimal. Lain halnya jika mereka pergi berpetualang bersama menghadapi berbagai rintangan, maka kekuatan keduanya akan bisa meningkat dengan cepat. Terlebih hal itu sangat mudah bagi Tang Xiao.


Tang Xiao melihat sekitar, meskipun tidak melihat secara langsung apa yang telah terjadi sebelumnya, namun dia mengerti apa yang telah terjadi. Dan pemuda itu tersenyum licik, dia ingin membuat kehebohan yang lebih besar dari kehebohan kedua saudaranya. Pemuda itu membuka topengnya secara perlahan dan tersenyum lembut dan tatapan yang menggoda. Membuat semua orang berhenti bernafas.


"Ehemm..... Nama saya adalah Tang Xiao, berumur lima belas tahun lebih. Saya berasal dari Benua Land Of Death. Tidak ada yang spesial dari saya, kecuali saya adalah adik ketiga dari dua saudara saya. Kakak pertama saya bernama Andri dan kakak kedua saya bernama Jessika. Mereka saudara yang sangat baik, meskipun terkadang saya sering menjahili kakak saya, mereka tidal marah dan cuman menjewer saya. Ahaha... apalagi kalo kakak kedua sudah marah-marah, saya dan kakak pertama hanya bisa diam dan tidak berani membantah ucapan kakak kedua padahal saat itu yang salah sebenarnya adalah kakak kedua.


Yah saya sangat bersyukur dengan kehadiran kakak pertama dan kedua dalam hidup ini. Ah iya sebenarnya kami masih memiliki seorang adik perempuan, namun karena beberapa alasan dia harus harus kembali dan tidak bisa mengikuti turnamen ini. Ah untuk saat ini kultivasi saya adalah ini."


Wwuuhhsss...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Guyss...


Gmn kabar hari ini? Masih seperti biasa atau lebih baik dari kemarin?


Baru up hari ini.


Dan terima kasih atas dukungannya terhadap novel yang masih penuh kekurangan ini. Dan jika ada typo atau kata berulang ataupun kata yang kurang, mohon diingatkan ya..πŸ€—πŸ€—