
Tang Xiao berjalan keluar hutan mengenakan jubah hitam ber-hood yang menutupi kepala dan wajahnya. Di pinggangnya tersalip pedang yang dibalut kain putih agar tingkatan pedang itu tidak diketahui. Di atas kepalanya bertengger burung Gagak yang telah bertransformasi menjadi burung pipit tujuh warna yang sangat indah.
"Master kenapa kita harus pergi ke kota dan apa tujuan kita ke sini?" Tanya Gagak di atas kepala Tang Xiao melalui komunikasi jiwa. Setelah melakukan kontrak jiwa, kedua jiwa akan saling terhubung di manapun berada dan kapanpun. Terutama kontrak yang dilakukan Tang Xiao dan Gagaknya. Diamanapun Tang Xiao berada meskipun di dunia lain, hanya dengan satu kehendak, Tang Xiao sudah berada di dekat Gagak. Begitu juga sebaliknya. Tang Xiao telah membuka portal jiwa milik Gagak agar mempermudah komunikasi mereka.
"Kita ke sini cuman jalan-jalan saja menikmati hal-hal sederhana di dunia ini. Selagi ada kesempatan dan kekuatan untuk menikmatinya, kenapa kita mengabaikan begitu saja." Jawab Tang Xiao santai. Mereka telah berada di gerbang kota. Terdapat empat penjaga ranah Grand Master bintang 5.
"Hemm.. Penjaga kotanya aja sudah segini kuatnya betapa hebatnya kota yang ada di dalam." Batin Tang Xiao.
"Berhenti" Cegah empat penjaga itu sambil menyilangkan tongkat mereka menghadang Tang Xiao.
"Tunjukan identitas anda dan bayar upeti memasuki kota ini." Ucap salah seorang mereka dengan tegas.
Tang Xiao berpikir sejenak mengenai identitasnya. Dia teringat dengan token pemberian Raja Park. Tang Xiao mengeluarkan token diamondnya dan memberikan kepada penjaga yang mencegahnya untuk memeriksanya. Penjaga yang menerima menjadi gemetar. Dia berbisik kepada tiga temannya yang lain. Mereka juga ikut bergetar.
"Maaf tuan yang terhormat. Kami tidak tahu anda. Silahkan masuk tidak perlu membayar upeti." Ucap para penjaga sambil memberikan kembali token diamond milik Tang Xiao dengan sopan dan membungkuk.
Tang Xiao menerimanya dengan senyum. Dia melemparkan sekantong uang kepada penjaga. "Ini terimalah. Aku tidak akan mengambil keuntungan dari ini."
"Terima kasih tuan muda. Jika ada apa-apa di dalam kota anda bisa memanggil kami. Kami akan membantu tuan muda sebisanya."
Tang Xiao mengangkat tangannya sebagi isyarat tidak perlu mengakhawatirkannya. Dia lalu meninggalkan para penjaga itu dan memasuki kota dengan tenang.
"Heh emang tadi token apa sampai kita harus sangat sopan kepadanya." Tanya salah seorang pemjaga kepada temannya yang mengenali token milik Tang Xiao.
Pemuda itu menghela nafas. "Sebagai ketua penjaga di sini, aku harus memberitahu kalian bahwa token yang dimiliknya adalah sebuah identitas yang menunjukan bahwa dia adalah seseorang yang berasal dari aliansi Kultivator Dunia. Aku pernah melihat token itu sekali dan aku hampir saja terbunuh karena token itu beberapa tahun lalu jika saja Tuan Yang tidak menyelamatkanku dan menjelaskan kesalah pahaman yang ada. Bahkan tuan Yang membungkuk kepada pemilik token seperti yang dimiliki pemuda tadi. Kalian tahu, di Benua ini token seperti itu hanya dimiliki oleh para Kaisar dan orang terhormat saja. Oh iya dan juga token itu diberikan kepada para pemuda yang akan mengikuti turnamen antar benua." Jawab penjaga itu. Ketiga temannya yang lain menjadi pucat.
"Untung saja pemuda itu cepat menunjukan identitasnya dengan cepat dan tidak terjadi kesalahpahaman. Jika tidak aku ragu bahkan Tuan Yang mau melindungi kita. Ditambah lagi pemuda itu tidak mengambil keuntungan dari identitasnya. Sungguh pemuda yang berbudi." Ucap penjaga lainnya tersenyum senang sambil menimbang-nimbang kantong uang pemberian Tang Xiao. Sekali lihat bisa diketahui kantong itu berisi puluhan keping uang emas. Sebuah keuntungan yang tidak akan pernah terduga. Biasanya siapa saja yang hendak masuk kota harus membayar satu keping uang perak dan itu sudah termasuk besar namun kali ini satu kantong berisi puluhan keping koin emas.
Tang Xiao kagum melihat kota yang dimasukinya sangat besar. Di penuhi bangunan-bangunan tinggi bertingkat-tingkat. Beberapa Mythical Beast tipe bersayap terbang lalu lalang di langit kota. Ada juga beberapa Mythical Beast bertipe kekuatan menarik kereta-kereta indah seperti milik para Bangsawan. Tang Xiao berjalan kesana kemari menikmati hiruk pikuk suasana kota yang indah dan ramai.
"Master, kota ini lumayan besar. Aku dapat merasakan para kultivator kuat berada di kota ini. Sepertinya kota ini menjadi besar karena kehadiran mereka." Ucap Pipit tujuh warna di atas kepalanya.
"Bukankah ini menyenangkan bisa berkenalan dengan para kultivator itu." Balas Tang Xiao.
"Menyenangkan dari mana. Yang ada hanya pertarungan tidak jelas yang terjadi."
"Kami sebagai manusia mendapat kehormatan karena adanya kekuatan. Yang kuat menindas yang lemah. Yang Kaya mendapat kuasa. Hampir tidak ada ruang bagi mereka yang lemah dan biasa-biasa saja."
"Kalian manusia memang terlalu serakah. Aku tidak tahu kenapa para dewa harus menciptakan manusia yang seperti ini."
"Manusia adalah manusia, bukan kehendak ciptaan para dewa. Manusia hanyalah semesta kecil yang mengingkinkan semesta besar menjadi milik mereka. Terlihat serakah, namun inilah satu-satunya jalan manusia menjadi Dewa. Dalam sejarah hanya para manusialah yang mampu menjadi dewa-dewa tertinggi dan memerintah dunia."
"Kami Mythical Beast juga mampu menjadi dewa. Banyak Mythical Beast di dunia ini yang telah menjadi dewa dan naik ke surga."
"Kalian para Mythical Beast yang telah naik ke surga hanya akan menjadi tunggangan para dewa saja dan bahkan menjadi makanan mereka. Di dunia ini memang kalianlah yang lebuh kuat, namun saat manusia menjadi dewa mereka harus mengalahkan tujuh puluh dua iblis di hati mereka dan mendapat kekuatan dahsyat setelah membunuh Iblis hati kerena telah terlepas dari nafsu duniawi mereka. Sedangkan kalian Mythical Beast tidak mempunyai Iblis hati untuk dikalahkan sehingga kekuatan yang kalian dapat saat menjadi dewa hanya kekuatan yang berhasil kalian kumpulkan. Saat itulah ketika di surga kalian hanya akan menjadi tunggangan dan santapan para dewa saja."
Burung Gagak itu terdiam. Penjelasan Tang Xiao diduganya ada benarnya juga. Manusia memang lemah di dunia ini karena memiliki tujuh puluh dua Iblis Hati sehingga kekuatan mereka menjadi terbatas.
"Lalu apakah master sudah pernah mengalahkan iblis hati?"
"Tidak. Aku bukan sesuatu yang seperti itu." Jawab Tang Xiao ringan.
"Lalu apakah master adalah Mythical Beast?"
"Haha apalagi itu yang jelas bukan. Kehadiranku di sini menantang surga dan langit dan merupakan satu dari ketiadaan yang harusnya tidak di sini."
Gagak itu bingung mendengar jawaban Tang Xiao yang aneh. Tang Xiao berhenti berjalan saat tiba di sebuah restoran yang cukup mewah. Walaupun hanya terdiri dari satu lantai, tapi cukup lebar dan luas. Tang Xiao memasuki restoran itu saat merasakan kehadiran yang cukup kuat.
Tang Xiao membuka pintu restoran. Dia melihat sekeliling cukup ramai. Tidak ada yang menghiraukan kehadirannya kecuali seorang pemuda tampan yang tak kalah tampannya dari Tang Xiao bergaya bangsawan. Tangan kanannya memegang sumpit dan tangan kirinya memegang kipas yang terletak di samping makanannya. Pemuda itu perlahan menyuapi makanannya sambil sesekali melirik Tang Xiao. Seorang lagi yang menyadari kehadiran Tang Xiao adalah pemuda mengenakan jubah hitam mengenakan tudung. Begitu Tang Xiao berjalan, pemuda itu segera memegang pedangnya yang tersalip di pinggangnya. Kedua pemuda itu juga yang dirasakan kehadiran oleh Tang Xiao dari luar restoran. Kedua pemuda itu duduk berjauhan bahkan pemuda tampan memakai kipas duduk di pojok kiri sedangkan pemuda berjubah duduk di pojok kanan. Mereka sama-sama memperhatikan Tang Xiao memasuki restoran.
Tang Xiao duduk dengan tenang. Rata-rata pengunjung disini berada di ranah Master kecuali dua orang tadi yang satu berada di ranah Grand Master dan satunya berada di ranah Expert. Tang Xiao membuka tudungnya dan tersenyum ramah kepada pelayan yang mendatanginya.
"Tuan muda ingin pesan apa?" Tanya pelayan wanita muda itu lembut sambil menyodorkan daftar menu makanan.
"Saya pesen makanan terenak di sini. Ini cukup kan." Jawab Tang Xiao setelah melihat-lihat daftar menu makanan dan menyodorkan dua keping emas.
"Ini lebih dari cukup tuan. Terima kasih." Ucap pelayan itu ramah sambil tersenyum. Tang Xiao membalas senyum wanita itu dengan lembuat membuat pipi pelayan wanita muda itu memerah ssperti tomat baru matang. Pelayan itu tersipu dan dengan malu bergegas meninggalkan Tang Xiao.
Tang Xiao melirik kedua pemuda yang duduk dipojokan. Pemuda Bangsawan sedang menatapnya dengan jijik dan dan bibir mencibir. Sedang pemuda yang membawa pedang melihat keluar jendela seolah-olah tidak melihat apa-apa.
Tang Xiao tersenyum lebar lalu berkata, "Pelayan juga manusia yang patut dimanusiakan."
Tak lama berselang, makanan pesanan Tang Xiao datang dibawa dua orang pelayan wanita yang tadi melayani Tang Xiao dan seorang temannya.
"Silahkan tuan muda. Pesanan anda telah datang dan selamat menikmati." Ucap mereka ramah.
"Ya sama-sama nona. Ini tip kalian berdua" Ucap Tang Xiao sambil memberi dua keping koin emas kepada wanita pelayan itu. Melihat itu, mata mereka berbinar tersenyum cerah.
"Terima kasih banyak tuan muda." Ucap mereka berdua membungkuk. Kedua pelayan itu pergi dengan gembira. Tang Xiao melirik pemuda bangsawan yang mencibir kepadanya. Sedangkan pemuda yang memegang pedang pura-pura sedang menikmati makannya.
Tang Xiao menikmati makanannya sambil sesekali bercengkrama dengan burung Gagak di atas kepalanya.
Ketika Tang Xiao lagi makan, seorang anak perempuan kecil masuk restoran. Dia celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. Saat matanya bertatapan dengan Tang Xiao, perempuan kecil itu berjalan tergesa-gesa dan langsung duduk di kursi depan Tang Xiao dan menundukkan kepala.
Tang Xiao dapat melihat perempuan kecil di depannya ini seperti ketakutan. Tang Xiao menyodorkan sepiring makanannya kepada gadis kecil itu yang langsung menerimanya.
"Master, gadis kecil ini sepertinya sedang dikejar sekelompok orang." Ucap Gagak di atas kepalanya.
Sekelompok orang masuk restoran dengan menendang pintu restoran sampai terlepas dan terhempas. Seorang laki-laki botak tinggi besar yang wajahnya terdapat bekas luka melihat sekeliling. Wajahnya tampak bringas seperti seekor singa kelaparan yang sedang mengamati buruannya. Matanya berhenti ketika melihat gadis kecil yang dicarinya sedang duduk menunduk. Wajah laki-laki besar itu menyeringai lebar.
"Dengarkan semuanya. Aku adalah ketua kesepuluh dari kelompok Bandit Gunung. Aku mempunyai hutang yang harus dibayar dengan gadis kecil itu. Sesiapapun diantara kalian yang masih berada di sini atau bertindak menolong gadis itu berarti kalian telah berurusan dengan Bandit Gunung dan jangan salahkan kami bertindak kasar." Ucap laki-laki.
Para pengujung yang awalnya sangat marah dengan tindakan laki-laki besar dan sekelompok orangnya begitu mendengar nama Bandit Gunung mereka segera bergegas keluar dan tidak mempermasalahkan apa-apa. Para pelayan juga sudah bersembunyi. Bagi mereka nyawa sendiri lebih diutamakan. Yang tertinggal di ruangan hanyalah Tang Xiao dan dua pemuda yang duduk di dua pojok bersama gadis kecil yang duduk di depan Tang Xiao.
"Kakak segeralah pergi dari sini. Mereka sangat kejam dan sangat kuat." Ucap gadis kecil itu pelan. Dia sudah pucat dari tadi.
"Apa kesalahan yang kamu perbuat sampai mereka mengejarmu ke sini?" Tanya Tang Xiao santai.
Gadis kecil itu menggeleng. "Aku kabur dari mereka saat hendak membawaku ke markas mereka. Aku seorang miskin yang hanya memiliki kakek dan nenek yang sudah tua dan sering sakit-sakitan." Ucap gadis itu.
Tang Xiao mengangguk. "Tidak usah khawatir gadis kecil. Selama ada aku mereka tidak akan pernah bisa membawamu pergi." Ucap Tang Xiao sambil mengelus kepala gadis kecil di depannya mencoba menenangkan gadis itu agar tidak perlu khawatir.
Gadis itu menggeleng. "Tidak begitu tuan. Kakak sangat baik dan mereka jahat. Selain jahat mereka juga sangat kuat. Pemimpinnya yang besar itu yang paling kuat. Pergilah segera dari sini Kak."
"Tidak perlu khawatir gadis kecil. Kakak juga sangat kuat lo. Lihatlah Kakak bawa pedang untuk melindungimu." Ucap Tang Xiao senyum lebar.
"Tapi kak aghhh..." Belum habis gadis kecil bicara, rambutnya telah dijambak laki-laki tinggi besar dan membuatnya menjerit kesakitan.
"Bocah bau. Kamu harus membayar semua perbuatanmu. Sekarang ikut kami baik dengan terpaksa maupun suka rela." Ucap laki-laki besar sambil menarik rambut gadis itu dan memaksanya berjalan.
"Hei laki-laki bodoh. Tidak kah kamu tahu aku sedang makan dan kamu seenaknya mencampuri urusanku dengan gadis kecil itu. Kamu telah berbuat kesalahan besar." Ucap Tang Xiao berdiri dan mencengkram tangan laki-laki besar yang menjambbak rambut gadis kecil yang tak berdaya. Laki-laki itu merasa kesakitan tangannya dicengkram dan tanpa sengaja dia melepas gadis kecil yang segera ditarik Tang Xiao untuk bersembunyi di belakangnya.
Laki-laki itu menarik tangannya. "Anak muda karena kamu berani meonolong gadis itu maka kamu telah berurusan denga Bandit Gunung. Itu merupakan kebodohan besar. Sekarang rasakan ini." Ucap laki-laki itu sambul menganyunkan pedang besarnya ke kepala Tang Xiao.
Swoshh
Swoshh
Traangg
Bruuukk
Suasana hening. Para Bandit Gunung yang menjaga pintu masuk segera berlari membantu ketua mereka yang telah terhempas ke dinding. Mereka tidak tahu yang terjadi. Yang mereka lihat saat ini adalah dua orang pemuda yang awalnya duduk di pojokan dan hanya melihat apa yang terjadi dengan diam kini telah berdiri di dekat pemuda yang memprovokasi ketua mereka.
Tang Xiao tersenyum. "Aku kira kalian hanya duduk diam dan menunggu kepala ku terlepas." Ucap Tang Xiao.
"Cih aku tidak menyelamatkanmu. Aku hanya membantu laki-laki itu agar kepalanya tidak lepas di depan gadis kecil ini." Ucap pemuda bangsawan mengibas-ngibaskan kipasnya dan memegang lengan gadis kecil di belakang Tang Xiao.
"Dilarang membunuh di dalam restoran terlebih di depan gadis yang belum berdosa. Tidak bisakah kamu tidak mengeluarkan hawa membunuhmu." Ucap pemuda bertudung yang kini telah melepas hoody di kepalanya.
"Sepertinya mulai sekarang kita telah menjadi buronan bandit gunung." Balas Tang Xiao santai.
Laki-laki besar yang tiba-tiba melayang tanpa disadarinya bangkit perlahan memegangi dadanya. Dia tadi tidak sempat melihat siapa yang telah memukul dadanya tiba-tiba saja tubuhnya telah melayang dan membentur tembok restoran. Dia sangat marah.
"Mulai saat ini kalian bertiga menjadi target Bandit Gunung dan siapapun yang berhasil membawa kepala kalian akan dihadiahi seribu koin emas." Ucap laki-laki besar itu sambil mengacungkan pedang besarnya yang telah patah.
"Pffftt.. Haha.. Hei botak jelak lihat dulu pedangmu itu yang seperti kayu rapuh yang pantas digunukan untuk memotong tahu aja." Ucap pemuda bangsawan sambil tertawa menutup mulutnya. Tang Xiao dan pemuda satunya ikut tertawa. Gadis kecil tadi juga ikut tertawa.
"Siaall. Kalian tunggu saja." Bentak laki-laki itu sambil membanting pedangnya ke lantai. Dia dan anak buahnya bergegas keluar dari restoran. Namun sebelum sampai di pintu, sebuah tenaga yang cukup besar menghempaskan mereka keluar dengan cepat.
"Aku hanya membantu kalian keluar dengan cepat. Kalian seperti siput yang sedang berlari. Haha..." Ucap pemuda bangsawan sambil melipat kipasnya.
"Aagghh.... Kalian tunggu saja." Bentak laki-laki besar itu yang telah terjelungkup kepala di bawah.
"Eh gadis kecil siapa namamu? Dan kenapa bisa berurusan dengan para bedebah itu? Nama kakak Denas" Tanya pemuda bangsawan lembut sambil berjongkok dan mengelus kepala gadis kecil itu.
"Namaku Maria. Aku sedang mencari obat di hutan dekat bukit untuk mengobati kakek yang saat ini sedang sakit. Tapi tiba-tiba saja beberapa orang tadi datang dan menagkapku. Mereka membawaku ke markas mereka. Dengan susah payah aku berhasil kabur dan mereka mengejarku sampai kesini. Namun saat ini aku ingin segera pulang mengobati kakek yang sedang sakit." Ucap gadis kecil itu. Matanya berkaca-kaca.
"Rumahmu jauh dari sini dek? Nama Kakak Andri." Tanya pemuda berjubah hitam.
"Cukup jauh rumahku. Dari itu aku ingin segera pergi dan segera menolong kakek."
"Kamu punya obatnya? Nama Kakak Tang Xiao." Tanya Tang Xiao.
"Ada tadi sempat aku mengambil beberapa botol kecil dari markas mereka."
"Ah.. Kalo begitu kita ke rumah Maria aja ramai-ramai. Betulkan Tuan Andri dan tuan Tang?" Ucap Denas mengedipkan sebelah matanya ke arah Tang Xiao dan Andri.
"Iya memang dari awal aku hendak ke rumah gadis kecil ini." Ucap Andri.
"Maria, Kakak Tang ini adalah seorang yang pandai di bidang kedokteran. Siapa tahu kakak bisa menyelamatkan kakek Maria." Ucap Tang.
"Benarkah? Kalo begitu tolong bantuannya Kak" Ucap gadis kecil itu berbinar.
"Ya sudah ayo lebih cepat lebih baik." Ucap Andri sambil mengenakan kembali hoody ke kepalanya. Dia melangkah duluan diikuti Denas sambil menarik lengan gadis kecil itu dengan cepat. Tang Xiao hendak mengikuti langkah mereka namun tiba-tiba suara pelayan memanggilnya.
"Tuan.. Bagaimana dengan kerusakan dan kekacauan ini?" Tanyanya. Tang Xiao tertegun. Dia tidak menyadari kekacauan yang terjadi. Saat dia menyadarinya kedua pemuda tadi sudah berada di luar restoran dan melambaikan tangan kepadanya.
"Hah.. Ini gantinya." Ucap Tang Xiao sambil melemparkan sekantung kepingan emas kepada pelayan itu lalu berjalan keluar restoran menyusul Denas dan Andri.
"Tuan Tang memang sangat dermawan." Sindir Denas sambil melangkah mengikuti Andri dan Maria.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...