The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 66. FORGETTEN LOVE



MEMORIALS


Kekaisaran Gama adalah salah satu Kekaisaran


besar di benua Land Of Soul. Kekaisaran Gama memiliki banyak taman khusus tempat bermain Putra Putri Kaisar atau tempat bersantai. Setiap taman hanya boleh dimiliki oleh sajtu putra atau putri.


Di salah satu taman, terlihat seorang putri kecil berumur sekitar empat atau lima tahun sedang asik bermain bersama beberapa ekor kelinci dan kura-kura. Tak jauh dari dekatnya, dua orang pelayan wanita berdiri sambil berbincang-bincang menunggunya. Putri kecil itu tampak bermain sendiri. Kadang dia tertawa kadang juga merengut.


"Kelinci jangan lari cepat-cepat kasihan kura-kura yang tertinggal." Sesekali celoteh putri kecil itu mengejar kelinci yang lari gesit.


Putri kecil yang sedang asik bermain itu tiba-tiba berhenti saat melihat seorang anak laki-laki yang sebaya dengannya tiba-tiba berdiri di depannya sedang tersenyum lebar. Putri kecil menatap sekilas anak laki-laki itu lalu kembali mengejar kelinci putihnya. Anak laki-laki itu ikut berlarian mengejar kelinci putih yang berlari ke sana kemari.


Aksi kejar-kejaran antara putri kecil, anak laki-laki dan kelinci putih terjadi tanpa disadari. Mereka berdua mencoba berlomba siapa yang lebih dulu menangkap kelinci putih.


Hap...


Anak laki-laki berhasil menangkap kelinci putih setelah melompat dan memarkannya ke gadis kecil itu.


"Yey.. Aku dapat duluan." Ucap anak laki-laki itu.


"Curang, kamu sudah belajar bela diri sedangkan aku belum. Kamu juga lebih tua dari aku." Gerutu gadis kecil itu tidak terima kekalahannya sambil merengut.


"Hehe... Aku menangkap kelinci ini untukmu. Nih." Ucap anak laki-laki sambil berjalan mendekati gadis kecil lalu memberikan kelinci putih di tangannya.


Gadis kecil itu tersenyum sumringah, wajahnya kembali ceria.


"Makasih." Ucap gadis kecil sambil membawa kelinci putih di tangannya ke dekat kura-kura.


"Kamu siapa? Kenapa bisa di sini? Kan gak boleh anak laki-laki main ke sini." Tanya gadis kecil itu.


"Aku Pangeran dari Kekaisaran Alpha. Aku ke sini bersama orang tuaku dan para pengawal. Saat ini orang tuaku sedang bersama dengan Kaisar Gama. Aku bosan di dalam dan berlarian di lorong. Lalu aku melihatmu sedang bermain aku ikut bermain." Jawa anak laki-laki itu sambil menunjuk dua orang pengawalnya sedang berbincang dengan dua wanita pelayan gadis kecil itu.


Gadis kecil itu tersenyum kecut melihat pelayannya sedang asik berbincang dengan dua orang tak dikenal. Mereka terlihat cukup bahagia sedangkan dia sedikit sengsara dan capek habisa lari-lari tadi.


Gadis kecil dan anak laki-laki itu kembali bermain. Kali ini, permainan yang dirasakan putri kecil itu tidak membosankan seperti tadi. Kali ini dia punya kawan untuk bermain bersama dan berlari bersama serta tertawa bersama. Dia memang memiliki pelayan, tapi mereka berdua menjaga jarak karena statusnya yang terhormat. Selama ini pelayannya berfungsi sebagai alatnya untuk memenuhi segala keperluannya tanpa perlu bersusah payah.


Mereka berdua bermain hingga sore menjelang. Anak laki-laki kecil itu kembali bersama dua pengawalnya setelah urusan orang tuanya selesai. Meskipun begitu, gadis kecil itu cukup senang karena hari ini dia bermain dengan puas.


"Aku pulang dulu ya. Kapan-kapan aku ke sini akan aku bawakan hadiah. Dada." Ucap anak laki-laki itu sambil melambaikan tangannya.


"Iya jangan lupa, awas kalo lupa aku suruh kura-kura ku menggigitmu." Balas gadis kecil itu sambil melambaikan tangannya tersenyum lebar.


"Ih kejam.." Ucap anak laki-laki itu sambil menutup mulutnya kemudian tertawa. Dia lalu berlari menuju para pengawal yang telah menunggunya.


Gadis kecil itu ikut tertawa kecil. Dia menatap punggung anak laki-laki yang baru dikenalnya itu dengan perasaan gembira. Namun saat dia tidak dapat melihat punggung itu, dia kembali merasa kesepian.


Gadis kecil itu berbalik dan menatap dua orang pelayannya yang juga terlihat sedih. Mereka bahkan terlihat lebih sedih darinya. Dia merasa bingung namun tidak menanyakan hal itu. Begitu sadar tuan putri kecil mereka sedang melihat, mereka langsung berbuah ekspreksi dan menjadi ceria. Mereka berdua berjalan mendekati putri kecil itu.


"Tuan putri sudah sore, mari kembali ke istana." Ucap mereka sopan.


"Hem.." Jawab gadis kecil itu mengangguk. Dia tidak banyak bicara karena masih teringat dengan teman barunya itu.


"Bibi pelayan, kapan kira-kira Pangeran tadi datang ke sini lagi?" Tanya putri kecil ketika sudah berada di dalam kamarnya.


"Tidak tahu juga tuan putri. Kami tadi lupa bertanya." Jawab mereka sambil melepas jubah kecil yang dikenakan putri.


"Hem..."


Begitulah, sehari-hari putri kecil itu hanya bermain di taman sambil menunggu datangnya teman barunya dan hadiah yang dijanjikan. Setiap hari tanpa lelah dia menunggu di taman ditemani hewan peliharaanya dan dua pelayan wanitanya.


Hari berganti minggu berganti bulan. Sudah beberapa bulan berlalu sejak gadis kecil itu menunggu teman kecilnya. Gadis kecil itu sudah sangat bosan bermain sendirian dan tidak tahu harus bermain apa lagi. Meskipun begitu, gadis kecil itu tetap menanti dengan sabar teman barunya. Malam ini putri kecil menatap langit yang dipenuhi bintang dari dalam kamar.


"Tuan putri, sudah larut malam tidak baik kena angin malam terus." Tegur salah seorang pelayannya sambil menutup jendela tempat gadis kecil melihat bintang.


"Bibi, kapan ya teman ku itu datang lagi?" Gumam gadis kecil sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Aku ingin bermain bersamanya lagi." Ucap gadis kecil sambil menghela nafas.


"Tuan putri ingin bertemu dengan pangeran itu?" Tanya pelayan yang kasihan melihat tuan putri kecilnya bersedih setiap hari.


Gadis kecil itu mengangguk.


"Saya punya rencana, tuan putri." Ucap palayan itu.


Gadis kecil itu terbangun. Dia menatap pelayan di depannya dengan serius.


"Benarkah bibi punya?" Tanya gadis kecil.


"Iya tuan putri." Jawab pelayan sambil mengangguk.


"Kasih tau dong bibi." Ucap gadia kecil itu memohon. Matanya terlihat berbinar membuat pelayan itu tidak tahan.


"Begini tuan putri." Pelayan itu melirik sekitar takut ada yang menguping pembicaraan mereka. Pelayan itu membisikan sesuatu di telinga gadis kecil itu agar tidak ada yang tahu rencananya. -termasuk author dan readers-


Gadis itu berbinar dan tersenyum lebar mendengar rencana pelayannya. Dia mengangguk-angguk senang dan berterima kasih.


"Ya sudah tuan putri istirahat dulu." Ucap pelayan sambil menarik selimut besar hingga ke leher tuan putri kecil.


Putri kecil itu memejamkan matanya agar tidur lebih cepat. Dia sudah tidak sabar menunggu malam ini berlalu dengan cepat dan datangnya hari esok. Dalam sekejap putri kecil itu terlelap. Malam semakin larut, makhlum siang beristirahat di peraduan dan makhluk malam kembali berburu. Semua makhluk telah mendapat bagian masing-masing, ada yang diburu ada yang pemburu. Itulah takdir.


Matahari terbit dari timur. Kicauan burung, kokokan ayam jantan, mengiringi terbitnya sang surya. Embun-embun pagi menetes dan menguap dari dahan-dahan pohon. Malam telah bergulir siang, aktivitas makhlum siang kembali berjalan dan waktunya bagi makhluk malam berada di peraduan.


Tak terkecuali putri kecil kekaisaran Gama. Dia bangun penuh semangat dan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ayahandanya untuk mengutarakan rencananya. Sebagai putri, tentu saja tidak semudah itu untuk bertemu dengan ayahnya Sang Kaisar Gama yang agung. Namun itu bukan berarti dia tidak bisa bertemu dengan ayahnya.


Putri kecil itu berjalan di lorong-lorong istana hendak menuju istana tempat ayahnya berada. Beberapa kali dia disapa oleh pengawal dan pelayan bahkan beberapa saudaranya yang kebetulan berpapasan dengannya, namun dia hanya mengangguk dan tidak terlalu menghiraukan mereka. Siakpnya itu sedikit membuat orang-orang yang mengenalnya sedikit terkejut. Biasanya jika putri kecil itu disapa oleh siapa saja, dia akan membalasnya dengan sopan dan santun. Di usianya yang masih kecil, dia sudah faham tata cara berprilaku dengan dengan orang lain yang lebih tua darinya.


Ketika telah sampai di dekat istana ayahandanya, gadis kecil itu berhenti sesaat. Dia mengintip dari balik pintu melihat apakah ayahnya ada atau tidak. Para pengawal yang berada di sekitar hanya geleng-geleng kepala tidak ada yang berani mengganggu putri kecil itu.


"Paman pengawal, ayahku ada di dalam tidak?" Tanya Putri kecil itu kepada pengawal yang berdiri di dekatnya.


"Ada tuan putri." Jawab pengawal itu sopan.


Dia kembali menjulurkan kepalanya dari samping pintu melihat ke dalam aula istana. Tampak ayahnya sedang sibuk berbicara dengan para menteri dan jenderal Kekaisaran.


Dia kembali bersembuyi saat ayahnya dengan tiba-tiba melihat ke arahnya dari dalam aula. Putri kecil itu hendak kembali menjulurkan kepalanya namun berhenti saat mendengar teriakan dari luar istana.


"Kaisar dari Kekaisaran Alpha datang berkunjung."


"Kaisar dari Kekaisaran Alpha datang berkunjung."


Teriakan itu terdengar sebanyak tiga kali. Setiap kali terdengar teriakan, putri kecil itu terkejut kemudian tersenyum lebar. Dia tidak menyangka, bahwa teman kecil yang sudah ditunggu-tunggunya akan datang sendiri kepadanya.


Dengan cepat, putri kecil itu berlari ke taman miliknya. Dia mengajak dua pelayannya untuk menunggu di sana. Dua pelayan itu pun senang tak terkira. Mereka sedang menunggu orang yang berbeda namun dari kerajaan yang sama.


Putri kecil itu tampak sumringah saat melihat teman kecilnya datang dengan senyum lebarnya. Teman kecil yang sudah beberapa bulan tidak bertemu dan selalu diharapkan kedatangannya. Di belakang teman kecilnya itu berjalan dua pengawal yanv salah satunya membawa sesuatu yang terbungkus dengan kain beludru warna hitam.


"Halo putri kecil, kita bertemu lagi." Sapa laki-laki kecil itu duluan sambil melambaikan tangannya.


"Halo juga pangeran kecil, lama tidak bertemu." Jawab gadis kecil itu dengan senyuman lebarnya tanpa membalas lambaian tangan laki-laki kecil di depannya. Bukannya dia tidak mau membalas, namun dia lupa membalasnya karena senangnya melihat orang ditunggunya berdiri tepat di depannya.


"Teman kecil, sesuai janjiku aku akan akan membawa hadiah untukmu saat kita bertemu kembali." Ucap laki-laki kecil itu sambil memberi isyarat pada pengawalnya yang membawa kotak yang ditutupi kain beludru warna hitam, agar menaruh kotak itu di meja taman dekat mereka.


Setelah kotak itu di taruh, laki-laki kecil itu segera membuka ikatan kain beludru. Nampaklah sebuah benda berbentuk kotak yang transparan berwarna putih sangat indah. Di dalam kotak itu terdapat kura-kura kecil warna putih yang imut.


Baik kotak maupun kura-kura putih, putri kecil itu belum pernah melihatnya. Dia nampak kagum dengan benda berbentuk kotak yang sangat indah.


"Benda apa ini?" Tanya putri kecil itu sambil menyentuh permukaan kotak yang halus.


"Ini namanya Kubus Kaca Permata. Kubus yang terbuat dari permata lalu dibentuk sedemikian rupa sehingga terlihat sangat bening dan transparan lalu dinamai kaca." Jawab anak laki-laki itu sambil mengelus permukaan kubus.


"Pasti sangat mahal ya." Gumam putri kecil itu pelan.


"Aku rasa sangat cocok dengan teman kecilku ini." Balas anak laki-laki itu tersenyum lebar.


Putri kecil itu ikut tersenyum lebar. Dia tidak tahu tiba-tiba hantinya terasa hangat. Dia melirik dua pelayannya yang juga sedang mengagumi kubus permata miliknya. Putri kecil itu tersenyum puas melihat tingkah dua pelayannya itu yang kembali asik berbicara dengan dua pengawal teman kecilnya.


"Terima kasih pangeran kecil." Ucap putri kecil itu sambil memandang laki-laki kecil di depannya.


"Hanya rasa terima kasih saja?" Tanya laki-laki kecil itu mengangkat kedua alisnya.


"Apa yang kamu inginkan?" Tanya putri kecil yang mengerti maksud anak laki-laki di depannya.


"Sudah layaknya pangeran kecil ini untuk mengetahui nama putri kecil." Ucap anak laki-laki itu sedikit menunduk lalu tersenyum lebar.


"Pfftt.. Kamu hanya ingin tahu namaku? Itu saja?" Tanya putri kecil itu menutup mulutnya yang melihat tingkah konyol teman kecilnya itu.


Laki-laki kecil itu mengangguk. "Tentu saja, kita sudah bertemu dan tidak tahu namamu, bukankah sedikit kurang sopan?" Ucap anak laki-laki itu.


"Aku rasa kamu tidak terlalu pandai dalam tata krama kepada orang yang lebih tua dan lebih mudah darimu." Balas putri kecil itu yang memahami sikap teman kecilnya.


"Hehe.. Aku memang kurang pandai dalam hal itu, namun aku ini cukup berbakat." Balas anak kecil itu.


"Ya sudah. Namaku Jessika Meisi Daros, biasa dipanggil Jessika atau Meisi. Nama kamu siapa?" Tanya putri kecil itu setelah memberi tahu namanya sambil mengulurkan tangan kecilnya.


"Namaku Kenshin Andri. Biasa dipanggil Andri atau Kenshin." Jawab Andri menjabat tangan kecil di depannya. Perkenalan dua orang itu terlihat biasa saja seperti orang-orang pada umunya.


Mereka berdua bermain bersama. Andri kecil mengambil kura-kura putih dan imut itu lalu menyerahkannya kepada Jessika kecil. Jessika menerimanya dengan riang gembira lalu mencium-cium kura-kura kecil itu.


"Bahkan cangkang kura-kura ini tidak bau, tidak seperti kura-kura lainnya. Kura-kura apa namanya ini?" Tanya Jessika kecil.


"Ini namanya Kura-kura Sembilan Kebahagiaan. Kura-kura yang menjadi simbol kebahagiaan dari Dewa untuk orang yang mereka kehendaki. Aku mendapat kura-kura ini dengan tidak sengaja saat sedang bermaim di sungai dekat kamarku. Aku pikir akan lebih cocok untuk kuberikan kepada teman baruku." Jawab Andri kecil santai.


Jawaban itu membuat Jessika kecil terharu. Dia kemudian tersenyum lebar.


"Terima kasih kak Andri." Ucap Jessika kecil membuat Andri kecil terkejut.


"Kak? Kamu memanggil aku kakak?" Tanya Andri menunjuk dirinya sendiri dengan tidak percaya.


Jessika kecil mengangguk. "Ya, kamu sedikit lebih tua dari aku, jadi aku memanggilmu kakak. Bolehkan." Jawab Jessika kecil


"Tentu saja boleh lah. Baiklah mulai sekarang kamu adalah temanku dan salah satu orang yang harus kulindungi. Begitu kata ibundaku." Jawab Andri kecil tersenyum lebar.


Jessika kecil mengagguk senang. Mereka berdua kembali bermain, lari-lari bersama, terjatuh bersama dan tertawa bersama.


Beberapa dayang-dayang datang mengantar makanan lalu menaruhnya di meja taman. Jessika dan Andri berhenti bermain sebentar. Mereka makan dua pengawal Andri dan dua pelayan Jessika. Meskipun sedang makan, Andri tidak berhenti menjahili Jessika yang sedang makan. Jessika membalas jahilan Andri dan membuat mereka taman menjadi berantakan. Melihat hal itu mereka tertawa bersama.


"Haha putri kecil, lihatlah masih ada cabe di gigimu." Ucap Andri kecil sambil menunjuk gigi Jessika kecil.


Jessika kecil segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu berbalik membelakangi Andri. Dia mencari-cari cabe yang masih tersangkut di giginya dengan jari-jarinya yang kecil


"Pfftt.. Tapi bohong. Haha.." Ucap Andri dari belakang Jessika sambil tertawa terbahak-bahak.


"Cih.. Awas saja ya. Ini rasakan." Ucap Jessika sambil menaburi manisan di atas kepala Andri.


"Hahaha.." Jessika tertawa sambil berlari-lari dari kejaran Andri yang hendak membalas.


"Weekk.. Kak Andri tidak dapat membalas, weekk.." Ucap Jessika sambil menjulurkan lidahnya ke arah Andri yang masih berusaha mengejarnya. Mereka berlarian mengitari meja tempat mereka makan yang sudah acak-acakan.


Andri tersenyum lebar.


Wussh...


Dia melompat dan tepat berdiri di depan Jessika. Jessika yang terkejut karena tiba-tiba Andri telah berdiri di depannya terduduk.


"Haha.. Putri kecil, kamu tidak bisa menghindar lagi." Ucap Andri tersenyum lebar.


"Curang kali. Kak Andri lagi-lagi pake tenaga dalam apalagi kak Andri lebih tua dariku. Curang..." Ucap Jessika membela diri.


Andri terkekeh. Dia mengulurkan tangannya menarik Jessika yang masih terduduk. Jessika meraih tangan kecil Andri dan bangkit dan berdiri di depan Andri.


"Putri kecil, maaf ya kali ini kamu kalah. Hehe tidak ada syarat tidak boleh curang." Ucap Andri sambil membersihkan tangan Jessika yang sedikit kotor karena terduduk di tanah menopang tubuhnya.


"Hem.. Anak laki-laki memang curang tidak bisa dipercaya seperti kata ayahanda." Balas Jessika kecil.


"Aku tidak curang, aku hanya memanfaatkan apa yang aku bisa. Sebagai seorang yang jenius hal itu tidaklah susah." Balas Andri kecil membela dirinya.


"Dasar, siapa yanv mengatakan kamu jenius?" Balas Jessika kecil.


Pertengkaran kecil itu berakhir saat orang tua Andi datang membawanya pulang. Andri tersenyum ke arah Jessika.


"Aku harus pulang. Putri kecil semoga kita bisa bertemu lagi. Dadah.." Ucap Andri sambil melambaikan tangannya.


"Hem.. Ya semoga bisa bertemu. Hati-hati." Balas Jessika melambaikan tangannya.


"Terima kasih hadiahnya." Lanjuy Jessika lagi.


Jessika kecil kembali ke aktivitasnya semula sebagai seorang Putri Kerajaan. Hidup bersama para dayang-dayang istana, segala kebutuhan dengan mudah terpenuhi, keamanan yang tinggi serta kekayaan yang melimpah. Dia juga mempinyai saudara-saudara yang sering bermain dengannya. Meskipun begitu dia tidak sebahagia saat bermain bersama dengan teman barunya. Mungkin, jika bersama dia selalu memperhatikan adab dan tata krama kepada mereka, dia menganggap mereka benar-benar sebagai saudara bukan teman bermain seperti saat bermain bersama Andri.


Hidup terus berjalan. Siang berganti malam, malam berganti siang. Jessika kecil yang sudah berumur enam tahun itu sedang siap-siap belajar menjadi seorang kultivator. Dia sudah memasuki usia untuk belajar berkultivasi sesuai dengan peraturan yang berlaku di Kekaisaran Gama.


Jessika kecil menatap Kubus Kaca Permata yang di dalamnya terdapat satu kura-kura mungil putih. Hanya dua benda ini yang tersisa dari teman kecilnya yang sudah tidak pernah bertemu saat terakhir kali dia memberikan hadiah ini.


Jessika menghela nafas. Dia tidak tahu akan berapa lama lagi dia bisa bertemu dengan teman kecilnya itu, mungkin tiga atau empat tahun kedepan baru bisa bertemu. Mulai saat ini, dia akan pergi ke Sekte Azure Dragon untuk belajar kultivasi dan hanya tinggal menghitung hari saja dia akan berangkat ke sana.


Dalam perenungannya itu, tiba-tiba seorang pelayan datang dan mengagetkannya. Pelayan itu datang dengan membawa satu gulungan kecil. Sepertinya gulungan kecil itu sedikit istimewa karena tertanda stempel sebuah kerajaan.


"Tuan putri, ada surat dari Kekaisaran Alpha. Katanya surat ini khusus untuk tuan putri." Ucap pelayan itu memberi hormat sambil memeberika surat itu.


Jessika yang sempat jengkel karena diganggu, seketika wajah sumringah saat mendengar surat itu khusus untuknya dan berasal dari Kekaisaran Alpha. Siapa lagi yang mengenal Jessika di Kekaisaran Gama selain teman kecilnya?


Jessika menerima surat itu dengan bahagia. "Terima kasih bibi." Ucap Jessika tersenyum lebar.


Jessika membuka gulungan kecil itu dengan pelan dan lembut. Baru saja dia memikirkan teman kecilnya itu, dan sekarang sudah ada surat darinya. Takdir kah atau kebetulan? Jessika kecil mulai membaca surat itu.


Hehe... Aku tahu kok kamu selalu sehat-sehat saja. Terlebih saat ini kamu akan segera memasuki Sekte Azure Dragon dan belajar kultivasi di sana. Selamat ya...


Tidak perlu kamu tahu dari mana aku tahu mengenai kabarmu masuk Sekte Azure Dragon. Yang perlu kamu tahu saat ini adalah bahwa aku ini adalah calon suamimu.


Hehe.. Ups... Mungkin aku terlalu terang-terangan. Perjodohan ini diatur sendiri oleh Yang Mulia Kaisar Gama dan ayahku. Perjodohan ini baru-baru saja ditetapkan dan mungkin Yang Mulia Kaisar belum memberitahu hal ink kepada putri tersayangnya.


Hehe... Aku yakin kamu pasti sedang senyum-senyum sendiri membaca surat ini dan membayangkan saat kamu telah dewasa dan bertemu denganku sebagai suamimu.


Hehe... Aku saja tidak henti-hentinya tertawa sendiri saat menulis surat ini.


Pesanku, berlatihlah dengan giat dan sungguh-sungguh di Sekte Azure Dragon. Kalo bisa kamu harus melampauiku yang sudah berada di Ranah Warrior bintang lima di usiaku saat ini.


Hehe.. Aku jeniuskan.. Ya harus jeniuslah... Aku harus punya kekuatan untuk melindungimu nanti. Ingat, jangan memaksakan diri jika tidak mampu, aku tidak ingin kamu kenapa-napa.


Sebagai calon suamimu, aku akan sedih jika melihatmu terluka, aku akan bahagia jika kamu juga bahagia.


Sudah dulu ya... Aku kebanyakan ngegombal mungkin. Untuk anak seusia kita hal itu tidaklah cocok.


Sampai bertemu di lain kesempatan, ku harap saat pertemuan kita nanti, kamu tidak melupakan calon suamimu ini.


By byπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—πŸ’•πŸ’•


^^^Kekaisaran Alpha, Calon suami keclimu^^^


^^^Andri Kenshin*^^^


Jessika tersenyum lebar membaca surat itu, jantungnya berdegup kencang, pipinya merona merah. Dia sedikit terkejut namun begitu bahagia. Meskipun dia tidak terlalu memahami maksud dari kata-kata 'calon suami' namun dia tahu itu adalah sesuatu yang spesial. Terlihat dari kata-kata yang ditulis dalam surat itu.


Jessika kecil menyimpan surat itu ke dalam cincin ruang miliknya. Meskipun dia belum belajar kultivasi, namun dia sudah mampu menyimpan barang di dalam cincin penyimpanan miliknya.


Hari dimana Jessika memasuki Sekte Azure Dragon tiba. Tidak seperti sebelumnya, kali dia sangat bersemangat ingin memasuki Sekte itu. Perubahan itu terlihat jelas di mata Ayahandanya, meskipun tidak tahu apa yang telah mengubah sikap anak tersayangnya ini, namun yang pasti itu sesuatu yang baik padanya.


Jessika kecil menatap sesaat Kubus Kaca Permata, dia tersenyum lebar. Dia meninggalkan kubus itu di kamarnya agar dia ingat bahwa masih ada sesuatu yang berharga yang menanti kedatangannya.


"Bibi, tolong jangan lupa pesanku. Kura-kura putih harus dikasih makan sesuai jadwal yang aku atur dan takaran yang telah aku tentukan. Awas kalo kura-kura itu sampai mati saat aku tinggalkan." Ucap Jessika lalu melangkah mengikuti ayahnya.


"Baik tuan putri." Jawab para payan itu mengangguk sopan.


......................


Tidak terasa, beberapa tahun telah berlalu. Jessika kecil yang dulunya masih ingusan, sekarang telah menjelma menjadi gadis kembang di Sekte Azure Dragon dan menjadi jenius nomor satu yang digadang-gadangkan sebagai Calon Ketua Sekte Azure Dragon. Bahkan kejeniusannya melebihi dari Ketua Sekte Azure Dragon yang sekarang.


Ketenarannya serta kecantikannya terdengar hingga ke telinga Andri yang juga sudah menjelma menjadi pemuda tampan dan jenius top jenius di dunia. Para pemuda yang mengetahui kecantikan kembang Sekte Azure Dragon berlomba-lomba menyuntingnya. Pangeran-pangeran, Tuan-tuan muda dari berbagai keluarga dibuat kecewa saat mengetahui bahwa sang kembang ternyata telah dijodohkan dengan Sang pemuda jenius tampan yang juga beberapa kekaisaran telah mencoba menyunting sang pemuda itu.


Perjodohan itu tersebar ke berbagai kalangan di sekitar Kekiasaran Gama dan Alpha maupun Sekte Azure Dragon. Banyak yang besuka cita dengan perjodohan itu, seorang Gadis Kembang jenius nomor satu Sekte Azure Dragon telah dijodohkan dengan Pemuda tampan jenius nomor satu di dunia. Sungguh pasangan yang serius. Namun tidak sedikit juga yang membenci perjodoha itu sehingga berbagai macam cara dilakukan untuk memutus perjodohan itu.


Jessika dan Andri memang sudah tidak saling bertemu sejak terakhir kali dan itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu saat mereka masih ingusan. Selama ini mereka berhubungan hanya dengan saling mengirim surat setiap setahun sekali untuk melepas rindu. Kesibukan yang ada memang menghambat mereka untuk bertemu namun tidak menghambat cinta yang indah bersemi di hati mereka.


Sayangnya setiap kebahagiaan pasti beriring dengan kesedihan yang setara. Tak lama berselang, tersebar berita yang menggemparkan. Sang jenius top jenius nomor satu di dunia telah berubah menjadi sampah tak berguna. Kultivasi yang tinggi di usia yang masih sangat muda tiba-tiba menurun hingga ke ranah yang sangat memalukan. Meridian yang hancur, serta kultivasi yang tidak berguna, membuat sang jenius sampah dijauhi dan dicemoohi oleh berbagai kalangan. Bahkan keluarganya sendiri tidak menganggap dirinya dan mengatakan bahwa sang jenius adalah beban serta aib keluarga.


Kabar buruk itu juga terdengar hingga ke telinga sang kekasih. Jessika sempat merasa sedih dan kasihan atas apa yang dialami kekasihnya itu. Beberapa orang mencoba menghasut Jessika agar segera memutuskan perjodohannya dengan jenius sampah tidak yang telah menjadi aib bagi Kekaisaran Alpha. Dan mungkin bisa jadi aib bagi Kekaisaran Gama. Bahkan orang tua Jessika juga mendukung hal itu dan mengirim surat pembatalan perjodohan secara sepihak ke Kekaisaran Alpha.


Lengkap sudah derita yang diterima oleh jenius sampah nomor satu di dunia. Sang jenius sampah yang sudah tidak sanggup dengan cacian dan hinaan yang diterimanya, membuat sang jenius itu kabur dan pergi dari Kekaisarannya sendiri yaang sudah tidak menerima dan menganggapnya lagi.


Berita putusnya perjodohan dan kaburnya Andri dari Kekaisaran akhirnya terdengar di telinga Jessika yang menjadi sangat murka. Dia memberontak orang tuanya yang tanpa sepengatahuannya telah memutus perjodohan secara sepihak tanpa diketahuinya. Jessika sempat menyerang ayahandanya dan membuatnya terluka, namun sayangnya dia masihlah sangat muda dan masih lemah, dengan mudahnya jessika ditahan dikurung dalam penjara.


"Suamiku bagaiaman ini? Jika kita tidak bertindak secara langsung, aku takut hal itu akan melukai jiwa anak kita?" Tanya Sang Istri Ibunda Jessika kepada suaminya dengan penuh penyelasan.


Sang suami menghela nafas. Dia lalu melirik ke penasihat Istana untuk mencari jawaban yang tepat. Sang penasihat yang mempunyai ide maju dan berkata.


"Yang Mulia, Permaisuri, saya mempunyai saran yang sedikit menyakitkan. Namun saya yakin akan sangat ampuh."


"Katakan, rencana apa yang kamu miliki." Ucap Kaisar cepat.


"Saya memiliki kenalan seorang kultivator spiritual yang ahli dalam sihir. Salah satu keahliannya adalah mampu mengilangkan ingatan-ingatan tertentu dari seseorang. Mungkin teman saya bisa menghilangkan ingatan tuan putri tentang pemuda itu." Ucap Penasihat istana menunduk hormat.


"Apa ada konsekuensinya?" Tanya ibu ratu cemas.


"Sedikit rasa sakit yang diderita jika ingatan tentang orang itu sangat kuat." Jawab penasihat istana pelan. Dia sedikit ragu untuk mengukapnya.


"Tidak masalah segera panggil kenalamu itu sekarang juga. Katakan padanya jika berhasil, maka dia akan mendapat hadiah langsung dari Kaisar Gama Yang Agung." Perintah Kaisar secara tegas tanpa berpikir panjang.


"Baik Yang Mulia. Saya pamit." Ucap Penasihat sambil mundur ke belakang diikuti beberapa pengawal.


"Suamiku, apa hal ini benar-benar berhasi?" Tanya sang istri.


"Kita lihat saja dulu. Namun aku selalu percaya dengan penasihat istana." Jawab Kaisar tegas.


Sore harinya, penasihat istana kembali bersama dengan seorang laki-laki paruh baya yang memakai pakaian aneh. Laki-laki itu menhgormat dan berlutut di depan Kaisar.


"Katakan siapa namamu?" Tanya Kaisar penuh wibawa.


"Hanba Rebo Yang Mulia." Jawab Rebo tanpa mengangkat kepalanya.


"Kamu yakin bisa melakukannya?" Tanya Kaisar tanpa menjelaskan detail yang dimaksudnya.


"Saya sudah berpengalam dengan hal itu Yang Mulia. Anda boleh ragu dengan saya tapi jangan ragu dengan pengalaman dan keahlian saya." Ucap laki-laki tua masih menunduk.


"Baik, aku percaya padamu. Jika kamu berhasil aku akan memberikan gelar bangsawan padamu dan menghadiahi kamu tanah utara dan beberapa ribu tael emas. Namun jika gagal, nyawamu sebagai bayarannya." Ucap Kaisar tegas dan penuh tekanan.


"Hamba bersedia Yang Mulia." Jawab laki-laki tua itu mantap walaupun dia sedikit merasa ketakutan atas ancamam Kaisar. Dia sudah sampai di sini, tidak ada jalan baginya untuk mundur.


"Sekrang kita menuju tempat putriku berada." Ucap Kaisar bangkit dari singgasananya. Dua orang pengawal berjalan tepat di belakangnya. Laki-laki paruh berjalan tenang di belakang dia pengawal. Dia mengetahui bahwa, dua pengawal di depannya ini kultivasinya jauh lebih darinya meskipun mereka telah menyembunyikannya.


Tak lama kemudian, akhirnya Kaisar dan rombongannya telah sampai di pintu kamar Jessika. Di depan pintu telah berdiri dua orang pengawal tingkat tinggi unjuk menjaga putrinya. Begitu melihat Kaisar datang, mereka langsung memghormat dan membuka pintu kamar untuk Kaisar.


Kaisar segera masuk dan diikuti oleh rombongannya. Di dalam Jessika begitu terkejut saat ayahnya datang bersama dengan seorang laki-laki paruh baya yang tidak dikenalnya.


"Ayah, apa lagi yang hendak anda lakukan? Belum puaskah anda melihat penderitaanku?" Ucap Jessika penuh emosi. Air matanya berderai lagi.


"Maafkan aku putriku. Ini semua demi kebaikanmu dan kebaikan Kekaisan kita." Jawab Kaisar sambil duduk di samping putrinya.


"Untuk kebaikanku atau martabat ayah sendiri?" Ucap Jessika berderai air mata.


Kaisar mengela nafas. "Maafkan aku nak. Semoga setelah ini semua baik-baik saja." Ucap Kaisar lalu menotok putrinya dengan beberapa totokan membuat Jessika tidak sadarkan diri.


Kaisar bangkit dari duduknya setelah menyelimuti tubuh Jessika. Dia menoleh ke arah Rebo.


"Segera kerjakan tugasmu" Ucap Kaisar tegas lalu menudur ke belakan memberikan ruang kepada Rebo untuk mengerjakan tugasnya.


"Baik Yang Mulia. Izinkan hamba mengerjakan pekerjaan hamba." Ucap Rebo menghormat lalu berjalan ke arah kepala Jessika.


Secara perlahan, Rebo mengulurkan tangannya ke kepala Jessika lalu mengucap sesuatu yang tidak jelas. Tak lama kemudian satu cahaya kecil mengalir dari telapak tangan Rebo dan masuk ke kepala Jessika.


Rebo memejamkan matanya tanpa melepas tangannya dari kepala Jessika. Angin kecil berkesiur di sekitar tubub Rebo. Lalu tiba-tiba mulut Rebo bergumam tidak jelas.


Pergi...


Yang pernah ada...


Masalalu tak pernah ada...


Lebur bersama udara...


Hilang bersama waktu...


Tak pernah kembali....


Seperti jatuh tak kembali ke rantingnya...


Rebo kembali membuka matanya, namun hanya selaput putih yang ada, tidak ada pupil sama sekali. Pemandangan itu membuat Kaisar dan yang lainnya bergidik ngeri. Tak lama kemudian, pupil hitam Rebo kembali terlihat secara perlahan turun atas matanya. Kening Rebo telah berkeringat dan tanpa basa basi, dia mengambil segelas air putih ada di meja belajar Jessika lalu meminumnya hingga habis. Dia bangkit dari tempat duduknya dan memberi hormat kepada Kaisar.


"Apa kamj berhasil?" Tanya Kaisar tidak sabaran.


"Saya berhasil Yang Mulia. Saya sedikit kesulitan tadi karena ingatan tuan putri tentang pemuda itu telah sampai ke jiwanya." Jawab Rebo sopan.


"Lalu apa kamu berhasil membuatnya lupa dengan pemuda itu?" Tanya ibunda ratu yang baru saja tiba.


"Saya berhasil Ratu. Namun saya katakan bahwa saya bukan mengilangkan ingatannya, hanya menyegelnya. Di dunia ini tidak ada yang mampu mengilangkan ingatan seseorang tanpa menglami kematian. Saya menyegel ingatan tuan putri tentang pemuda itu selama-selamanya dan tidak akan pernah kembali jika...." Rebo menahan ucapannya.


"Jika apa?" Tanya permaisuri cepat.


"Jika ada orang yang leih hebat dari saya yang mampu membuka segel itu. Namun itu mustahil. Saya sendiri tidak bisa melepas segel permanen yang telah saya buat kecuali benar-benar ada orang jauh lebih hebat dari saya di dunia ini." Jawab Rebo sedikit jumawa.


"Lalu sampai kapan anakku bangun?" Tanya Ratu.


"Mungkin sampai besok pagi baru bangun. Saya sudah sedikit melukai jiwanya saat mencoba menyegelnya tadi, namun saya telah menyembuhkan kembali jiwanya sehingga butuh waktu agar jiwanya benar-benar pulih. Saya sarankan lebih baik kita segera keluar dari sini." Jawab Rebo memberi saran.


"Baiklah.. Kita tunggu sampai besok pagi. Jika putri lupa tentang pemuda itu, sesuai janji saya kamu akan mendapatkan gelar bangsawan dan diberi sebagian tanah di utara. Namun jika kamu gagal bahkan sampai melukai putri saya, nyawamu dan keluargamu adalah milikku." Ucap Kaisar Gama tegas dan menekan.


"Saya tidak berani Yang Mulia." Balas Rebo membungkuk.


......................


Perlahan, Jessika membuka kelompak matanya yang telah basah dengan air mata. Sejurus dia menangis tersedu-sedu sambil memeluk lututnya. Kupu-kupu yang berada di sekitarnya ikut menangis dan bertengger di atas kepalanya. Kupu-kupu itu tanpa mereka sadari ikut mengtahui masa lalu Jessika. Masa lalu yang terlupakan.


"Hiks... Kak Andri... Aku.... Aku minta maaf..... Hiks... Kenapa.... Apa kamu membenciku.... Hikss... Aku... Aku tidak tahu... Bagaimana perasaanmu begitu melihatku.... Kak Andri.. Maafkan aku.... Hiks..." Jessika menangis tersedu-sedu tanpa mempedulikan suasana di sampingnya.


Sejak dia masuk ke alam ini untuk berkultivasi tertutup, tidak pernah sekalipun dia meninggalkan tempatnya ini. Sudah hampir satu tahun dia berada di alam ini. Makan, berkultivasi, makan, berkultivasi terkadang sedikit istirahat dan bermain adalah kegiatan sehari-seharinya di alam ini. Dia tidak pernah bosa dengan alam ini. Setiap pekan dia selalu dapat melihat pemandangan indah dari penduduk sekitar serta alamnya yang dia sendiri tidak tau apakah itu.


Namun saat ini, ketika dia telah mencapai ranah Saint bintang dia tiba-tiba saja masa lalunya yang telah terlupa hadir dengan sendirinya. Dia tidak pernah tahu bahwa dia memiliki kekasih yang sengaja terlupakan. Dia juga memiliki masa lalu indah bersama kekasihnya itu.


Jessika memegangi dadanya yang sakit. Sakit karena dia dengan terpaksa harus melupakan orang yang paling dicintainya. Sakit karena dengan terpaksa mereka diharuskan berpisah. Sakit karena memikirkan orang mencintainya sedangkan dia sendiri tidak tahu itu adalah orang yang dicintainya. Sakit karena ternyata orang yang paling dicintainya telah berada di sisinya.


"Hiks... Kak Andri... Maaf..Mohon maafkan aku." Ucap Jessika masih terisak. Dia menyalahkan dirinya sendiri.


"Nona Putri, waktu kultivasi telah selesai. Anda juga sudah berada di ranah yang cukuo menakutkan di usia anda sekarang. Sudah waktunya anda kembali bersama dengan teman-teman dan orang yang anda cintai." Seorang gadis cantik tiba-tiba telah berada di depannya dan berkata ramah.


"Hem..." Balas Jessika mengangguk sambil mengusap pipinya dari air mata. Dia menyeka air matanya.


Dia bangkit dengan tenang. Meskipun terlihat tenang, dalam hatinya sudah tidak sabar untuk keluar dan bertemu dengan orang yang sangat dirinduinya.


Sekarang ingatannya telah kembali dan orang dicintainya juga selalu berada di sisinya. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan jodoh masa kecilnya dan menceritakan seluruh keluh kesahnya.


Wushh...


Satu portal emas muncul di depan Jessika. Gadis manis itu memasukinya dengan tenang dan wajah berseri. Seketika tubuhnya lenyap bersamaan dengan lenyapnya portal emas itu.


Wussh...


Jessika muncul di sebuah padang dan bukan padang pasir lagi. Dia melihat sekitar dan mendapati tiga orang telah tersenyum ramah. Dia mengenal mereka semua.


Tang Xiao, adik ketiganya yang masih misterius identitasnya maupun kekuatannya namun sangat baik. Denas, adik keempatnya seorang pemuda jenius yang juga identitasnya masih tersembunyi. Baginya sudah satu tahun tidak bertemu dengan mereka. Dan yang terakhir, Andri Kekasih dan jodoh yang terlupakan yang juga menjadi kakak pertamanya.


Perlahan Jessika berjalan menuju Andri dengan air mata berlinang dan jantung berdebar kencang.


Hupp....


Jessika berlari kencang dan memeluk erat Andri yang sedikit kebingungan. Jessika terisak di dada Andri yang bidang. Jessika terisak tanpa berani berbicara sedangkan Andri membalas pelukan dengan sedikit bingung. Namun dia dapat menerka apa yang terjadi. Tang Xiao dan Denas juga dibuat bingung dengan sikap kakak kedua mereka ini. Mereka hanya diam dan tidak berani bertanya.


"Kak Andri... Maaf.... Maaf... Hiks... Maaf... Hiks.... Maaf... Hikss..." Ucap Jessika di sela-sela isak tangisnya. Jantungnha semakin berdetak cepat.


"Ada apa sebenarnya adik kedua?" Tanya Andri sedikit bingung.


"Hikss... Masihkah kak Andri berpura-pura tegar di hadapanku, wanita yang sangat mencintaimu dan kamu cintai, wanita yang masa kecilnya pernah kak Andri beri Kubus Kaca Permata dan kura-kura Sembilan Kebahagiaan? Wanita itu sekarang sedang memelukmu." Jawab Jessika memeluk erat Andri.


Andri tertegun tak percaya. Dia memang tahu bahwa kekasihnya itu telah disegel ingatannya tentangnya. Dia juga tidak menyalahkannya dan hanya menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu lemah saat itu.


"Kak Andri.. Hiks.. Aku ingat semuanya... Aku ingat surat-surat itu... Aku ingat janji-janji dalam surat itu.. Maaf kak saat itu aku tidak dapat berbuat apa-apa." Ucap Jessika tanpa meregangkan pelukannya.


Andri membalas erat pulakan Jessika. Ikut menangis tersedu menumpahkan segala rindu. Rindu yang menggebu-gebu setiap dia melihat oramg yang sangat dicintainya.


"Putri kecil.. Aku mohon.. Hiks... Jangan menyalahkan dirimu sendiri... Akulah yang sebenarnya pengecut dan pecundang itu. Aku lah yang bersalah hingga kamu harus menanggung beban dan rasa malu yang besar. Semua itu salahku.. Salahku." Ucap Andri sambil mengelus kepala Jessika. Meskipun dia merasa sedikit sesak nafas karena terlalu erat dipeluk Jessika, namun dia sangat menyukai hal itu. Bahwa orang yang dicintainya tidaklah pernah meninggalkannya.


"Mulai sekarang.. Sesuai janji kak Andri akan selalu melindungiku dan tidak akan pernah terpisahkan yang kedua kalinya." Ucap Jessika sambil menatap mata teduh Andri namun tidak melepaskan pelukannya.


Andri tersenyum manis. Senyum yang pernah ada sewaktu dulu yang pernah dilupakannya, kini senyum itu hadir kembali untuk orang yang dicintainya yang telah kembali hadir.


"Aku janji putri kecil.... Dengan seluruh jiwa dan ragaku aku persembahkan untuk melindungimu." Ucap Andri mantap.


"Uhuk uhuk huk...." Tang Xiao dan Denas terbatuk-batuk mendengar ucapan Kakak pertamanya yang terlalu absurd. Kini mereka telah memahami tragedi apa yang terjadi pada dua kakaknya ini. Mereka juga tidak menyangka bahwa saat ini hanya tinggal mereka berdualah yang belum bertemu dengan orang dicintainya. Tentu saja mereka juga tidak memiliki kekasih masa kecil.


"Hem... Sekarang kita berada dimana? dan dimana anggota Sekte Azure Dragon?" Tanya Jessika sambil pelukannya Andri yang langsung bernafas lega.


"Kita telah berada di Benua Soul Of Land. Dan padang ini namanya Sabana Utara. Tidak lama lagi turnamen antar benua akan segera dimulai hanya menghitung hari." Jawab Denas sambil menunjuk daerah sekitar.


"Hem.. Baiklah kita segera berangkat ke Paviliun Bintang saja." Ucap Jessika.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hemm...


Memang sesekali harus berhenti saat melangkah dan melihat alam sekitar agar kita tidak lupa bahwa manusia adalah makhluk sosial.


Seminggu gk up rasanya kangen juga... Hehe..


Sengaja sedikit panjang ch ini agar readers bisa puas.


Lanjut?... Yuks tinggalkan jejak