The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 39. LEMBAH DAWAI



Andri dan Maria memimpin jalan menuju rumah Maria diikuti Tang Xiao dan Denas. Mereka berempat berjalan kaki melewati hutan-hutan kecil dan desa-desa kecil. Sepanjang jalan lebih banyak mereka diam dari pada berbicara. Hanya sesekali kadang mereka bercanda saling bertanya asal masing-masing.


Andri pemuda berjubah hitam seperti Tang Xiao berasal dari Kekaisaran Gama dari benua Land Of Soul. Dia berada di benua ini karena kabur dari rumah dengan satu alasan yang dirahasiakannya. Sedangkan Denas adalah pendekar pengelana yang berjalan tidak tentu arah dan hanya mengikuti kata hatinya. Walaupun begitu diantara mereka bertiga, hanya Denas yang kultivasinya berada di ranah Expert bintang satu.


"Saudara Denas di usia semuda ini kamu akan menjadi incaran sekte-sekte raksasa di dunia jika mereka mendengar tentang mu." Ucap Tang Xiao yang berjalan beriringan dengan Denas di belakang Andri dan Maria.


"Aku memang sengaja menyembunyikan kekuatanku namun tak menyangka saudara Tang mampu mengetahuinya dengan pasti. Aku hanya tidak ingin terkekang satu praturan saja. Aku ingin berkelana mencari pengalaman hingga mencapai puncak kekuatan. Itulah tekadku." Balas Denas sambil mengipas-ngipaskan kipasnya.


"Bagaimana dengan keluargamu?" Tanya Tang Xiao lagi.


"Mereka tentu menentang keinginanku namun aku tidak peduli dan aku kabur dari rumah." Jawab Denas ringan.


"Hah... Aku tidak menyangka akan bertemu dengan dua orang yang kabur dari rumah."


"Lalu kamu sendiri bagaimana keluargamu?" Tanya Denas balik.


Tang Xiao melihat ke langit dan tersenyum. Dia mengangkat jeri telujuknya dan mengarahkannya ke langit.


"Di sana. Orang tuaku melihatku dari sana dari surga sana sejak sepuluh tahun yang lalu." Jawab Tang Xiao.


Denas mengangkat kepalanya mengikuti telunjuk Tang Xiao. Dia tertegun mendengar jawaban pemuda tampan di sampingnya. Dia menjadi merasa bersalah.


"Maaf aku tidak tahu...." Ucap Denas menyesal.


"Tidak usah minta maaf kamu tidak bersalah. Aku harus terbiasa dengan hidup kesendirian ini." Jawab Tang Xiao ringan tersenyum lebar.


"Kamu tidak sendiri." Balas Denas cepat.


"Ya..." Tanya Tang Xiao bingung.


"Masih ada aku, Andri dan Maria di sini. Kita bisa menjadi keluargamu." Ucap Denas mengcungkan telunjuknya ke dadanya.


Tang Xiao berhenti berjalan. Dia menghadap Denas dan menatapnya. Dia memegang kedua pundak Denas.


"Benarkah kamu mau menjadi saudaraku?" Tanya Tang Xiao sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Denas.


Denas yang diperlakukan seperti itu menjadi gugup. Wajahnya memerah.


"Eh minggir aku bukan wanita kenapa melihatku seperti itu. Jangan dekat-dekat aku tidak menyukai sesama jenis." Jawab Denas menjauhkan wajahnya dan melepaskan tangan Tang Xiao dari pundaknya.


"Jawab dulu pertanyaanku?"


"Itu tergantung bagaimana kamu memperlakukan dengan baik." Jawab Denas sambil berjalan meninggalkan Tang Xiao.


"Heeii tunggu aku." Ucap Tang Xiao menyusul Denas.


"Baiklah saudara Denas jangan menghianati persaudaraan kita. Berjanjilah." Ucap Tang Xiao sambil mengangkat jari kelingkingnya di depan Denas.


"Aku tidak bisa berjanji. Mungkin aku harus menghianati persaudaraan karena jalan yang harus aku tempuh. Tapi aku janji, selama ada aku di sini kamu tidak akan pernah merasa sendiri. Dan jadilah saudara yang baik untukku." Balas Denas menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingiking Tang Xiao.


"Aku juga berjanji." Ucap Andri tiba-tiba ikut menautkan jari kelingkingnya ke jari Denas dan Andri.


"Kak apa yang kalian lakukan. Janji apa Kak?" Tanya Maria yang telah berdiri di samping menatap mereka bertiga.


"Oh ini janji anak laki-laki dewasa Maria. Sebagai anak perempuan mending tidak usah tahu aja. Ayo kita lanjutkan perjalanannya." Jawab Andri cepat sambil menggendong Mari di pundaknya. Di antara mereka memang Andrilah yang mempunyai badan paling besar dan paling gempal dengan tingkat kultivasi ranah Grand Master bintang sembilan sama seperti Tang Xiao. Kekuatan fisiknya sudah melebihi kultivator ranah Grand Master. Sedangkan Tang Xiao memiliki tubuh yang atletis dan proposional serta tegap. Sedangkan Denas adalah yang paling kecil dan paling ramping di antara mereka. Walaupun begitu, kultivasinya adalah yang paling tinggi yaitu ranah Expert bintang satu.


Kali ini mereka berempat melakukan perjalan dengan berlari. Andri yang menggendong Maria di pundaknya seperti tidak memiliki beban apa-apa. Lari dan lompatannya masihlah cepat dan jauh seperti biasa.


"Eh ngomong-ngomong saudara Tang, burung pipit yang terus bertengger di kepalamu itu burung apa? Terlihat tidak biasa dan aku merasakan kekuatan yang sangat mengerikan dari burung itu." Tanya Denas di sela-sela perjalanan mereka.


"Ah burung ini aku menemukannya kelaparan di pinggir hutan saat hendak memasuki kota tempat kita bertemu tadi. Aku memberinya sedikit makanan dan dia terus mengikuti sampai tidak mau pergi kemanapun. Aku memberinya nama Pipit Tujuh Warna." Jawab Tang Xiao sekenannya.


"Pfftt... Hahaha... Namanya aneh kali. Tidak bisakah kamu kamu memberi nama yang bagus." Ejek Denas menutup mulutnya dengan kipasnya.


"Haha.. Apa kamu punya nama yang bagus?"


"Hemm bagaimana kalo Xiao Nao? Atau Xiao Hai?"


"Ah nanti ajalah aku memikirkan namanya" Jawab Tang Xiao singkat. Denas menutup mulutnya menahan ketawa.


"Master, anda tega betul mengatakan aku burung kecil yang kelaparan." Gerutu Gagak di kepala Tang Xiao tidak terima dirinya dikatakan burung kecil yang kelaparan.


"Aku adalah Gagak penguasa hutan terbesar di benua ini. Mytichal Beast Half-Saint. Bisa-bisanya disebut burung kecil kelaparan." Gerutu Gagak itu.


"Hehehe. Mau gimana lagi. Dari pada identitasmu ketahuan mending berbohong dikitlah" Balas Tang Xiao cengengesan.


Tak lama kemudian, Tang Xiao dan teman-temannya berhenti di sebuah rumah kecil di dekat hutan kecil. Rumah paling ujung sendiri dari desa terdekat.


Maria segera turun dari pundak Andri dan berlari dengan cepat ke gubuknya sambil membawa botol obat yang dibawanya dari markas kecil Bandit Gunung. Andri, Denas dan Tang Xiao mengikuti gadis kecil itu.


Tang Xiao tampak terkejut melihat kondisi kakek nenek Maria yang tergelatak lemah di ranjang. Badan mereka kurus kering seperti tidak pernah makan. Hanya saja keadaan mereka sedikit terawat mungkin karena selama ini dirawat Maria.


Denas berusaha sebisa mungkin menahan amarahnya melihat kondisi kedua orang tua renta itu. Dia menyalahkan penduduk desa yang tidak tahu menahu dengan tetangga sebelah mereka yang sangat membutuhkan pertolongan. Tang Xiao yang memahami emosi Denas mencoba menenangkan.


"Saudara Denas tenanglah sedikit jangan sampai membuat gaduh disini."


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang saat memikirkan para penduduk desa yang tidak punya belas kasihan dan membantu sesama mereka." Ucap Denas bergetar menahan amarahnya. Dia sudah ingin sekali memporak-porandakan seluruh desa.


"Hah... Saudara Denas sepertinya kamu belum terbiasa dengan dunia luar dan liar seperti ini. Dunia ini memang seperti ini. Kita tidak bisa menyalahkan satu pihak demi pihak yang lain. Siapa tahu dengan kamu memporak-porandakan desa ini ada anak kecil dan tua renta tak berdosa yang terluka dan bahkan terbunuh. Ingat jangan hanya mengikuti perasaanmu, cobalah berpikir lebih jernih dan lebih tenang agar tidak menimbulkan masalah dan kesesalan yang berkepanjangan." Jawab Tang Xiao memegang pundak Denas.


Denas menjadi lebih tenang. Dia merenungi ucapan Tang Xiao. Mungkin dia memang melihatnya dari perasaan tanpa memikirkan masalah yang akan didatangkannya di masa depan.


"Terima kasih saudara Tang. Memang pilihan tepat aku menjadi saudaramu" Balas Denas tersenyum manis.


"Hei kalian berdua kenapa masih di sana? Coba lihat kondisi mereka saudara Tang. Bukannya kamu seorang ahli pengobatan?" Suara Andri menghentikan percakapan Tang Xiao dengan Denas. Tang Xiao bergegas menghampiri sepasang tua yang telah meminum obat pemberian Maria. Tidak ada tanda-tanda lebih baik dari sebelumnya. Tang Xiao menghela nafas.


"Apa kakek dan nenek Maria masih bisa ditolong?" Tanya gadis itu dengan mata berkaca-kaca.


"Tenang saja selama kakak Tang ada di sini bahkan Dewa Kematian tidak akan mampu mengambil nyawa kakek dan nenek Maria." Jawab Tang Xiao senyum mengelus rambut Maria. Andri dan Denas tersenyum lega mendengar ucapan Tang Xiao. Mereka sempat merasa kaget mendengar analisis Tang Xiao tentang penyakit kedua pasangan tua ini. Mereka sangat tahu persis betapa berbahayanya penyakit Pneumonia. Mungkin karena alasan ini para penduduk kampung tidak mempedulikan pasangan tua ini. Namun saat ini mereka hanya percaya pada Tang Xiao yang berbicara dengan penuh percaya diri.


Tang Xiao mengeluarkan sebutir pil dari ruang jiwanya. Kemudian pil itu dibelah dua. Tang Xiao duduk di tepi ranjang mengangkat kepala kakek dengan perlahan lalu memasukkan sebelah pil ke dalam mulut Kakek tua kemudian meminumkannya dengar air putih. Setelah itu Tang Xiao melakukan cara yang sama kepada nenek di sebelahnya.


Tak lama berselang secara perlahan namun terlihat sangat jelas, kondisi kedua pasangan tua itu sedikit demi sedikit berubah. Kulit yang awalnya pucat kini tampak berseri. Pipi yang awalnya terlihat cekung sedikit demi sedikit mulai berisi. Begitu juga dengan tubuh mereka yang kurus krempeng sedikit demi sedikit mulai berisi seperti sebelumnya. Rambut mereka yang putih penuh uban, kembali hitam legam bahkan lebih bagus dari sebelumnya.


Perubahan ini membuat semua yang ada di rumah itu terbelalak tak percaya. Keajaiban medis yang luar biasa.


Kedua pasangan tua itu perlahan membuka matanya. Mereka tampak kaget melihat beberapa orang pemuda sedang melihat mereka berdua dengan tatapan tidak percaya. Maria yang melihat kakek dan neneknya sembuh segera memeluk mereka.


"Apa yang terjadi di sini? Kenapa seakan-akan aku penuh dengan tenaga dan sehat seperti sedia kala." Tanya Kakek tua melihat ke arah tiga orang pemuda tampan yang belum pernah dilihatnya.


"Aahh... Kakek.. Kenapa dengan mu? Apa yang terjadi?" Teriak nenek terkejut dari belakang kakek. Kakek tua itu melihat ke belakang dan matanya terbelalak tak percaya melihat istrinya.


"Nenek.. Benarkah ini kamu? Kenapa.... Kenapa kamu terlihat muda dan cantik?" Tanya Kakek tua tak percaya setengah terkejut.


"Apa? Aku kembali muda? Kamu juga kakek kenapa terlihat muda?" Tanyak balik nenek tua sambil memegang kedua wajahnya.


......................


Sementara itu di tempat lain, sebuah portal tiba-tiba muncul. Keluar darinya dua orang gadis cantik yang melihat sekeliling.


"Saudari Yan bagaimana hasilnya?" Tanya seorang dari keduanya kepada yang lain.


"Huff... Jejak nona muda tiba-tiba menghilang dari sini. Entah jurus rahasia apa yang digunakan nona sampai bisa menghilangkan jejak dan hawanya." Jawab orang yang dipanggil Yan sambil mengeluh.


"Memang nona muda yang pantas menjadi penerus klan. Dia lebih kuat dari Patriak sewaktu muda." Balas temannya yang bertanya tadi.


"Sepertinya ada beberapa orang satu rombongan yang hendak lewat sini bagaimana coba kita tanyakan tempat ini." Ucap gadis yang bernama Yan saat merasakan ada sekolompok orang yang mengarah kepada mereka.


"Usul yang bagus." Jawab singkat temannya yang bernama tetua Lan.


Kedua tetua itu menutup wajah mereka dengan cadar agar tidak terjadi masalah yang lebih besar. Sifat manusia memang serakah bila melihat keindahan duniawi. Kedua tetua itu berdiri menunggu rombongan yang sedang bergerak cepat.


"Stoppp." Teriak seorang laki-laki muda kepada rombongannya saat melihat dua wanita bercadar menunggang kuda putih berdiri tak jauh di depan mereka. Laki-laki itu maju beberapa langkah dan terlihat waspada. Dia tidak mengetahui ranah kultivasi mereka yang artinya dua wanita bercadar itu bukan sembarang wanita.


"Salam para senior. Adakah yang bisa kamip bantu?" Tanya pemuda itu sopan. Dia memberi isyarat kepada orang-orang di belakangnya agar tidak ada yang mendekat.


"Perkenalkan nama saya Yan dan ini saudari saya bernama Lan. Kami tersesat dan terpisah dari rombongan saat kami melewati negara ini. Di manakah tepatnya daerah ini?" Jawab Lan mengajukan pertanyaan.


"Saat ini kita berada di Kekaisaran Permata. Dan tempat ini bernama Lembah Dawai. Kami adalah para kafilah dagang yang hendak ke Kekaiasaran Emas. Kami dari Kerajaan Air salah satu kerajaan yang berada di bawah naungan Kekaisaran Permata." Jawab laki-laki itu.


"Lalu namamu siapa?" Tanya tetua Lan.


"Saya bernama Hanzho ketua kafilah dagang ini."


Kedua tetua itu saling menatap kemudian mengangguk. Tetua Lan mengeluarkan sekantong uang lalu melemperkannya ke Hanzho.


"Itu sekantong permata dan izinkan kami mengikuti rombangan kalian." Ucap Tetua Yan.


Hanzho menerima dengan mata berbinar. Bahkan jika beberapa keping emas aja dia mengizinkan dua wanita itu ikut bersama apalagi dengan sekantong permata yang tak ternilai harganya. Namun dia terlihat ragu.


"Bolehkah saya meminta izin kepada nona saya dulu? Dia seorang tetua dari kafilah dagang kami. Semua keputusan ada di tangannya."


"Silahkan." Jawab Lan singkat.


"Tidak perlu. Kalian sudah dizinkan. Kalian berdua juga boleh beristirahat di dalam sini karena masih luas." Jawab seorang wanita dari tenda yang berada di belakang laki-laki itu yang ditarik empat ekor Mytichal Beast tipe kekuatan.


"Ya akan kami pikirkan nanti. Terima kasih atas tawaran nona." Balas tetua Yan sopan. Dia merasa suara perempuan di dalam kereta masihlah seorang gadis berusia sekitar nona muda yang sedang mereka cari.


Kafilah dagang itu pun bertolak melanjutkan perjalanan mereka. Mereka memacu kuda dengan cepat.


"Kita harus cepat sebelum matahari tenggelam. Sangat berbahaya bila telah malam dan kita belum keluar dari Lembah Dawai ini." Jawab Hanzho saat ditanya kenapa harus terburu-buru.


Tetuan Lan dan Yan hanya diam mendengar jawaban Hanzho. Mereka memahami ketakutannya karena membawa para kafilah dagang yang sedang melakukan perjalanan bisnis. Terlebih kebanyakan mereka hanyalah para manusia biasa bukan kultivator.


Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Semburat merahnya terlukis indah menghiasi langit senja. Burung-burung berterbangan kembali ke sarang-sarangnya.


Semakin senja, kecapatan kuda semakin bertambah kencang. Kekhawatiran mulai terlihat di wajah Hanzho. "Ah sial. Masih beberapa kilo lagi baru bisa keluar dari lembah terkutuk ini. Kenapa kali ini kami harus sial." Batin Hanzho kesal. Dia masih memacu kudanya dengan kencang diikuti anak buahnya dari belakang. Dia tidak peduli dengan tatapan dua perempuan yang terus menatapnya bingung.


"Bukankah sudah biasa bagi para pedagang yang melakukan bisnis jauh bemalam di jalan?" Tanya tetua Lan.


"Ya memang seperti ini. Tapi setidaknya bukan di Lembah Dawai ini." Jawab Hanzho tanpa melihat ke orang yang bertanya.


Saat tetua Lan hendak bertanya lagi, dia segera dihentikan oleh tetua Yan. "Coba rasakan di sekitar. Ada sesuatu yang mengikuti kita dari belakang." Ucap tetua Yan lewat telepati.


Tetua Yan mengedarkan indra spiritualnya dan memang merasakan beberapa makhluk sedang mengejar mereka dari balik bayang-bayang pohon sekitaran. Sepertinya makhluk-makhluk itu belum keluar karena masih ada sedikit sinar cahaya matahari di sela-sela pepohonan.


Perlahan matahari tidak tampak. Cahayanya pun sudah menghilang. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar gemuruh besar seperti suara kepakan sayap burung-burung besar.


"Ah tidak.. Cepat. Kalian pergi dulu. Biar aku yang menghadang mereka." Teriak Hanzho kepada rombongannya. Dia menghentikan kudanya dan mundur ke belakang rombongan melihat dan mencoba menghentikan makhluk yang berterbangan di dalam hutan.


Tetua Yan dan Lan mengikuti Hanzho. Mereka ingin tahu apa yang terjadi hingga membuat seorang Hanzho yang beradah di ranah Ancestor terlihat panik. Tentunya tidaklah mudah seseorang bisa berada di ranah Ancestor karena mereka sendiri pernah mengalaminya.


"Ada apa saudara Han? Anda terlihat panik begitu?" Tetua Lan bertanya ketika Hanzho sudah berhenti dan sedang menatap ke arah gelapnya hutan di belakangnya. Walaupun malam hari tapi pandangan mata para kultivator mampu melihat dalam gelap pada batas tertentu.


"Kita saat ini berada di tempat yang kultivator di bawah ranah Saint-Expert akan mati di sini. Lembah Dawai ini adalah sebuah tempat netral di benua ini yang tidak dimiliki oleh kerajaan manapun. Lembah Dawai ini memiliki makhluk tersendiri yang membangun kerajaan mereka. Makhluk yang hanya keluar pada malam hari dan pada siang hari menghilang entang kemana. Di ujung lembah ini terletak sebuah kastil mewah dan megah yang hanya tampak pada malam hari. Mereka makhluk yang sangat keras, kuat dan bringas. Mereka adalah musuh alami manusia dan kultivator. Mereka disebut Vampir Darah." Jelas Hanzho sambil mengeluarkan pedangnya dari cincin ruang. Sebuah pedang putih yang terbuat dari perak.


"Nona Lan dan nona Yan tolong jaga nona saya hingga sampai di Kekaisaran Emas. Dan ini cincin ruang saya sebagai ganti permohonan saya. Hanya kalian satu-satunya harapan saya. Saya akan bertempur habis-habisan di sini." Ucap Hanzo mengulurkan cicin ruanganya kepada tetua Yan lalu menghunuskan pedangnya dan memacu kudanya menuju makhluk yang sudah kelihatan bentuk dan rupanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...