The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 58. BULAN TAK BERSEMI



Kelompok Kafilah Dagang yang dipimpin oleh Hanzho saat ini telah berada di Kekaisaran Sassaniyah. Kekaisaran tetangga dari Kekaisaran Tunisia. Diperjalanan, Hanzho sedang menjelaskan kenapa rute mereka menuju Kekaisaran Sassaniyah.


"Kekaisaran Sassaniyah ini kebanyakan penduduk mereka adalah orang biasa yang berprofesi sebagai penambang emas yang dimiliki langsung oleh Kekaisaran Sassaniyah. Walaupun Kekaisaran ini memiliki tambang emas terbesar di dunia, sayangnya Kekaisaran mereka tidak mengalami kemajuan. Kebanyakan tambang emas di Kekaisaran ini di monopoli oleh Kekaisaran Gama, Kekiasaran Tunisia dan Kekaisaran Aksum.


Kekiasaran Sassaniyah hanya mendapat bagian kecil dari hasil tambang emas miliknya sendiri sedangkan sebagian besar dimiliki oleh Kekaisaran. lain" Ucap Denas di atas kuda.


"Apa yang terjadi pada tambang emas itu sehingga bisa dimiliki oleh tiga Kekaisaran lain?" Tanya tetua Lan.


"Konon ceritanya, tambang emas ini dulu pernah di rebut oleh sebuah kelompok kecil yang sangat kuat sehingga Kekaisaran Sassaniyah sendiri tidak mampu mengalahkan kelompok ini karena dalam kelompok ini tersapat tiga kultivator ranah Holy Ancestor bintang satu, dua dan tiga. Akhirnya demi mendapatkan kembali haknya, Kekaisaran ini mengajukan permohonan bantuan kepada tiga Kekaisaran.


Setelah melakukan pertempuran koalisi empat Kekaisaran melawan kelompok kecil penjahat tambang emas pun berhasil dimiliki kembali. Namun sayanganya tiga Kekaisaran lain menuntut hak yang besar karena telah mengorbankan nyawa kultuvator ranah Holy Ancestor mereka. Mau tidak mau, Kekaisaran Sassaniyah memberikan hak mereka dari pada melawan tiga Kekaisaran lainnya yang jauh lebih kuat." Jawab Hanzho.


"Lalu dimana menariknya Kekaisaran ini?" Tanya tetua Lan yang mengetahui tidak ada hubungannya cerita Hanzho dengan mereka pergi ke Kekaisaran Sassaniyah.


"Yang menarik itu adalah Ibu Kota Kekiasaran. Walaupun Kekaisarannya lemah, tapi ibu kota Kekaisaran terdapat tempat-tempat wisata yang dapat memanjakan Kultivator.


Salah satunya adalah pemandian Air Gunung Mandalon. Pemandian ini terkenal karena memiliki khasiat dapat meningkatkan kultivasi para kultivator. Meskipun begitu, harga pemandian ini benar-benar tinggi sehingga tidak banyak orang datang ke sini.


Saya berpikir tuan Putri saudari Lan dan Saudari Yan tidak mungkin tidak mengetahui hal ini dan penasaran dengan pemandian di sini. Bukan cuma itu, Ibu Kota Kekaisaran juga terkenal dengan budaya musiknya yang begitu indah. Seni musik di kota ini ibarat jantung bagi Ibu Kota itu sendiri.


Di jalanan sepanjang jalan-jalan Ibu Kota, terdapat banyak pengamen yang bermain berbagai macam alat musik. Mulai dari alat musik ditiup, ditabuh, dipetik hingga digesek, dapat kita temui di sepanjang jalanan mengalun indah memanjakan telinga.


Walaupun begitu, kota ini tidak lah termasuk kota teraman karena banyak kultivator yang datang ke sini bukan untuk menikmati seni musik, tapi menikmati para gadis-gadis yang disediakan oleh Ibu Kota." Jawab Hanzho panjang lebar.


"Maksudnya Ibu Kota ini juga terkenal karena prostitusinya?" Tanya tetua Lan dan tetua Yan sambil mengernyitkan dahi.


Hanzho mengangguk. "Memang benar adanya begitu. Yang menjadi daya tarik kota ini karena melegalkan Prostitusi yang rata-rata Kekaisaran tidak memperbolehkan atau bahkan melarang keras. Banyak kultivator dari penjuru dunia yang sedang dalam perjalanan mampir di sini. Terlebih saat-saat seperti." Jawab Hanzho sambil melihat ke depan dimana antrian masuk kota masih panjang.


"Saat-saat seperti ini? Maksudnya?" Tanya tetua Yan tidak terlalu mengerti.


"Yang saya maksud adalah Turnamen Antar Benua yang akan diadakan kurang dari sebulan lagi. Para kultivator yang mengikuti turnamen itu tidaklah tidak mungkin untuk mampir ke sini. Terlebih lagi para tuan-tuan muda dari Kerajaan-kerajaan besar dan kecil." Jawab Hanzho sambil mengeluarkan token pengenalnya.


"Ternyata Ibu Kota ini memiliki keadaan seperti itu. Sepertinya akan ada hal menarik lagi di sini." Gumam tetua Yan dingin.


"Setidaknya tetua Lan dan tetua Yan tidak membunuh orang tanpa alasan yang masuk akal." Ucap Hanzho yanh mengerti maksud tetua Yan.


"Di dunia ini, hal yang tidak masuk akal dalam membunuh adalah wajar. Jadi Saudara Hanzho tidak perlu takut menanggung konsekuensi yang akan terjadi nanti." Balas tetua Yan santai.


Hanzho hanya diam saja. Dia juga merasa ngeri jika kedua wanita cantik itu sedang serius. Hanzho menghentikan kudanya saat kedua penjaga menahan mereka.


Kini giliran mereka untuk diperiksa. Hanzho yang sudah mengulurkan tanda pengenalnya tidak menerima respon apa-apa dari para penjaga itu.


"Peraturan baru di kota ini adalah tidak peduli siapapun, yang penting anda sanggup membayar upeti untuk masuk." Ucap para penjaga itu dengan tegas.


Hanzho terdiam mendengarnya. Dia baru kali ini menemukan peraturan di Kota ini padahal dia sudah sering ke sini.


"Berapa harga upetinya?" Tanya Hanzho kemudian.


"Setiap satu orang harus membayar satu buah kriatal energi tingkat lima." Jawab penjaga itu tegas.


"Hah? Semahal itu?" Seru Hanzho kaget.


"Jika anda miskin lebih baik tidak memasuki kota ini." Jawab para penjaga itu dingin.


"Kalian....." Hanzho yang hendak berbicara itu segera dihentikan oleh tetua Yan.


"Ini, apakah cukup?" Tanya tetua Yan sambil melemparkan dua kristal energi tingkat sembilan sebesar kepalan tangan.


Kedua penjaga itu langsung bersorak begitu melihat kristal energi tingkat sembilan sebagai bayaran untuk masuk.


"Tentu saja Yang Mulia Nona." Ucap para penjaga itu menunduk mempersilahkan tetua Lan dan tetua Yan masuk ke ibu kota sambil memasang senyum manis yang tampak menjijikan.


"Saudari Yan itu kebanyakan. Bahkan satu kristal energi tingkat sembilan hanya dapat ditukar dengan ratusan ribu kristal energi tingkat lima. Terlebih lagi ada dua." Ucap Hanzho yang tahu betul harga kristal energi tingkat sembilan yang sebesar kepalan tangan orang dewasa.


"Saudara Hanzho jangan berpikiran kami tidak mengetahui harga kristal itu. Cobalah lihat para penjaga itu yang begitu menghormati kita setelah memberikan itu kepada mereka. Begitulah manusia yang tamak dan tak masuk akal." Balas tetua Lan yang semakin membuat Hanzho tidak mengerti.


"Bukannya kalian juga manusia?" Guman Hanzho dalam hati.


Kelompok Hanzho memasuki Ibu Kota dengan tenang dengan mendapat rasa hormat yang tinggi dari para penjaga kota.


Seperti yang dikatakan Hanzho begitu memasuki kota, mereka langsung mendengar suara musik yang mengalun dari beberapa pengamen jalanan. Tampak pengamen-pengamen itu hanyalah orang biasa. Mereka memainkan musik di tangan mereka dengan penuh penghayatan. Ada banyak sekali orang yang mengerunumi setiap pengamen sesuai dengan selera musik masing-masing.


Ada Okulele, ada Seruling, ada Biola dan masih banyak lainnya. Tetua Lan mengarahkan kudanya kepada seorang pria pengamen tampak gembel yang sedang memainkan sebuah kecapi sambil menutup mata.


Di mata tetua Lan dan tetua Yan pria itu bukanlah orang sembarangan dan termasuk kultivator tingkat tinggi bahkan orang yang paling tinggi diantara seluruh orang yang pernah mereka temui selama mereka keluar dari Heaven Land. Pria gembel itu menyembunyikan tingkat kultivasinya sehingga tetua Yan dan tetua Lan tidak mengetahuinya dengan pasti apa tingkat kultivasi pria gembel itu.


Namun berbeda di mata Hanzho dan penduduk lainnya. Bagi mereka pria itu hanyalah salah satu pengamen diantara pengamen lainnya. Yang membedakan hanyalah permainan kecapinya sedikit lebih halus dari yang lainnya.


Meskipun begitu, hanya ada sedikit orang yang mendengarnya.


Pria itu menghentikan permainan kecapinya begitu tetua Lan dan tetua Yan mendekat ke arahnya. Pria itu membuka mata melihat siapa yang datang karena aura yang dirasakannya tidaklah biasa.


"Tuan tolong mainkan lagi kecapi anda." Ucap tetua Lan sambil menaruh satu kristal energi tingkat sembilan sebesar kepalan tangan di kotak kayu milik pria itu yang biasa digunakan untuk tempat menaruh koin atau uang kertas oleh para penyumbangnya.


Sejenak pria gembel itu terdiam melihat kristal energi tingkat sembilan dari perempuan bercadar di depannya. Lalu pria itu menoleh ke arah tetua Lan yang mengenakan cadar kemudian tersenyum.


"Lagu seperti apa yang ingin anda dengarkan nona?" Tanya pengamen gembel itu.


"Rembulan Tak Bersemi." Jawab tetua Lan singkat.


Pria gembel itu terdiam sejenak lalu menoleh ke arah tetua Lan. Kemudian pria itu mengangguk. Lalu dengan lihai pemuda itu mulai menarikan jari-jari tangannya di atas senar kecapi secara perlahan.


Berbeda dari sebelumnya, kali ini alunan musik dari kecapi yang dimainkan pria gembel itu menghipnotis seluruh orang yang berada di jarak seratus meter darinya. Para pengamen lainnya menghentikan musik mereka dan melihat siapa yang memainkan musik indah yang belum pernah mereka dengar itu. Para pengunjung yang ada segera memenuhi area pria gembel itu memainkan musiknya, mereka terpana mendengar musik indah itu.


Lalu sayup-sayup terdengar suara dari pria gembel itu menyanyikan lagu pengiring musik yang dimainkannya.


*Masa laluku terbuai dalam dilema


Mata tak mampu melihatnya


Ratapan duka dan nestapa


Berlinang air mata dalam derita


Aku hanya perindu masa lalu


Dalam buaian dekapan syahdu


Makna terdalam sebuah cinta


Terlibat asmara tak bersua


Dalam mimpiku dekapanmu


Hangatkan rinduku yang membelenggu


Setiap tetes embun salju


Namamu berdenyut dalam nadiku


Belaianmu melewati malam kelam


Candaanmu terngiang dalam alunan


Melodi cinta yang kau mainkan


Menggetarkan seluruh ruang dahaga


Dipembaringan aku sendiri


Menatap rembulan tak bersemi


Cerita masa lalu


Hampa tanpa rasa


Beberapa kehidupan


Tidak pernah bertatap muka


Keheningan malam kian larut


Sunyi terpuruk di peraduan


Kini dan nanti


Sekian lama aku mencari


Tak pernah lelah penuh harap


Di ujung kegelapan ada harapan*


Prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok


Tepuk tangan membahana begitu pria gembel yang memetik kecapinya telah selesai bermain. Apresiasi dan pujian luar biasa terlontar dari setiap mulut orang yang mengeliling pria gembel itu.


Ada banyak dari orang yang hadir tak kuasa menahan air matanya. Alunan kecapi pria gembel itu menghentakkan relung rindu mereka. Rindu dengan sanak keluarga, sahabat, handai tolan dan bahkan kekasih pujaan hati. Orang-orang itu segera memberikan apa yang mereka punya kepada pengemis gembel itu. Ada kristal energi, uang koin sampai uang kertas. Kini kotak uang miliki pengamen gembel itu penuh dan tumpah-tumpah.


Sejak pria gembel di hadapanya mulai memetik senar kecapinya, Tetua Lan seolah terbawa oleh ruang dan waktu. Seolah ruang dan waktu kembali hadir bersamanya saat itu juga. Ruang dan waktu kehidupan lampaunya tampak hadir dalam benaknya dengan begitu jelas. Seolah-olah tetua Lan berada di masa itu dengan waktu yang sekarang. Tetua Lan tergugu berlinang air mata menatap masa lalunya yang tiba-tiba hadir entah bagaimana caranya. Dia terpaku terdiam tak bersuara hingga musik itu selesai dimainkan, hingga dia tidak sadar orang-orang sudah kembali ke tempat masing-masing.


Tetua Lan menghapus air matanya yang berlinang itu. Kemudian dia menatap penuh selidik pria gembel yang duduk menatap uang dengan pandangan tak berminat. Setelah menenangkan diri dan mengumpulkan keberanian, tetua Lan bertanya dengan sopan.


"Tuan, tolong katakan siapa anda."


Pria gembel itu tampak kaget mendengar pertanyaan perempuan bercadar yang berdiri di depannya dan menatapnya penuh selidik. Pria gembel itu mengumpulkan uang yang ada di kotaknya lalu uang itu dimasukan ke dalam karung lusuh di sebelahnya. Pria gembel itu bangkit kemudian memanggul kecapi besarnya di pundak kanan, dan membawa karung lusuh di sebelah kiri. Dia berdiri tepat di depan tetua Lan.


"Nona, izinkan saya akan bersyair tentang diri saya." Ucap pria gembel itu melangkah meninggalkan tetua Lan, tetua Yan dan kelompok Hanzho.


Siapa aku?


Dalam rindumu hanyalah ada aku


Siapa kamu?


Seluruh hidupku adalah milikmu


Kasih tak sampai masa lampau


Terjalin jiwa penuh cinta dimanapun kita berada


Tetua Lan yang mendengar syair itu bergetar hebat seluruh badannya. Air matanya jatuh tak terbendung. Dia terisak melihat punggung pria gembel yang melangkah pelan meninggalkannya. Dengan sekuat tenaga menahan seluruh gejolak di danya, tetua Lan melangkah pelan mengikuti pria gembel dari belakang sambil membalas syairnya.


Ketika rembulan tak lagi bersinar


Kehidupan tak lagi bernas


Detak jantung tak lagi terdengar


Janji suci yang kini ada


Akan menjadi penanda


Di manapun kita berada


Pria gembel yang mendengar syair dari perempuan di belakangnya, berhenti bergerak. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Kecapi di pundak kanannya jatuh begitu saja tanpa dihiraukannya begitupun karung lusuh penuh uang yang kini terlepas begitu saja.


Air mata pria gembel itu ibarat hujan musim dingin yang tak dapat terbendung, tak terhitung dan terus mengalir. Secara perlahan dengan gejolak di dada, pria gembel itu berbalik ke belakang dan melihat wanita yang bercadar tadi yang memintanya memainkan musik, sedang berjalan perlahan kepadanya sambil melantunkan syair yang sangat dikenalnya. Terlihat jelas bahwa cadar putih wanita itu telah basah oleh air mata.


Pria gembel itu perlahan melangkah maju mendekati wanita bercadar yang sudah tidak sanggup berjalan namun masih melantunkan syair, pria gembel itu juga melantunkan syair yang sama dengan wanita itu.


Kehidupan ini


Entah berapa kali akan kulalui


Meski semesta tak menyetujui


Akan tetap kau kucintai


Lebih dari yang pernah kumiliki


Jauh dari yang pernah kualami


Sejuta cinta yang kita kekali


Tidak sekalipun kusakiti


Meski seluruh raga terburai


Tetua Lan dan pria gembel itu telah saling berhadapan setelah saling melantunkan syair yang sama. Tanpa komando, tanpa perintah, hanya rindu yang ada, kedua orang itu saling berpelukan erat dan menangis haru.


"Kakak Rangga" Seru tetua Lan.


"Adik Rihana" Seru pria gembel itu.


Tetua Yan, Hanzho dan orang disekitar terpana melihat kejadian itu. Kejadian yang tidak pernah mereka sangka-sangka, kejadian yang baru pernah ada dalam hidup mereka. Entah siapa yang mengawali, tiba-tiba suara tepukan tangan sekali lagi membahana.


Prok prok prok prok prok prok prok prok


Mendengar tepukan itu, tetua Lan semakin erat memeluk pria gembel yang dipanggilnya kakak Rangga. Orang yang dipanggil Rangga itu tersenyum haru dan mencium rambut tetua Lan yang dipanggilnya adik Rihana. Mereka tidak peduli dengan tatapan orang di sekitar, yang mereka tahu saat ini hanyalah bagaimana melepas rindu yang sudah tidak terbendung itu. Pria gembel yang berpakaian lusuh itu dan rambut acak-acakan serta jenggot dan kumis memenuhi wajahnya, jika diamati lebih dekat, pria gembel itu memiliki tubuh tinggi tegap dan atletis. Tingginya tetua Lan hanyala sedagu pria gembel itu.


"Adik Ana, sampai kapan begini terus?" Tanya pria gembel itu sambil mengelus lembut rambut tetua Lan dan kadang menciumnya. Dia sudah bisa menguasai dirinya. Air matanya yang tak terbendung, kini hanya tinggal sisa-sisanya saja.


"Sampai ketika tubuh tak bernyawa." Jawab tetua Lan singkat semakin erat memeluk pria gembel itu.


Rangga tersenyum lebar. "Bahkan ketika nyawa telah tiada, kita akan selalu bersama." Balas Rangga kemudian.


"Masih seperti biasa. Wangi tubuh yang sudah lama tak terhirup ini." Ucap tetua Lan yang membenamkan wajahnya ke tubuh Rangga yang mengenakan baju lusuh layaknya bajunya orang-orang gembel.


"Hem.. Bahkan wangi mawar ini tidak berubah sama sekali." Balas Rangga kembali mencium rambut tetua Lan.


"Seperti dulu, kakak Rangga selalu lebih tinggi dariku." Ucap tetua Lan.


"Seperti dulu, tinggiku ini hanyalah untukmu." Balas Rangga tersenyum.


"Hemm.. Aku rindu kata-kata seperti itu." Ucap tetua Lan kembali memeluk erat Rangga seolah takut kehilangannya.


"Akan aku habiskan seluruh hidupku untuk membuat kata-kata seperti itu hanya untukmu." Balas Rangga kembali mencium rambut tetua Lan yang tersisir rapi.


"Selama ini siapa yang menyisir rambut adik ana?" Tanya Rangga melihat gaya sisiran rambut yang terlihat berbeda dari yang pernah diketahuinya.


"Oh iya aku hampir lupa kak." Ucap tetua Lan tiba-tiba lalu dengan enggan melepaskan pelukannya lalu tersenyum manis sambil menatap mata Rangga. Kedua mata mereka bersitatap dan secara perlahan, dua tetes air mata mengalir dari mata tetua Lan.


"Adik ana, kakak berjanji mulai sejak ini tidak peduli apapun yang terjadi, mata ini akan tetap manatapmu bahkan ketika terpejam." Ucap Rangga sambil menghapus dengan lembut air mata yang megalir dari tetua Lan.


"Terima kasih telah kembali, kakanda." Balas tetua Lan tersenyum gembira di balik cadarnya. Lalu tetua Lan membalikkan badanya melihat tetua Yan, Hanzho, Della dan anggota serikat dagang sedang menatap mereka dengan aneh dan tak mengerti.


Di balik cadar, tetua Lan tersenyum melihat ekspreksi teman-temannya itu. Dia lalu menggenggam erat lengan Rangga dan mengajaknya mendekati tetua Lan dan yang lain.


"Kakak Rangga, perkenalkan ini adalah saudari sepergurunku namnya Yan Ni, ini teman seperjalan saudara Hanzho, dan ini muridku dan murid saudari Yan namanya Della serta yang dibelakang itu adalah anggota dari saudara Hanzho." Ucap tetua Lan memperkenalkan satu-satu temannya kepada Rangga.


Dengan tenang, mereka semua menunduk tanda perkenalan yang dibalas Rangga dengan menunduk juga.


"Dan ini adalah kak Rangga." Lanjut tetua Lan singkat.


"Oh iya kak, karena saudara Hanzho lah yang membawa kami ke sini sehingga aku dan kakak bisa bertemu di sini." Ucap tetua Lan kepada Rangga.


"Benarkah?" Tanya Rangga seperti tertarik. Kemudian Rangga mendekati Hanzho kemudian mengulurkan telapak tangannya ke depan, tiba-tiba muncul beberapa barang di tangannya.


"Saudara Hanzho, sebagai rasa terima kasihku telah mempertemukan kami di sini, maka toling terimalah ini." Ucap Rangga yang menyerahkan barang-barang di tangannya itu kepada Hanzho.


Hanzho terkejut saat melihat kemunculan barang-barang di tangan Rangga yang tidak mengenakan cincin ruang di jari manapun. Namun dia lebih terkejut lagi melihat barang-barang di tangan Rangga.


Ada sebuah gulungan jurus tingkat Surgawi, ada sebilah pedang bersarung hitam tingkat surgawi juga, ada Kristal Sembilan Elemen tingkat sepuluh dan ada Beast Core tingkat sepuluh. Semua barang-barang itu adalah harta tertinggi dari masing-masing jenisnya dan bagaiaman Rangga bisa memilikinya.


"Tidak usah ragu saudara Hanzho, barang-barang ini tidaklah berarti jika dibandingkan petemuanku dengan adik Ana." Ucap Rangga lalu mengambil tangan kanan Hanzho yang terdapat cincin ruang, kemudian memasukkan barang-barang itu ke dalam cincin ruang milik Hanzho.


Tentu saja hal itu membuat semua orang yang melihatnya terkaget dan tak percaya. Bagaimana mungkin barang-barang itu bisa masuk sendiri ke dalam cincin tanpa menggunakan kehendak sang pemilik cincin.


Tetua Lan dan tetua Yan juga merasa tak percaya jika tidak melihatnya langsung. Mereka saling pandang tak mengerti dan kemudian melihat Rangga yang tersenyum ramah kepada Hanzho.


"Mohon maaf saudara Hanzho jika saya terlalu memaksa, saya adalah orang yang kompetitif. Jadi saya tidak akan pernah bisa merasa tenang kepada seseorang yang telah berbuat baik kepada saya atau orang yang saya cintai. Saudara Hanzho telah berbuat kapada dik Ana yang berarti telah berbuat baik kepada saya. Sebagai ucapan terima kasih saya, hanya itu yang dapat saya berikan." Ucap Rangga ramah dan tersenyum sopan. Walaupun jenggot dan kumis menutupi wajahnya, namun ketampanannya akan terlihat jika melihatnya dengan sungguh-sungguh.


Tetua Lan yang mendengar ucapan Rangga kembali tersenyum lebar. Dia memeluk erat lengan Rangga.


"Seperti dulu tak pernah berubah, membalas kebaikan orang dengan yang lebih." Gumam tetua Lan bahagia yang dibalas Rangga dengan tersenyum ramah.


"Saudari Lan, apakah pria ini orang yang kamu cintai di masa lalu di beberapa kehidupanmu yang dulu?" Tanya tetua Yan yang sudah pernah diceritakan oleh tetua Lan hanya kepada tetua Yang seorang.


Tetua Lan mengangguk. "Ya saudari Yan. Di kehidupan yang lalu, tidak menyangka aku bertemu di tempat tak terduga seperti ini." Jawab tetua Lan. Hatinya kini berbunga-bunga. Rasa yang pernah pergi kini datang kembali.


"Aku kira di kehidupan ini, aku bisa bertemu dengannya setelah aku merasa putus asa beberapa waktu yang lalu." Lanjut tetua Lan. Kepribadiannya kini seolah berubah, dia yanh lebih dingin kini terasa hangat dan menyenangkan. Senyuman lebar tak pernah lekang dari bibirnya sejak bertemu Rangga.


Tetua Lan menghebuskan nafas lega. Dia merasa senang, saudari seperguruannya ini telah terlihat bahagia setelah menjalani hidupnya dengan banyak diam dan merenung. Mungkin ini adalah yang terbaik yang harus diterima oleh saudarinya ini. Terlebih pria yang terlihat gembel ini, dia tidak dapat mengukur kekuatan yang dimiliknya. Pria di depannya ini yang tengah membelai rambut saudarinya, jelas jauh lebih kuat dari mereka berdua bahkan apabila dibandingkan dengan beberapa orang kuat dari Heaven Land.


"Sebaiknya kita cari tempat untuk menceritakan beberapa kisah kehidupan lampau kami berdua." Ucap Rangga ramah sambil memandangi seluruh orang-orang di depannya.


Mereka mengangguk. Mereka juga telah merasa lapar dan butuh istirahat.


"Aku tahu hotel sekaligus rumah makan terbesar di Kota ini." Ucap Hanzho mengusulkan tempat.


"Tolong tunjukan saudara Hanzho." Pinta Rangga ramah.


Hanzho mengangguk takzim lalu menarik kudanya berjalan mendahului yang lain. Tetua Lan dan Rangga berjalan di belakangnya sambil bergandengan tangan. Mereka tak saling berbicara, namun tatapan mata dan pangan mereka adalah penjelas semuanya. Tetua Yan segera berjalan di samping Hanzho Della berada di sampingnya. Sedangkan anggota yang lain berjalan di belakang tetua Lan dan Rangga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hemm....


Dont Be Busy, Just Be Produktive.


""""