The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 9. PERTEMUAN.



Tang Xiao kini berdiri di sebuah hutan yang cukup luas. Setelah dia keluar dari dunia jiwanya, pemandangan yang pertama tampak adalah hutan ini. Dia tidak mengenal hutan ini. Tanpa banyak basa basi Tang Xiao melesat ke atas. Dia ingin melihat desa atau kota terdekat dari tempatnya saat ini. Dengan Mata Ilahinya Tang Xiao memukan beberapa desa dan kota terdekat sejauh 50 km. Namun tiba-tiba terdengar suara dentingan pedang ditelinganya. Jaraknya cukup jauh. Sekitar 10 km dari dekatnya saat ini. Dengan kekuatan yang saat ini dimiliki Tang Xiao, dia dengan mudah memprediksi jarak sesuatu yang di dengar atau dilihatnya. Tang Xiao mengeluarkan topeng yang digunakannya saat pergi dari Sektenya dan hendak bunuh diri. Ternyata topengnya itu ikut masuk ke dalam dunia jiwanya. Topeng itu dia temukan tergeletak di tumpukan harta. Tang Xiao memakai topengnya. Dia tersenyum lebar, dengan sekejap dia menghilang dan tiba di lokasi dimana terdengar orang bertarung. Dengan ilmu ruangnya dia tiba di tempat yang dikehendakinya dalam sekejap.


Tang Xiao memperhatikan dari udara. Tampak beberapa orang perempuan memakai pedang sedang melawan dua orang laki-laki. Terbelalak mata Tang Xiao melihat dua orang laki-laki yang cukup dikenalnya selama ini. Dia masih memperhatikan jalannya pertarungan itu. Tampaknya mereka masih seimbang, walaupun Tang Xiao dua orang laki-laki itu masih menahan diri. Sepertinya ada kesalah pahaman diantara mereka.


Tang Xiao melihat sekitar, dia menemukan seorang wanita cantik terbaring lemas di tanah. Wanita itu mempunyai luka yang cukup parah. Dia melihat sekelilingnya lagi, dan dia menemukan beberapa laki-laki sekitar 10 orang sedang sembunyi di atas pohon. Mereka mencoba menghilangkan hawa keberadaan mereka agar tidak ada yang mengetahui. Namun semua itu tak bisa lolos dari Tang Xiao. Tang Xiao menyeringai begitu melihat 10 Orang yang sembunyi itu.


"Saudari sekalian mohon tenang dulu. Ini adalah kesalah pahaman semata" Salah seorang dari dua orang yang bertarung melawan beberapa perempuan muda itu.


"Kami menemukan nona itu telah tergeletak di tanah dengan luka yang cukup parah. Ketika kami hendak mengobatinya kalian malah menyerang kami" Yang seorang lagi menimpali.


"Sudah cukup omong kosongnya. Kami melihatnya sendiri kalian berdua hendak melakukan perbuatan bejat ke Nona Muda kami, kalo kami tak datang tepat waktu mungkin kalian sudah melakukan perbuatan bejat kepadanya." Bentak salah seorang dari perempuan itu yang usianya sekitar 20-an.


"Kalian dari Sekte Bambu Emas ternyata tidak seperti rumornya. Ternyata kalian adalah kumpulan orang-orang bejat sialan. Matilah kalian hari ini. Hiyaah.. "


Dua orang laki-laki itu mendengus kesal. Wajah mereka menjadi buruk. Sepertinya pertarungan ini tidak dapat diselesaikan dengan baik-baik.


Tang Xiao menghela nafas. Dia sangat. Mengenali dua orang itu. Ya mereka adalah tetua keempat dan kelima yang selama ini sering membantunya. Dia harus membantu mereka atau sesuatu yang buruk akan terjadi. Kemudian Tang Xiao turun di sebuah semak-semak yang cukup lebat. Sejurus kemudian dia berteriak,


BERHENTIII....


Teriakan itu cukup keras hingga membuat mereka semua terkejut. Bahkan beberapa orang yang sedang sembunyi di atas pohon itu ada yang pingsan dan jatuh ke tanah. Sedangkan pihak yang bertarung hanya kaget saja. Mereka yang sedang bertarung menoleh ke sumber suara teriakan tadi. Mereka begitu terkejut begitu seorang pria bertopeng dengan rambut biru yang tergerai ke belakang berjalan santai ke arah mereka. Beberapa wanita yang bertarung tadi menatap tanpa berkedip. Sedangkan dua orang pria paruh baya itu menatap curiga. Soalnya mereka tidak dapat mengetahui tingkatan orang bertopeng itu.


Tang Xiao berjalan ke arah wanita yang tergeletak tak berdaya yang tak jauh darinya. 5 orang wanita yang tadi mematung langsung sadar dan menghunuskan pedangnya ke arah Tang Xiao yang sudah di dekat gadis pingsan itu.


"Jangan pernah ganggu nona kami atau anda akan merasakan ketajaman pedang kami." Bentak wanita yang berumur 20-an itu.


Tang Xiao tersenyum dari balik topengnya.


"Maaf sebelumnya nona-nona sekalian. Aku tidak bermaksud buruk terhadapnya. Aku hanya ingin menyembuhkannya karena keadaannya sudah kritis." Tang Xiao menangkupkan tangannya ke depan dada.


Kelima perempuan itu terdiam sejenak. Mereka melihat gadis yang pingsan itu sedang kesusahan bernafas. Mereka baru menyadari bahwa orang yang mereka panggil Nona Muda membutuhkan pertolongan. Tanpa banya bicara mereka mendekati gadis itu dan memeriksa nadinya. Seketika wajahnya berubah buruk. Pasalanya denyut nadinya sangat lemah. Tang Xiao yang melihat itu hanya diam saja.


"Tuan Pendekar, apakah bisa anda mengobati nona kami? Jika anda berhasil mengobatinya kami akan memberikan kompensasi yang sesuai. Tenang saja, kami dari sekte Partai Emei selalu menepati janji kami" Salah seorang mereka mendekati Tang Xiao dan merunduk setengah badan sambil menangkupkan tangannya ke depan.


"Aku bisa menyemuhkannya dengan mudah walaupun jika kepalanya terlepas. Tapi aku ingin kalian memenuhi satu permintaan ku"


"Apa itu Tuan Pendekar?" Tanya mereka serempak dengan mata berbinar


"Sederhana saja. Kalian lihat dua orang pria paruh baya itu, mereka tidak bersalah dan mereka benar bahwa hendak mengobati nona kalian."


"Ya Tuan pendekar kami akan meminta maaf" Ucap mereka dengan nada sedikit bersalah.


"Bukan cuma meminta maaf tapi menarik kembali kata-kata kalian tentang Sekte Bambu Emas adalah Kumpulan orang-orang bejat sialan."


Kelima orang perempuan itu berjalan meninggalkan Tang Xiao menuju tempat dua orang tetua dari Sekte Bambu Emas. Tanpa banyak bicara, Tang Xiao jongkok di depan gadis pingsan yang nafasnya putus-putus itu. Dia mengeluarkan 2 botol giok dari sakunya. Sebenarnya bukan dari sakunya tapi dari ruang jiwanya. Dia tidak ingin dicurigai terlalu dalam. Kemudian Tang Xiao mengeluarkan dari dua botol itu masing-masing satu pil. Kemudian dia memasukannya ke mulut gadis itu. Tang Xiao membantu gadis pingsan itu menyerap pil dengan mengalirkan energinya ke gadis itu. Hanya dalam beberapa tarikan nafas gadis itu sadar kembali. Luka-lukanya sudah tidak ada lagi. Dua pil tadi yaitu satu sebagai pemulih tenaga dalam dan satunya sebagai penyembuh luka luar dan dalam dengan efektivitas seratus persen.


Gadis pingsan itu perlahan membuka matanya. Pertama kali yang dilihat olehnya adalah seorang yang bertopeng. Dia bergegas meraba pedang dipinggangnya dan menghunuskannya ke Tang Xiao. Tang Xiao terkikik melihat tingkah gadis itu.


"Tenang lah nona, saya bukan orang jahat. Saya yang menyembuhkan nona tadi. Kalo tidak percaya tanyakan saja pada mereka." Ucap Tang Xiao sambil menunjuk beberapa gadis yang sejak tadi berdiri mematung di belakang Tang Xiao. Sejak tadi mereka memperhatikan Tang Xiao dan takjub dengan kecepatan regenerasi pil itu. Begitu juga dengan dua orang Tetua Sekte Bambu Emas yang memperhatikan Tang Xiao.


Kelima perempuan itu menarik nafas lega. Untung saja pertarungan belum pada puncaknya. Mereka masih menahan diri agar tidak gegabah. Jika tidak, mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Bisa jadi masalah ini lebih besar dan membuat hubungan antara Sekte Bambu Emas dan Sakte Partai Emei memburuk, bahkan bisa terjadi pertumpahan darah. Karena gadis yang pingsan tadi adalah murid utama Matriak Partai Emei sekaligus sebagai pewaris pemimpin di masa depan. Partai Emei sendiri adalah satu Sekte Besar Aliran Putih yang setara dengan Sekte Bambu Emas.


Ke enam gadis itupun segera menghampiri Tang Xiao dan bereterima kasih


"Terima kasih Tuan pendekar. Berkat anda nyawa saya bisa tertolong. Jika tuan tidak ada kesibukan, tuan bisa mampir ke sekte kami. Gerbang sekte akan terbuka lebar untuk Tuan. Oh iya nama saya Ling Qin." Ling Qin menangkupkan tangannya ke depan dada. Dia tidak bertanya balik tentang nama Tang Xiao, karena dia tau laki-laki di depannya itu menutupi identitasnya.


"Sama-sama nona sudah menjadi tugas kita untuk saling membantu. Oh iya ini sisa dari obat nona, ambil lah di dalamnya tersisa 99 butir pil." Tang Xiao memberikan dua botol giok itu kepada Ling Qin. Pemberiannya itu membuat Ling Qin bergetar hebat. Bagaimana tidak, pil sekelas itu bahkan bisa dibilang belum ada dibenua ini, didapat secara cuma-cuma dalam jumlah banyak. Apalagi dua botol yang masing-masing isinya 99 butir, adalah sebuah kekayaan yang bahkan tidak dimiliki oleh sekte raksasa sekalipun. Dua orang tetua yang melihat itu sedikit iri, namun mereka juga bersyukur bahwa pria bertopeng itu bukan dari aliran hitam.


"Sekali lagi saya ucapkan sebesar-besarnya. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Ini merupakan suatu kekayaan yang melimpah." Ucap gadis itu sambil menundukan separuh badannya.


Tang Xiao hanya tersenyum kecil. Andaikan gadis itu tahu bahwa dia mempunyai pil sebanyak itu dengan jumlah yang terhitung, tentu saja gadis itu akan muntah darah, bahkan bisa membuat nya bunuh diri.


"Tuan pendekar kami pamit dulu, ada sesuatu yang harus kami urus di sekte." Keenam perempuan itu beranjak ke arah dua tetua yang dari tadi hanya diam melihat apa yang terjadi.


"Maafkan kami saudara pendekar. Kami telag salah faham. Dan juga terima kasih sudah menahan diri tidak melawan kami dengan serius, kami mengetahui jika kami pun berenam bersatu, belum tentu bisa menang melawan salah satu dari anda berdua. Terima kasih sekali lagi kami ucapkan." Keenam perempuan itu menundukan badan.


"Ah sudah lah saudari. Yang penting Nona Ling Qin sudah sehat seperti sedia kala. Semoga hubungan sekte kita akan selalu damai. Salam untuk Matriak Zei kalian." Balas dua tetua itu. Keenam gadis cantik itu pun beranjak.


Tang Xiao mendatangi dua Tetua dihapannya itu. Dia ingin melakukan sesuatu terhadap mereka tapi tak tahu bagaimana memulainya.


"Terima kasih tuan pendekar telah membantu kami. Jika tak ada pendekar kami tahu apa yang akan terjadi." Ucap dua tetua itu.


"Hemm sama-sama Tetua sekalian. Jika saya boleh tau hendak ke mana kedua tetua ini.?" Ucap Tang Xiao. Ucapan itu sedikit membuat mereka terkejut, pasalnya pemuda dihadapan mereka ini tau jika mereka berdua adalah sua tetua emas.


"Kalo boleh tau tuan pendekar mengenal kami?" Tanya tetua ke empat penuh selidik. Pertanyaan itu membuat Tang Xiao sedikit panas dingin.


"Ya bisa dibilang saya mengetahui apa yang orang umum tau. Bukankah anda berdua adalah Tetua Emas dari Sekte Bambu Emas, dua tetua yang mempunyai urutan keempat dan kelima.?" Pertanyaan dua tetua itu dijawab Tang Xiao dengan pertanyaan juga.


Sekte Bambu Emas cukup terkenal karena beberapa prestasinya di medan perang. Apalagi Sang Patriak adalah sahabat Kaisar Yan. Hal itu sedikit banyak membuat kelima tetua utama sekte bambu emas dijuluki sebagai Tetua Emas


Informasi ini sudah umum didengar oleh para pendekar aliran putih. Kedua tetua itupun mengangguk-angguk. Tiba-tiba mereka teringat sesuatu.


"Sepertinya Tuan pendekar ini seorang tabib yang handal. Bahkan saya yakin anda lebih hebat dari tabib istana. Apakah anda mendengar apa yang terjadi saat ini pada Putra Mahkota" Tetua kelima memulai pembicaraan. Tang Xiao sedikit kaget mendengar informasi baru yang didengarnya ini. Sejak kepergiannya dari Sekte hingga sekarang telah berlalu sekitar dua minggu, sehingga bisa saja sesuatu terjadi dengan cepat.


"Kalo boleh tau apa yang terjadi dengan putra mahkota?" Tang Xiao tentu saja mengenal Putra Mahkota dengan baik. Itu karena persahabatan yang terjalin antara ayahnya dan Sang Kaisar. Ketika Kaisar mencoba mengobati Tang Xiao, putra mahkota juga ikut serta. Saat itu Putra Mahkota berumur sepuluh tahun sama dengan Tang Xiao. Beberapa hari di sekte, Tang Xiao sudah akrab dengan Pangeran Mahkota. Tang Xiao begitu senang dengan sifat Pangeran yang tidak memandang rendah orang lain, sama seperti Sang kaisar. Dia merasa pertolongannya akan sangat membantu Kaisar.


Tetua kelima menjelaskan dengan rinci. Penjelasan yang sama dengan surat dari Kaisar ke Han Shan. Penjelasan itu membuat raut wajah Tang Xiao memburuk. Dia merasa harus secepatnya membantu Pangeran, yang mana telah menganggap Tang Xiao sebagai saudara sebelum terlambat.


"Baiklah tetua. Terima kasih atas informasinya. Saya akan segera ke sana secepatnya. Oh iya tetua silahkan terima ini anggap saja sebagai rasa terima kasih atas informasinya." Ucap Tang Xiao sambil mengeluarkan sepuluh botol giok berisi pil penambah tenaga dalam dan pil yang sama seperti yang diberikan ke enam perempuan Partai Emei. Kedua tangan tetua tersebut bergeta hebat. Mereka tak menyangka pil-pil yang membuat mereka sedikit iri, kini mereka mendapatkannya bahkan ditambah beberapa pil yang belum mereka ketahui. Namun yang jelas, semua pil itu berkualitas sama, mengingat apa yang telah mereka lihat sebelumnya.


"Tuan pendekar, ini terlalu berlebihan. Informasi yang kami berikan sudah menjadi hal umum untuk semua rakyat. Bahkan rakyat biasa pun mengetahuinya. Kami tak bisa menjual informasi yang sudah umum sama saja kami memanfaatkan anda." Ucap dua tetua itu bersamaan. Walaupun mereka bahagia menerima pil-pil itu, namun mereka sadar batasan mereka. Tang Xiao tersenyum lebar mendengar ucapan itu. Dia bersyukur ayahnya berteman dengan orang yang tepat. Dan dia juga bersyukur masih ada orang seperti mereka di dunia ini. Hal ini semakin membuat Tang Xiao hendak melakukan sesuatu ke pada mereka jika waktunya telah tepat.


"Ah sudah lah tetua tidak usah dipikirkan. Saya memberikan dengan senang hati dan tidak terpaksa. Saya akan tidak suka jika kedua tetua menolak pemberian saya." Ucap Tang Xiao. Kedua tetua itu akhirnya menerima dengan sangat senang. Berkali-kali mereka mengucapkan terima kasih.


"Baiklah tetua saya pergi duluan ke Istana. Silahkan tetua sekalian melanjutkan perjalanan." Tang Xiao segera meninggalkan mereka sambil berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh. Karena jika dia tiba-tiba menghilang, maka akan ada kecurigaan besar.


Setelah agak jauh dan tidak terlihat oleh dua tetua itu, Tang Xiao segera mengaktifkan mata ilahinya untuk mencari arah Ibu Kota Kekaisaran. Dalam sekejap dia telah menemukan Ibu Kota tersebut. Dan Tanpa basa basi Tang Xiao hilang dari situ dan dalam sekejap telah berada di dekat tembok Kota Istana tanpa ada seorang pun yang mengetahui.