
Semua orang yang ada di ruangan Pangeran Mahkota merasa takjub terheran-heran. Mereka tau bahwa, untuk menyentuh tubuh Pangeran yang sedang sakit adalah sesuatu yang mustahil karena banyaknya orang yang terbang atau gila begitu hendak menyentuh kulit Pangeran. Namun kini mereka melihat tubuh Pangeran yang melayang-layang sedang menangis tersedu-sedu di hadapan seorang pria bertopeng yang dilihat dari suaranya, laki-laki bertopeng itu masih sangat muda. Dari awal saja semua orang sudah dibuat takjub, begitu memeriksa nadi Pangeran tanpa masalah bahkan menotoknya. Bahkan Kaisar sebelumnya yaitu Yan Zhi pernah hampir dibuat terbang begitu ia memeriksa Pangeran. Kini mereka lebih terkejut dengan apa yang ada di depan mereka saat ini.
"Aammpuunn.... Tuan.... Tolong jangan bunuh saya. Hiks hiks hiks..... Saya hanyalah disuruh seseorang... Hiks..."
"Siapa yang menyuruh mu dan kenapa dia menyuruhmu.? Katakan!! Jika tidak jiwamu akan merasakan kepedihan yang lebih mengerikan dari pada Neraka Petrhabawana, kamu pasti tahu apa itu Petrhabawana walaupun kamu belum pernah memasukinya."
Tubuh Pangeran yang melayang-layang itu bergetar hebat, wajahnya pucat pasi tanpa warna, badanya lemas bagai tak bertulang. Andaikan tubuh itu tak melayang, sudah dipastikan tubuh itu akan pingsan.
"Tttuuuaaannnn......... Tolongggggg... Tttuuuaaannn...... Tolongggggg.... Hiks hiks." Tangisan itu semakin menjadi. Walaupun semakin lemah, semua orang tau bahwa sesuatu sangat menakutkan sedang terjadi pada gadis di tubuh Pangeran.
"Saya.... Hiks... Akan jujur... Tuuaann..... Hikss... Tapi tolong... Jangan masukan... saya ke Neraka..... Hiks hiks hiks hiks..... "
"Baiklah katakan dengan jujur" Ucapa Tang Xiao sambil menyentuh kening Pangeran dengan jari telunjuknya. Tubuh Pangeran yang melayang itu perlahan bergerak ke ranjang yang dilapisi sutra dan emas. Dari tubuh Pangeran keluar asap hitam pekat dengan bauk menjijikan lebih dari bangkai. Semua orang selain Tang Xiao menutup hidung, bahkan ada beberapa yang keluar dari ruang dan muntah-muntah. Bauk menusuk itu sudah mengaduk perut mereka. Asap hitam pekat itu membentuk tubuh setengah badan dan setengahnya asap yang melayang-layang. Semua orang yang tersisa yaitu, Yan Zhi, Yan Shan, Han Shan, dan Permaisuri bergidik ngeri begitu merasakan aura membunuh yang sangat pekat keluar dari tubuh melayang itu. Bahkan aura itu membuat ruangan sedikit gelap walaupun siang hari.
"Salam hormat Tuan Dewa... Terima kasih sudah mengeluarkan saya."Ucap roh itu sambil membuat gerakan menghormat.
"Tidak usah bertele-tele. Cepat katakan apa yang kamu tau dengan jujur." Tang Xiao sadar, jika roh itu tidak segera dikeluarkan dari tubuh Pangeran, maka lama kelamaan akan semakin banyak menghisap energi kehidupan pangeran. Tang Xiao sedikit kaget begitu mengetahui bahwa Pangeran memiliki energi kehidupan yang sangat banyak. Dengan jari telunjuknya tadi, Tang Xiao mengembalikan energi kehidupan Pangeran, dan memberikan energi kehidupan yang cukup ke ruh di tubuh Pangeran agar bisa segera keluar dan membentuk ruhnya sendiri. Kini Pangeran terlihat seperti sedia kala seakan tidak sakit. Pangeran hanya terlihat seperti seseorang yang sedang terlelap. Semua orang segera mendatangi Pangeran dan memeriksa keadaannya. Permaisuri tak bisa lagi menahan diri langsung menangis dan memeluk Pangeran. Kini tangisnya berubah menjadi tangis bahagia melihat putra semata wayangnya seperti sedia kala. Bahkan dia dapat melihat anaknya itu terlena seperti bayi yang tidur terlelap. Senyuman mengembang di wajahnya. Sang Kaisar sama seperti Permaisuri yang tak bisa menahan diri. Sedangkan Yan Zhi menutup matanya, perlahan setetes embun bening bergulir dari matanya yang terpejam. Wajah tuanya kini sedikit bercahaya. Cucu satu-satunya dan sangat disayanginya kini sudah sembuh total ketika tak ada harapan selain kematian. Han Shan menarik napas panjang. Pangeran yang sudah dianggap seperti keponakannya sendiri dapat sembuh dengan mudahnya. Han Shan sudah mencoba berbagai usaha untuk bisa menyentuh kulit Pangeran hingga Han Shan muntah darah dan pingsan. Kini, semua kesedihan, ketakutan, kepedihan, dan rasa sakit telah terbayar oleh seorang pemuda bertopeng yang tak ada yang tau identitasnya.
"Baik Tuan Dewa. Jujur saja saya berasal bukan dari dunia ini. Dulunya saya adalah seorang yang begitu haus darah. Dengan kecepatan dan kecerdasan, saya mencapai puncak kekuatan di dunia saya. Karena saya berlatih ilmu iblis dan ilmu kegelapan, kehausan darah saya itu membuat saya memusnahkan manusia satu benua. Saya sadar dengan apa yang saya lakukan, namun karena saya takut ilmu itu akan merenggut seluruh tubuh dan jiwa, dengan terpaksa saya melakukan pemusnahan. Setelah musnahnya benua itu, tiba-tiba awan menjadi sangat gelap, petir menyambar-nyambar. Di tubuh saya keluar cahaya yang membentuk rune dan simbol-simbol kuno yang mengurung saya. Saya tak berdaya dan seolah ditekan dengan sangat kuat hingga membuat saya terduduk berlutut muntah darah hitam. Rune dan simbol kuno itu membawa saya melayang. Tiba-tiba di atas langit yang gelap muncul petir yang sangat besar. Bahkan ukuran petir itu lebih besar dari benua yang saya musnahkan. Dengan sangat cepat petir itu menyambar tubuh saya. Tapi saya tidak mati dan tubuh saya berubah menjadi asap hitam seperti ini. Saya menjadi ruh terkutuk yang tidak bisa mati dan tak bisa hidup. Tapi dengan tubuh saya saat ini saya bebas pergi ke seluruh dunia di semesta ini. Beberapa ribu tahun kemudian, saya memasuki dunia ini. Naasnya, begitu saya masuk dunia ini, saya bertemu dengan makhluk yang bertanduk empat. Tubuhnya hitam legam, dengan aura membunuh yang sangat menakutkan. Bahkan jika dibandingkan dengan aura membunuh yang saya miliki, maka hanya sekitar satu persen saja dari aura membunuh yang dimilikinya. Makhluk itu menangkap dan memenjarakan saya serta mengambil hampir seluruh energi kehidupan yang saya miliki. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Dewa Iblis dunia ini. Kemudian dia membuat segel ditubuh saya menjadikan saya budaknya. Saya disuruh merasuki tubuh pangeran ini dan sedikit demi sedikit mengambil energi Pangeran dan memberikan ke Dewa Iblis itu. Jika saya tidak mematuhinya maka energi kehidupan saya yang diambil." Ruh itu menjelaskan dengan lancar. Tang Xiao manggut-manggut. Ada rasa penasaran dengan kelakuan Dewa Iblis itu.
"Jika dia memang Dewa Iblis, kenapa tidak mengambilnya sendiri. Dan untuk apa dia hanya mengambil energi kehidupan Pangeran tidak dengan yang lain." Tang Xiao menanyakan hal-hal yang menurutnya cukup janggal.
"Dewa Iblis tidak bisa mengambil sendiri karena dia sedang di segel ditempatnya. Jika dia keluar dari tempatnya disegel, maka tubuh dan jiwanya akan hancur. Segel itu hanya akan terbuka ketika kekuatan Dewa Iblis telah melebihi kekuatan segel itu. Dewa Iblis hanya bisa bertambah kuat jika dia mengambil energi kehidupan seseorang. Walaupun Dewa Iblis memiliki banyak pengikut, tak ada satupun dari mereka yang bisa mengambil energi kehidupan seseorang. Ketika saya belum merasuki tubuh Pangeran, Dewa Iblis mengambil energi kehidupan anak buahnya dan orang-orang yang diculik anak buahnya." Ruh itu mengambil nafas.
"Adapun alasan Dewa Iblis mengambil energi kehidupan Pangeran karena Pangeran memiliki energi kehidupan yang sangat besar dan murni. Dewa Iblis sedikit demi sedikit menyerapnya agar tidak ketahuan oleh Dewa yang menyegelnya dulu. Dan Dewa Iblis juga telah berencana, ketika Telah habis energi kehidupan pangeran dan Dewa Iblis lepas dari segelnya, maka dia dan seluruh pengikutnya akan menyerang Benua ini dan mengambil alih Kerajaan. Karena saat dia menyerang, Benua ini sedang dalam kesedihan atas meninggalnya Pangeran Mahkota, sehingga akan lebih mudah dalam menjalankan rencana jahatnya." Ruh hitam itu terdiam sejenak dan mengambil nafas panjang.
"Namun saat ini semua rencananya gagal. Bahkan Tuan Dewa berhasil menghapus segel di tubuh saya hanya dengan sentuhan satu jari. Padahal Dewa Iblis untuk menyegel saya hampir menguras seluruh kekuatannya. Saya yakin dia pasti akan muntah darah saat ini dan ngamuk-ngamuk tau tau arah.... Hihihi... Membayangkannya membuat saya tertawa... Hihihi... " Tawa cekikikan keluar dari ruh melayang itu. Tawanya terdengar begitu menyeramkan bergema ke seluruh ruangan.
Semua orang di ruangan itu terdiam mendengar penuturan ruh hitam itu. Mereka semakin ngeri membayangkan jika rencana Dewa Iblis berhasil. Mungkin mereka akan musnah seperti benua di dunia lain. Mereka juga baru tahu bahwa ada dunia lain selain dunia ini. Mereka juga semakin merasa ngeri mendengar kekuatan seseorang yang mampu memusnahkan satu benua hanya seorang diri.
Tang Xiao diam sambil meletakkan kedua tangannya di belakang punggungnya. Dia tahu, dimana kebikan di situ juga ada kejahatan. Dimana ada dunia, disitu juga ada satu Dewa Iblis. Dia merasa semakin senang dengan hadirnya Dewa Iblis di dunia ini. 'Mungkin dia bisa membuat ku sedikit bersenang-senang'.
"Tuan boleh saya bertanya sesuatu,?" Ruh hitam itu bertanya takut-takut. Ruh hitam itu memanggil Tang Xiao dengan Tuan saja, karena dia mendapat pesan dari Tang Xiao dikepalanya agar memanggil demikian.
"Apa yang ingin kamu tanyakan dan katakan dulu siapa namamu!! "
"Nama saya Monica, dan yang ingin saya tanyakan adalah dari mana Tuan tahu Neraka Petrhabawana yang melegenda itu? "
'Itu adalah salah satu ciptaan dari salah satu sahabatku.' Suara Tang Xiao terdengar dalam kepala Monica. Seketika Monica bergetar dan dia terjatuh dilantai. Semua orang kaget, Apa yang terjadi. Benak setiap orang bertanya-tanya. Padahal mereka tidak mendengar jawaban Tang Xiao itu.
Monica terduduk lemas tak berdaya. Dia mengetahui Neraka Petrhabawana hanya dari cerita beberapa ruh sepertinya yang dia temui di dunia lain. Ruh-ruh yang setiap ditemunya menceritakan kengerian (*neraka sebagai tempat setan-setan gentayangan mengerikan, gelap penuh penderitaan yang tiada bandingannya. Neraka yang disebut petrabhawana (jagad arwah), katanya mirip lautan manusia yang dikelilingi tanggul api membara. Di sini ribuan roh jahat disiksa dengan berbagai senjata maut, dari rantai besi sampai gada api sebesar pohon pinang. Ada yang diborgol tangan dan kakinya, ada yang disumbat timah panas mulutnya, ada yang cuma disayat pisau kulitnya. Tapi ada juga yang dijepit catut lehernya. Semua tergantung besar-kecilnya dosa yang diperbuatnya. Sementara ratap tangis memilukan bagai kumbang kesakitan, datanglah sisantama, burung raksasa berkepala setan yang galak menyeruak, ******* ribuan pendosa sekaligus hancur luluh dengan cakarnya. Tapi para pendosa itu tak mati, meski secara fisik sudah. Malah katanya, dengan tubuh lemah sempoyongan banyak di antara mereka malang-melintang berlari saling mendahului, saling berpegang pundak, ada yang terjatuh dan terinjak-injak. Adalah serigala berkepala hantu, tiba-tiba muncul mengejar mereka. Yang tertangkap dikoyak-koyak tubuhnya, hingga menyembul isi perutnya. Sementara dari arah berbeda, muncul raksasa berkepala dan bertangan api, terus memburu. Yang tertangkap bakal hangus, meringis mulutnya, melotot matanya, menangis dan mengaduh, menggelepar kesakitan karena napas tersengal mendekati ajal. Tapi sekali lagi, mereka tak mati.*)Ruh-ruh itu menceritakan karena mereka sebagian telah memasukinya. Mereka yang berhasil keluar adalah karena masa siksa telah selesai dan keluar sebagai ruh suci seperti baru lahir. Ruh-ruh itu mewanti-wanti ke Monika tidak usah berbuat jahat lagi agar tidak memasuki Neraka Petrhabawana. Karena nasihat itulah Monica berubah total. Monica tahu bahwa, ruh-ruh yang berbohong akan mendapat sambaran petir dimanapun ruh itu berada. Sambaran petir itu akan berhenti ketika ruh yang berbohong itu bicara jujur.
Monica pucat pasi. Dia menatap ke arah Tang Xiao. Dia melihat sepasang mata biru yang sangat cantik itu tidak ada kebohongan sama sekali. Yang ada malah kerinduan. Hanya satu pertanyaan dibenak monica 'Siapa pria bermata biru ini'
Setelah agak bisa menguasai diri, Monica bersujud dan berkata "Tuan bolehkan saya menjadi pengikut tuan. Saya bersumpah setia sampai mati akan mejadi budak tuan dan tak akan pernah menghianati tuan. Jika saya berhianat, maka kesengsaraan Neraka Petrhabawana lah tempat terbaik yang saya masuki." Ucapa Monica.
Ctaarrr.....
Ctaarrr.....
Ctaarrr.....
Terdengar suara petir tiga kali menggema sangat keras. Petir yang belum pernah didengar oleh siapapun di ruangan itu, kecuali Tang Xiao dan Monica. Tang Xiao tak menyangka dengan apa yang diucapkan Monica. Memang Tang Xiao hendak menjadikan monica sebagai salah satu koleksi dalam ruang jiwanya. Namun dia tidak menyangka, malah roh itu sendiri yang meminta menjadi anak buahnya dan mengikutinya kemana-mana. Sedangkan petir barusan adalah petir peringatan atas sumpah yang diucapkan Monica. Hanya petir peringatan bukan petir tanda diterimanya sumpah setia Monica. Ada satu lagi tugas yang harus dilaksanakan Tang Xiao yaitu mengembalikan tubuh Monica.
"Huufftt.... Baiklah Monica sekarang aku menerima sumpah setia dan syaratmu. Mulai sekarang kamu dalam perlindunganku dan menjadi abdiku" Ucap Tang Xiao dengan tegas. Disusul ucapan itu, sebuha kilat menyambar Monica kemudian diikuti dengan suara gemuruh petir yang menggelegar. Pertanda bahwa sumpah setia Monica telah dicatat oleh langit.
"Uhuk-uhuk... Apa yang terjadi" bersamaan dengan berakhirnya suara gemuruh itu, sebuah suara mengagetkan semua orang. Lantas melihat sumber suara.
Gegap gempita memenuhi ruangan itu. Pujian dan syukur terucap dari bibir semua orang termasuk Tang Xiao. Ya... Akhirnya Pangeran sadar dari tidur panjangnya. Tangisan bahagia pecah dari Permaisuri dan Kaisar. Tiada kata yang terucap melainkan rasa terima kasih tiada terhingg diberikan semua orang di ruangan itu ke Tang Xiao.
Tang Xiao mengangguk menerima ucapan itu. Dia sangat bahagia dengan kesembuhan Pangeran yang selalu memanggilnya saudara Xiao. Dia sangat senang akan keluarga Kaisar Yan yang selalu rendah hati. Rakyat juga sangat mencintai Kaisar dan seluruh keluarga.
"Tuan Dewa Tabib, kami sangat ingin mengetahui wajah Sang Penyelamat Agung Kekaisaran kami. Kami akan merahasiakan identitas anda. Kalu anda enggan maka lebih baik anda tidak membuka topeng anda." Ucap mereka memohon sambil membungkuk.
Tang Xiao terdiam dan lekas dia menghampiri mereka semua.
"Ah, Paman Kaisar, Bibi Permaisuri, Saudara Zhou, Kakek Kaisar, dan Yang terakhir... "Tang Xiao berhenti menyebut nama mereka, lekas dia membuka topengnya..." Ayah.... " Tang Xiao tersenyum lebar di hadapan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Note : tanda (* *) sumber ; http://sikyhendrowibowo.blogspot.com/2014/03/siksa-neraka-dalam-kitab-jawa.html?m\=1
Terima kasih para readers dermawan telah berkenan mampir ke novel kami, saya harap anda semua tidak lupa meninggalkan jejak walaupun berbentuk, Upvote, Like, Favorite, Tip maupun share. Hanya tahnia yang bisa saya ucapkan dari relung hati terdalam.