
Di sebuah ruangan yang cukup besar, tiba-tiba muncul portal seukuran orang dewasa tepat di antara beberapa orang tua yang sedang duduk. Kemunculan portal yang tiba-tiba yang belum pernah mereka lihat sama sekali membuat mereka tidak bergerak. Energi yang keluar dari portal itu begitu menindas hingga membuat semua orang tua itu susah untuk bernafas kecuali seorang pria berusia sekitar 40-an tahun yang duduk di kursi yang lebih besar. Pria itu tersenyum melihat portal itu dan merasa sangat familiyar dengan aura menindas ini.
"Sudahlah Xia'or cepat keluar, ayah tahu itu kamu. Kasihan para tetua yang kesusahan bernafas hanya karena kehadiran portal milikmu ini." Han Shan yang duduk segera bangkit dan berjalan mendekati portal.
Tang Xiao yang keluar dengan wajah tidak bersalah tersenyum kaku menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak menyangka akan teleport ke sini, ke Sekte Bambu Emas walaupun sebenarnya sedikit terlintas dibenaknya agar segera sampai di sini. Namun dia tidak menyangka akan secepat ini. Setelah keluar dari Kotak Pandora dan teleport ke Sekte Bambu Emas dia memahami kekuatannya masih belum sepenuhnya stabil. Masih butuh beberapa hari untuk menguasai seluruh kekuatan dan ilmunya saat ini.
"Ah ayah, maaf tak sengaja terdampar di sini setelah dari Kekaisaran." Ucap Tang Xiao senyum lebar hingga menampakkan deretan giginya yang putih. Tang Xiao lalu melihat ke beberapa tetua yang sedang memandangnya tanpa berkedip. Mulut mereka terbuka lebar. Jantung mereka berdebar kencang. Tubuh mereka bergetar tak karuan seolah mereka baru saja melihat monster tingkat SSS yang hendak menerkam mereka.
"Ah tetua yang terhormat, sampai kapan kalian membiarkan mulut kalian kemasukan lalat. Lihat lah, lalat sudah penuh di mulut kalian" Ucap Tang Xiao cengengesan.
HUPP
GLUP
Cepat-cepat mereka menutup mulut mereka dan menelan ludah dengan kasar. Terbuyar dari lamunan, mereka bergegas berdiri dan menghampiri Tang Xiao yang sedang dalam mode aslinya.
"**...Tu.....Tuan Muda...... " Ucap kaget mereka.
" Tuan Muda pendekar penyelamat yang memberi pil dahulu itu?"
"Tuan Muda? Kenapa bisa begini?"
"Tuan Muda, bagaimana ceritanya seperti ini?"
Para tetua yang berkumpul diruangan saat ini adalah para tetua kepercayaan Han Shan. Jadi mereka sudah sangat akrab dengan Tang Xiao. Beberapa tetua yang pernah berpapasan dengan Tang Xiao dulu juga kaget bukan kepalang. Tak pernah terlintas dalam benak mereka bahwa itu adalah Tuan Muda mereka sendiri. Saat itu memang mereka tidak melihat wajah Tang Xiao yang memakai topeng, hanya mengetahui rambutnya warna biru.
"Aduh Paman, satu-satu nananya. Mana bisa aku jawab semua sekaligus."
"Ya betul Paman. Aku yang dulu bertemu dengan tetua ke-4 dan ke-5 di hutan bersama beberapa pendekar wanita dari sekte Partai Emei." Lanjut Tang Xiao sambil merapikan bajunya dan rambutnya yang acak-akan.
Kelima tetua itu menutup mulut mereka. Tetua ke-4 dan ke-5 terduduk di tempat. Para tetua lain segera membantu kedua tetua itu berdiri. Tetua ke-1 hingga ke-3 yang mendengar cerita sebelumnya dan juga telah merasakan pil yang diberikan tetua ke-4 dan ke-5 dengan khasiat yang luar biasa.
Para tetua itu tak pernah menyangka Tuan Muda mereka yang selama ini selalu dianggap siluman adalah seorang yang luar biasa. Apalagi mereka baru saja melihatnya keluar dari portal yang belum pernah mereka lihat.
"Paman tetua sekalian, aku ingin berbicara dengan kalian berlima. Apakah kalian ada waktu?" Tang Xiao berjalan mendekati para tetua yang tengah mengatur napasnya dari keterkejutan mengetahui siapa tuan muda mereka.
Para tetua itu tidak langsung menjawab tapi melirik Han Shan yang telah duduk di kursinya. Mereka meminta pendapat Han Shan karena mereka sebenarnya sedang rapat penting.
Melihat hal itu, Han Shan memalingkan muka dan segera mengangguk pelan lalu berjalan keluar rungan itu meninggalkan para tetua dan Tang Xiao.
"Terima kasih ayah atas pengertiannya." Tang Xiao melambai ke ayahnya sebelum keluar dari pintu.
"Hemm..." Han Shan menjawab tanpa menoleh. Namun hatinya tersenyum gembira.
Para tetua segera duduk di tempat mereka semula. Rasa penasaran dan harap-harap memenuhi hati mereka. Penasaran apa yang akan dikatak Tuan Muda mereka dan harap-harap akan dikasih pil dengan khasiat yang luar biasa.
Tang Xiao segera duduk di kursi ayahnya. Dia mengubah ekspreksi wajahnya menjadi serius. Hal itu membuat para tetua menjadi sedikit adem panas. Suasana hening seketika, dan Tang Xiao menikmati hal itu. Para tetua tidak ada yang berani membuka suara.
"Baiklah tetua sekalian, langsung saja ya. Begini tetua. Selama ini saya telah banyak dibantu dan direpotkan oleh tetua sekalian. Sekarang adalah saatnya saya membalas kebaikan tetua sekalian. Saya tidak ingin tetua menolak pemberian saya. Pemberian ini akan sangat berguna bagi tetua, juga berguna membantu sekte di masa depan dan juga akan sangat membantu aliran putih nantinya."
Para tetua diam seribu bahasa, namun hati mereka tersenyum lebar. Sangat lebar.
"Kalo boleh tahu apakah itu Tuan Muda? Sepertinya sesuatu yang sangat besar. Tapi Tuan Muda, ingat, kami berlima melakukan semua itu karena kami memang berkewajiban. Apalagi Tuan Muda sendiri adalah anak pemimpin. Jadi tidak usah sungkan Tuan Muda." Tetua pertama berbicara duluan mendahului yang lain. Tetua yang lain mengangguk membenarkan ucapan tetua pertama.
"Ya tetua, memang sesuatu yang besar."
"Apakah itu Tuan Muda?" Tetua kedua segara menimpali.
"Aku akan memberikan kalian tekhnik kultivasi Dewa Abadi" Ucap Tang Xiao tegas.
"Hah? Apa?" Para tetua berdiri dari tempat duduk mereka dan segera menghampiri Tang Xiao.
......................
PLANET ORION
Malam menyelimuti planet indah ini. Konstelasi galaksi terlihat sangat indah dari sini. Lampu-lampu lampion terbang menghiasi indahnya malam. Lampu-lampu itu menggunakan kristal cahaya tujuh warna dan menggunakan energi qi agar bisa melayang di udara. Lampu-lampu ini buatan para penduduk setempat dan menjadi hal umum serta dibantu oleh para pendatang dari berbagai planet yang datang berkunjung menambah suasana ceria malam ini.
Para penduduk asli planet ini rata-rata kultivator tingkat intan. Hanya para pembesar atau pejuang yang berada pada tingkat Legenda. Ada juga yang berada pada tingkat Dewa Langit seperti para pemimpin dari berbagai ras. Walau para penduduk adalah kultivator, namun tidak ada penindasan atau diskriminasi ras di sini. Itulah mengapa banyak pendatang yang suka berlama-lama di planet ini. Dan juga merupakan keberuntungan para penduduk planet ini bisa mendapat penghasilan lebih besar melalui perdagangan berbagai macam kebutuhan, mulai dari makanan hingga alat-alat perang dengan teknologi mutakhir ada di planet ini. Tidak sedikit beberapa pemimpin dari beberapa planet datang langsung ke sini demi membeli senjata-senjata modern yang dihasilkan penduduk planet ini.
Dengan keahlian dan kecerdasan penduduk planet ini, mereka mampu mengolah Logam Vibranium menjadi berbagai senjata mutkhir yang diburu oleh banyak orang.
Namun para penduduk juga membatasi produksi senjata. Mereka hanya menjual senjata sebanyak 1000 unit, alat perlindungan sebanyak 2000 unit serta kendaraan bersenjata sebanyak 100 unit dalam setahun. Sedangkan yang dijual kepada konsumen hanya separuh dari jumlah yang dibuat. Sisanya disimpan dan digunakan oleh penduduk sendiri. Walaupun setiap saat permintaan penjualan selalu meningkat tajam, namun mereka tetap menjual dengan peraturan yang telah ditetapkan.
Di langit malam yang begitu indahnya tiba-tiba muncul sebuah lubah seperti portal berwarna biru keemasan. Para penduduk yang melihatnya menghentikan pekerjaan mereka dan melihat apa yang terjadi dan siapa yang keluar dari portal itu.
Kemunculan lubang dan portal adalah hal biasa bagi penduduk sini. Namun mereka tetap penasaran siapa lagi yang datang ke planet ini.
"Lihat lubangnya begitu besar dan juga cantik" Sepasang muda mudi yang duduk di taman tak jauh dari tempat lubang juga ikut mendongak ke atas
"Ah iya betul. Aku baru melihat lubang sebesar itu. Namun keindahannya masih kalah dibanding keindahanmu sayang" Timpa yang laki-laki sambil mencolek pipi pasangannya membuat si wanita bersemu merah.
Semakin lama portal itu semakin besar. Setelah seukuran sungai, dari portal itu muncul sebuah kapal berwarna hitam keputihan dengan beberapa orang di dalamnya.
"Hei lihat itu, siapa mereka,"
"Lihat, baru pertama kali aku melihat pakaian yang seperti itu.
"Rasa-rasanya seperti melihat para Dewa"
"Betul, tekanan yang sangat besar juga terasa dari mereka. Siapa sebenarnya mereka?"
"Lihat, pemuda itu sangat tampan. Kiyaa.... Aku mau menjadi istrinya."
"Para wanita juga sangat cantik, lihat mereka seperti peri di pagi hari."
Para warga bergumam sendiri. Ada takjub yang begitu besar dari dalam diri mereka. Namun ada juga rasa takut karena merasakan tekanan dari para pendatang baru itu.
Kapal itu segera mendarat di tanah lapang tak jauh dari taman. Para warga segera mengerumuni mereka.
"Kaisar, sepertinya banyak warga yang antusias ke sini." Seorang pemuda segera mendekati seorang laki-laki memakai jubah putih kebiruan dengan motif bunga sakura dan bunga seroja. Orang yang dipanggil Kaisar tersenyum. Yang mana membuat histeris beberapa wanita muda yang berkumpul.
"Kiyaaa..... Lihat dia tersenyum padaku. Akankah dia tertarik padaku. Kiyaaa.... Memikirkannya saja aku tak dapat tidur sehari semalam." Seorang wanita muda dengan dandanan menor histeris sambil memegang wajahnya.
"Hufft... Dia tidak tersenyum padamu karena tertarik padamu, tapi dia tersenyum mengejek melihat dandanan mu. Hahaha" Seorang wanita muda lain menimpali sambil memegang perutnya dan tertawa. Para warva yang berkumpul juga ikut tertawa.
"Biarkan saja para warga datang ke sini. Ternyata dunia manusia juga sangat indah ya. Dari sini bisa terlihat bintang-bintang dan konstelasi galaksi juga terlihat sangat indah. Setidaknya tidak rugi kita datang ke sini." Kaisar lag-lagi tersenyum sambil melihat langit malam di atasnya.
Para pemuda dan pemudi yang berada di belakangnya juga mendongak ke langit malam. Mereka mengangguk setuju dengan yang dikatakan Kaisar mereka.
Seorang warga yang berumur sekitar 50-an tahun mendekati kapal dan berkata,
"Para tamu sekalian, selamat datang di planet ini. Apapun yang anda inginkan semua ada di sini. Perkenalkan nama saya Zurur. Saya dari ras manusia. Saya bertugas sebagai penyambut tamu." Ucap Zurur sambil membungkuk dan menaruh tangan kanan di perut sedangkan tangan kiri di belakang panggung. Sebuah penyambutan yang ramah dan sopan.
Orang yang dipanggil Kaisar keluar dari Kapal diikuti para pemudi dan pemudi dibelakanngnya lalu menghampiri Zurur.
"Terima kasih tuan Zurur. Nama saya Paijo. Saya Kaisar Surga." Ucap Kaisar Paijo mengatupkan kedua tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...**PAIJO MANA PAIJO. HEBAT, BISA JADI KAISAR SURGA. 😁😁...
#entahlah**
Selaksa kerinduan menghampiri
Berbukit menggunung membebani
Doa dan tahniah penguat diri
Teruntuk adinda yang kucintai
Indah memandang tak terperi bak bidadari
#By;El-Khan
Ngawi, 20 Januari 2021