The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 76. BUKU KUNO



Benua Land Of Heaven


Kerajaan Klan Petir


"Aku tidak ingin dijodokan dengan siapapun, aku tidak bisa menikahi orang yang aku tidak aku cintai." Seorang gadis berbicara dengan tenang di depan ayah dan ibunya. Gadis nan cantik jelita bermata bening dengan tanda tiga daun teratai biru menghiasi keningnya yang putih bersih menambah kesempurnaan kecantikan anak gadis itu.


"Cinta akan datang setelah pernikahan dan saling mengenal satu sama lain." Sahut ayah dari gadis itu. Pria berumur empat puluhan tahun itu tidak mengenakan pakaian kebesarannya di depan keluarganya. Saat ini di ruangan itu hanya ada tiga orang.


"Seperti ibu dan ayah, jatuh cinta setelah menikah meskipun sebenarnya sudah ada benih-benih cinta sebelum menikah." Balas perempuan berumur tiga puluhan tahun dengan lembut. Perempuan itu lebih terlihat sebagai kakak perempuan anak gadis dari pada ibunya.


"Tapi aku berbeda ayah ibu, aku punya prinsip tidak akan menikahi seseorang sebelum aku jatuh cinta pada orang itu. Sementara kalian hendak menjodohkan aku dengan seseorang yang aku tidak kenal sama sekali. Apa ayah dan ibu tidak sayang lagi kepadaku?" Anak gadis itu terlihat merajuk.


Ayah dan ibunya membuang nafas.


"Nawang..., Ini baru perjodohan belum pernikahan. Ayah juga tidak bisa membantah perkataan tetua Agung klan kita. Tapi dengarlah, laki-laki jodohmu ini merupakan salah satu pewaris terbaik darah dewa kuno dan digadang-digadangkan klan merekalah yang akan menjadi menjadi pemimpin masa depan benua ini." Balas sang ayah tidak menyerah. Dia masih berbicara dengan lembut kepada anaknya.


"Ayah sebagai seorang raja di klan kita kenapa harus tunduk pada tetua agung. Orang tua itu kenapa harus bersikap seenaknya di Kerajaan ayah." Sahut Nawang cepat.


"Nak, perhatikan ucapanmu." Tegur ibunya.


"Tetua Agung adalah orang yang sangat berjasa besar kepada Kerajaan kita. Karena kehadiran beliau, Kerajaan kita menjadi salah satu Kerajaan yang disegani di daratan ini." Lanjut sang ayah. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Jadi ayah dan ibu lebih menyayangi tetua Agung dari pada aku, anak kalian sendiri?" Tanya gadis itu mulai tidak tenang.


Kedua orang tuanya menghela nafas. Mereka tidak tahu harus berbicara bagaimana lagi dengan putri semata wayang mereka. Sudah cukup lama kedua orang itu meyakinkan puteri mereka. Sang ibu mendekati anak gadisnya sambil membelai kepala gadis itu.


"Nawang, lihatlah tanda di keningmu ini yang merupakan salah satu tanda yang tertulis dalam catatan Dewa-dewa kuno sebagai tanda penguasa yang lahirnya tidak dapat diprediksi kapan dan dimana. Di dunia ini hanya di benua inilah yang masih memiliki garis keturunan Dewa. Dari itu ayah dan ibu mencarikan lelaki yang terbaik dari terbaik sebagai pendampingmu kelak.


Kami bukannya tidak menyayangimu, sebagai orang tua tentu saja ingin yang terbaik kepada anaknya dalam setiap hal. Diantara klan Dewa yang ada di benua ini, hanya klan Dewa Cahaya-lah yang terkuat dan pantas menjadi pendamping dari klan Dewa Petir kita.


Ini semua demi kebahagiaanmu dan ketepatan orang yang akan melindungimu kelak." Ujar sang ibu dengan tenang dan lembut. Tangan lembut sang ibu membelai-belai rambut puterinya yang wangi semerbak dan hitam mengkilap serta lembut seakan-akan orang bisa melihat pantulan dirinya jika berdiri di belakang rambut gadis itu.


Gadis itu terdiam memikirkan ucapan ibunya, ada benarnya juga apa yang diucapkan ibunya. Namun hatinya masih tidak tenang dan tidak siap dengan perjodohan itu, namun dia menyembunyikannya. Tidak ingin berdebat lagi dengan orang tuanya.


"Baiklah Nawang, lusa adalah hari upacara kedewasaanmu dan calonmu akan datang bersama orang tuanya dalam upacara itu. Saat itulah kamu bisa mengenal lebih dekat calonmu dan keluarganya. Papa harap kamu dan dia bisa berbicara dengan baik meskipun untuk pertama kalinya." Ujar sang ayah bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar kamar.


"Ibu dan ayah pergi dulu, ada banyak hal yang harus dikerjakan sebagai Raja dan Ratu dari klan Dewa Petir." Sang ibu pergi setelah membelai rambut Nawang yang hitam meninggilkan gadis cantik itu sendirian di kamarnya yang luas.


Gadis itu bangkit dari duduknya dan melangkah memasuki perpustakaan istana yang behubungan dengan kamarnya. Di sana gadis itu menghabiskan banyak waktu sehari-harinya selama ini selain dari latihan. Sejak lahirnya hingga sekarang, gadis itu hanya sesekali keluar dari Istana dan selalu berada di perpustakaan, tidak kawan, tidak ada yang bermain dengannya kecuali dua orang guru wanitanya dan kakeknya.


Gadis itu mencoba naik ke lantai tertinggi yang belum pernah dinaikinya. Dia sudah bosan dengan empat lantai lainnya yang rata-rata buku di empat lantai itu telah dibacanya. Gadis itu memperhatikan seluruh buku yang ada di lantai terakhir perpustakaan milik Kerajaannya. Meskipun tidak sebanyak empat lantai lainnya, namun setiap buku yang ada di lantai lima mengeluarkan aura yang tidak biasa.


Gadis itu tertarik dengan sebuah buku bersampul coklat tua yang terletak paling ujung di rak, buku itu mengeluarkan aura yang aneh dan misterius. Gadis itu melompat dan dengan ilmu meringankan tubuhnya, gadis itu berhasil meraih buku bersampul coklat yang terletak paling atas rak.


Teknik-teknik terlarang Seribu Dewa


Gadis itu mengernyitkan dahinya karena penasaran dengan buku itu. Membaca tulisan di covernya saja, gadis itu sudah sangat berminat. Namun dia bingung, gadis itu tidak mampu membuka cover coklat tua itu.


"Aneh, kenapa buku ini harus disegel dengan kuat. Dan siapa pula yang menyegelnya." Gumam Nawang.


"Ah tidak aneh sih jika buku ini berisi teknik-teknik terlang para Dewa. Hemm..."


Gadis itu turun dari lantai lima dan kembali ke kamarnya sambil membawa buku setebal tiga centi itu. Di kamar, gadis itu telah mencoba beberapa kalo mencoba membuka sampul buku itu namun tetap tidak bisa. Dia juga telah mencoba beberapa cara yang diketahuinya membuka sebuah segel namun tetap bisa. Enkripsi kuno yang ada di buku itu sama sekali tidak bergeming.


"Ah sial, buku ini memiliki segel yang kuat. Pola enkripsi kuno di buku ini benar-benar tidak kumengerti." Gumam gadis itu menaruh buku yang tidak bisa dibuka itu di kursi lalu berjalan menuju dapur. Tak lama kemudian gadis itu kembali dengan membawa sebuah gelas kaca yang terbuat dari kristal berisi air panas yang asapnya masih mengepul.


Gadis itu meminum sedikit demi sedikit air di gelasnya sambil mencoba mengamil buku yang tadi di letakkannya di kursi.


"Mungkin dengan ditemani teh ini aku bisa menemukan kunci enkripai kuno di buku ini."


Gadis cantik itu larut dalam memahami buku di tangannya yang masih belum bisa terbuka sama sekali. Tangan kirinya tak lepas dari memegang gelas kaca yang berisi teh kesukaannya.


Di tengah-tengan asiknya Nawang memahami buku di tangannya, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari samping kamarnya hingga membuat gadis itu terkejut.


BOOMMM..


Prankk...


Gelas di tangan kirinya jatuh dan pecah berderai di lantai. Gadis itu melihat ke arah ledakan dengan pandangan sewot. Meskipun tertutup dengan tembok, Nawang tahu siapa yang melakukan itu dan apa yang sedang dilakukan orang itu. Karena Nawang sudah terbiasa dengan ledakan itu, namun sedikit berbeda dengan hari ini di saat dia fokus dengan buku di tangannya.


Gadis itu mencoba mengambil serpihan-serpihan gelas kacanya yang telah jatuh berderai di lantai. Tangan kirinya menggenggam buku.


"Aduh...."


Serpihan gelas kaca menyayat jari telunjuk Nawang, gedis itu bangkit tanpa mempedulikan tetesan darah yang mengalir dari jarinya. Nawang memindahkan buku ke tangannya yang terluka, saat itulah terjadi hal diluar dugaan Nawang.


Darah yang menetes dari jari telunjuk Nawang mengenai sampul tua buku di tangan Nawang dan meresap ke dalam buku menyedot darah Nawang. Gadis itu terkejut mengetahui darahnya disedot paksa dan mencoba melepas buku dari tangannya.


Wusshh...


Sebuah cahaya biru keluar dari buku tua itu dan menembus langit. Nawang terjatuh tak sadarkan diri begitu cahaya biru itu menghilang. Orang-orang yang berada di sekitar segera masuk ke kamar Nawang, termasuk para penjaga Kerajaan. Di sana mereka melihat pecahan beling dan darah yang sudah mengering. Mereka tidak melihat buku tua yang dibawa Nawang serta luka di jari gadis itu telah sembuh.


......................


"Ternyata begitu kenapa adik keempat kabur dari rumah. Pantas saja selama ini kelakuan adik keempat sedikit aneh karena tidak seperti pria pada umumnya." Gumam Andri setelah mendengar cerita tetua Lan dan tetua Yan mengenai Denas alias Dewi Nawang Sari.


Gadis itu hanya tersenyum simpul tidak banyak menanggapi cerita dua orang gurunya itu. Dia lebih tertarik dengan Della kecil yang tak henti-hentinya memandanginya, gadis kecil itu seolah tak berkedip memandang wajah Dewi. Dewi juga merasa senang mempunyai adik junior yang dilatih dua gurunya. Bukan tanpa alasan bagi mereka melatih seseorang, sejauh ini yang diketahui dari kedua gurunya bahwa Dewi adalah murid pertama mereka selama ini. Mereka tidak mengangkat seseorang murid secara sembarangan meskipun ada banyak murid berbakat di Kerajaan.


Di Kerajaan, hanya Dewi-lah yang berhasil menjadi murid tetua Lan dan dan tetua Yan bukan karena sebagai anak Raja atau karena Putri Mahkota pewaris Kerajaan, melainkan karena bakat tinggi yang dimiliki oleh Dewi. Tetua Lan dan tetau Yan sendiri merupakan tetua tertinggi di Kerajaan yang kedudukannya sama dengan penasihat Raja. Sudah tidak terhitung berapa banyak menteri yang mengajukan putra putri mereka agar bisa belajar di bawah bimbingan tetua Lan dan tetua Yan namun semua itu mereka tolak karena tidak sesuai dengan kriteria bakat yang mereka inginkan. Walaupun masih muda, tetua Lan dan tetua Yan telah mencapai hasil yang sangat jarang dicapai oleh orang lain pada masanya.


"Jadi apakah guru Yan dan guru Lan merestui hubunganku dengan Kakak Tang?" Tanya Dewi Nawangsari setelah terdiam cukup lama.


Pertanyaan itu mengejutkan Tang Xiao, hampir-hampir dia memuntahkan makanan yang sedang dikunyahnya. Namun tentu juga dia penasaran dengan hal ini. Saat ini pandangannya terhadap adik keempatnya telah berbeda. Tentu saja dia juga menantikan jawaban dari kedua orang penting dari keluarga kekasihnya ini.


"Ehem.. Tuan putri telah melakukan kesalahan besar ketika kabur dari upacara kedewasaan dan membuat malu seluruh Kerajaan Klan Dewa Petir di Benua Land Of Heaven. Yang Mulia Raja juga harus bertanggung jawab menghadapi para tetua Land Of Heaven yang telah membuat peraturan untuk tidak keluar dari Benua Land Of Heaven kecuali keadaan tertentu.


Kami berdua hanya ditugaskan membawa kembali Tuan Putri ke Kerajaan untuk meredakan amarah para tetua Benua Land Of Heaven dan agar Yang Mulia Raja tidak mendapat hukuman karena pelanggaran yang dilakukan oleh putri tercintanya serta untuk mengembalikan nama baik seluruh Klan Dewa Petir.


Jika tuan Putri ingin meminta restu atas hubungan dengan tuan Tang, tentu saja harus bertemu dengan Yang Mulia Raja dan mengembalikan nama baik Kerajaan Klan Dewa Petir."


Dewi Nawangsari terdiam atas ucapan tetua Lan. Dia termenung tidak menyadari bahwa tindakannya itu ternyata sampai ke hadapan para Dewan Tetua Benua Land Of Heaven yang selama ini menjaga kedamaian dan keutuhan seluruh Benua Land Of Heavend. Tentu saja jika sudah di hadapan para Dewan Tetua, tidak akan mudah untuk bisa lepas sekalipun itu Raja-raja Kerajaan besar yang ada di Benua Land Of Heavend. Sementara dirinya hanyalah seorang putri dari kerajaan yang tidak terlalu berkuasa meskipun mempunyai kedudukan yang cukul bisa diperhitungkan.


Dewi Nawangsari menghembuskan nafas berat. Dia kini menyesali perbuatan yang dilakukannya tanpa berpikir panjang dan hanya mengikuti kemauannya saja. Andaikan dia berpikir lebih dalam dengan tindakannya, masalah ini tidak akan sampai ke hadapan para Dewan Tetua.


Dewi Nawangsari memandang Tang Xiao di depannya yang juga ternyata sedang memandangnya. Tatapan keduanya bertemu dan saling berbicara dengan bahasa mata yang hanya dimengerti oleh sepasang kekasih.


Meskipun rumit, Tang Xiao memahami kesalahan yang telah dibuat oleh kekasihnya ini. Dia mengerti arti dari tatapan itu.


"Mungkin kami harus kembali. Yang Mulia Raja telah menghubungi kami beberapa kali ini dan beliau hampir tidak sanggup menahan tekanan dari para Dewan Tetua untuk menghadirkan tuan Putri." Jawab tetua Lan singkat.


Jawaban itu tentu saja mengagetkan semua orang di situ kecuali tetua Yan. Bahkan Rangga juga ikut terkejut dengan dengan jawaban kekasihnya. Dewi Nawangsari menghela nafas berat. Baru saja dia bisa "mengesahkan" hubungannya dengan Tang Xiao kini dia harus pergi kembali ke Kerajaan. Namun dia mencoba membujuk gurunya itu.


"Guru Lan, lihatlah saat ini tingkatanku ada di tahap apa?" Tanya Dewi Nawangsari sambil membuka segel kultivasinya.


"Apaa? Bagaimana mungkin bisa secepatnya ini hanya dalam waktu tiga bulan saja?" Gumam tetua Lan dan tetua Yan takjub. Yang mereka tahu ketika Dewi Nawangsari sebelum meninggalkan Kerajaan, telah berada di ranah Saint bintang empat namun sekarang sudah beradah di ranah Saint bintang sembilan puncak dan hampir memasuki ranah Ancestor.


Tetua Lan dan tetua Yan tahu betul jika murid mereka ini adalah seorang jenius yang sangat luar biasa bahkan d seluruh Benua Land Of Heavend. Semua orang tahu, bahwa kultivator yang sudah mencapai ranah Saint di usia yang masih mudah akan sangat sulit menaikkan setiap bintangnya. Umumnya para jenius muda sejati akan butuh empat atau lima tahun untuk melewati ranah Saint.


Tetua Lan dan tetua Yan tahu bahwa Dewi Nawangsari berada di ranah Saint sekitar satu tahun yang lalu dan baru mencapai bintang empat. Namun kini baru berpisah tiga bulan saja, Dewi Nawangsari telah berada di tingkat binatang sembilan puncak. Sesuatu yang seharusnya mustahil itu membuat tetua Lan dan tetua Yan tergagap sesaat. Tentu saja selain Andri, Jessika dan Tang Xiao terdiam tak mampu berbicara. Rangga hanya bisa geleng-geleng kepala mengetahui kejeniusan Dewi Nawangsari. Walaupun Rangga telah melalui beberapa kehidupan serta pengalaman kultivasi, namun pencapaian yang dihasilkannya ketika seusia Dewi Nawangsari tidaklah dapat disamakan. Dia menyangka selama ini dia sudah mencapai sesuatu yang belum pernah dicapai orang lain di dunia ini.


"Anak ini benar-benar berada di luar nalarku, masa depan yang cerah menantinya. Sungguh luar biasa dikehidupan ini aku bertemu dengan seorang seperti dia. Terlebih lagi dia adalah murid dari istriku. Tentu saja aku ikut bangga." Batin Rangga tersenyum puas.


Melihat kedua gurunya terkagum-kagum dengan kultivasinya, Dewi tersenyum lebar. Dia mencoba rencana selanjutnya.


"Guru Yan guru Lan, semua pencapaian yang aku lakukan saat ini tidak pernah lepas dari kakak Tang. Walaupun aku menyembunyikan identitasku, kakak Tang selalu ada buatku membantu dalam setiap kesulitan yang aku hadapi serta berkat usaha keras kakak Tang, aku bisa mencapai tingkat seperti ini.


Bagaimana mungkin aku meninggalkan seseorang yang kucintai dan mencintaiku begitu saja. Kakak Tang dan aku saling mencintai dan berjanji tidak akan berpisah apapun yang terjadi. Kakak Tang yang menjagaku selama ini, aku tidak bisa meninggalkannya." Ucap Dewi Nawangsari dengan wajah sedih.


Tetua Lan dan tetua Yan terdiam sejenak. Tetua Yan merasa kasihan terhadap muridnya ini namun dia juga tidak berbuat apa-apa. Membawa kembali Dewi Nawangsari adalah perintah mutlak Yang Mulia Raja sekaligus ayah kandung Dewi Nawangsari.


"Tuan putri tahu sendiri seperti apa sikap Yang Mulia, kami sebagai gurumu tidak bisa berbuat banyak meskipun kami ingin. Namun kami sebagai gurumu akan membantumu berbicara di hadapan Yang Mulia ketika kita kembali nanti. Kami juga akan mendampingimu ketika nanti menghadapi para Dewan Tetua Mahkamah Agung Benua Land Of Heaven. Sebagai gurumu kami juga ingin melihatmu bahagia namun kami juga tidak bisa berbuat banya." Tetua Yan menyuarakan pendapatnya.


Dewi Nawangsari terdiam. Dia mencoba mencari cara lain agar bisa pergi bersama Tang Xiao dan yang lainnya. Semakin dia berpikir, semakin banyak keresahan yang didapatnya. Terutama berhubungan dengan kesalahannya karena keluar dari Benua Land Of Heaven yang mengakibatkan Kerajaan ayahandanya dalam kecaman para Dewan Tetua Mahkamah Agung.


Melihat murid kesayangannya terlihat susah, tetua Lan berpikir keras mencari cara lain untuk membawa keempat orang teman-temannya. Terlintaslah dalam pikirannya sebuah cara yang cukup berbahaya dan beresiko tinggi bahkan berakibat fatal. Namun ini adalah satu-satunya cara bagi orang luar untuk masuk ke benua Land Of Heaven.


Tetua Lan mulai mendiskusikan cara ini dengan yang lain. Tetua Yan yang mengetahui cara itu cukup berbahaya awalnya terkejut dan menolak cara itu. Namun dia juga tidak punya cara lain yang lebih baik sehingga terpaksa tetua Yan menyetujui rencana tetua Lan.


"Tenang saja saudari Yan, ada kanda Rangga yang menemani anak-anak ini. Kanda Rangga sendiri lebih kuat dari beberapa Dewan Tetua Agung yang kita kenal. Dan kanda Rangga juga mau tidak mau harus melewati cara ini agar bisa ke benua Land of Heaven." Ucap tetua Lan menenangkan tetua Yan yang agak keberatan. Tetua Lan tahu betul kenapa tetua Yan sangat keberatan dengan rencana tetua Lan. Itu semua demi keselamatan anak-anak, karena jalur yang akan mereka tempuh belum pernah seseorangpun mampu melewatinya meskipun itu orang dari Benua Land Of Heaven.


"Jika memang begitu, aku akan bertanggung jawab membawa anak-anak ini dan keselamatan mereka. Percayakan masalah ini kepadaku." Ucap Rangga tenang. Mau tidak mau dia juga harus mengikuti cara yang direncanakan tetua Lan agar bisa bersama dengan kekasihnya itu.


"Karena sudah diputuskan, kita sudahi sampai di sini. Dan mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita di benua ini." Ucap tetua Yan bangkit dari duduknya.


"Secepat ini guru?" Dewi Nawangsari agak terkejut dengan ucapan tetua Yan.


"Lebih cepat lebih baik. Waktu yang diberikan oleh Dewan Tetua hampir habis. Kita tidak bisa menyia-nyaiakn kesempatan dengan mengucapkan salam perpisahan." Timpal tetua Lan bangkit dan bergabung dengan tetua Yan. Kedua orang itu membuat formasi yang kemudian muncul sebuah portal di depan mereka.


"Kakak Tang, ingat untuk segera menjemput aku ya. Aku akan menunggu meskipun menghabiskan seluruh hidupku." Ucap Dewi Nawangsari menggenggam kedua tangan Tang Xiao.


Tang Xiao tersenyum simpul. "Tenang saja, ketika turnamen ini telah dimenangkan kami akan menyusul. Percayalah, kami akan aman bersama dengan paman Rangga." Ucap Tang Xiao sambil mengelus kepala Dewi Nawangsari.


"Hemmpp" Gadis itu hanya tersipu diperlakukan oleh Tang Xiao.


"Apa kamu tidak mengucapkan salam kepada kakakmu ini?" Suara Jessika terdengar jelas di telinga Dewi Nawangsari. Gadis itu tersentak kaget lalu tersenyum simpul.


"Tentu saja mana mungkin lupa. Selama ini kakak kedualah yang selalu memberi semangat dan menjaga rahasiaku dengan amat sangat." Ucap Dewi Nawangsari sambil memeluk erat kakak keduanya itu.


"Kakak pertama, tolong kakak kakak kedua, jangan sampai terluka." Ucap Dewi Nawangsari sambil menghadap Andri.


"Tidak perlu khawatir. Kakakmu ini orang yang bertanggung jawab dan memegang kata-kata yang telah diucapkannya. Baik-baiklah di sana dan tunggu kami datang menjemputmu." Balas Andri tenang tersenyum.


Dewi Nawangsari mengangguk tersenyum lalu dia berjalan mengikuti kedua gurunya yang sudah berdiri di depan portal. Tetua Lan menghadap ke arah Hanzho dan Della. Dia manatap mata Della yang masih kecil itu, sejurus kemudian tetua Lan tersenyum. Tetua Lan dapat melihat kesedihan di mata Della meskipun mencoba disembunyikannya.


"Jika saudara Hanzho dan Della memutuskan untuk ikut kami ke benua Land Of Heaven demi keamanan Della, bisa mengikuti yang lainnya. Dan juga sepertinya kami akan mengangkat murid kedua." Ucap tetua Lan tersenyum.


"Terima kasih banyak guru." Ucap Della yang langsung bersujud tiga kali kepada tetua Lan dan tetua Yan. Gadis kecil itu memang sangat berharap untuk diangkat sebagai murid asli oleh kedua guru sementaranya itu namun dia tidak berani mengatakannya dan hanya bisa berharap di dalam hati. Begitu kesempatan itu datang, dia tidak akan pernah melepaskannya begitu saja.


Hanzho pun merasa sangat terharu. Kini dia bisa tenang menyelamatkan tuan putri kecilnya yang sedang dalam pengejaran. Bersama dengan orang-orang yang dipercaya dan kuat tentu akan mwndatangkan rasa ketentraman tersendiri.


"Yang Mulia Raja, kini tuan putri telah diangkat sebagai murid oleh dua orang yang sangat kuat. Jika Yang Mulia masih hidup, saya harap mohon bertahanlah beberapa tahun ini. Semua pasti dapat kita balas kembali penghinaan ini." Ucap Hanzho tanpa terasa air matanya telah meleleh.


Tetua Yan dan tetua Lan melangkah masuk portal diikuti oleh Dewi Nawangsari. Ketiga orang hilang dalam sekejap bersamaan dengan hilangnya portal dari depan mata semua orang.


Tang Xiao, Jessika, Andri, Rangga, Hanzho dan Della menghembuskan nafas. Meskipun suasana agak canggung, mereka mencoba mencairkan suasana dengan berbicara santai. Mereka memperkenalkan diri masing-masing agar bisa lebih akrab. Yang pertama memperkenalkan diri adalah Tang Xiao, kemudian Andri lalu Jessika, kemudian Hanzho dan Della lalu yang terakhir Rangga.


Diantara keenam orang itu hanya Tang Xiao dan Rangga yang merasakan kehadiran sekelompok orang yang sedang berjalan menuju ke arah mereka di lantai bawah dengan hawa membunuh yang disembunyikan. Tidak main-main, dua orang diantara mereka ada yang berada di ranah Holy Ancestor.


" Hemm... Malam-malam yang tenang akan rusak gara-gara mereka ini." Batin Rangga.


"Sampah-sampah busuk selalu berada di mana-mana. Sedikit olah raga bersama Paman Rangga sepertinya menyenangkan." Batin Tang Xiao.


"Siapa yang ingin selamat segera pergi dari sini. Kami sedang memburu dua buronan pemberontak dari Gold Imperium yang berada di sana." Teriak seorang pria yang berpakaian layaknya Jenderal begitu tiba di lantai tempat Tang Xiao dan lainnya bertemu. Pria berpakaian Jenderal itu menunjuk dengan pedangnya ke arah Hanzho dan Della yang terkejut. Della yang masih kecil itu menjadi pucat pasi karena ketakutan. Hanzho yang juga terkejut mencoba menyembunyikan rasa takutnya dan menarik Della ke belakang punggungnya.


"Tuan, merekalah yang hendak kami tangkap." Ucap pria Jenderal itu dengan sopan kepada dua orang pria tua yang berdiri di sampingnya. Seluruh ruangan telah kosong, hanya ada kelompok Tang Xiao di lantai itu. Bahkan di lantai bawahpun tidak ada orang sama sekali. Melihat kelompok Tang Xiao tidak bergeming dari tempatnya, dua orang pria tua itu tersenyum lebar.


"Jadi kalian orang-orang yang tidak takut mati?" Ucap salah satu pria tua menyeringai mengeluarkan hawa membunuhnya yang besar.


..............


Sementara itu di saat yang bersamaan seorang gadis cantik jelita menatap malam tanpa bintang dengan wajah sendu dari balik jendela kamarnya. Matanya sembab menunjukan gadis itu telah menumpahkan air matanya. Tatapnya kosong menerawang cakrawala tanpa melakukan apa-apa.


"Ririn, boleh ibu masuk?" Seorang wanita mengetuk pintu dari luar meminta izin. Gadis itu segera bangkit dari duduknya dan membersihkan mukanya dari bekas-bekas menangis. Dia mencoba tersenyum ceria seolah tidak ada yang terjadi lalu melangkah membuka pintu kamarnya menyambut ibunya yang telah menunggu di luar.


"Tumben ibu malam-malam begini ke kamar Ririn." Ucap Ririn tenang dan senyum ceria.


"Ah ibu ini hanya punya satu puteri dan satu-satunya harapan Kerajaan kita. Bagaimana mungkin ibu tidak tahu apa yang sedang membuat putri cantik ibu ini sampai menangis tersedu." Jawab ibu Ririn mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.


Ririn tersentak kaget mendengar ucapan ibunya namu dia mencoba tetap tenang. Di hadapan ibunya dia tidak boleh lemah.


"Ceritakanlah nak apa yang sebenarnya terjadi. Sebagai seorang ratu, tapi sebagai seorang ibu atau seorang sahabat. Di depan ayahmu kamu boleh tetap kuat. Tapi di depan ibumu ini, tumpahkanlah segala apa yang kamu tidak mampu memikulnya. Ceritakanlah sebagai sesama perempuan, nak." Ucap ibunya kembali membelai rambut dan wajah putrinya dengan lembut.


Malam itu Ririn kembali tersedu menumpahkan segala isi hatinya dan kekecewaan yang baru saja diterimanya. Apakah semua ini salahnya yang telah salah memahami arti kedekatannya atau karena dia memang berharap terlalu banya. Malam itu Ririn menceritakan segalanya serta beban yang selama ini diterimanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Guysss🤗🤗.......


Lebih dari satu bulan tidak up, bukan karena kehabisan ide. Bahkan ni ya kepala saya hampir pecah karena kebanyakan ide namun tidak tersalurkan.


Yah waktu saya habis untuk pekerjaan di sekolahan dan tugas-tugas kuliah. Maklumlah kuliah sudah kembali tatap muka dan menuntut waktu saya. -Sedikit curhat :P -


Terima kasih sebesar-besarnya masih setia dengan karya saya dan terus mendukung saya. -dah segitu aja :p -