The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 78. MURID SI DEWA PEDANG



Pertandingan Antar Kultivator Benua telah memasuki babak Final. Dari ratusan kelompok yang ada, tersisa sepuluh kelompok yang bertahan. Salah satunya adalah kelompok Tang Xiao atau kelompok Young Ashura.


Tentu saja kelompok Young Ashura menjadi salah satu kelompok yang menjanjikan dan diminati oleh orang-orang besar. Meskipun di antara kelompok Tang Xiao masih menyembunyikan kekuatannya, namun mereka sudah cukup menarik perhatian. Tak terkecuali dengan sembilan kelompok lainnya, masih banyak juga diantara mereka yang belum bertanding dan menyembunyikan kekuatan utama mereka.


Saat ini kelompok Tang Xiao sedang mendiskusikan dan menganalisis setiap kekuatan lawan di penginapan.


" Diantara sepuluh kelompok, aku yakin kita yang pertama kali bertanding melawan sembilan lainnya kali ini biarkan aku maju duluan. Tenang saja aku tetap akan menyembunyikan kekuatanku hingga kita masuk babak Grand Final." Ucap Tang Xiao setelah berdiskusi cukup lama. Selama babak penyisihan, Tang Xiao sama sekali belum naik ke atas arena. Dia hanya menunggu di bawah dan memperhatikan kedua kakaknya serta Arya membuat prestasi. Kedua kakaknya mengatakan bahwa dia akan menjadi kekuatan utama mereka karena dia lebih kuat dari mereka semua. Namun kali ini, dia sudah tidak sabar ingin naik ke atas arena.


"Hemm baiklah tapi awas jangan sampai terluka dan memaksakan diri. Lawan kita dari sembilan kelompok lainnya yang paling rendah saja berada di ranah Legend bintang sembilan." Ucap Andri mengingatkan. Menurutnya, meskipun adik ketiganya ini yang paling kuat dan termuda diantara mereka, tapi pengalaman bertarungnya masih kurang bila dibandingan dengan kelompok lainnya. Bahkan sampai saat ini, Andri sendiri pun tidak tahu seperti apa kekuatan adik ketiganya ini yang kata gurunya, adalah seseorang dengan kekuatan yang tanpa batas.


"Pokoknya jika ada apa-apa dan membahayakan segera panggil bertiga. Aku tidak ingin mendapat pertanyaan yang aneh-aneh dari adik keempat nanti jika dia tahu kamu terluka." Sambung Jessika tegas.


Tang Xiao tersenyum lebar. Dia benar-benar senang ada yang memperhatikannya dan mengkhawatirkannya. Dia sebenarnya tertawa karena mereka mengkhawatirkan dirinya yang seharusnya mereka khawatirkan adalah lawannya dia arena.


Karena ini adalah Final, pertandingan diadakan di arena ruangan khusus yang sangat besar. Sama besarnya dengan lapangan tempat pertandingan penyisihan. Orang-orang yang ingin menonton pertandingan lebih banyak dari sebelumnya ketika babak penyisihan. Selain besar, interior ruangannya pun cukup mewah dan megah serta memanjakan mata dan dilapisi dengan energi agar tidak hancur ketika terkena serangan meleset dari peserta.


Bukan hanya itu saja, Para peserta pertandingan telah diberikan ruangan khusus tempat mereka beristirahat. Pada dasarnya sepuluh kelompok ini telah ditentukan sebagai orang yang berkualifilasi dan diterima oleh kedua Sekte dan Kerajaan Nusantara. Pertandingan final ini diadakan hanya untuk mengetahui seberapa berbakatnya mereka yang terpilih hingga para utusan dari Kedua Sekte dan Kerajaan bisa menentukan pilihan yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuan serta bakat peserta.


Pada saat ini, panitia telah mengumpulkan kesepuluh kelompok sebelum dimulainya pertandingan. Kebanyakan dari mereka berumur kurang dari tiga puluh tahun. Masih sangat muda. Seorang lelaki berumur empat puluhan tahun maju dengan tenang ke depan para peserta yang sedang duduk dengan kelompok mereka masing. Aura yang keluar dari tubuh lelaki itu tidak biasa. Bahkan beberapa orang peserta merasa tidak mampu bernafas begitu lelaki itu menatapnya. Lelaki itu berbicara dengan tenang namun penuh tekanan.


"Ehem... Perkenalkan nama saya Victor. Saya di sini hanya untuk menyampaikan sepatah kata dan penyambutan kalian karena telah berhasil hingga ke babak ini." Ucap Victor ramah. Suaranya terdengar empuk dan lembut serta cukup berwibawa. Disertai senyum di wajahnya, menambah kharisma laki-laki itu. Victor melanjutkan ucapannya.


"Selamat datang di babak Final Pertandingan Kultivator Dunia. Saya yakin bahwa kalian telah berusaha cukup keras hingga bisa sampai ke titik ini. Saya akui bahwa kalian adalah para jenius terkuat di benua seusia kalian. Kalian mewakili Benua, Kekaisaran, Kerajaan, serta keluarga kalian dan mereka berharap banyak untuk kalian.


Berjuanglah semampu yang kalian bisa dan tembuslah batasan kalian buktikan pada orang-orang bahwa kalian adalah orang-orang terpilih dan para jenius tak terkalahkan.


Ukirlah masa muda kalian dengan prestasi gemilang. Jika tidak, kalian hanya akan tenggelam dimakan zaman dan tidak ada satupun yang mengenal kalian. Ketahuilah, tanpa adanya kerja keras dan pengorbanan, kalian hanya akan menjadi sampah zaman yang tidak ingin dikenal oleh siapapun. Meskipun diantara kalian ada yang gagal, setidaknya buktikanlah bahwa kamu telah berjuang hingga darah penghabisan dan kamu patut diacungi jempol karena perjuanganmu yang luar biasa. Yakinlah bahwa kegagalan adalah langkah awal sebuah kesuksesan."


Prok...


prok...


prok...


Suara tepuk tangan cukup membahana memenuhi ruangan setelah lelaki tersebut berpidato. Meski singkat, laki-laki itu mampu membakar semangat para pemuda dan pemudi di depannya. Sepertinya laki-laki itu cukup berpengalaman akan hal itu.


Victor kembali ke tempatnya dan dia disambut dengan cukup ramah oleh orang-orang. Setelah duduk dengan tenang, dia berbicara ke orang di sebelahnya.


"Hahaha tahun ini cukup menarik. Diantara para peserta, ada beberapa orang yang tidak bisa aku lihat tingkat kultivasinya. Bukankah ini benar-benar sangat menarik?"


Orang di sebelahnya cukup kaget dengan ucapan Victor. Dia kemudian menatap tajam ke arah lima puluh peserta yang sedang berjalan ke ruangan mereka masing-masing. Orang itu kemudian menoleh kembali ke Victor yang tersenyum lebar.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Victor tersenyum lebar.


"Di antara mereka terdapat murid dari si tua penggila pedang itu. Namun anehnya di antara mereka terdapat aura pedang yang bahkan setara dan mungkin lebih hebat dari si tua itu. Apa itu mungkin?" Jawab orang itu dengan sebuah pertanyaan disertai raut wajah tidak percaya.


"Ahaha sudah kuduga kamu pasti merasakannya. Jika si tua itu ada di sini mungkin dia akan heboh." Balas Victor sambil memegang dagunya.


"Bukannya orang seperti itu harus tetap berada di benua ini?" Tanya orang itu.


"Ahaha kamu mau menyia-nyiakan bakat dari orang seperti dia? Sudahlah tidak usah egois. Masa depan anak-anak ini jauh lebih penting dari ambisi kita. Setidaknya mereka adalah para pewaris dan pelindung dunia ini setelah generasi kita. Biarkan mereka terbang sejauh mungkin untuk melihat dunia yang lebih luas supaya mereka faham bahwa tanggung jawab mereka kelak akan sangat besar." Ucap Victor bijak sambil mengelus dagunya.


"Ya ya ya seperti biasa kamu cukup cerewet." Balas orang itu.


"Namun kenapa orang tua penggila pedang dan orang tua gila satunya tidak datang? Tidak mungkin mereka berdua sudah terlalu pikun hingga tidak ingat dengan pertandingan beberapa hari ini." Tanya orang itu lagi.


Victor hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.


"Mungkin mereka sedang menggila di barat sana." Jawab Victor singkat.


......................


"Saudara Tang, bagaimana menurutmu tuan Victor tadi?" Tanya Arya begitu mereka telah sampai di ruangan mereka. Di situ hanya ada mereka berdua. Jessika dan Andri keluar entah kemana.


"Ya betul. Meskipun aku pernah mendengar namanya dari guruku, baru kali ini aku bertemu dengannya. Dia memang seluarbiasa ucapan orang-orang. Eh saudara Tang, kamu harus tahu bahwa, Ketua Victor itu sudah cukup tua. Dia setua dengan guruku. Namun ketua Victor tetap mempertahankan kemudaannya dengan alasan yang cukup aneh."


"Eh guru saudara Arya kenal dengan ketua Victor itu?" Tanya Tang Xiao penasaran.


Andri mengangguk.


"Sebenarnya ketua Paviliun Bintang ini ada empat orang. Ketua pertama adalah ketua Victor, seseorang dengan kekuatan yang misterius yang aku sendiri tidak tahu. Meskipun aku bertanya hingga bersujud-sujud kepada guruku, orang tua itu tidak mau memberitahu.


Ketua kedua adalah Ketua Han atau biasa dikenal dengan sebutan si Dewa Angin. Dia sama misteriusnya dengan ketua pertama, namun kekuatan utamanya adalah pengendalian angin.


Ketua ketiga adalah ketua Zumen, guruku. Dia disebut si Dewa Pedang atau si Penggila Pedang. Julukan itu bukan isapan jempol belaka. Bahkan dalam tidurnya, dia sedang berlatih pedang.


Dan ketua yang terakhir adalah Ketua Zeus atau biasa disebut si Dewa Petir. Guruku pun tidak memberi tahu dengan jelas kekuatan ketua keempat ini. Namun katanya, si Dewa petir ini adalah orang tercepat diantara mereka. Dari itu dia mendapat julukan lain yaitu si Flash."


Tang Xiao hanya diam saja mendengar penjelasan Arya yang panjang lebar.


"Apakah mereka dulu satu perguruan?" Tanya Tang Xiao kemudian.


"Ya mereka satu perguruan dan murid utama sekaligus pewaris dari sang pendiri Paviliun Bintang. Satu dari beberapa orang yang berada di ranah Demi God." Jawab Arya semangat.


"Lalu kenapa aku hanya melihat ketua Victor saja sejak tadi?" Tanya Tang Xiao lagi.


"Itu dikarenakan adalah ketua Victor dan Ketua Han mengurus Paviliun Bintang yang tampak dari luar. Sedangkan Ketua Zeus dan guruku mengurus Paviliun Bintang dari balik bayang-bayang. Dari itu hampir tidak ada orang yang tahu bahwa Paviliun memiliki empat ketua serta tidak ada yang tahu bahwa keempat-empatnya telah berada di ranah Demi God. Semua itu sangat rahasia agar para aliran hitam dapat terkecoh."


"Karena itu sangat rahasia, kenapa saudara Arya menceritakan hal itu kepadaku?" Tanya Tang Xiao


Arya tersenyum lebar.


"Aku tahu bahwa saudara Tang bukan orang biasa. Sebagai Kultivator pedang hampir setiap saat aku merasa tersayat karena aura pedang yang keluar dari saudara Tang meskipun menutupinya serapat mungkin.


Aku juga tahu bahwa saudara Tang secara diam-diam membantuku menembus batas ranah pedang yang telah tersendat selama dua tahun ini. Setiap kali saudara Tang berada di dekatku, aura pedang dalam diriku bergejolak karena sentuhan aura pedang saudara Tang.


Guruku pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Seandainya guruku tidak terlalu pelit, mungkin aku sudah menembus batas ranah pedangku ini sebelum aku ke sini." Jawab Arya tenang.


Tak lama mereka berbincang, Jessika dan Andri datang mengatakan bahwa waktu bagi kelompok mereka untuk bertanding. Ternyata Jessika dan Andri pergi menuju panitia untuk melakukan pendaftaran ulang. Meskipun awalnya panitia tidak mengizinkan mereka bertanding karena kekurangan anggota, namun ketika Victor datang dan tanpa sengaja dia melihat Andri, laki-laki itu langsung membolehkan kelompok Andri bertanding. Memang dari awal Victor sudah cukup tertarik dengan kelompok Andri.


Kelompok Tang Xiao kembali mengenakan topeng mereka lalu berjalan menuju arena. Kedatangan mereka cukup menarik perhatian para penonton. Bagaimana tidak, kelompok yang seluruh anggotanya mengenakan topeng dan rata-rata berada di ranah Grand Master kecuali satu orang, bisa memasuki babak final hanya dengan tiga orang saja yang bertanding.


Di seberang telah berdiri tegap kelompok Blue Poison yang terdiri dari dua wanita dan tiga pria. Mereka tampak tenang dan cukup waspada. Sepertinya mereka bisa memahami suasana sekitar.


Tang Xiao naik ke atas arena bersamaan dengan seorang pemuda dati kelompok musuh. Wasit yang dari tadi melayang, turun ke bawah memberikan instruksi kepada peserta.


Di layar yang cukup besar telah terpampang nama peserta dan kelompoknya.


...BABAK FINAL...


...BLUE POISON...


...LUE JIN...


...VS...


...YOUNG ASHURA...


...TANG XIAO...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Puasa telah memasuki hari keenam, sudahkah Al-Quran kita khatamkan? Jika belum ayo semangat khataman. Jika sudah ayo semangat mengulangi.


TETAP SEMANGAT MESKI TIDAK DISEMANGATIN AYANG😁😁