The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH 82. PERASAAN ARYA



UNIVERSE DIMANA TANG XIAO BERADA


Turnamen Antar Benua kembali dilanjutkan setelah istirahat sejenak. Saat ini Kelompok yang tersisa hanya lima dari sepuluh kelompok. Salah satunya adalah kelompok Ririn dan Silvie.


Kedua gadis itu kembali naik ke arena dan seperti biasa mereka menjadi pemandangan yang menyegarkan. Kepopuleran gadis ini cukup tinggi bagi sebagian penonton. Bahkan kedua gadis ini telah memiliki fans club yang terdiri dari orang-orang fanatik. Selain dari wajah mereka yang ayu, permainan pedang mereka juga cukup memukau. Serta kedua gadis ini sama-sama memiliki sifat periang dan ramah terhadap orang lain.


Silvie dan Ririn memiliki latar belakang yang berbeda dan juga perbedaan usia mereka cukup signifikan. Ririn yang saat ini berumur Dua puluh satu tahun tampil dengan sangat fresh, ibarat bunga yang mampu memikat kumbang apa saja. Sedangkan Silvie yang saat ini baru berumur lima belas tahun, ibarat kuncup mawar merah muda yang menyenangkan mata.


Sama seperti sebelumnya, Silvie dan Ririn selalu bertanding bersama dan kembali memukau para penonton di aula. Namun karena pertandingan sudah seperempat final dan tentunya banyak orang-orang kuat yang mulai menunjukkan kekuatan aslinya, Silvie dan Ririn memenangkan pertandingan mereka meskipun terluka cukup parah. Yah mereka memaksakan diri mengeluarkan kekuatan melebihi batas kemampuan mereka.


Silvie tidak terlalu khawatir akan luka-luka yang dialaminya karena memiliki kakek yang mampu mengobatinya meskipun terluka separah apapun. Tapi berbeda dengan Ririn, dia tidak memiliki seseorang yang bisa mengobatinya di saat terluka, menenangkan hatinya di saat seperti ini.


Kedua gadis itu pingsan di atas arena karena kehabisan kekuatan dan memenangkan pertandingan mereka dengan memukau. Namun bisa dipastikan kedua gadis itu tidak dapat mengikuti pertandingan Final jika tidak segera diobati.


Kakek Silvie segera terbang ke atas arena mendahului para anggota kelompok Silvie dan tim medis. Dia segera memeriksa cucu satu-satunya itu dengan wajah rumit. Namun dia bernafas lega begitu mengetahui dia masih mampu mengobati luka dalam cucunya itu. Dia melirik ke arah Ririn yang tergeletak tepat disamping cucunya. Beberapa tim medis yang datang dengan buru-buru segera memeriksa kondisi Ririn.


Para tim medis itu menggelengkan kepalanya tanda tidak mampu mengobati luka dalam Ririn dengan sempurna. Seorang wanita dari petugas medis itu segera mengalirkan energinya untuk meringankan luka Ririn. Beberapa saat kemudian perempuan itu selesai namun dia dipenuhi keringat yang membanjiri tubuhnya. Namun kondisi Ririn tidak lebih baik.


Kakek Silvie mencoba memeriksa kondisi Ririn sebentar. Namun orang tua itu mengernyitkan dahinya tanda dia merasa aneh dengan kondisi tubuh yang dialami sahabat cucunya itu. Dia tidak bisa membiarkan kondisi Ririn begitu saja.


Kakek Silvie yang bernama Kake Lao mengalirkan energinya ke dantian Ririn setelah terlebih dahulu mengobati luka cucunya. Setelah dirasa cukup, Kakek Lao menghentikan energinya. Dan terlihat kulit Ririn yang awalnya pucat itu, kini menjadi sedikit lebih cerah.


"Segera bawa anak ini ke ruangan yang dipenuhi dengam aroma herbal agar luka-luka di dalam tubuh anak ini tidak bertambah parah." Ucap Kakek Lao bangkit sambil menggendong Silvie.


"Untuk saat ini dia bisa bertahan karena energi yang memenuhi dantiannya. Lukanya cukup parah, beberapa organ dalamnya tidak berfungsi dengan normal bahkan ada robekan yang cukup besar di paru-parunya." Ucap Kakek Lao sambil berlalu meninggalkan para medis yang terkejut mendengar penuturan kakek Lao.


Wuushh..


Kakek Lao menghilang dari tempat itu menambah keterkejutan orang-orang di sekitar arena. Mereka tidak dapat merasakan kehadiran Kakek Lao sama sekali.


Rangga yang sejak awal kedatangannya selalu menonton turnamen antar benua dan selama ini selalu bersama Kakek Lao, tersenyum ketika kakek Lao pergi. Rangga juga tidak dapat menemukan lagi hawa keberadaan kakek Lao itu.


Sementara itu di kursi kehormatan Victor dan beberapa orang lainnya juga tidak menyangka dengan kejadian tersebut. Namun tentu saja yang paling terkejut adalah Victor dan Han. Kedua ketua Paviliun Bintang itu saling pandang.


"Bukannya aura ini cukup akrab?" Tanya Han kepada Victor yang dibalas dengan anggukan cepat.


"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan aura guru kita sendiri meskipun beberapa abad telah berlalu." Jawab Victor kemudian.


"Tidak salah lagi itu memang beliau." Ucap Han cepat. Dia dengan cepat mengubah penampilan tubuhnya menjadi muda, semuda Victor.


"Hemm.. Akhirnya kamu setuju denganku." Gumam Victor dari samping tanpa menoleh.


"Tidak mungkin aku menyaingi guru dalam penampilannya kan..." Balas Han membela diri.


"Ya ya ya kamu selalu begitu. Jika sudah begitu lebih baik kita kabarkan dengan dua orang tua lainnya untuk segera ke sini. Sepertinya pertemuan guru dan murid yang sudah tidak bertemu beberapa tahun ini akan cukup emosional" Ucap Victor menghilang dari tempatnya disusul Han.


Rangga melirik ke kursi kehormatan saat merasakan adanya pergerakan tidak biasa. Dia tersenyum lebar.


"Orang-orang itu akhirnya bergerak juga. Aku tidak tahu apa yang hendak mereka lakukan tapi setidaknya itu bukan hal buruk." Gumam Rangga yang masih berada di tempat duduknya di samping muridnya, Della.


Sementara itu kelompok Tang Xiao yang ikut menonton pertandingan Ririn dan Silvie kembali ke ruangan mereka. Yah saat ini mereka cukup beruntung.


Sebelumnya, sebelum pertandingan perempat final dimulai, telah diadakan undian untuk memperebutkan posisi peserta semi final yang mana kelompok yang tersisa hanyalah tiga kelompok saja. Dan kelima kelompok yang masih bertahan di perempat final dipersilahkan melakukan undian untuk mendapat posisi di semi final tanpa harus bertanding. Tentu saja yang melakukan undian dari Kelompok Young Ashura adalah Tang Xiao.


"Aku lapar, ayo cari makan." Ucap Arya sambil merebahkan badannya di kasur miliknya yang bersebrangan dengan kasur Tang Xiao. Sementara Jessika dan Andri duduk di kursi dekat dengan jendela kamar. Mereka semua telah melepas topeng.


"Aku juga sudah lapar. Tapi aku ingin melihat kondisi Ririn." Gumam Jessika sambil melihat keluar jendela. Dia tidak bisa tidak menyembunyikan kekhawatirannya terhadap Ririn, teman sesaatnya. Kemudian Jessika menoleh ke arah Tang Xiao yang sedang merebahkan badannya di atas kasur namun terlihat sedang serius.


"Adik ketiga..." Panggil Jessika.


"Yaa...?" Sahut Tang Xiao dan bangkit dari rebahannya dengan terlihat malas.


"Kakak tahu kamu paham maksud kakak kan. Tapi kakak mohon kamu untuk membantu penyembuhan Ririn." Ucap Jessika memandang Tang Xiao dengan memelas.


"Hah.. Baiklah baiklah tapi ada satu syaratnya." Balas Tang Xiao sambil mengacungkan jari telunjuknya.


Mendengar persetujuan Tang Xiao, Jessika terlihat bahagia dan berbinar-binar.


"Baik.. Katakan apa syaratnya?" Tanya Jessika cepat.


Jessika tersenyum lebar mendengar ucapan adik ketiganya itu. Meskipun masih misterius, setidaknya adik ketiganya itu orang yang mudah dimintai pertolongan. Dan tentu saja Jessika cukup mengenal sifat adik ketiganya itu yang kadang-kadang berubah.


Seperti saat ini, jika Tang Xiao telah berjanji akan menyembuhkan penyakit Ririn, maka janji itu pasti akan ditepatinya. Dan Jessika sangat tahu bahwa Tang Xiao orang yang dapat dipercaya.


"Karena semua sudah setuju, ayo kita segera keluar cari makan." Gumam Andri bangkit dari tempat duduknya yang segera disusul Arya, Jessika dan Tang Xiao. Sebelum keluar, Tang Xiao masih sempat mengganti pakaiannya.


Mereka berempat berjalan keluar Aula pertandingan dengan santai menuju retoran terdekat. Satu-satunya restoran yang ada di sekitar aula berlantaikan lima. Terlihat dari luar, restoran itu sudah sangat ramai pengunjung.


Setiap lantai memiliki kemewahan tersendiri dan pelayanan yang berbeda. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula status kebangsawanan yang dimiliki seseorang.


Tang Xiao dan yang lainnya memilih untuk makan dilantai pertama dan menghindar para bangsawan lainnya. Teruma Andri dan Jessika yang memiliki darah bangsawan murni di benua ini. Kedua sejoli itu sudah benar-benar tidak ingin berhubungan dengan garis keluarga mereka karena apa yang telah mereka lakukan.


"Saudara Arya bagaimana menurutmu nona Rina?" Ucap Tang Xiao memulai percakapan setelah mereka duduk di meja yang telah mereka pilih dan mulai menyantap hidangan yang sudah dihidangkan.


"Hufffgghhh....." Arya yang mulai menyuapkan makanan dalam mulutnya, kini memuntahkannya kembali mendengar pertanyaan Tang Xiao yang diucapkan dengan tanpa beban itu. Untung saja makanan yang dumuntahkan itu kembali masuk dalam piringnya. Tenggorokkannya seakan tersedat mendengar pertanyaan itu.


Jessika dan Andri yang mendengar itu menjadi terkejut juga. Mereka berdua menatap Tang Xiao dan Arya bergantian lalu saling menatap kemudian tersenyum.


"Dari semua bunga, aku tidak menyangka ternyata nona Rina yang menarik perhatian saudara Arya." Gumam Jessika santai sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Tapi sepertinya itu cukup sulit." Gumam Andri menimpali ucapan Jessika. Keempat orang itu terdiam memikirkan kebenaran ucapan Andri. Namun Arya yang mendengar celotehan ketiga saudaranya itu menjadi malu. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.


"Aku tahu bahwa saudara Arya diam-diam memperhatikan nona Rina ya kan.." Celoteh Tang Xiao kembali.


"Hemm.. Ternyata itu yang menyebabkan saudara Arya mengajak kita makan ke sini. Aku tadi sempat melihat nona Rina dan keluarganya berada di lantai lima." Gumam kembali Jessika.


"Yah aku akan mendukung pilihanmu saudara Arya." Ucap Andri sambil menepuk-nepuk pundak Arya.


"ini... Bukan seperti itu..." Ucap Arya mencoba membela diri.


"Aku memang benar-benar lapa..r." Ucapnya lagi sambil menguasasi dirinya.


"Iya iya... Kelaparan yang disengaja kan..." Potong Tang Xiao tanpa menghiraukan ekpreksi Arya.


"Ahahah saudara Arya. Tidak ada yang bisa disembunyikan dari adik ketigaku ini." Ucap Andri yang melihat wajah Arya yang sedikit memerah.


"Oh apa memang benar begitu? Aku tadi hanya menebak-nebak saja lo..." Ucap Tang Xiao ringan sambil mengangkat bahunya tanda tidak tahu.


Lagi, Arya dibuat jengah mendengar ucapan Tang Xiao yang suka blak-blakan itu. Dia tidak menyangka bahwa ternyata dia sedang dikerjain oleh pemuda tampan berambut biru ini. Namun jauh dalam hatinya entah kenapa dia menyukai gojlokan teman-temannya ini.


"Eh coba lihat saudara Arya, sebentar lagi nona Rina dan keluarganya akan turun." Ucap Tang Xiao sambil mengacungkan telunjuknya ke arah tangga yang segera diikuti oleh tatapan Arya, Jessika dan Andri.


Dan benar saja tak berselang lama, Rina dan kedua orang tuanya disertai beberapa pengawal, turun dari lantai atas. Kehadiran mereka benar-benar luar biasa hingga membuat seluruh orang yang ada di lantai satu terdiam tanpa kata. Semua pandangan yang ada di lantai satu tertuju pada Rina dan keluarganya.


Keluarga kerajaan itu turun dengan tenang tanpa mempedulikan tatapan dari orang-orang sekitar. Mereka bertindak dengan seharusnya sebagai seorang bagsawan Kerajaan; cuek, dingin dan stay cool.


Rina yang awalnya tidak peduli dengan semua orang, tiba-tiba berhenti sejenak diikuti oleh keluarganya. Sikap Rina yang tiba-tiba berhenti itu mampu membuat semua orang di lantai satu seolah ikut berhenti bernafas.


Dengan cepat Rina menoleh ke arah kelompok Tang Xiao yang juga sedang menatap mereka.


Degg... Deg... Deg...


Jantung Arya berdebar kencang saat mata Rina dan matanya bersitatap. Darahnya seakan berhenti mengalir dan seolah suasana sekitar berubah dan di belakangnya seolah ada bulan besar yang menyinarinya.


"Saudara Arya sadarkan dirimu, nona Rina sudah pergi sejak tadi." Ucap Tang Xiao sambil menepuk pundak Arya.


"Aa...aa..paa.." Arya tergagap dan tidak bisa bicara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Guys....🤗🤗


Kalian tahu gak bahwa berdagang adalah salah satu jalan rezeki yang paling ampuh. Tentu saja syarat dan ketentuan berlaku👌👌


Dan juga memperbagus tulisan adalah salah satu jalan rezeki juga.


Jadi author harap para readers bersedia memberikan masukan untuk meningkatkan kualitas tulisan saya ini. Jika tidak bisa, ya bisalah sapa author untuk sekedar memberi semangat.😉😉