The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 85. HEAVENLY DEMON



FLASH BACK


Di suatu tempat di ujung Benua Land Of Soul, sekelompok orang sedang berkumpul dan terlihat dengan wajah serius. Sekelompok orang itu sedang duduk di meja bundar dan membicarakan sesuatu.


"Bagaimana dengan persiapannya, apa sudah semua?" Tanya salah satu dari kelompok orang itu yang terlihat seperti pemimpin.


"Paripurna ketua. Hanya menunggu waktu perintah dari anda, maka pasukan siap bergerak." Ucap seorang dari mereka sambil menyerahkan kertas yang berisi jumlah pasukan secara rinci.


Orang yang dipanggil ketua itu tersenyum lebar. "Bagus, dengan adanya sepuluh orang ranah Demi God dan dua ranah Immortal, kita bisa menghancurkan aliansi mereka. Haha" Orang itu tertawa senang. Orang-orang disekelilingnya juga ikut senang.


"Lalu kapan kita akan menyerang ketua?"


"Sekarang... Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Ucap orang itu sambil melambaikan tangannya.


Wuushh...


Di atas kepala kelompok orang itu telah muncul sebuah portal yang cukup besar serta muncul juga portal-portal besar di luar ruangan itu. Portal yang muncul di luar ruangan itu dikhususkan untuk para pasukan yang tidak bisa terbang. Lebih dari lima ribu pasukan yang tidak bisa terbang memasuki portal-portal yang ada di depan mereka. Pasukan-pasukan itu terdiri dari lima kelompok dan setiap kelompok dipimpin oleh seorang kultivator di ranah Saint Expert. Sementara yang terlemah di seluruh pasukan itu berada di ranah Master. Benar-benar sebuah pasukan yang kuat yang siap meluluh lantakkan apa yang mereka lewati.


......................


Booommm..


Atap Aula Pertandingan hancur lebur begitu seorang di ranah Immortal mengeluarkan kekuatannya. Orang itu adalah wakil ketua pasukan yang menyerang.


Ratusan orang melayang-layang menatap orang-orang di bawahnya yang lari kocar kacir dan dipenuhi ketakutan. Orang-orang melayang itu tersenyum mengejek.


Sementara itu Tang Xiao yang sudah menyadari akan ada penyerangan yang akan datang sebelum pasukan itu tiba, masih terlihat santai sementara Andri dan yang lainnya sudah terlihat pucat.


Entah secara reflek atau apa, Andri telah diselimuti oleh api hitam yang membentuk armor yang sangat kuat dan dilapisi oleh cahaya keemasan. Sementara itu Jessika tidak mampu bernafas dan akhirnya terkapar di atas lantai dan tidak sadarkan diri. Begitu juga dengan Arya yang tidak mampu menahan tekanan yang dilepaskan oleh mereka yang melayang-layang. Tang Xia melambaikan tangannya ke arah Jessika dan Arya, seketika kedua orang itu hilang dari arena dan menyisakan Andri yang terkejut. Namun pemuda itu diam saja saat melihat wajah adik ketiganya itu masih santai dan tidak terlihat takut sedikitpun. Andri kembali teringat saat pertarungan adik ketiganya melawan enam Vajra Demon tanpa terluka sedikitpun bahkan mampu membunuh keenam Vajra Demon tersebut. Andri sendiri mampu bertahan di bawah tekanan karena api hitam dalam tubuhnya dan gulungan emas dari gurunya.


"Kakak pertama saatnya bagimu untuk menyelamatkan nona Rina. Lihat, dia tampak kesusahan. Bawa dia pergi ke arah selatan dan jangan berhenti berlari sebelum aku menjemput kalian. Ingat ke arah selatan kak, kalo bisa bawa yang lain juga." Ucap Tang Xiao tegas.


Wuushh..


Usai mengucapkan hal itu, Tang Xiao menghilang dari tempatnya tanpa menunggu jawaban kakak pertamanya itu. Sedangkan Andri yang mendengar itu segera tersadar dan berlari mendekati Rina yang telah terduduk berlutut.


"Mohon maaf nona Rina, sebaiknya kita segera pergi dari sini. Tempat ini bukan lagi panggung pertarungan yang cocok buat kita. Lihat ke atas, hanya orang yang di ranah Holy Ancestor ke atas yang bisa melawan mereka." Ucap Andri begitu pemuda itu sudah berdiri di depan Rina.


Rina menatap Andri dengan heran. Dia tidak menyangka bahwa pemuda di depannya itu mampu bertahan di bawah tekanan yang super berat ini. Padahal jika dilihat kultivasi pemuda ini masihlah di ranah Legend, sama dengan kultivasinya. Namun hal yang paling mengejutkan gadis itu adalah armor hitam yang dikenakan pemuda di depannya ini.


"Saya... tidak... mampu.. berdiri..." Jawab Rina tersenyum kecut. Dia malu mengatakan bahwa dia lemah namun dia tidak bisa mengatakan hal lainnya. Dia mencoba meilirk ke kursi orang tuanya berada, mereka tidak ada di sana dan terkejut saat orang tuanya dan puluhan orang sudah melayang-melayang menghadapi dan terlihat sedang berbicara dengan ratusan orang yang baru datang itu.


Andri terdiam sejenak berpikir mencari solusinya lalu pemuda itu mengulurkan tangannya ke depan Rina.


"Nona, pegang tangan saya. Saya akan membantu anda berdiri." Ucap Andri di tengah kepanikan orang-orang.


Meskipun sedikit malu, tanpa membantah dan berpikir lebih jauh, Rina memegang uluran tangan pemuda di depannya.


Wuushh...


Begitu tangan Rina menyentuh tangan Andri, Armor hitam yang menyelimuti tubuh Andri berpindah dengan cepat dan menyelimuti Rina. Armor itu juga membentuk sebuah Armor perang namun dengan bentuk yang feminim mengikuti lekuk tubuh Rina.


Gadis itu tercengang tak percaya. Selain tekanan yang sudah tidak dirasakannya, Armor di tubuhnya membuat dia lebih kuat dari sebelumnya. Gadis itu menatap Andri dengan penuh tanda tanya.


"Baik sekarang ikuti saya. Kita bantu mengevakuasi sebagian orang yang masih belum dievakuasi dan berlari sejauh mungkin ke arah selatan. Ingat harus ke aras selatan." Ucap Andri memberi instruksi kepada Rina. Gadis mengangguk dan segera bergerak mengikuti Andri yang sudah bergerak duluan. Mereka menyelamatkan ibu-ibu yang yang tak sadarkan diri dan berlari ke arah selatan. Berlawanan dengan pintu masuk yang berada di utara.


Boomm..


Andri menghancurkan dinding tebal yang menghalangi jalan mereka menggunakan api hitamnya. Rina yang melihat itu begitu tercengang. Bukan karena kekuatan Andri, melainkan api hitam yang dikeluarkan Andri.


"Inti Api Surgawi peringkat ke-delapan, Bagaimana mungkin orang ini bisa memilikinya. Mustahil...." Gumam Rina dalam hati tak percaya.


Rina mengekor di belakang Andri sambil sambil membawa ibu-ibu di pundaknya. Anehnya dia tidak merasa keberatan dengan beban di pundaknya. Memang sejak armor hitam menyelimutinya, dia merasa tidak memiliki masa sama sekali.


Sementara itu Andri yang bertanya-tanya dalam hatinya kenapa harus berlari ke arat selatan kini telah mendapat jawabannya. Di tiga pintu masuk yaitu arah utara barat dan timur telah di kepung musuh dengan jumlah lebih dari seribu orang. Orang-orang yang berlari lewat sana sama saja dengan menghadapi kematian. Andri sangat bersyukur dia mengikuti instruksi adik ketiganya itu. Andri sendiri memapah dua orang. Seorang laki-laki tua dan seorang lagi anak kecil. Mungkin mereka satu keluarga dengan wanita yang ada di gendongan Rina. Andri berlari cukup jauh sampai-sampai pemuda itu tidak sanggup lagi berlari. Begitu juga dengan Rina.


Sementara itu, Rangga, Kakek Lao, utusan Sekte Bintang Kejora, utusan Sekte Rembulan Emas, Raja dan Ratu Kerajaan Nusantara, Ketua Victor, Ketua Han, Ketua Zeus dan ketua Zumen serta puluhan orang di ranah Holy Ancestor terbang melayang berdiri di hadapan ratusan orang orang pasukan penyerang. Sebelum menghadapi ratusan orang dihadapan mereka, mereka telah menyegel tempat itu agar orang-orang dalam aula tidak lagi tertekan dan bisa berlari menyelamatkan diri atau membantu pasukan Paviliun Bintang melawan pasukan musuh yang berada di luar.


Yah, begitu musuh datang mellaui portal, sebuah formasi aktif dengan sendirinya. Formasi itu adalah sebuah formasi pelemah dan pembunuh. Firmasi yang cukup sehingga musuh yang berada di ranah Legend ke bawah akan mati tanpa bisa melawan.


Begitu juga dengan pasukan Paviliun Bintang yang telah berjaga sebelumnya di beberapa titik dengan pasukan yang cukup besar. Pada dasarnya penyerangan itu telah diketahui oleh pemimpin Pavilian Bintang beberapa hari penyerangan. Sehingga mereka sudah mulai waspada. Namun mereka tidak menyangka bahwa penyerangan itu akan dilakukan pada siang hari.


Pasukan musuh yang mati karena formasi pembunuha, ada sekitar seperempat dari jumlah keseluruhan. Yang tersisa mereka yang berada di ranah Legend ke atas dan itu cukup untuk membuat pasukan Paviliun Bintang terkejut. Tak menyangka bahwa pasukan musuh ternyata begitu banyak dan kuat.


Kini pasukan musuh dan pasukan Paviliun Bintang saling berhadap-hadapan. Para komandan mulai memberi instruksi menyerang.


"Serang......" Teriak pasuka komandan pasukan Paviliun bintang diikuti teriakan semangat prajurit lainnya.


"Serang....." Teriak komandan musuh tak mau kalah.


Kedua kubu akhirnya saling adu pedang. Meskipun pasukan paviliun Bintang lebih banyak, namun kekuatan mereka lebih lemah dari musuh. Namun tanpa disadari pasukan musuh dan pasukan Paviliun Bintang, ada beberapa orang yang masuk membantu pasukan Paviliun Bintang. Beberapa orang ini sebenarnya sangat mampu untuk meratakan seluruh pasukan musuh. Namun hal itu tidak terjadi karena mereka tidak ingin ikut campur terlalu jauh dalam kehidupan manusia.


Sementara itu di langit belum ada yang bergerak menyerang. Mereka masih memperhitungkan jumlah kekuatan musuh masing-masing.


"Hanya segini yang kalian miliki? Jika hanya segini aku, yakin hanya beberapa saat bertarung kalian telah mati semua." Ucap sombong orang yang dipanggil ketua oleh pasukan musuh.


"Kau.. Dasar tua bangka tak tahu diri. Lebih baik saat itu aku membunuhmu." Jawab Rangga yang mengenal ketua itu.


"Oh.. Anak muda..Hahaha... Aku tidak menyangka kita bertemu di sini. Lihatlah, karena kenaifanmu waktu itu, adalah kematianmu saat ini." Balas orang itu.


"Oh siapa namamu anak muda, aku lupa.. Hahah aku ingat sekarang. Rangga... Ya namamu Rangga benar." Ucap orang itu lagi sambil tertawa terbahak-bahak.


Rangga meludah. "Cihh.. Aku tidak tersanjung namaku diingat seseorang yang dulu berlutut padaku demi hidupnya." Balas Rangga jijik.


Orang itu mengepalkan tangannya geram. "Anak muda kemampuan bacotanmu cukup hebat. Namun aku yakin kekuatan telah stagna dan tidak lagi meningkat. Lihatlah ini."


Wusshh..


Wuushh...


Orang itu mengeluarkan kekuatannya menunjukannya pada musuhnya yang berada di ranah Immortal. Wakil ketua musuh juga menunjukan kekuatannya yang berada di ranah Immortal.


Rangga dan yang lainnya terbelalak cukup terkejut tidak menyangka bahwa musuh memiliki dua orang di ranah Immortal. Sesuatu yang cukup mustahil.


"Heh.. Meskipun begitu, setidaknya aku mampu membunuh salah satu dari kalian, Zanhong" Ucap Rangga yang juga menunjukan kultivasinya di ranah Immortal tahap menengah.


Kini yang terkejut bukan cuma musuh, tapi juga aliansi yang berdiri di belakangnya.


"Hoii tua bangka.." Ucap Kakek Lao yang sudah merubah penampilannya menjadi muda.


"Kamu mengingatku?" Ucap Kakek Lao kepada orang yang ada di samping Zanhong. Orang itu ada wakil ketua yang juga berada di ranah Immortal.


Orang itu memicingkan matanya sjurus kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha.... Kita bertemu lagi orang tua. Aku tidak kamu keluar dari persembunyianmu. Ah aku yakin kamu kuar bersama cucu kesayanganmu itu kan. Aku masih ingat betapa menyedihkannya ketika dua murid kesayanganmu mati di tanganku. Haha..."


Kakek Lao mengepalkan tangannya erat.


Wuushh...


Kakek Lao juga menunjukan kultivasinya yang di ranah Immortal tingkat menengah.


Sontak pasukan musuh dan yang lainnya juga terkejut tak menyangka. Kini di dunia ini sudah ada empat ranah Immortal.


Keempat ranah Immortal itu terbang ke langit yang lebih tinggi dan bertarung di sana.


Sementara Ketua Paviliun Bintang dan yang lainnya meneguk ledahnya melihat sepuluh Demi God di depan mereka. Sedangkan jumlah mereka yang di ranah Demi God hanya delapan orang. Sepertinya harus ada diantara melawan dua Demi God sekaligus dan itu bukan perkara mudah.


Belum lagi ratusan kultivator ranah Saint Expert dan Holy Ancestor yang berdiri di belakang sepuluh orang ranah Demi God. Sedangkan jumlah yang mereka miliki cuma puluhan. Memikirkan itu Ketua Victor memijat keningnya tidak menduga kekuatan musuh begitu besar.


"Tidak usah basa basi lagi ketua Victor. Lihatlah ketua kami dan wakil ketua kami telah kembali dari pertapaan tertutup mereka. Dan sudah waktunya hutang yang dulu dibayar pada saat ini."


Lalu kesepuluh orang itu maju melawan kelompok Victor. Pertarungan sengit dan mungkin berat sebelah mulai terjadi.


Sementara itu Tang Xiao memperhatikan dari jauh jalannya pertandingan. Sebelumnya Tang Xiao menyelamatkan orang-orang yang masih tersisa di aula yang saat ini telah hancur lebur akibat pertarungan ranah Demi God. Tang Xiao membawa orang-orang itu ke tempat Andri dan Rina berada. Tempat yang dirasa cukup aman. Setelah itu Tang Xiao menginstruksikan kepada warga setempat untuk mengungsi jauh dari lokasi kejadian. Dia faham bahwa pertarungab ranah Immortal mengakibatkan kerusakan yang parah dan lebih luas.


Dan benar saja, pertarungan Rangga dan Zanhong mulai bergerak ke tempat Tang Xiao saat ini. Perterugan dua orang ranah Immortal tidak memerlukan tanah sebagai tempat mereka berpijak. Mereka berdiri dan bertarungan di manapun berada tidak mengganggu atau mengurangi kekuatan mereka. Ranah Immortal benar-benar berbeda dengan yang lain.


Melihat pertarungan dua orang itu, Tang Xiao teringat kembali pertarungannya dengan Kaisar Surgawi, Paijo, di Planet Orion. Pertarungan itu adalah pertarungan terdahsyatnya setelah terlahir kembali. Dia Tang Xiao benar-benar menikmati pertarungan itu.


Terlebih ketika Kaisar Surgawi Paijo mengorbankan para bawahannya dan menjadikan dirinya seorang Heavenly Demon dengan kekuatan Maha Dewa puncak. Dalam pertarungan itu untuk pertama kalinya Tang Xiao sedikit merasa dadanya sakit akibat pukulan penuh kekuatan Heavenly Demon yang berjumlah sepuluh. Ya saat itu Heavenly Demon memanggil Heavenly Demon yang lain yang berjumlah sembilan menggunakan kekuatan hidupnya sendiri hanya demi mengalahkan Tang Xiao.


Pada saat itu keluar setetes darah dari ujung bibi Tang Xiao akibat terkena pukulan keras sepuluh Heavenly Demon. Tang Xiao semgaja menerima pukulan itu karena ingin mengetahui seberapa kuat dirinya saat itu. Dan Tang Xiao cukup puas saat menerima luka itu. Akibat pertarungan Tang Xiao dengan sepuluh Heavenly Demon menghancurkan beberapa bintang dan puluhan planet, meskipun planet Orion pada saat itu sudah hancur separuh.


Pada saat itu, setelah Tang Xiao cukup merasa bermain-main dengan sepuluh Heavenly Demon dan dia juga tidak ingin menghancurkan bintang-bintang lagi, Tang Xiao mengeluarkan pedangnya. Pedang yang mampu memotong segala-galanya. Entah itu ruang, waktu maupun dimensi ataupun cahaya, apapun yang disentuh pedang itu segalanya akan terpotong.


Dengan dua tebasan ringan, satu Heavenly Demon mati seketika tanpa menyadari kematiannya serta jiwa dan raganya terserap ataupun terhisap ke dalam pedang Tang Xiao. Begitu juga dengan yang lain meskipun mereka menyadari hal itu, sudah terlambat karena mereka sama sekali tidak bisa bergerak. Ataupun mereka mencoba merobek dimensi dan memasukinya, tetap saja mereka kembali ke dekat Tang Xiao seolah dimensi yang mereka robek terdistorsi semuanya dan mengarah ke dekat Tang Xiao.


Pada akhirnya Tang Xiao menyisakan satu Heavenly Demon yang telah kembali ke wujud Paijo serta Tang Xiao mencabut seluruh kedawaan Paijo termasuk segel Surgawi yang dimiliknya.


Setelah itu, Tang Xiao merobek dimensi di depannya dan muncul tepat di istana Surgawi Paijo. Kedatangan Tang Xiao dengan merobek dimensi membuat seluruh pasukan Surgawi menelan ludah. Terlebih begitu melihat Kaisar mereka telah tak berdaya di genggaman Tang Xiao.


Pasukan Surgawi yang murka melihat Kaisar mereka diperlakukan seperti budak hendak melawan namun hanya dengan sekali hentak, pasukan Surgawi itu berlutut tanpa mampu bergerak sama sekali.


Wuusshh..


Tang Xiao melempar Kaisar Paijo ke depan para pasukannya.


"Kaisar yang kalian kenal ini bukan lagi Kaisar kalian. Dia adalah perwujudan dari Heavenly Demon. Aku tidak tahu bagaimana Tahta Giok Surgawi bisa memilihnya sebagai Kaisar, namun dia sudah tidak ada kuasa serta Kedewaan. Terserah bagaimana kalian akan memilih Kaisar Surgawi selanjutnya aku tidak peduli ataupun biarkan Tahta Giok Surgawi sendiri yang menentukan pilihannya. Namun harus kalian ingat, melalui Jalur Surgawi Dimensi Duniawi yang berada di bawah Tahta Giok Surgawi ini, suatu saat akan lahir seorang Kaisar Surgawi terhebat diantara Kaisar Surgawi dari dimensi manapaun dan orang itu yang akan membawa Jalur Dimensi Surgawi ini ke puncak kekuatan dan yang terkuat dari pada Jalur Dimensi Surgawi dari dimensi lain jika kekuatan yang kalian inginkan." Ucap Tang Xiao panjang lebar dan merubah tampilannya. Cahaya Agung muncul dari punggung Tang Xiao menyinari segala sesuatu di bawahnya. Cahaya selalu berganti-ganti warna.


Tang Xiao mengedarkan pandangannya pada para prajurit Surgawi yang berlutut dan menundukkan pandangannya, mendapatkan seorang gadis jelita sedang menangis. Tang Xiao berpikir sesaat setelah melihat gadis itu.


"Dewi Permata Emas, majulah tidak perlu menangisi Paijo ini." Ucap Tang Xiao sambil menunjuk ke arah wanita yang dimaksud.


Gadis yang dimaksud maju dan berlutut di depan Tang Xiao sambil menghapus air matanya.


"Dewi Permata Emas, aku memerintahkanmu untuk lahir kembali dan akan menemani Yang Terpilih menjadi Kaisar Surgawi ini serta bersama-sama ke puncak kejayaannya. Dewi Permata Emas, apa kamu setuju?" Tanya Tang Xiao tegas. Dia seperti sedang mengambil sumpah dari seseorang.


Gadis yang dimaksud terdiam sejenak lalu mengangkat kepalanya kemudian mengangguk yakin.


Tang Xiao tersenyum lebar.


"Baiklah dengan ini, aku, Sang Penjaga Pemusnah memberi perintah." Ucap Tang Xiao sambil mengarahkan telunjuknya ke dahi Dewi Permata Emas.


Usai mengucapkan kata-kata itu, dari tubuh Tang Xiao keluar sebuah buka emas yang semakin lama semakin besar hingga sangat besar mampu menutupi Semesta Delapan hingga menutupi seluruh Dimensi Immortal.


Setelah Tang Xiao menyentuh dahi Dewi Permata Emas, tubub dewi itu berubah menjadi butiran-butiran cahaya lalu melesat masuk ke kitab maha luas yang telah terbentang. Saat kitab itu terbentang para pasukan Surgawi telah tidak sadarkan diri.


Setelah butiran-butiran dari Dewi Permata Emas masuk, kitab itu mengecil dengan cepat dan kembali masuk ke tubuh Tang Xiao.


Setelah kitab itu hilang, muncul sebutir cahaya dari arah Istana Surgawi dan cahaya hijau itu berubah menjadi anak kecil. Anak kecil itu dengan penuh hormat sujud tepat di kaki Tang Xiao.


"Hamba, Tahta Giok Surgawi menghadap Tuan Penguasa." Ucap gadis kecil itu dengan suaranya yang imut.


"Heemm.... Baru keluar...?!" Tanya Tang Xiao. Yang ditanya langsung berkeringat dingin.


"Mohon maaf keterlambatan hamba yang hina ini dan mohin belas kasih tuan Penguasa." Ucap anak itu ketakutan.


"Hah sudahlah.. Hanya saja, kenapa kamu membiarkan orang seperti dia menjadi Kaisar dan memegang kunci Kekaisaran?" Tanya Tang Xiao tenang. Gadis itu kembali berkeringat dingin. Bahkan dia terlihat gugup.


"Ma..maafkan hamba yang mulia. Ha..Hamba melakukan itu karena sudah sangat lama tahta ini tidak ada Kaisarnya. Kebetulan saat itu dari Jalur Surgawi Dimensi Duniawi, pria ini adalah yang terkuat dan terhebat serta yang paling menjanjikan. Meskipun hamba sadar, dia adalah perwujudan Heavenly Demon. Sebenarnya hamba sudah menekan perwujudan Heavenly Demon orang ini, namun hamba tidak menyangka akan bangkit secepat ini." Jawab gadis kecil itu takut-takut. Namun tidak ada satupun kebohongan di ucapannya karena percuma saja mengatakan kebohongan itu.


Tang Xiao menghela nafas pelan. Dia mengeluarkan sesuatu yang bercahaya dan melayang-layang di depannya.


"Baiklah... Segel Surgawi dan Segel Penciptaan kukembalikan lagi. Namun ingat aku tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali. Paham!!" Ucap Tang Xiao menekan suaranya.


"Hamba yang hina ini memahami ucapan tuan dan terima kasih tuan bersedia memberi dua Segel itu. Hamba yang hina ini berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Jawab gadis kecil tanpa melepas sujudnya dari kaki Tang Xiao.


Tang Xiao tersenyum lebar. Lalu Tang Xiao mengarahkan telunjuknya ke kepala gadis kecil itu, muncullah cahaya emas dan masuk ke tubuh gadis kecil itu. Gadis kecil itu tersentak kaget namun tetap tidak melepas sujudnya. Gadis kecil itu menahan rasa sakit akibat masuknya cahaya emas itu dengan memejamkan matanya.


"Baiklah urusanku di sini telah selesai, aku harus pergi dulu." Ucap Tang Xiao hendak beranjak namun gadis kecil menahan kakinya.


"Wahai tuang Penguasa terima kasih sebesar-sebesarnya atas anugerah tuan ini. Saya sudah menantikan hal ini sepanjang hidup saya namun baru kali ini hamba mendapatkannya. Mohon maaf hamba tidak menjamu tuanku. Dan Hamba yakin tuanku tidak tertarik dengan hal itu. Dan terima kasih kunjungan tuanku ke surga kecil ini. Sekali lagi hamba meminta maaf dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, tuanku." Ucap gadis kecil itu sambil bersujud tiga kali.


Tang Xiao tersenyum lebar, tanpa menjawab gadis itu, Tang Xiao beanjak dan menghilang dalam sekejap.


Gadis kecil itu baru mengangkat kepalanya begitu Tang Xiao dan sinar agungnya hilang tanpa sisa. Gadis kecil itu benafas lega dan terlihat sumringah. Dia tersenyum lebar sambil memegang dua segel pemberian Tang Xiao lalu melihat sekeliling.


"Hanya dengan cahaya yang keluar dari tubuh tuanku, bisa menghidupkan kembali seluruh tanaman yang telah mati di surga ini. Mengalirkan sungai yang kering serta menciptakan kedamaian dan ketenangan yang tiada duanya ini." Gumam gadis kecil itu sambil membentangkan tangannya dan menghirup udara sekitarnya.


Ctak..


Gadis kecil itu menjentikkan jarinya. Pasukannya yang tidak sadarkan diri dan Kaisar Surgawi sebelumnya, Paijo, hilang dari tempat.


......................


Tang Xiao terbuyar lamunannya saat Rangga dan Zanhong sudah berada di dekatnya.


Wuushh.. Tang Xiao terbang ke tempat yang lebih tinggi lagi sambil terus memperhatikan dua orang itu bertarung. Tang Xiao dapat melihat bahwa Rangga lebih unggul.


Tang Xiao kembali tersenyum tipis saat merasakan kehadiran sembilan orang dari arah selatan. Kehadiran yang jauh lebih kuat dari ranah Immortal. Tang Xiao mengenal mereka dengan baik.


"Yah jika mereka telah datang kurasa ini akan segera beralhir" Gumam Tang Xiao menghilang dari tempat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Guyss..


Sampe sini dulu ya mau istirahat.


NOTE : DON'T BE BUSY JUST BE PRODUCTIVE.