
Barangkali hal terindah dalam hidup ini adalah mampu bersama dengan orang dicintai walau hanya sesaat. Setiap detik, menit dan waktu yang berputar akan terasa sangat berharga dan penuh makna bahkan boleh jadi adalah satu hal yang tidak akan pernah terlupa.
Mungkin begitu yang saat ini dirasakan oleh puteri dari Kerajaan Nusantara itu. Setiap apa yang diucapakan Tang Xiao, apapun yang dilakukan Tang Xiao, semua terasa melekat dalam benaknya seperti langit yang merekam setiap kejadian apapun di bawah naungannya.
Puteri Rina memandang Tang Xiao dengan pandangan yang belum pernah ditunjukannya kepada siapapun sebelumnya. Gadis itu merasa seolah dunia berhenti berputar, udara sekitar berhenti berhembus, dan seluruh dunia menjadi kosong dalam pandangannya hanya ada Tang Xiao yang berbicara dalam dengan gaya slow motion.
Tang Xiao yang tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Rina terlihat biasa saja menjelaskan bagaimana menggunakan seruling putih di tangannya. Namun tiba-tiba saja dia berhenti menjelaskan karena merasakan beberapa aura yang sangat kuat sedang mendekat. Tang Xiao mendongak ke atas mencari tahu siapa yang datang, apakah lawan atau kawan, Tang Xiao mempersiapkan diri sejak dini.
Puteri Rina yang merasakan ada yang aneh dengan Tang Xiao, ikut mendongak ke atas namun tidak menemukan apa-apa. Pandangannya kembali ke arah Tang Xiao yang terlihat serius memandang ke atas seolah sedang memperhatikan sesuatu. Puteri Rina kembali mendongak ke atas namun dia tidak melihat sesuatu yang menarik yang membuat Tang Xiao menejadi serius.
"Ada apa tuan Tang?" Tegur Rina pelan. Gadis itu tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
"Aku merasakan beberapa kultivator kuat yang terbang melewati kita namun aku tidak dapat melihat mereka apakah sudah lewat atau masih di sini." Jawab Tang Xiao tenang sedikit berbohong.
Gadis itu terdiam sesaat. Dia tidak merasakan adanya aura kuat seperti yang dirasakan Tang Xiao. Gadis itu kembali memandang Tang Xiao dengan pandangan aneh tidak seperti sebelumnya.
"Sebaiknya kita kembali ke arena, di sana lebih aman dan lebih baik. Ada banyak kultivator hebat yang bersembunyi di sana. Jika terjadi sesuatu, ada yang akan melindungi kita." Ucap Tang Xiao bangkit tanpa menunggu persetujuan Rina. Saat ini yang ada di pikirannya adalah ketiga saudaranya yang ditinggalkannya sebentar.
Rina yang tampak bingung dengan perubahan sikap Tang Xiao yang tiba-tiba, ikut berdiri dan berjalan di belakang pemuda itu. Ada rasa penasaran yang memenuhi benak gadis itu namun dia tidak berani menanyakannya, takut menyinggung Tang Xiao.
Tang Xiao yang mengerti apa yang dirasakan Puteri Rina melambatkan laju jalannya dan berjalan di samping Rina.
"Puteri Rina maaf jika aku tidak mengatakan apa yang terjadi. Namun percayalah tidak ada yang bisa menyakitimu selama aku di sini." Ucap Tang Xiao menenangkan Puteri Rina. Pemuda itu merasa bertanggung jawab karena telah membawa Puteri Rina ke sini. Jadi dia juga harus menjamin keselamatan gadis itu.
Puteri Rina memegangi pipinya yang terasa panas saat mendengar ucapan Tang Xiao. Kina dia merasa lebih nyaman dari sebelumnya ketika perubahan sikap Tang Xiao yang tiba-tiba berubah.
"Apakah ada sesuatu yang darurat, tuan Tang?" Tanya Rina pelan.
"Tidak juga. Semua itu hanya firasatku saja, namun aku percaya dengan firasatku karena banyak hal terjadi sesuai firasatku." Jawab Tang Xiao tenang menenangkan Rina.
Puteri Rina mengangguk pelan tidak terlalu memikirkan hal itu karena dia merasa yakin apapun yang terjadi, selama ada Tang Xiao akan diahadapinya bersama.
Tak lama kemudian Tang Xiao menemukan kelompoknya yang sedang duduk santai sambil meonton pertandingan di atas arena. Tang Xiao memperkanalkan puteri Rina kepada saudaranya dan memperkenalkan saudaranya termasuk Arya kepada Rina.
Andri, Arya, dan Denas tampak senang dengan Puteri Rina yang sopan dan lembut itu. Hanya Jessika yang geleng-geleng kepala memikirkan apa yang diperkenalkan adik ketiganya itu. Kali ini Jessika benar-benar berpikir bahwa adik ketiganya benar-benar bodoh tidak mengerti apa yang telah terjadi.
"Senang berkenalan dengan anda semua." Ucap Ririn sopan.
"Maaf saya harus kembali, sepertinya giliran kelompok saya untuk bertanding. Sampai bertemu di arena." Ucap Rina sambil melihat layar papan yang menunjukan kelompok selanjutnya yang akan bertanding salah satunya adalah kelompok Rina.
Tang Xiao memandang punggung Rina yang telah melangkah jauh. Tang Xiao merasa bersalah saat tadi mengacuhkan gadis itu di taman. Saat itu yang benar-benar ada di pikirannya hanyalah ketiga saudaranya yang tidak tahu apa-apa.
Tang Xiao memandang ke langit. Di sana dia tidak menemukan siapa-siapa namun auranya masih dapat dirasakan Tang Xiao.
"Hemm.. Setidaknya mereka tidak membuat pergerakan yang membahayakan. Tapi apa yang membuat mereka tertarik dengan dunia kecil ini?" Gumam Tang Xiao tak mengerti. Meski begitu dia tahu bahwa makhluk Immortal yang memandang dari dekat itu tidak bermaksud buruk. Mereka lebih merasa tertarik dengan dunia ini.
Tang Xiao kembali melihat sekitar dan terkejut saat mendapati adik keempatnya sedang memandangnya tajam. Pandangan adik keempatnya itu dirasakannya begitu menusuk dan sangat tajam hingga menembus jantungnta dan membuat Tang Xiao bergidik.
"Adik keempat benar-benar memiliki Divine Emperor Body." Ucap Tang Xiao dalam hati tak berani menatap mata adik keempatnya.
Tang Xiao yang tidak tahu apa yang sedang dipikirkan adik keempatnya mengenainya, melihat ke arena dua yang mana Rina dan yang lainnya sudah mulai beradu serangan.
Tang Xiao kini mengetahui bahwa senjata yang digunakan Rina adalah selendang panjang berwarna merah dengan motif bunga kamboja. Gadis itu tampak lihai memainkan selendanganya dengan begitu elegan.
Banyak diantara penonton yang tidak mengetahui identitas gadis itu termasuk lawannya dan itu merupakan kesempatan terbaik bagi Rina untuk menunjukan kemapuannya di depan Tang Xiao. Gadis itu melawan seorang lelaki tinggi besar yang bersenjata cakar lima. Kultivasi laki-laki itu berada di ranah Ancestor bintang tiga sedangkan Rina berada di ranah Saint bintang tiga. Perbedaan yang cukup jauh.
Laki-laki botak itu tampak mulai memojokkan Rina. Gadis itu masih bertahan dari serangan beruntun pria botak di depannya. Teman-temannya yang lain tampak seimbang dengan lawan mereka masing yang memiliki kultivasi yang sama. Para penonton arena dua yang mengetahui identitas Rina mulai bersorak menyemangati Puteri itu agar mendapat perhatian darinya. Mereka juga memasang taruhan untuk kemenangan gadis itu.
"Gadis kecil, kamu memang sangat jenius di usiamu yang masih muda ini. Kamu bahkan masih bisa bertahan menyambut serangan beruntunku tanpa terluka. Sepertinya kamu bukan orang sembarangan. Sayangnya di atas arena itu yang berbicara adalah kekuatan bukan kejeniusan" Ucap laki-laki botak di tengah-tengah pertarungannya melawan Rina.
"Paman tidak perlu memuji saya. Mari kita buktikan bahwa kerja keras dan bakat adalah dua hal yang sangat penting untuk seseorang menaiki puncak kekuatan. Di sini izinkan saya menunjukan kepada paman apa itu kekuatan sesungguhnya." Balas Rina menganyunkan selendangnya dengan cepat.
Selendang Rina yang tampak lentur dan lemah itu menghantam dada pria botak di depannya dengan keras hingga membuat pria itu terjengkang ke belakang sejauh dua meter.
Pria botak itu dengan cepat bangkit memegangi dadanya yang terasa seperti di hantam palu godam seberat seratus kilo. Dia menatap Rina tak percaya namun kemudian seulas senyum mengembang di bibir pria bota itu.
"Gadis kecil, aku tidak menyangka kamu bisa menyerangku tanpa bisa kumenghindar. Ini semakin menarik. Aku tidak perlu menahan kekuatanku karena dianggap membully gadis kecil sepertimu." Ucap pria botak itu.
Wuushh..
Pria botak itu melaju menganyukan cakarnya ke arah wajah Rina. Gadis itu terkejut dengan kecepatan pria botak itu yang jauh lebih cepat dari sebelumnya. Gadis itu berhasil menghindari cakar pria itu yang hampir saja menganai wajahnya, namun akibatnya cadar putihnya terlepas dan tersangkut di cakar pria botak itu.
Tampaklah wajah putih bersih dan jelita membuat para penonton terkesiap menahan nafas termasuk pria botak itu. Pria botak itu dengan cepat mengambil cadar putih Rina di cakarnya dan membauinya seperti kucing yang membaui ikan. Pria botak itu menutup matanya sambil membayangkan wajah Rina yang cantik jelita sedang melayaninya. Pria botak itu menjadi gila sambil memandang Rina dengan air liur tak tertahankan menetes keluar.
Rina yang melihat sikap menjijikan pria botak di hadapannya merasa sangat marah. Selama ini, belum pernah dia diperlakukan seperti itu oleh siapapu Rina seolah merasa harga dirinya sedang diinjak-injak oleh pria kurang ajar di depannya.
Selendangnya yang lentur itu tiba-tiba mengelilinginya membentuk sepeti mahkota merah. Kedua ujung selendang itu dengan cepat berubah menjadi hitam dan menargetkan pria botak di depannya.
Pria botak yang merasakan ***** membunuh dari Rina, dengan capat menangkis serangan selendang berwarna hitam dengan kedua cakar baja hitam yang disilangkan ke depan dadanya.
Wushh...
Pria botak itu mundur beberapa meter kebelakang. Tangannya bergetar hebat setelah menahan serangan Rina dengan kedua cakarnya. Dia terkejut melihat salah satu ruas cakar bajanya membengkok ke belakang.
"Gila... Terbuat dari apa selendang itu." Gumam pria botak itu.
Selendang Rina kembali berayun menyerang pria botak. Namun kali ini pria botak itu telah siap dengan serangan Rina yang kedua.
Pria botak itu melentingkan tubuhnya ke udara dan berputar dengan cepat menghunuskan kedua cakarnya ke arah leher Rina.
Dengan sigap Rina menghindar cakar baja hitam itu namun dia tidak menyangka bahwa ternyata cakar miliki pria botak itu bisa lepas dari tangannya dan berputar mengiincar lehet Rina.
Rina berputar-putar di arena menghindari serangan cakar hitam yang menyasar lehernya. Dia menggunakan selendangnya menangkis serangan cakar yang seolah dapat mengetahui titik butanya.
Creesss....
Salah satu cakar pria botak itu berhasil mengenai punggung Rina dan membuat luka sedalam satu senti. Rina melompat mundur sambil menarik selendangnya dan menghantam kedua cakar pria botak hingga kembali ke tangannya.
Rina memeriksa punggungnya, darah segar mengalir cukup banyak. Rina mengalirkan energi qinya menghentikan darah yang masih mengalir. Dia sedikit meringis menahan rasa perih.
Secara perlahan, Rina mengatur nafasnya mencoba tetap tenang. Dia mulai mengatur strategi melawan orang yang lebih kuat darinya. Rina tersenyum lebar saat mendengar suara Tang Xiao di kepalanya menanyakan apakah dia baik-baik saja. Hatinya begitu gembira hingga membuat dia lupa rasa perih di punggungnya. Dia mengangguk palan
Wusshh...
Pria botak itu melesat dengan cepat mengacungkan cakar besinya ke arah leher Rina. Tampaknya pria botak itu dengan sengaja hendak membuat luka parah Rina.
Kali ini Rina yang telah mendapat semangat dari Tang Xiao telah siap menghadapi serangan apapun. Dia memblokir serangan pria botak itu dengan ujung selendanganya sedangkan yang ujung satunya lagi dengan cepat melilit kaki kanan pria botak itu kemudian menghantamkannya ke lantai.
Bamm..
Suara bedebam terdengar cukup keras.
Bamm...
Sekali lagi terdengar suara bedebam tubuh menghantam lantai dengan keras. Lantai area yang terbuat dari beton tampak sedikit hancur berantakan.
Pria botak berdiri sempoyongan. Mulutnya mengeluarkan darah cukup banyak. Tampak sekali beberapa tulang rusuk dan tulang punggungnya patah.
Rina kembali melilit leher pria botak dengan selendangnya dan sekali lagi menghantamkan tubuh pria itu ke lantai.
Bamm..
Krakk..
Kali ini terdengar suara patah tulang yang memilukan telinga. Rina kembali mengibaskan selendangnya melilit leher pria botak menariknya berdiri.
Crashh..
Crashh..
Dengan cepat dan tepat, Rina memotong kedua tangan pria botak itu hingga sampai ke lengannya. Darah bercucuran mengalir deras. Pria itu menjerit kesakitan melihat kedua tangannya telah buntung. Pria itu tampak sangat pucat dan ketakutan.
Wuushh..
Tang....
Wuushh..
Begitu selendang Rina hampir menyentuh leher pria botak, wasit tiba-tiba telah berdiri di depan pria itu dan menahan selendang Rina hanya dengan tangan kosong. Rina termundur ke belakang karena benturan selendangnya dan tangan pria botak.
"Sudah cukup tuan puteri, kelompok anda adalah pemenangnya." Ucap sang wasit sambil menyalurkan energinya ke pria botak yang sudah terduduk lemas tak berdaya. Di lantai, kedua lengan pria botak itu telah putih pucat kehabisan darah. Sementara itu selendang Rina juga dipenuhi dengan darah pria botak itu.
"Maafkan saya paman, terima kasih telah menahan saya untuk tidak membunuhnya." Ucap Rina sopan yang telah menyadari kesalahannya. Dia menunduk kepada wasit sebagai permohonan maafnya.
Sang wasit tersenyum lebar lalu mengangguk pelan. Dia mengetahui apa yang telah terjadi. Jika tidak diprovokasi oleh pria botak itu, tentu saja puteri dari Kerajaan Nusantara itu tidak akan berbuat sedemikian hingga hampir saja membunuh lawannya. Sang wasit juga cukup kagum dengan sikap dan sopan santun yang dimilikinya dari itu wasit tidak mempermasalahkan kejadian itu lagi.
Para penonton bersorak kagum atas kemenangan kelompok Rina. Bagaiaman tidak, kelompok Rina yang terdiri dari wanita semua mampu menang dengan indah. Anggota kelompok Rina juga mampu mengalahkan lawan mereka satu lawan satu dengan sengit walaupun tidak seperti Rina.
Kelompok Rina segera naik ke atas arena dan mengerumuni gadis itu. Selain kagum dengan kemampuan Rina yang mampu mengalahkan lawan jauh lebih kuat darinya, mereka juga kagum dengan kecantikan Rina. Mereka membawa Rina turun dan membantu mengobati luka cakar di punggung Rina. Dia melihat sekeliling mencari keberadaan Tang Xiao namun tidak menemukannya meskipun telah menggunakan energinya.
"Tuan puteri."
Rina menoleh ke belakang dan kaget lalu tersenyum saat melihat Tang Xiao dan kelompoknya telah berdiri di belakangnya. Dia kaget karena tidak merasakan kedatangan mereka sama sekali.
Tang Xia berjalan mendekati Rina sambil memberikan sebotol giok berisi obat-obatan.
"Di dalam botol itu ada salep penyembuh luka serta pil pemulih energi. Tenang saja tidak ada efek sampingnya sama sekali." Ucap Tang Xiao tenang. Dari balik topeng telah memancar tatapan ketenangan yang mampu melelehkan gadis-gadis yang menatapnya termasuk teman-teman sekelompok Rina.
"Terima kasih tuan Tang. Saya percaya dengan ucapanmu." Ucap Rina tersenyum manis. Setelah mengucapkan demikian, Rina pergi dari situ sebelum teman-teman kelompoknya mendekati Tang Xiao.
......................
Sementara itu dimensi Immortal Realm telah mulai dibuka. Beberapa makhluk Immortal keluar masuk dimensi yang menghubungkan Immmortal Realm dan Mortal Realm. Makhluk Immortal yang menjaga gerbang dimensi penghubung rata berasal dari ras Dewa Manusia. Hanya mereka yang mendapat izin saja yang bisa keluar masuk dimensi Mortal Realm dan Immortal Realm.
Tiga makhluk Immortal sedang mengamati dari jarak cukup jauh sebuah dunia yang berada di dimensi Mortal Realm. Dunia yang menarik perhatian mereka baru-baru ini karena munculnya makhluk Immortal ranah Supreme God ke atas. Tiga makhluk Immortal ini bertanggung jawab dengan kehadiran beberapa makhluk Immortal di Mortal Realm agar tidak mengganggu keseimbangan bagi dunia lain yang dekat dengan dunia ini.
Tiga makhluk Immortal sedang mengamati sebuah kompetisi yang sedang berlangsung di dunia itu. Kompetisi yang meburut mereka cukup menghibur untuk makhluk mortal.
"Apa menariknya dunia ini hingga membuat anda datang sendiri untuk melihatnya?" Salah seorang dari Makhluk Immortal itu memulai percakapan.
"Tidak ada yang menarik. Hanya saja aku merasa familiar dengan dunia ini." Ucap orang diajak bicara.
"Saya rasa di mata anda semua dunia di Mortal Realm terasa fimiliar." Balas yang lain sambil terkekeh.
"Kali ini benar-benar terasa familiar dan aura yang keluar dari dunia ini terasa sangat pekat. Seolah energi di dunia ini melimpah ruah seperti dunia-dunia yang ada di Immortal Realm." Balas pria kedua mengamati dunia di depannya dengan lebih seksama.
"Ah kini aku ingat dunia ini." Ucap pria kedua sesaat setelah mengingat-ingat aura familiar dari dunia ini.
Kedua makhluk Immortal lainnya merasa tertarik dengan ucapan pria kedua itu.
"Apa yang anda ingat dengan dunia ini?" Tanya pria kedua tudak sabaran.
"Sudah berapa lama kalian menjabat sebagai pengurus jalur transportasi ke dimensi Mortal Realm?" Tanya pria kedua kepada dua rekannya.
"Saya sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu." Jawab pria ketiga sambil mengingat-ingat.
"Kalo saya sekitar lima belas ribu tahun yang lalu." Jawab pria pertama dengan mimik kurang yakin.
"Karena kalian masih baru berarti belum pernah mendengar sebuah dunia yang ditendang keluar dari Immortal Realm karena membahayakan seluruh kehidupan di Immortal Realm." Ucap pria kedua penuh miateri yang membuat kedua kawannya tidak sabar mendengar ceritanya.
"Kejadian itu terjadi ratusan ribu tahun silam. Saat itu beberapa cahaya berwarna emas yang entah datang dari mana melewati dimensi Immortal Realm dan Mortal Realm. Entah bagaimana cahaya emas itu dapat melewati setiap dimensi tanpa dibuka dan tanpa merusak dimensi yang telah dilewatinya. Beberapa cahaya emas itu berhenti di beberapa dunia dalam dimensi Immortal Realm dan beberapa lagi berhenti dalam dimensi Mortal Realm.
Setelah beberapa waktu, beberapa orang Makhluk Immortal dari salah satu dunia yang mana cahaya emas itu berhenti, melaporkan bahwa cahaya emas itu membahayakan kehidupan dunia itu. Untuk mengetahui kebenaran lebih lanjut, salah seorang tetua penjaga Immortal Realm yang berada di ranah Almighty God datang ke dunia itu. Dan benar saja ucapan beberapa Makhluk Immortal dari dunia itu. Tetua yang berada di ranah Almighty God hanya dua hari saja di sana, tiba-tiba kembali dengan membawa luka parah setelah berhadapan dengan cahaya emas itu.
Akhirnya pada saat itu para tetua yang berada di ranah Almighty God membuat keputusan melepaskan dunia yang kacau itu ke dimensi Mortal Realm agar kehidupan makhluk Immortal di dimensi Immortal Realm tidak menjadi sebuah petaka. Sedangkan dunia lain yang menjadi tempat cahaya emas itu berhenti, dikeluarkan juga dari Immortal Realm sebelum keseimbangan Immortal Realm.
Dari itu dunia ini terasa familiar karena pernah menjadi salah satu dunia yang berada di Immortal Realm. Tampaknya cahaya emas yang menduduki dunia ini telah tiada sebab itu kutukan yang tertanam dalam dunia ini terlepas dan dunia ini kembali ke kondisi awalnya ratusan ribu tahun lalu." Ucap pria kedua yang tampaknya ingat betul dengan kejadian yang diceritakannya.
"Benar-benar hebat bisa membuat luka parah makhluk Immortal yang berada di ranah Almighty God. Sepertinya cahaya emas itu bukan sembarang cahaya." Gumam pria pertama manggut-manggut memperhatikan dunia di depannya.
"Jangan-jangan tetua yang terluka parah itu adalah anda tuan Lim?" Ucap pria ketiga penuh selidik.
"Ehem.. Memang iya itu saya." Ucap pria kedua itu datar tampak tenang namun dalam hatinya dia ingin meremukkan pria ketiga yang bertanya tadi.
Kedua temannya yang lain tampak terkejut tak percaya. Mereka tidak menyangka bahwa ketua mereka itu, sedang menceritakan kisahnya sendiri yang sedikit memalukan. Kedua pria itu tampak diam tidak berani berbicara dan hanya menatap dunia di depan mereka.
"Tapi tuan, jika dunia ini ditarik ke dimensi Immortal Realm bukankah dunia ini akan menjadi Primordial World nantinya?" Tanya pria ketiga penasaran.
"Tentu saja itu adalah hal wajar bagi dunia baru masuk. Namun itu lebih baik dari pada tetap berada di Mortal Realm. Bisa jadi beberapa dunia yang dulu pernah menjadi bawahan dunia ini yang saat ini terpuruk bisa bagkit kembali seperti dulu." Jawab pria kedua itu tenang.
......................
Sementara itu di sebuah dunia yang jauh dari kehidupan makhluk lainnya. Sekumpulan makhluk hitam terlihat sedang melakukan ritual di depan sebuah kotak hitam yang terlihat berdenyut empat sisinya. Kotak hitam itu terlihat seperti jantung yang sedang berdetak, atau mungkin bukan berdetak tapi bertanda ada kekuatan maha dahsyat di balik kotak itu yang bisa menghancurkan dunia.
Ritual penyembahan tampak sudah selesai. Beberapa makhluk bersayap datang entah dari mana mendekati kotak hitam itu. Orang-orang yang sedang melakukan ritual tadi segera bertekuk lutut kepada lima makhluk bersayap yang baru saja datang. Tak lama kemudian dua orang makhluk bersayap lainnya tiba-tiba datang entah dari mana dan langsung duduk di kursi yang tampak telah disediakan kepada mereka. Makhluk bersayap yang datang kedua ini tampak berbeda dengan yang pertama. Tampak kedua makhluk ini memiliki tubuh yang lebih indah dan lebih bercahaya dari lima makhluk bersayap lainnya.
Begitu dua makhluk bersayap itu datang, lima orang makhluk bersayap lainnya bertekuk lutut dan memberi hormat takzim. Kedua makhluk bersayap itu duduk dengan elegan di kursi yang telah disediakan.
"Bagaimana situasinya?" Tanya salah satu dari dua makhluk bersayap kepada lima orang makhluk bersayap yang duduk di belakangnya.
"Kami sudah berhasil menghidupkan Kotak Ibu tuan. Dan sepertinya Kotak Ibu sudah siap digunakan." Jawab kelima orang bersayap itu sopan.
"Bagaimana dengan Kotak Ibu lainnya?" Tanya yang lain yang tampaknya berjenis kelamin wanita melihat tonjolan besar di dadanya serta suaranya sedikit yang sedikit lebih kecil dari yang satunya.
"Baru ini yang kami temukan tuan." Jawab salah seorang dari lima makhluk bersayap takut-takut.
"Tolol.." Bentak perempuan hitam bersayap itu dengan marah.
Crasshh..
Perempuan hitam itu membunuh kelima orang tadi hanya dengan satu tebasan jari telunjuknya. Kelima kepala makhluk hitam itu tergelatak di tanah dan tubuh mereka terkulai lemas tak berdaya merosot dari kursi. Darah hitam membanjiri kursi tempat duduk kelima makhluk bersayap yang telah mati.
"Panggilkan yang lain." Ucap teman wanita kepada orang yang berdiri di sampingnya. Makhluk yang berdiri itu segera terbang ke arah lain tak lama kemudian kembali dengan membawa lima ekor makhluk hitam lainnya.
"Sayang, jika kamu membunuh setiap orang yang bersalah lama kelamaan kita bisa kehabisan pasukan." Ucap pria hitam bersayap yang ternyata adalah kekasih dari wanita yang membunuh lima makhluk tadi.
"Biar hal ini menjadi pelajaran untuk yang lainnya. Aku tidak ingin kata gagal dalam rencana ini. Kelima Kotak Ibu harus disatukan agar cita-cita kita dapat tercapai." Ucap wanita hitam itu membela dirinya.
"Iya aku tahu sayang. Namun kita tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan dan membuat rencana. Jika satu kesalahan kecil terjadi, rencana kita bisa diendus oleh para bajingan brengsek dari Light Dimensi. Tentu jika mereka sudah bergerak kita bukan tandingan mereka untuk saat ini. Hanya dengan rencana yang matang dan tepat serta sabar, kita bisa melaksanakan rencana kita satu demi satu. Terlebih saat ini tuan besar sedang dalam pengasingan untuk mencapai Divine Void, kita tidak mungkin mengecewakannya hanya karena kelalaian anggota kita." Balas laki-laki dengan tenang. Wanita hitam itu diam merenungkan ucapan suaminya.
"Baiklah sayang, kali ini aku akan mengikuti rencanamu. Namun jika masih gagal, dengan terpaksa aku memisahkan kepala mereka." Ucap wanita hitam kepada kelima makhluk yang baru datang.
Kelima makhluk hitam itu tampak bergidik melihat telunjuk wanita hitam di deoan mereka. Kelima makhluk itu segera berlutut ketakutan.
"Kami siap melaksanakan tugas apapun tuan, nyonya." Ucap kelima makhluk itu.
Sekelompok makhluk itu melanjutkan rencana mereka mengumpulkan kotak hitam yang sejenis yang saat ini salah satunya telah berada di tangan mereka. Tempat makhluk itu berkumpul merupakan sebuah dunia terjauh dari wilayah Abyss dalam dimensi Immortal Realm yang tidak satupun yang menyangka tempat itu adalah markas para buronan yang paling ditakuti dalam dimensi Immortal Realm.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Guuyss...
Sudah ada yang tahukan kotak apa yang sedang di sembah para makhluk hitam itu?
Yupss.. Di season pertama kita sudah menyinggung mengenai kotak hitam yang sejenis namun mengandung kekuatan yang berbeda.
Sebuah pertanyaan, apakah kotak hitam yang di season pertama tetap berada di tangan Tang Xiao atau malah justru jatuh ke tangan para makhluk hitam itu?
Berikan jawaban anda di kolom komentar. Jawaban readers menjadi salah satu faktor penentu akhir dari kotak hitam di tangan Tang Xiao.