
Kerajaan Funisia yang menjadi kota lukis terkenal adalah juga sekaligus kota yang tertib hukum. Banyak kultivator tingkat tinggi yang berkeliaran di kota ini tidak bisa berbuat seenaknya seperti di kota lain. Bahkan di kota ini dilarang melakukan penindasan terhadap yang lebih lemah. Jika terjadi perkelahian di kota lukis, maka akan disidang di menara Kota Funisia.
Menara Kota Funisia menjadi ikon terpenting di Kerajaan Funisia sekaligus bertugas sebagai pengawas dan ketertiban hukum di kota Funisia. Semua peraturan berasal dari menara kota dan bagi yang melanggar aturan, akan berhadapan dengan tiga tetua menara kota yang berada di ranah Saint Expert.
Hanzho, tetua Yan dan tetua Lan sedang menuju menara kota untuk melaporkan kehadiran mereka sebagai utusan Kafilah Dagang dan juga untuk menanyakan kejadian aneh baru-baru ini.
"Berhenti!!" Dua orang pengawal menara menghentikan Hanzho dan teman-temannya.
"Tolong tujukan identitas kalian." Ucap para penjaga itu ramah.
Hanzho mengeluarkan token pengenal milik Kafilah Dagang. Dua orang itu memeriksa dengan teliti lantas tersenyum ramah.
"Silahkan masuk tuan." Dua orang itu mempersilahkan Hanzho dan yang lain masuk menara saat mengetahui token yang dibawa Hanzho adalah asli.
Token itu adalah token khusus yang sengaja dibuat untuk mengenalkan wajah serta tingkat kultivasi pemiliknya. Orang yang memalsukan token itu atau membawa token yang bukan miliknya, akan langsung dapat diketahui. Begitu token itu diaktifkan, akan langsung terhubung dengan token besar Kafilah Dagang yang ada di pusat. Sehingga keaslian atau palsu token itu sangat mudah diketahui. Dan sepertinya para penjaga menara cukup profesional dalam menjalani tugasnya.
Hanzho dan kawan-kawannya memasuki menara. Terdapat sepuluh lantai. Lantai pertama adalah lantai untuk orang awam. Lantai kedua adalah untuk para kultivator ranah Elite ke bawah. Lantai ketiga adalah untuk kultivator ranah Master hingga Grand Master. Lantai keempat adalah untuk ranah Expert. Lantai kelima adalah untuk ranah Legend. Lantai keenam adalah untuk ranah Saint. Lantai ketujuh adalah lantai tempat penjualan barang-barang persenjataan tingkat tinggi. Lantai ketujuh adalah lantai paling ramai yang dikunjungi oleh semua orang termasuk orang awam.
Lantai kedelapan adalah untuk ranah Saint Expert ke bawah. Lantai kesembilan adalah adalah tempat khusus untuk tamu khusus dan kultinator ranah Holy Ancestor. Sedangkan lantai kesepuluh adalah tempat tiga tetua yang menjadi Master dari Menara Kota.
Dikarenakan Hanzho sudah berada di ranah Ancestor dan termasuk tamu khusus menara kota, dia mendapat akses untuk menuju lantai kesembilan. Lantai kesembilan benar-benar sepi tidak seperti delapan lantai lainnya.
Hanzho, Tetua Yan, tetua Lan dan Della duduk di kursi tamu yang sudah disediakan. Untuk anggota lainnya berada di lantai bawah sesuai tingkat kultivasi mereka masing-masing.
Tak lama berselang beberapa orang pelayan datang dan membawa hidangan lalu menyuguhkannya di atas meja tamu.
"Silahlan dinikmati tuan-tuan sekalian. Master menara akan segera turun." Ucap seorang pelayan wanita lalu mundur diikuti para pelayan yang lain.
Della mendahului mengambil hidangan di atas meja. Dia mengambil sepotong buah segar.
"Hemm nikmatnya terasa dingin di ternggorokan dan terasa halus." Ucap Della setelah menggigit buah yang diambilnya.
"Itulah adalah semangka madu. Rasa segar dan nikmatnya membuat siapapun tidak tahan." Ucap satu suara yang terdengar sudah tua. Suara yang cukup ramah dan enak didengar.
Hanzho dan yang lainnya menoleh asal suara dan melihat tiga orang tua sedang berjalan turun dari tangga dengan tenang. Ketiga orang tua itu benar-benar di ranah Saint Expert yang mungkin tidak lama lagi akan naik ke ranah Holy Ancestor.
"Salam master menara." Hanzho bangkit dan memberi hormat diikuti tetua Lan, tetua Yan dan Della yang buru meletakkan buah separuh gigitannya di atas meja.
"Tidak perlu formal begitu tuan Hanzho. Perkenalkan nama saya adalah Reno, dua teman saya ini bernama Faris dan Faisal." Balas Reno mempersilahkan Hanzho dan yang lainnya untuk duduk.
"Tuan sudah tahu nama saya?" Tanya Hanzho kaget padahal dia belum memperkenalkan naman aslinya. Adapun nama yang dia pakai saat bergabung dengan Kafilah Dagang adalah nama samaran sehingga tidak ada yang tahu nama aslinya kecuali tetua Yan dan tetua Lan. Namun orang tua di depannya ini mengetahui identitas aslinya dan itu membuat dia waspada takut mereka bertiga berasal dari pihak musuh
"Tidak usah takut tuan Hanzho. Ada beberapa orang tua di Kekaisaran Gama yang menyampaikan kepadaku tentang kedatangan kalian. Jadi orang tua ini mengetahui dengan jelas siapa tuan Hanzho dan tentu saja tuan Putri Della." Ucap Reno santai sambil memberi hormat kepada Della yang sudah duduk sebagaimana layaknya tuan putri; Elegan dan sopan.
Hanzho mengangguk takzim. "Maafkan junior ini yang terlalu hati-hati dan bersikap kurang sopan terhadap para senior." Ucap Hanzho meminta maaf.
"Tidak perlu minta maaf tuan Hanzho. Sebagai orang yang mendapat misi membawa nona Della, sudah seharusnya bersikap seperti itu." Ucap Reno lalu memberi isyarat kepada dua tetua lainnya.
Dua orang tetua itu segera mengerti isyarat tetua Reno. Mereka berdua berdiri lalu dengan cepat keduanya membuat segel tangan lalu menyentuh lantai. Dari kedua pasang tangan itu muncul sepasang arai yang menyelimuti seluruh lantai sembilan tempat mereka berbicara.
"Tuan Hanzho tidak perlu cemas. Dua pasang arai ini adalah arai sejenis pengecoh dan pemgabur. Tuan tentu pernah mendengar pepatah 'dinding dan angin dapat berbicara' dan untuk mencegah itu semua, kedua tetua ini memasang dua aray untuk berhati-hati." Ucap tetua Reno yang mengerti kebingungan Hanzho.
"Terima kasih atas pengertian para tetua sekalian." Ucap Hanzho gembira.
"Oh iya yang saya dengar cuman ada tuan Hanzho dan tuan Putri lali siapa kedua nona ini?" Tanya tetua reno penasaran.
"Oh iya hampir lupa. Yang bercadar putih ini namanya tetua Lan dan yang bercadar hitam namanya tetua Yan. Mereka adalah orang yang sengaja saya bawa ke sini untuk bertanya sesuatu kepada tetua sekalian. Mereka berdualah yang telah membantu kami memudahkan perjalanan kami sehingga tidak ada satupun kesulitan yang berarti." Jawab Hanzho sopan.
"Kejadian, kejadian seperti apa yang ingin dua nona ini tanyakan?" Tanya Reno.
Hanzho pun menceritakan tentang kedatangan mereka ke menara ini dan meminta tolong jika ada kejadian aneh atau menggemparkan di kota ini."
Tiga tetua itu mencoba mengingat-ingat beberapa kejadian aneh yang terjadi di kota ini.
"Oh iya ada satu kejadian yang cukup menggeparkan." Ucap tetua Faisal dengan semangat saat mengingat kejadian aneh itu.
"Kejadian apa itu?" Tanya Hanzho penasaran.
"Heemm sekitar enam bulan lalu ada kejadian heboh yang sempat memanas dan membawa masalah itu ke menara ini. Saat itu tetua Reno dan tetua Faris sedang tidak ada di kota Funisia. Jadi mereka tidak tahu kejadian menghebohkan itu.
Kejadian ini berawal saat seorang gadis muda dengan wajah cantik jelita memasuki kota ini. Bahkan wanita yang mendapat gadis tercantik di kota ini tidak dapat dibandingkan dengan satu tangan dari gadis itu. Seolah seluruh kota bersinat terang begitu gadis itu memasuki kota ini. Wajah gadis itu benar-benar cantik sehingga menyebabkan beberapa orang tidak tahan dengan kecantikan gadis itu. Beberapa orang itu mencoba mendekati gadis itu namun sayangnya gadis itu bukanlah gadis sembarangan. Orang-orang yang mencoba mengusik gadis itu kehilangan lengan mereka hanya dengan sekali serang. Kejadian ini menghebohkan kota. Keributan semakin ramai saat orang yang mendekati gadis itu bekerja sama dan menyerang gadis itu bersama-sama.
Puluhan orang yang tidak tahu malu itu menyerang gadis kecil itu sendirian. Meskipun gadis itu sendirian, dia tidak gentar dan mampu melawan seimbang puluhan pria dan bahkan mampu membunub setengah dari mereka padahal beberap orang ada yang tingkat kultivasinya jauh lebih tinggi dari gadis itu.
Namun lama kelamaan gadis itu menjadi lelah menghadapi puluhan orang yang terus berdatangan melawannya. Saat itu aku yang tidak sengaja melewati tempat itu melihat hal yang terjadi segera membawa gadis itu ke menara ini dan membunub sisa dari orang yang menyerang gadis kecil itu.
Aku mendapat kecaman karena membunuh puluhan orang tidak tahu malu itu, namun ada yang lebih banyak menudukung atas sikapku itu.
Setelah istirahat beberapa hari di menara ini, gadis itu pergi setelah mengucapkan terima kasih dan memberi hadiah sekantong permata jade tingkat tinggi.
Gadis itu selain parasnya yang jelita, kultivasinya yang tinggi, sifat dan sopan santunnya sangat berkelas. Aku rasa gadis itu berasal dari keluarga Kekaisaran besar namun aku tidak tahu kenapa gadis itu bisa ada di kota kecil ini." Tutur tetua Faisal panjang lebar. Dia tampak sangat menghayati ceritanya.
Tetua Yan dan tetua Lan tampak terkejut mendengar cerita itu. Ciri-ciri yang dimiliki gadis dalam cerita tetua Faisal agak mirip dengan ciri-ciri dengan tuan putri mereka.
"Apakah gadis itu memiliki tanda bunga di keningnya?" Tanya tetua Yan dengan sopan.
"Ya ada tanda tiga helai bunga teratai di kening gadis itu. Awalnya aku pikir itu adalah tatoo yang sengaja di buat. Namun saat aku bertanya gadis itu mengatakan bahwa itu adalah tanda lahirnya. Jujur saja tiga helai bunga teratai di kening gadis itu benar-benar indah. Sangat serasi dengan kejelitaan gadis itu. Lalu aku berpikir bahwa tanda itu akan membawa bahaya baginya jika dibiarkan begitu saja dan tidak disembunyikan dengam benar. Aku bertanya pada gadis itu apakah dia bisa menyembunyikan tanda tapi dia tidak bisa. Lalu aku mengajarkan gadis muda itu cara menyembunyikan tanda lahirnya karena kebetulan aku memiliki tehnik itu. Aku mengajari gadis kecil itu sekali dan luar biasanya dia langsung mampu memahami serta mempraktekannya dalam sekali lihat. Padahal aku baru bisa memahami tehnik sederhana itu dalam seminggu.
Gadis kecil itu sangat senang. Katanya masalah terbesar yang dihadapi gadis itu adalah tanda tiga helai daun di keningnya itu. Namun kini dia bisa menyembunyikan tanda itu dengan tehnik yang baru dipelajarinya. Atas rasa terima kasih gadis itu memberikan Giok Biru Lima Elemen ini." Jawab tetua Faisal sambil mengeluarkan giok warna biru yang sangat indah.
Tetua Reno, tetua Faris dan Hanzho terbelalak melihat giok sebesar telapak tangan itu. Tentu saja mereka tahu harga giok itu. Giok Biru Lima Elemen adalah barang Legendaris di dunia dan termasuk pusaka tertinggi. Hanya ada beberapa yang memiliki Giok Biru Lima Elemen di dunia ini dan yang lainnya tersimpan di tempat-tempat paling berbahaya di dunia yang bahkan seorang di ranah Half God tidak berani memasuki tempat itu seorang diri.
Kini di depan mata mereka terdapat barang Legendaris seperti itu, tentu saja mereka shok melihatnya.
"Tetua Faisal, kamu benar-benar beruntung bisa membantu gadis itu dan mendapat hadiah Legendaris seperti ini. Benar-benar sebuah harta tak ternilai." Gumam tetua Reno kagum. Walaupun dia merasa iri dengan hal itu, namun tidak ada keserakahan di matanya memiliki giok itu. Begitu juga dengan tetua Faris. Mungkin karena umur dan pengalaman mereka yang membuat mereka tetap bijak dalam melangkah.
"Giok ini benar-benar milik tuan Putri Dewi. Tuan Putri memiliki banyak benda seperti itu." Gumam tetua Lan.
Ketiga tetua dan Hanzho terdiam membisu tidak dapat berkata-kata.
"Tunggu sebentar, nona tadi memanggilnya tuan Putri? Maksud anda gadis kecil itu memiliki hubungan dengan kalian?" Tanya tetua Faisal penuh curiga.
Tetua Lan memgangguk. "Tentu saja kami memiliki hubungan dengan tuan Putri. Tuan putri adalah satu-satunya pewaris tahta Heavenly God Imperium. Dan kami ditugaskan Kaisar untuk mencari tuan putri dan membawanya kembali ke Imperium untuk melaksanakan upacara kedewasaan. Kepergian tuan putri beberapa bulan yang lalu. Dan tanda-tanda yang tadi disebutkan tetua Faisal sama dengan ciri-ciri tuan Putri. Terlebih lagi giok biru itu." Jawab tetua Lan lalu mengeluarkan satu Giok Biru Lima Elemen.
Tetua Faisal mengangguk puas dengan penuturan perempuan bercadar di depannya ini.
"Tapi sayangnya setelah berhasil menyembunyikan tanda tiga daun teratai di keningnya, gadis kecil itu berpamitan pergi tanpa memberi tahu hendak kemana dia. Akupun yang sudah tua ini lupa menannyakannya. Kupikir dengan bertanya gadis kecil itu mau memberitahu kemana dia akan pergi." Ucap tetua Faisal merasa bersalah.
"Anda tidak bersalah tetua Faisal. Tentu saja kami sangat berterima kasih karena telah membantu tuan putri kami dari menyembunyikan identitasnya. Heavenly God Imperium akan mengingat jasa anda ini. Dan sebagai rasa terima kasih dari kami berdua, semoga saja anda tidak menolak hadiah kecil ini." Ucap tetua Yang mengambil alih pembicaraan.
Tetua Yan mengeluarkan satu kotak seukuran kepala manusia dewasa lalu menyerahkannya kepada tetua Faisal.
"Di dalam kotak itu terdapat Giok Biru Lima Elemen yang sama dengan milik tuan putri. Tetua bisa membagi-bagikannya kepada tetua Reno dan tetua Faris sebagai rasa terima kasih kami juga karena telah disambut dengan baik." Ucap tetua Yan.
Tetua Faisal menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Dia dapat merasakan energi yang luar biasa dari dalam kotak itu. Bahkan hanya dengan menghirup enegi yang keluar begitu saja, seorang kultivator ranah Master bisa meningkat kultivasinya.
Tetua Faisal membuka kotak itu dan menghitung ada lima belas Giok Biru Lima Elemen di dalamnya.
"Luar biasa. Barang Legendaris seperti ini bisa ada di sini dalam jumlah banyak, jika dunia mengetahui hal ini tentu saja perang dunia tidak akan terhindarkan dan tidak akan berhenti hingga mendapatkannya." Gumam Hanzho takjub sekaligus ngeri jika dunia benar-benar tahu akan hal ini.
Tetua Faris membagikan langsung Giok Biru Lima Elemen kepada dua tetua lainnya yang menerima dengan tangan bergetar dan rasa-rasa tidak percaya.
"Akhirnya..... Akhirnya cita-cita untuk menjadi seorang kultivator ranah Holy Ancestor akan segera... Akan segera ter...wujud..." Gumam tetua Reno haru tak percaya.
"Akhirnya.... Semua berkat gadis muda yang ditolong tetua Faisal waktu itu." Gumam tetua Faris bergetar. Dia tidak bisa membayangkan jika tetua Faisal tidak menolong gadis kecil itu, mungkin mereka tidak akan pernah mendapat harta seperti ini.
Semua orang mengangguk setuju dengan ucapan tetua Faris.
"Begitulah dunia ini bekerja. Kebaikan akan selalu mendapat kebaikan yang setimpal. Tetua Faisal yang menyelamatkan tuan Putri Dewi dan mengajarkannya tehnik sederhana yamg mungkin di mata tetua Faisal tidak terlalu berharga namun akan sangat berharga di mata tuan putri. Siklus kebaikan akan selalu bersama dengan orang-orang baik." Ucap tetua Yan lalu tersenyum di balik cadarnya.
Semua orang yang berada di ruangan itu mengangguk. Mereka melanjutkam pembicaraan kemudian Hanzho dan lelompoknya pamit untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Kini di lantai sembilan cuman ada tiga tetua yang sedang memegang Giok Biru Lima Elemen.
"Kalian tahu dimana Heavenly God Imperium yang dikatakan nona wanita tadi?" Tanya tetua Reno sedikit penasaran.
"Hemm... Awalnya aku pikir itu adalah benar-benar sebuah Kekaisaran. Namun aku kembali berpikir tidak Kekaisaram besar di dunia ini yang memiliki nama seperti itu. Kemudian aku berpikir lagi bagaiaman kalo itu adalah sebuah sekte tersembunyi yang misterius di dunia ini." Jawab tetua Faisal.
"Akupun berpikiran sama. Melihat kekayaan yang mereka miliki tidak mungkin dimiliki oleh suatu Kekaisaran. Terlebih kultivasi gadis muda itu yang katanya sangat mengerikan bahkan mampu membunuh kultivator dengan ranah yang lebih tinggi darinya." Ucap tetua Faris ikut berbicara.
"Hemm memang benar hal itu. Namun kenapa dua wanita itu mengatakan Kekaisaran dan bukan sekte aja." Balas tetua Reno.
"Mungkin karena mereka termasuk sekte kuno dan memiliki keuturunan yang tak terhitung jumlahnya akhirnya mereka berganti menjadi sebuah Kekaisaran demi menjaga kemurnian keturunan mereka." Balas tetua Faisal yang tampak lebih pengalaman dari tetua lainnya.
"Apapun itu semoga bukan suatu bencana di dunia ini. Jika orang-orang dari sekte tersembunyi sudah mulai bergerak, mungkin akan terjadi perubahan besar." Gumam tetua Faris.
"Eh ada diantara kalian yang mengetahui tingkat kultivasi dua wanita itu?" Tanya tetua Reno. Tetua Faisal dan tetua Faris hanya bisa menggeleng lemah.
......................
"Adik keempat hari ini ulang tahunmu benar kan?" Tanya Tang Xiao saat kedua orang itu sedang duduk menyandar di dinding tanah. Mereka berdua sedang memperhatikan para anggota Sekte Azure Dragon menambang batu mineral yang terdapat di dalam pintu masuk bangunan misterius di bawah pasir.
Kelompok mereka tidak sengaja menemukan pintu menuju bawah pasir saat beberapa kelompok lain sedang dikejar-kejar Mythical Beast tingkat sembilan. Kelompok-kelompok itu berlari melewati kelompok Tang Xiao tanpa menghiraukan mereka. Namun begitu tiga ekor Mythical Beast itu mendekati kelompok Tang Xiao, Mythical Beast itu berlari ketakutan dan segera bersembunyi dan mengeruk pasir pasir di bawah mereka.
Di saat itulah kelompok Tang Xiao dan Denas menemukan sebuah lorong misterius yang cukup aneh. Tang Xiao tanpa berpikir panjang langsung melompat ke bawah dan masuk ke lorong itu. Setelah membunuh beberapa Mythical Beast penjaga lorong itu, dia menyuruh Denas dan yang lainnya untuk turun ke dalam lorong karena sudah aman.
Setelah berjalan menelusuri lorong itu akhirnya mereka menemukan pintu masuk dan membuka pintu itu tanpa kesulitan. Begitu pintu di buka, bongkahan batu mineral yang sangat berharga menghiasi pandangan mereka. Namun tidak semudah itu, bongkahan mineral itu dijaga oleh sekelompok Mythical Beast Undead yang menyerang siapa saja yang mengambil bongkahan mineral. Dengan bantuan Tang Xiao dan Denas, mereka dapat mengalahkan Undead itu meskipun ada beberapa yang terluka.
"Ya kak. Kakak kedua mau memberikan hadiah apa?" Jawab Denas.
"Apa yang adik kedua inginkan?" Jawab Tang Xiao mengajukan sebuah pertanyaan.
"Aku hanya ingin menghabiskan seumur hidupku dengan orang yang kucintai." Jawab Denas datar.
"Sesederhana itu? Tidak ada permohonan lain yang mungkin kakak mu ini bisa memberimu hadiah?" Tanya Tang Xiao lagi.
"Aku ingin melihat gemintang dari dekat bersama dengan orang yang kucintai." Jawab Denas datar.
"Apakah adik keempat sedang merindukan orang itu?"
Denas menggeleng. "Aku tidak merindukannya. Aku hanya ingin suatu hari nanti dia mengerti perasaanku dan mau menerimaku apa adanya."
"Bukankah gadis itu akan sangat beruntung mendapat cinta dari adik keempat."
Denas menggeleng lagi. "Gadis itu memang beruntung tapi bukan mendapat cinta dariku."
"Lalu apakaj gadis itu dicintai atau mencintai orang lain?"
Denas menggeleng lagi. "Gadis itu hanya mencintai satu orang dan tidak pernah mencintai orang lain. Hanya saja orang yang dicintai gadis itu tidak atau belum memahaminya."
Tang Xiao terdiam sejenak memahami ucapan Denas yang sedikit rumit.
"Kamu merasa kasihan pada gadis yang kamu cintai itu karena mencintai orang lain dan tidak bisa mencintaimu?"
Denas menggeleng. "Tidak. Aku merasa bahwa gadis itu setia. Begitu setia sehingga cintanya membutakan cinta yang lainnya. Aku hanya merasa takut jika gadis itu tidak bisa mendapat cinta orang yang dicintainya."
"Kamu mengasihani gadis itu atau mengasihani dirimu sendiri?"
"Keduanya. Cinta keduanya sama besar kepada orang yang dicintainya tanpa diketahui oleh orang dicintainya."
"Selama ini adik keempat tidak pernah mengatakan perasaan kepada gadis itu?"
Denas menggeleng. "Belum sama sekali. Aku mencintai dalam diam dan hanya bisa mengaguminya dari jauh. Saat pertama kali melihatnya aku sudah jatuh cinta padanya. Dan mengikutinya kemanapun dia berada."
"Lalu gadis yang kamu cintai apakah pernah mengatakan perasaanya kepada orang yang disukainya?"
"Gadis itu memiliki nasib yang sama denganku. Orang yang dicintai gadis itu tidak tahu kalau ada gadis yang mencintainya padahal selalu bersamanya. Gadis itu hanya bisa diam memendam perasaannya setiap bersama dengan orang yang dicintainya." Denas mengehela nafas lalu bangkit. Matanya telah berkaca-kaca sejak tadi.
Tang Xiao bangkit dan mengikuti Denas. Walaupun Tang Xiao tidak terlalu mengerti maksud Denas, namun seperti dia dapat merasakan sakit yang dirasakan adik keempatnya itu. Seolah-olah jiwa mereka terhubung dan menjadi satu raga jiwa.
Tang Xiao dan Denas mendekati anggota Sekte Azure Dragon yang hampir selesai dari pekerjaannya.
Tak lama kemudian tanah bergetar dan sesuatu dari lorong yang jauh di depan mereka terdengar suara auman mengerikan. Angin kencang berhembus menggetarkan lorong dan menghempaskan beberapa anggota Sekte Azure Dragon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...