The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 77. MENGANGKAT MURID



"Dan kalian telah siap mengantar nyawa?" Tanya seorang pria tua dari para pasukan yang berdiri tegap menyeringai lebar lalu mengeluarkan aura kegelapan. Ruang yang semulanya terang tiba-tiba menjadi gelap akibat aura kegelapan yang dikeluarkan dua orang pria tua yang datang bersama dengan lusinan prajurit.


Hanzho memeluk putri Della yang ketakutan dan mengeluarkan energi qi-nya untuk mencoba menenangkan Della. Gadis kecil yang telah menggigil ketakutan itu sedikit merasa tenang namun hanya sebentar saja ketenangan itu dirasakan ketika dua pria tua itu menanmbah aura kegelapan ke tahap yang lebih tinggi hingga membuat Hanzho, Jessika dan Andri ketakutan.


"Apa memang semengerikan ini kekuatan orang di ranah Holy Ancestor? Hanya dengan auranya saja mampu menekan kami." Batin Andri. Meskipun Andri merasa takut sesaat, namun api hitam miliknya langsung menyelimuti dirinya dan gulungan emasnya membantu memperkuat prisai tak kasat mata dari luar tubuhnya.


TAP


Tang Xiao menyentuh pundak Jessika dan aura emas menyelimuti seluruh tubuh gadis itu. Tang Xiao tersenyum melihat Andri yang mampu melindungi dirinya sendiri.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Rangga kepada Hanzho dan Della. Rangga sedikit tercengang melihat Tang Xiao mampu bertahan dibawah tekanan seorang Kultivator tingkat tinggi. Dia memang mengetahui bahwa Tang Xiao lebih kuat dari dua orang lainnya, namun dia tidak menyangka akan sekuat ini. Rangga juga takjub kepada Andri.


"Anak-anak ini cukup luar biasa." Batin Rangga.


"Hooh.. Kalian cukup hebat bisa bertahan dari aura kegelapan kami. Sepertinya dua pemberontak ini memiliki dukungan yang cukup hebat." Ucap pria tua yang bernama Leman.


"Namun kalian hanya akan berakhir sia-sia jika terus melawan tanpa mengetahui seberapa kuat musuh kalian." Timpal seorang tua yang lain yang berpakaian sama dengan Leman. Pria tua itu bernama Zhang.


Sementara itu para prajurit Kerajaan telah merasa bahagia melihat lawan mereka tertekan. Jenderal yang memimpin pasukan itu maju ke depan mendekati Leman dan Zhang.


"Tetua Leman, tetua Zhang, kedua pemberontak itu kalian tidak boleh membunuhnya namun dengan yang lainnya tidak masalah, hehe." Ucap pria berpakaian Jenderal yang bernama Zoro. Dia tersenyum sinis ke arah kelompok Tang Xiao yang disangkanya sedang dalam kepayahan.


"Cih, jika bukan karena imbalan yang besar aku tidak pernah mau diperintah oleh sampah sepertimu." Gumam tetua Leman sambil mengeluarkan senjatanya berupa pedang.


"Sebaiknya segera kita akhiri secepatnya." Gumam tetua Zhang yang telah mengeluarkan senjatanya lebih dulu.


Secepat kilat kedua tetua itu melesat ke arah kelompok Tang Xiao sambil mengayunkan senjata masing-masing. Tang Xiao yang telah bersiap dengan segala kemungkinan, melirik ke arah Rangga dan melihat bahwa Rangga telah berdiri dan menghilang dari tempatnya.


Tang Xiao cukup terkejut melihat kecepatan Rangga yang belum pernah dilihatnya selama berada di dunia ini. Bahkan kecepatan Rangga melibihi kecapatan para Demon Vajra yang pernah dilawannya di Gurun Fajar Merah.


Tang Xiao melihat ke arah tetua Leman dan Tetua Zhang yang masih melesat ke arah mereka dan menemukan bahwa Rangga telah berada di belakang kedua tetua itu sambil menarik kerah baju mereka kemudian melemparkannya ke atas.


Wusshh


Bruukkk..


Aahhhh....


Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut dengan apa yang terjadi. Mereka tidak tahu apa-apa dan tiba-tiba saja kedua tetua yang menyerang telah terlempar ke atas menembus atap dan tidak ada yang mengetahui bagaimana keadaan mereka. Sementara Rangga telah kembali ke tempat duduknya sambil pura-pura minum segelas teh.


"Ah teh ini lebih nikmat jika disajikan di bawah bulan purnama." Gumam pelan Rangga sambil melihat ke arah langit-langit bangunan yang telah bolong memperlihatkan langit malam tanpa rembulan.


Tang Xiao bangkit dan berjalan perlahan. Dia tahu kini adalah tugasnya untuk menyingkirkan sisa dari pasukan kerajaan yang telah mengganggu mereka. Tanpa disadari Tang Xiao, Ranzho, Andri dan Jessika telah berjalan di sampingnya dan membalaskan perbuatan para pasukan pemberontak Golden Emperor.


"Ah jangan mendekat, jika mendekat berarti kalian telah melawan Golden Emperor."


Sang Jenderal yang ketakutan karena telah kehilangan dua orang kebanggaannya menghunuskan pedang dengan tangan bergetar. Dia dan anak buahnya telah mundur beberapa langkah ke belakang. Keringat dingin mengucur deras melihat keganasan aura yang terpancar dari Tang Xiao, Hanzho, Andri dan Jessika.


Buk


Buk


Buk


Tang Xiao, Hanzho, Andri dan Jessika kembali ke tempat duduk mereka setelah menghajar puas para pasukan pemberontak beserta Jenderal Zoro.


"Paman Hanzho, kenapa melepas mereka, bukankah seharusnya mereka ditangkap saja dan dihukum?" Tanya Della melihat Hanzho kembali dengan tangan kosong.


"Tuan Putri, kita berada di Kekaisaran orang lain dan kita masih dalam keadaan buron. Jika kita membuat keributan di sini, akan sangat berbahaya bagi Yang Mulia Kaisar di Kekaisaran Golden Emperor. Mata-mata dari pasukan pemberontak telah banyak bertebar di beberapa Kerajaan." Jawab Hanzho tenang. Awalnya dia berniat menangkap mereka, namun setelah berpikiri lagi dan berdiskusi dengan Tang Xiao dan yang lain, mereka melepas pasukan tersebut.


Della mengangguk pelan memahami ucapan Jenderal pengawalnya dan tidak bertanya lebih lanjut. Untuk saat ini dia sudah merasa tenang setelah apa yang mereka lalui dan sepenuhnya percaya kepada pengawalnya. Terlebih lagi, Tang Xiao, Andri, dan Jessika yang berada di sisinya menambah ketenangannya. Meskipun baru bertemu, gadis kecil itu dapat merasakan bahwa mereka adalah orang-orang tulus.


"Lalu kemana selanjutnya tujuan kalian?" Tanya Rangga sesaat kemudian.


"Tentu saja melanjutkan pertandingan Kultivator antar benua ini. Setelah itu barulah kita akan menuju Benua Heaven Land dan menemui adik keempat dengan membawa kemenangan kita." Jawab Andri tegas. Tang Xiao dan Jessika mengangguk setuju. Sebelumnya mereka memang telah berdiskusi rencana mereka selanjutnya. Untuk saat ini prioritas mereka adalah kemenangan di pertandingan antar benua. Meskipun masih babak penyisihan, kelompok mereka telah menjadi kuda hitam dalam pertandingan ini. Terlebih lagi mereka masih memiliki seorang anggota yang tidak tahu apa yang telah terjadi pada mereka.


"Baiklah untuk beberapa hari ini aku, saudara Hanzho dan putri Della akan menginap di sini menunggu hingga kalian memenangkan pertandingan, dan selama itu, aku akan melatih putri Della langsung dengan keras hingga dia cukup kuat untuk bisa belajar di Benua Heavend Land."


Kecuali Della, semua orang mengangguk setuju. Mereka cukup senang mendengar keputusan Rangga terlebih ucapannya mengatakan akan mengajari Della secara langsung.


"Apa tuan Putri tidak senang memiliki guru seperti tuan Rangga?" Tanya Hanzho sebelum yang lain.


Della menggeleng. "Tidak, bukan seperti itu paman. Hanya saja pantaskah diriku menjadi murid tuan Rangga, sedangkan aku hanyalah manusia biasa bukan seorang yang jenius dan berbakat. Meskipun guru Yan dan guru Lan tidak mengatakan apapun, namun aku tahu bahwa aku bukan jenius bela diri." Ucap Della menundukan kepala.


Rangga menggeleng. "Putri Della, jenius maupun tidak adalah hal nomor dua dalam bela diri. Hal yang paling utama adalah ketekunan dan kerja keras. Seseorang yang mencapai puncak tidak dilihat seberapa jeniusnya orang itu, tetapi seberapa keras usahanya dalam berjuang menggapai keinginannya."


"Aku mempunyai seorang guru yang berasal dari keluarga yang sangat miskin dan sakit-sakitan. Beliau juga bukan seorang yang jenius bahkan dia memiliki dantian yang cacat. Namun dia mampu mencapai puncak kekuatan di dunia dengan kerja keras tanpa henti siang malam. Dari situ aku tahu bahwa kerja keraslah yang paling utama dalam kesuksesan. Meskipun memerlukan dukungan moral, tapi itu hanya bagi mereka yang bermoral rendah saja yang membutuhkannya.


Atas hasil kerja keras guruku itu, beliau membuat sejarah yang menakjubkan pertama kali di dunia. Beliau adalah satu-satunya orang yang mampu naik ke langit menjadi Dewa bersama dengan tubuh fisiknya yang mana pada saat itu orang-orang mampu naik ke surga hanya dengan roh nya saja. Jadi, Putri Della tidak perlu risau dengan ketidak jeniusan dan kepandaian, selama itu putri mampu bekerja keras dan aku yang membimbingmu, kita bisa mengatasinya bersama. Tapi ingat dalam kultivasi tidak ada yang namanya jalan pintas dan terburu-buru. Semua harus berawal dari nol dan bertahap."


Rangga mengakhiri ucapannya dengan memandang langit malam yang indah. Di balik cerita tentang gurunya, ada rahasia besar memilukan hanya dia yang tahu. Rahasia itu juga yang membuatnya bisa bereinkranasi ke dunia ini.


Brukkk..


Putri Della menjatuhkan lutunya bersujud kepada Rangga dan berkowtow tiga kali.


"Saya Della Maharani, putri sekaligus pewaris dari Golden Emperor bersujud kepada guru meminta guru berkenan mengajari dan membimbing saya hingga saya menjadi orang yang membanggakan guru dan keluarga."


Rangga tersenyum mendenger ikrar Della. Selama ini dia belum pernah menerima seorang murid meskipun ada orang dengan jumlah tak terhitung yang ingin menjadi muridnya. Setelah dia bertemu dengan kekasihnya, tujuan hidupnya telah jelas dan dia berniat menjadikan Della adalah murid satu-satunya dan terakhir dalam hidupnya.


Semenjak bereinkarnasi ke dunia ini, Rangga telah mencurahkan seluruh hidupnya untuk menjadi kuat dan lebih kuat lagi sehingga orang-orang tunduk berlutut di bawah kakinya. Dan kini perjalanan hidupnya telah berubah haluan dan lebih terarah.


Rangga bangkit dari duduknya dan hanya dengan labaian tangannya, Della yang serang bersujud itu tiba-tiba melayang hingga membuat Della dan yang lainnya terkejut. Tubuh Della yang melayang itu perlahan bergerak ke arah Rangga hingga kening gadis kecil itu tepat berada di depan Rangga. Rangga mengangkat jari telunjuknya ke kening Della dan menyentuhnya dengan lembut.


Wuushhh......


Keluar angin yang cukup besar ketika jari telunjuk Rangga bersentuhan dengan kening Della. Angin itu cukup besar hingga membuat meja-meja dan peralatan makan yang ada di dekat mereka berhamburan ke berbagai sudut ruangan. Begitu angin itu mereda, Della telah tidak sadarkan diri dan jatuh dalam pelukan Rangga. Gadis kecil berumur empat tahun terlihat seperti tertidur dengan pulas.


Semua orang yang ada dalam ruangan tercengang dengan apa yang baru saja terjadi. Antara bingung dan takjub tidak dapat mereka jelaskan. Termasuk diantara mereka adalab Tang Xiao. Meskipun pemuda itu tahu apa yang terjadi, namun dia cukup takjub dengan keputusan Rangga.


"Aku menyegel sebagian kekuatanku ke dalam tubuh muridku ini. Pelatihan yang akan dijalaninya akan sangat berat ke depannya. Dengan tubuh lemahnya ini, mungkin di tengah jalan dia akan berhenti berlatih. Dengan kekuatan yang aku segel, akan membantunya sedikit demi sedikit untuk memperkuat tubuhnya. Kedepannya aku tidak akan ragu melatih muridku ini dengan keras hingga dia benar-benar mewujudkan impiannya." Ucap Rangga mengingatkan semua orang atas apa yang baru saja dilakukannya. Tang Xiao dan yang lainnya mengangguk senang dan bangga dengan apa yang dilakukan Rangga. Terlebih adalah Hanzho. Dia sampai menitikkan air mata mendengar hal itu.


Setelah membayar seluruh tagihan makanan, kelompok Tang Xiao dan yang lainnya kembali ke kamar dan istirahat. Della yang masih tertidur dengan lelapnya, tiba-tiba terbangun dengan perasaan berbeda. Dia melihat ke sekitar ruangannya dan mendapati Jenderal Hanzho tertidur di kursi yang tak jauh darinya. Kemudian gadis itu melihat sekitar lagi, namun tampak sedikit kecewa karena tidak menemukam orang yang dicarinya.


"Nona sudah bangun?" Pertanyaan itu mengagetkan Della. Gadis itu mengangguk dan tersenyum kepada Hanzho.


"Paman tadi malam aku bermimpi menjadi murid Paman Rangga." Ucap Della polos bangkit terduduk dari tempat tidurnya.


Hanzho tersenyum lebar dan mendekati Della. "Nona, tadi malam nona memang telah menjadi murid tuan Rangga dan menjadi satu-satunya murid Tuang Rangga." Ucap Hanzho duduk di sebelah Della seolah seperti ayah bagi Della.


"Benarkah paman? Paman tidak bohong? Aku benar-benar menjadi murid paman Rangga?" Della tampak berbinar dan menatap Hanzho dengan tidak percaya.


Hanzho mengangguk senang dan tersenyum. "Mulai sekarang panggil tuan Rangga dengan sebutan guru bukan lagi paman. Sangat beruntung nona bisa menjadi muridnya. Ingat nona, mulai sekarang nona adalah pewaris satu-satunya dari tuan Rangga, jadi jangan pernah mengecewakan paman dan Guru mu serta keluar Golden Emperor."


"Baik paman. Sebagai pewaris tunggal dari Guru Rangga dan satu-satunya calon Raja Golden Emperor, akan bersungguh-sungguh berlatih dan akan membanggakan semua orang." Ikrar Della berdiri sambil mengangkat kedua jarinya ke atas.


Hanzho tersenyum kecil. Dia memandang Della dengan penuh perhatian. Masih ingat dalam ingatannya, putri kecil di depannya ini telah ditinggal ibunya begitu dia lahir. Dia juga kurang mendapat perhatian dari ayahnya karena sibuk mengurus urusan Kerajaan. Meskipun begitu, Della tetap tumbuh dengan baik hingga umurnya empat tahun sekarang ini, gadis kecil ini tumbuh dalam pelarian dari para pemberontakan.


Hanzho, sebagai pengawal pribadi yang telah ditunjuk sejak sebelum Della lahir, bagaimana mungkin dia tidak emosional.


Sementara itu, di atas atap pemginapan tepat di kamar Della, Rangga telah duduk tegap sambil memandang matahari terbit sambil tersenyum lebar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Guyss🤗🤗


Beberapa bulan gk update kangen rasanya.


Mohon dimaklumi ya, menjadi mahasiswa semester akhir ternyata menghabiskan waktu luang.


Tapi Alhamdulillah bulan ini (bln Ramadhan ini) banyak waktu luangnya hingga author punya banyak waktu untuk mulai menulis lagi.


Maaf banget bagi para readers yang masih setia menunggu ni novel. Terima kasih selama ini telah mendukung atas saran dan kritiknya buat author dapat membuat author terus belajar dan belajar ke arah yang lebih baik lagi.


Maaf juga ni buat NT yang mungkin membuat jengkel karena tidak sesuai ekspektasinya.


Okeh, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang muslim dan semoga kita semua selalu sehat wal afiat