The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 17. ARAY PELINDUNG & PENGUTUK



Benua Selatan adalah benua terkecil dan terlemah di dunia ini. Luas wilayahnya semakin hari semakin kecil. Bukan disebabkan karena pertempuran atau perebutan kekuasaan. Tapi karena wilayah ini setiap tahun selalu terkikis oleh lautan. Orang-orang di benua ini menyebut lautan itu dengan Laut Pantai Selatan. Sebuah Samudra yang sangat luas. Terdapat banyak misteri yang bahkan di seluruh benua orang-orang selalu penasaran dengan samudra ini. Beberapa ahli dari beberapa benua pernah berkerja sama mencari misteri di benua ini dan menyelam ke dalam samudra. Namun tak ada satu pun dari mereka yang kembali mesti telah beberapa tahun berlalu hingga kini. Dengan ketidak kembalinya utusan itu, Samudra Pantai Selatan kini menjadi hal tabu untuk didekati dan dipelajari, kendati masih banyak rasa penasaran yang menggantung menunggu jawaban. Luas wilayah Benua Selatan yang semakin hari semakin terkikis dikaitkan dengan Samudra Pantai Selatan. Dan memang luas Samudra Pantai Selatan setiap tahun bertambah beberapa depa. Masyarakat dilarang mendekati dan membangun pemukiman di sekitar Pesisir Pantai Selatan sejauh sepuluh Mil.


Saat ini masyarakat Benua Selatan dihebohkan dengan kejadian yang terjadi di Pantai Selatan. Kehebohan itu adalah terdengarnya letusan dan ledakan keras beberapa kali dari Pantai Selatan. Beberapa masyarakat yang mendengar itu secara tidak sengaja sedang mencari peruntungan di pantai dan melanggar larangan mendekati pantai. Masyarakat ini adalah komunitas nelayan miskin yang tidak dapat dijangkau oleh pemerintah Kerajaan. Mereka telah beberapa kali mencari ikan di sekitar pantai yang sangat luas itu dan mereka tidak menemukan kejanggalan atau keanehan seperti yang ditakutkan.


Namun hari ini ketika sekitar tiga orang nelayan sedang menangkap ikan, mereka dikejutkan dengan suara ledakan disusul pasir yang membubung tinggi ke atas. Para nelayan ini hanya samar-samar mendengar ledakan, namun mereka dapat melihat dengan jelas pasir yang membubung ke atas berhamburan nun jauh dari tempat mereka berdiri di ujung pantai selatan. Ketiga nelayan itu hampir dibuat jantungan ketika dari pasir keluar dua titik hitam dan melayang-layang di atas pantai. Mereka juga dapat melihat, pasir yang awalnya berhamburan itu sedikit demi sedikit kembali dan bersatu jatuh ke bawah bersama. Mereka memperhatikan dua titik hitam dari tempat mereka berdiri, namun mereka tidak bisa memastikan apa titik hitam itu. Belum habis keterjutan ketiga nelayan itu, kini mereka dikejutkan lagi dengan ledakan keras yang dapat mereka dengar. Disusul ledakan itu, sebuah gelombang ombak raksasa terbentuk setinggi seratus meter dan lebarnya hingga ke tempat ketiga nelayan itu berdiri.


Mereka segera berlari menjauh. Namun gelombang raksasa itu dengan cepat mendekati mereka. Dan ketika gelombang itu hampir mengenai mereka yang telah putus asa, tiba-tiba saja gelombang itu luluh jatuh mengenai mereka yang langsung basah kuyup. Ketiga nelayan itu menoleh ke arah dua titik hitam dan ingin mengetahui apa yang mereka lakukan. Mereka dapat melihat titik hitam itu bertambah satu, entah datang dari mana, pikir mereka. Ketiga nelayan itu lebih dikejutkan lagi ketika tiga titik hitam itu bergerak cepat ke arah mereka. Hanya dengan dua kedipan mata mereka dapat melihat dua orang laki-laki dan satu perempuan berdiri tepat di depan mereka sejauh sepuluh meter.


Ketiga nelayan yang kaget itu terjatuh ke belakang dan mengaduh.


"Paman.. Paman tidak apa-apa?" Ketiga orang bertopeng itu mendekati nelayan. Dengan takut-takut dan setengah bergetar mereka berdiri dan mencoba tersenyum yang kelihatan malah ketakutan.


"ka...mi..... tidak ap..pa... Si...siapa kah ka..lian anak...mu..da?" Jawab seorang nelayan yang lebih tua dengan terbata-bata.


"Oh.. Kami pengelana yang kebetulan sedang dalam tugas. Nama saya Xiao Long, ini saudara saya Xio Ying dan ini saudari saya Xiao Yang. Kami kebetulan lewat sini dan melihat paman bertiga." Jawab Xio Long ramah.


"Tenang saja paman, kami bukan orang jahat dan ada sesuatu yang harus kami bicarakan dengan paman." Xiao Yang yang bisa membaca pikiran ketiga orang yang ketakutan itu mencoba menenangkan mereka.


"Dimanakah kita bisa berbicara Paman. Ini sesuatu yang sangat penting?" Xiao Ying yang sejak awal diam kini bertanya lembut. Dia tahu bahwa ketakutan ketiga orang tua di depannya ini karena jubah hitam yang dia kenakan. Lalu dengan cepat, Xiao Ying mengubah jubahnya menjadi warna putih menenangkan. Jubah yang dikenakan Xiao Ying bukan jubah sembarangan. Tapi jubah hasil segel penciptaan yang dimilikinya. Dia mendapatkan segel penciptaan dari Tang Xiao. Walaupun hanya sedikit yang baru dipelajarinya, namun hasilnya luar biasa. Dia hanya bisa mempelajari segel penciptaan jika dibimbing Tang Xiao.


Ketiga nelayan tua itu terbelalak hampir keluar matanya. Jelas-jelas mereka melihat Xiao Ying tidak membawa apa-apa dan tiba-tiba saja berubah warna jubahnya. Mereka bengong sesaat.


"Ehem... Bagaimana paman?" Tanya Xiao Long membuyarkan lamunan mereka


"Eh.... Ehem... I...iya... Tuan mari kita pergi ke rumah saya." Jawab nelayan yang paling tua. Dia bersama ketiga temannya hendak beres-beres barang mereka yang sempat tertinggal karena gelombang raksasa tadi. Namun mereka sangat terkejut ketika Xiao Long menyerahkan barang-barang mereka yang sudah tertata rapi di dalam kotak kayu. 'Sejak kapan laki-laki bertopeng ini membereskannya' gumam mereka.


"Oh terima kasih Tuan. Mari. Eh... " Laki-laki yang paling tua itu kembali terkejut ketika hendak mengambil barangnya yang seketika lenyap dari depan mereka. Kedua orang tua lainnya pun tak kalah kaget.


" Paman sekalian tenang aja. Barang-barang paman telah saya amankan dan tidak hilang. Akan saya berikan jika sudah sampai ke rumah paman." Ucap Xiao Long menenangkan orang tua itu.


"Ya sudah mari Tuan sekalian ikut saya." Orang yang lebih tua itu berjalan duluan. "Oh iya tuan nama saya Jie Kang, teman saya yang rambut panjang ini namanya Kang Hui, yang satu lagi namanya Hui Wun. Kami nelayan yang tinggal di pesisir tak jauh dari sini" Jie Kang memulai percakapan ramah.


Lalu mereka berjalan sambil menceritakan keadaan sekitar pesisir pantai.


"Banyak desa-desa yang kehilangan keluarga. Entah itu Anak, istri, ayah, ibu mereka. Padahal desa-desa itu jauh dari pantai ini. Sedangkan desa kami yang dekat tidak ada yang merasa kehilangan keluarga. Desa kami juga terasa aman. Gk pernah kemasukan pencuri atau perampok." Terang Jie Kang.


Xiao Long, Xiao Yang dan Xiao Ying merasa sedikit heran. Mereka jadi bertanya-tanya ada apa di desa itu sehingga aliran hitam tidak masuk. Mereka berenam terus berjalan ke utara. Sekitar satu jam berjalan kaki akhirnya mereka sampai di desa itu. Kini rasa penasaran Xiao Long, Xiao Yang dan Xiao Ying terjawab. Desa itu terpasang aray formasi pelindung dan pengutuk. Aray pelindung berfungsi menyamarkan desa dari penglihatan orang yang berniat jahat. Sedangkan aray pengutuk berfungsi mengutuk orang yang berniat jahat yang berhasil menemukan desa itu.


Mereka bertiga menjadi penasaran siapa ahli formasi yang memasang aray tersebut. Namun kelihatan jelas di mata mereka bertiga aray itu sudah mulai rapuh. Beberapa tahun lagi mungkin aray itu akan hilang. Diam-diam, Xiao Long memasang aray serupa namun lebih kuat dan dan lebih mengerikan kutukan yang ada di dalamnya. Bahkan orang-orang yang ada di dalam desa yang berniat jahat terhadap penduduk akan terkena kutukan itu. Aray itu akan bertahan selama tidak ada bencana alam yang dapat melenyapkan desa tersebut.


Mereka berenam memasuki desa itu. Beberapa penduduk menatap heran ada tiga orang bertopeng bersama beberapa orang tua. Beberapa penduduk menyapa tiga orang tua sambil menundukan kepala. Ternyata mereka bertiga adalah pemangku adat desa tersebut.


Xiao Long, Xiao Yang dan Xiao Ying memperhatikan desa itu. Tidak ada hal aneh di mata mereka. Rumah-rumah penduduk tampak sederhana. Dinding dan lantai terbuat dari kayu, atap dari anyaman daun rumbia. Berbentuk kotak-kotak persegi panjang ukuran 7x6 meter. Sangat sederhana untuk sebuah rumah namun cukup untuk sebuah keluarga kecil. Desa yang cukup luas, dikeliling pagar alami yaitu pohon bakau yang cukup rapat menutupi desa itu dari pandangan luar. Mereka berenam berhenti di sebuah bangunan yang lumayan besar. Lebih besar dari rata-rata rumah penduduk. Di depan rumah itu tertulis 'BALAI DESA ANGIN LAUT'.


"Mari tuan silahkan masuk. Ini rumah kami bertiga. Kami bersama keluarga tinggal di sini. Di sini juga segala urusan dan keperluan desa dimusyawarahkan." Jie Kang membuka pintu rumah yang langsung disambut beberapa anak kecil berumur sekitar lima atau enam tahunan.


"Ayah sudah pulang hore. Kita bisa makan ika.....n" Seorang anak laki-laki terhenti berbicara ketika melihat tiga orang bertopeng berdiri di belakang ayah mereka. Beberapa anak itu segera mundur dan namun tidak berlari. Anak-anak itu hanya kaget namun tidak takut.


"Mari tuan silahkan masuk. Maaf rumah kami cukup sederhana." Jie Kang mempersilahkan duduk ketiga tamunya. Dia dapat mengetahui ketiga orang ini termasuk bangsawan melihat pakaian mereka yang sangat mewah. Bahkan lebih mewah dari yang pernah mereka lihat.


"Terima kasih paman. Ini sudah cukup untuk kita berbicara." Xiao Long, Xiao Yang dan Xiao Ying duduk di kursi kayu dekat jendela. Di depan mereka meja bundar yang cukul besar. Ketiga nelayan tua juga ikut duduk di depan mereka. Anak-anak yang tadi langsung lari ke dalam kamar. Mereka sudah terbiasa kedatangan tamu setiap hari. Jadi anak-anak itu sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan.


"Begini paman..... Ada beberapa hal yang harus kami ceritakan. Tapi kami harap paman tidak bertanya banyak hal selain yang kami jelaskan." Xiao Long berbicara lembut namun tegas membuat ketiga nelayan itu menelan ludah.


Ketiga nelayan tua itu sangat terkejut mendengar cerita itu. Mereka terdiam cukup lama, mencoba memahami apa yang telah mereka dengar.


"Tuan.... Bisakah kami melihat tawanan yang tuan maksud?" Hui Wan berbicara dengan nada sedikit ketakutan setelah mendengar cerita itu. Yang jelas, ketiga orang bertopeng itu bukan manusia sembarangan menurutnya jangan sampai memprovokasi ketiga manusia misterius ini.


Xiao Long, Xiao Yang dan Xiao Ying segera berdiri dan langsung diikuti ketiga nelayan itu.


"Paman, sebaiknya kita singkirkan dulu meja serta kursi-kursi ini." Ucap Xiao Long sambil melambaikan tangan dan seketika tempat itu menjadi kosong mlompong.. Ketiga nelayan itu tidak dapat menyembunyikan kekagetan mereka. Walaupun mereka pernah melihat kejadian serupa di pantai, namun mereka tidak terbiasa. Ketiga nelayan itu hanya diam saja. Mereka percaya penuh terhadap tamunya ini.


Dengan cepat, Xiao Long membentuk segel tangan dan melambaikan tangannya ke depan. Seketika muncul puluhan orang secara tiba-tiba entah dari mana. Puluhan orang itu dalam keadaan memprihatinkan dengan kondisi badan yang kurus namun mengenakan baju-baju yang sangat bagus. Walaupun begitu masih terlihat ketakutan di wajah mereka. Melihat orang-orang yang ada di depan mereka, puluhan orang itu sedikit tenang dan lega. Sedangkan para nelayan itu terkaget-kaget. Entah yang keberapa kali hari ini mereka dibuat kaget oleh tiga orang tamunya ini. Sesaat susana menjadi hening tak ada yang berbicara. Para nelayan dan para tawanan masih mencerna apa yang terjadi.


"Paman nelayan, ini lah orang-orang yang saya ceritakan. Kita harus segera memulangkan mereka ke keluarga mereka." Xiao Long memecah keheningan itu. Jie Kang mendatangi para tawanan.


"Tuan-tuan sekalian apakah sudah makan?" Dia memulai percakapan. Melihat puluhan orang kurus itu dia menjadi prihati dan akan segera menyiapkan makan yang cukup untuk puluhan orang itu. Puluhan tawanan itu mengangguk dan mengeluarkan beberapa potong roti dan daging dari saku pakaian mereka. Jie Kang mengerutkan dahi sesaat lalu segera menoleh ke arah Xiao Long yang sedang menatap ramah padanya.


'Hufffttt.... Sudah berapa kali aku dibuat takjub oleh orang-orang ini. Untung aja mereka orang baik.' Gumam Jie Kang sambil menghembus nafas pelan. Kemudian Ketiga nelayan mengumpulkan seluruh masyarakat san menceritakan semua apa yang terjadi. Para masyarakat begitu antusias dan bersuka cita. Lalu tanpa menunggu lama, masyarakat segera menuntun puluhan tawanan itu ke desa mereka masing-masing. Puluhan tawanan itu menangis bahagia begitu mereka sampai ke rumah masing-masing dan mengucapkan rasa terima kasih tiada terhingga.


Xiao Long, Xiao Yang dan Xiao Ying kembali ke rumah tiga nelayan tua tadi. Xiao Long mengeluarkan semua barang-barang milik ketiga nelayan itu. Dan tidak lupa mereka mengeluarkan beberapa peti harta yang cukup besar dan menyuruh tiga nelayan itu membagi ke seluruh warga sesuai kebutuhan masing-masing. Ketiga nelayan dan keluarga mereka yang sedang berkumpul hanya bisa geleng-geleng kepala. Satu peti harta saja sudah mampu menghidupi seluruh warga sampai puluhan tahun apa lagi dengan lima peti harta. Anak-anak kecil mereka bersuka cita dan memeluk Xiao Long, Xiao Yang dan Xiao Ying erat.


"Paman, bibi terima kasih banyak. Akhirnya kita bisa menempuh pendidikan di beberapa sekte aliran putih seperti anak-anak yang lain." Anak-anak kecil itu sudah menganggap para tamu mereka sebagai keluarga sendiri walaupun sebenarnya sangat tidak pantas.


"Ya sama-sama nak. Kita memang harus saling menolong. Paman harap ketika kalian telah dewasa dan kuat, akan menjadi penolong bagi semua orang. Nah mulai sekarang kalian harus berusaha menjadi kuat dan menumpas kejahatan dan ketidak adilan di dunia ini. Bagaimana kalian siap?" Xiao Ying berbicara lembut menasihati anak-anak itu sambil mengelus kepala mereka.


"Tentu saja Paman kami siap. Kami akan selalu mengingat kebaikan paman dan bibi semua." Ucap anak-anak itu semangat berapi-api. Terlihat dari mata mereka pancaran kegigihan dan ketulusan yang dalam. Memang, seseorang akan mengikuti apa yang selama ini dipercayainya. Maka dari itu, menanamkan kebaikan sejak usia dini adalah hal terbaik untuk masa depan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


#HIDUP


Lihatlah dunia....


Adakah mereka yang benar-benar memiliknya


Hari ini hidup besok mati


Hari ini sehat besok sakit


Dunia tak pernah dimiliki manusia


Manusia mati meninggalkan cerita


Ukirlah cerita sebelum kau binasa


Dimakan belatung dan cacing tanah


Agar orang tau bahwa kau pernah ada


BY: El-Khan


Kendal, 27 Nov 2020


Jangan lupa krisannya ya sluurr...