
UNIVERSE YANG SANGAT JAUH DALAM DIMENSI IMMORTAL
WARNING : ALUR CERITA UNTUK ORANG DEWASA 18+
Di sebuah tempat yang mana diselimuti kegelapan tiada akhir di ujung salah satu Dimensi Immortal, jutaan dan mungkin puluhan juta makhluk hitam bersayap sedang berkumpul dalam keadaan ketakutan. Pasalnya saat ini pemimpin tertinggi dari makhluk itu sedang memarahi para anggotanya dan beberapa dari mereka menemui kematian di tangan pemimpin mereka sendiri disaat tidak memberikan jawaban yang memuaskan.
"Sudah aku katakan, seharusnya beberapa jenderal selalu bersama. Kita tidak tahu musuh seperti apa yang menjaga kotak itu. Huhh.." Dengus kesal pemimpin para makhluk hitam itu. Dia berjalan menuju altar pemujaan, di tengah altar itu terdapat semacam tembok setinggi tiga tiga meter dan lebar lima meter berwarna hitam legam serta mengeluarkan asap pekat hitam. Di tembok itu telah tertanam dua kotak pandora yang sediikit demi sedikit mengeluarkan asap hitam dan menyatu dengan tembok. Sepertinya tembok itu mampu mengekstrak kekuatan yang ada dalam Kotak Pandora.
Pemimpin para makhluk hitam itu sedikit tersenyum melihat kotak Pandora yang mulai bereaksi. Itu menandakan bahwa kotak itu telah mulai mengikuti kehendak mereka yang mana sebelumnya mereka harus mengeluarkan seluruh kekuatan mereka yang berjumlah ratusan juta makhluk itu untuk menundukkan dua kotak pandora itu. Merupakan sebuah pertaruhan yang setimpal.
"Hemm.. Masih kurang.. Masih kurang.." Gumam sosok hitam itu.
Tak lama kemudian sesosok makhluk hitam lagi datang dan menghampiri pemimpin para makkhluk hitam itu. Sosok hitam yang baru muncul itu berjenis kelamin wanita yang terlihat dari dadanya yang sebesar buah semangka jumbo serta bodi tubuhnya yang berbentuk Saxsofon serta pakaiannya yang sangat seksi menggoda, namun bagi ras manusia hal itu terlihat menjijikkan. Sosok hitam yang muncul itu segera merangkul makhluk hitam yang lain. Sepertinya mereka sepasang kekasih.
"Sayang..., Bagaimana perkembangannya." Ucap sosok makhluk yang baru datang itu sambil melingkarkan kedua tangannya di leher kekasihnya.
"Rozoun sayang tenang saja. Aku akan memberikan apa yang kamu mau" Jawab kekasihnya sambil memegangi buah dada Rozoun yang sebesar semangka jumbo itu.
"Ahhhhh..." Desah Rozoun karena terangsang.
"Sayang, kita dilihatin anak buah kita..." Ucap Rozoun sambil menghentikan kedua tangan kekasihnya yang semakin gencar meremas buah dadanya.
Sosok hitam berjenis kelamin pria itu menatap anak buahnya yang duduk rapi sejauh mata memandang yang juga sedang memperhatikan mereka.
"Huuffhh.." Sosok hitam itu mendengus kesal sambil membuang mukanya ke atas. Lalu sosok hitam itu bangkit dari duduknya dan berdiri sambil menatap lekat kotak Pandora yang sedikit demi sedikit mengecil.
Tanpa disadarinya, di belakang sosok pria hitam hitam, Rozoun mengeluarkan keempat tangannya. Tiga dari empat tangan Rozoun memegang tiga belati lalu menusuk tubuh sosok pria hitam itu.
Jleebb.. Jleebb.. Jleebb..
Aghh... Uhukk...
Semua itu terjadi begitu cepat sehingga pria hitam itu tidak dapat breaksi. Pria hitam itu terduduk berlutut di lantai altar pemujaan bersimbah darah.
"Bajingann.... Uhukk.. Perempuan biadab... Uhuk..." Umpat pria hitam itu sambil memegangi dua jantungnya yang tertusuk pisau serta ulu hatinya yang juga tertusuk pisau. Ketiga pisau itu memiliki warna yang berbeda. Pisau berwarna hitam legam, menusuk jantung sebelah kanan. Pisau warna putih bersih menusuk jantung sebelah kiri. Serta pisau yang terakhir berwana Merah menuusuk ulu hati.
Pria hitam itu menatap wanita di depannya yang kini tersenyum bangga dengan tatapan tidak percaya.
Dia mencoba mengangkat tangannya mencoba memberi perintah kepada anak buahnya yang duduk di belakangnya agar menyerang wanita bernama Rozoun ini. Namun tidak ada respon sama sekali dari para anak buahnya itu.
"Kukuku... Zontour ku sayang.... Kamu terlalu bodoh.." Ucap wanita hitam itu sambil membelai wajah Zontour dan memandang Zontour dengan tatapan menghinakan.
"Dari awal, pasukan kita telah memihak padaku, apa kamu lupa... Kukuku..."
Jleebbb...
Lagi, wanita itu menusukkan sebuah pisau tepat di pusar Zontour. Darah hitam kembali mengalir deras dan sebagian mengenai wajah Rozoun. Perempuan hitam itu menjilati darah yang menempel di sekitar bibirnya. Terlihat sangat mengirakan karena perempuan itu memiliki lidah bercabang tiga dan panjang sekitar sepuluh senti.
"Kenapa.... Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Zontour di sela-sela perihnya sakit yang dirasakan. Bukan karena empat pisau yang belati yang menusuk tubuhnya tapi karena perbuatan wanita yang paling dicintainya. Bahkan dia rela meninggalkan ibunya dulu hanya karena wanita ini.
"Kenapa... Hahaha... Sejak awal aku hanya menjadikanmu budakku sambil mencari kelemahanmu. Setelah kerja kerasku selama ini hasilnya akhirnya berbayar. Haha" Tawa Rozoun membahana dan melengking.
"Dasar wanita jahnnam." Umpat Zontour lantang sambil menatap Rozoun penuh kebencian. Wanita itu berbalik menatap Zontour yang sedang sekarat lalu berbisik pelan.
"Sebenarnya alasannya sangat sederhana sayang. Kamu tidak bisa memuaskan aku sama sekali di atas ranjang." Rozoun tersenyum nakal. Zontour terbelalak mendengar penuturan jujur Rozoun. Tanpa melihat reaksi Zontour, wanita itu berdiri dan menyeret Zontour ke dekat Tembok pemujaan yang sudah ada Kotak Pandora.
"Lihat ini. Dengan darahmu, aku akan membangkitkan pasukan yang jauh lebih kuat." Ucap Rozoun kembali menancapkan dua buah belati di bawah dada Zontour sehingga darah yang muncrat mengenai tembok pemujaan.
Rozoun melumuri tembok pemujaan dengan darah Zontour. Lalu Rozoun mengiris telapak tangannya dan menemplekan di tembok tersebut. Setelah itu Rozoun membentuk segel tangan yang rumit sambil mulutnya berkomat kami membaca mantra. Terlihat dahinya mulai berkeringat. Sementara itu Zontour menatap dengan wajah pucat karena kehabisan darah. Matanya sudah mulai mengabur namun dia memaksakan dirinya untuk tetap kuat. Dia tidak ingun tumbang di hadapan wanita yang sangat dibencinya itu.
"HIIIAAATTT...." Rozoun berteriak kencang sambil mengangkat kedua tangannya yang disusul sebuah cahaya hitam yang keluar dari tembok pemujaan. Cahaya hitam itu menembus langit yang berwarna hitam juga.
Wuungggg...
Dari portal itu muncul puluhan juta makhluk hitam bersayap dengan kekuatan yang sangat mengerikan. Yang terendah dari para makhluk hitam bersayap itu saja sama kuatnya dengan Zontour ketika masih berada pada puncak kekuatannya. Kini jumlah mereka sekitar puluhan juta. Bahkan para makhluk hitam yang sedang duduk di bawah merasa kematian akan menjemput mereka hanya karena aura kehadiran para makhluk hitam yang baru saja keluar.
Meskipun mereka terlihat sama dan dari suku yang sama, namun kasta para makhluk hitam yang baru saja muncul adalah keturunan garis murni dan asli. Sedangkan para makhluk hitam tang sudah ada itu adalah keturunan garis darah campuran.
Sesosok makhluk hitam yang terlihat lebih elegan dan sangat gagah turun dan menghampiri Rozoun. Sosok hitam itu tersenyum nakal.
"Sayang..." Rozoun berlari dan memeluk makhluk hitam itu dengan erat.
Makhluk hitam itu juga segera memeluk Rozoun erat. Rozoun yang sudah tidak sabaran itu segera mencium bibir makhluk hitam itu yang langsung dibalas dengan ganas. Kedua makhluk hitam itu semakin intens dalam berciuman dan juga tangan Rozoun mulai menyentuh bagian bawah makhlum hitam itu.
Makhluk hitam itu tidak peduli, dia juga segera meremas payudara Rozoun.
Namun sesaat kemudian makhluk hitam itu melepakan ciumannya.
"Di sini banyak orang sayang..." Ucap makhluk hitam itu sambil memperhatikan sekitarnya.
"Aku tidak peduli sayang." Balas Rozoun cepat. Dia lalu memandang Zontour yang menatapnya nanar dan penuh kebencian.
"Aku ingin menunjukan kepada idiot itu bagaimana seharusnya menjadi pria." Ucap Rozoun lagi.
Sementara itu para makhluk hitam yang lain yang mengerti suasana, segera meninggalkan tempat pemujaan sehingga benar-benar sepi dan hanya meninggalkan Zontour seorang sambil menatap dua pasang kekasih yang dimabuk birahi.
Setelah tongkat super makhluk hitam itu berdiri tegak dengan sempurna, Rozoun segera melepas pakaian sosok hitam itu. Sosok hitam itu juga tidak diam saja. Dia segera melepas pakaian Rozoun dan memainkan jarinya di lembah berumput milik Rozoun.
Setelah beberapa jam berlalu, kedua makhluk hitam itu selesai dari ritual surgawinya dan terkapar bersama di lantai altar pemujaan namun dengan tongkat keperkasaan makhluk hitam itu masih berada di dalam lembah surga Rozoun. Keringat kedua orang itu mengalir deras. Dan dapat dilihat, caran berwarna hitam kental menggenang di sekitar mereka. Itu adalah cairan ereksi.
"Sayang... Kita mandi dulu ya.. Setelah itu lanjut lagi. Aku masih belum puas." Ucap Rozoun pelan sambil mengulum bibir Kekasihnya itu. Makhluk hitam itu tersenyum lebar.
"Tentu saja sayang. Aku juga merasa belum puas." Ucap makhluk hitam itu bangkit lalu tanpa sengaja melihat Zontour yang sudah tergeletak tak bernyawa.
"Pasti dia mati karena tidak sanggup melihat tongkatmu sayang..." Ucap Rozoun sambil memainkan tongkat hitam makhlul hitam itu.
"Memangnya ukurannya berapa?" Tanya Makhlum hitam itu penasaran.
"Hanya tiga puluh lima senti sayang. Separuh dari tongkat mu." Jawab Rozoun tanpa melihat ke arah Zontour.
Wusshh..
Tak lama kemudian, kedua makhluk itu menghilang dari altar dan meninggalkan tubuh Zontour yang sedikit demi sedikit terhisap ke dalam tembok pemujaan bersamaan dengan kotak Pandora.
Namun ada satu hal yang tidak disadari oleh kedua makhluk hitam yang bercinta tadi, bahwa Zontour belum sepenuhnya mati. Lebih tepatnya jiwanya masih ada dan sedang tersedot kedalam sebuah lubang hitam kecil yang kemudian lubang hitam kecil itu menghilang dari altar pemujaan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Guyss...🤗🤗
Tadi malam tidak bisa upload karena ada latihan diba'an sampai malam larut banget.
Jadi bisa upload pagi ini.
So jangan lupa komennya ya...
#Sesekali buat alur yang macam ini biar tidak terlalu kaku ceritanya.
Tapi kalo tidak suka silahkan katakan dan kedepannya akan dibuat cerita yang tidak ada adegan seperti itu lagi.
Tapi yang jelas ini novel bukan 18+ ya, jadi jgn harap sering muncul cerita adegan seperti di atas wkwk
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...