The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 10. ROH TERKUTUK



DUNIA JIWA


Xiao Long yang sedang bermeditasi di puncak gunung bersalju, tiba-tiba mendapat pesan dari Tang Xiao.


"Xiao Long, keluar dari sini dan sedikit bersenang-senanglah. Aku memberimu sedikit tugas melakukan interogasi ke sepuluh orang yang tak jauh dari tempat ku ini. Lakukan apapun pada mereka tapi jangan sampai membunuh mereka." Tiba-tiba keluar portal di hadapan Xiao Long. Dia tersenyum lebar. Akhirnya dia bisa sedikit menghilangkan kebosanannya di dalam dunia jiwa.


"Baik Tuan, dengan senang hati". Xiao Long pun menghilangkan aura Kultivasinya. Karena jika dia keluar dari dunia jiwa ini dengan tingkatnya yang sekarang, tentu akan menghancurkan dunia ini menjadi debu. Dengan perasaan senang dia melangkah ke arah portal itu.


...__________________...


Sepuluh orang bertopeng tengah berdiri santuy di atas pohon yang cukup besar dan rindang. Kesepuluh orang itu sedang memperhatikan dua pria paruh baya melawan lima orang perempuan muda yang cantik-cantik dari jarak yang cukup jauh. Wajah dibalik topeng sepuluh orang itu terlihat sangat senang. Lagi asyiknya mereka menikmati pertarungan itu, tiba-tiba sebuah teriakan memekakkan telinga mengejutkan mereka. Sekitar dua orang dari sepuluh orang bertopeng itu, pingsan dan jatuh ke bawah menimbulkan suara berdebam yang cukup keras. Sedangkan beberapa orang lagi, keluar sedikit darah dari lubang telinganya. Padahal jarak mereka cukup jauh dari pertarungan tadi. Beberapa orang dari pria bertopeng mengumpat keras.


Teriakan itu menghentikan pertikaian yang sedang mereka tonton. Namun agak sedikit janggal. Teriakan itu tidak berfek apapun pada orang-orang yang bertarung tadi. Padahal sepuluh orang bertopeng itu terkena dampak yang cukup serius. Jantung mereka seakan terhenti, ketika mereka melihat seorang bertopeng dengan rambut biru panjang tergerai ke belakang, sedang menatap mereka dari tempatnya berdiri.


Dengan segera mereka turun dari pohon itu dan menggendong dua orang teman mereka yang sedang pingsan. Mereka tahu bahwa mereka telah ketahuan, dan mereka juga baru sadar bahwa teriakan keras tadi adalah peringatan khusus ke mereka agar segera pergi dari sini. Yang jelas pria bertopeng tadi bukanlah seorang yang mampu mereka lawan sama sekali. Namun alangkah malangnya nasib mereka saat hendak pergi, tiba-tiba satu suara mengejutkan mereka.


"Kenapa terburu-buru pergi? Temani aku sedikit bermain-main. Tuan telah mengizinkan aku bermain-main dengan kalian." Ucap laki-laki tersebut. Kedelapan orang bertopeng itu melihat ke pohon yang tadi mereka gunakan untuk berdiri. Seorang Pemuda tampan memakai jubah emas dengan ukiran naga yang meliuk-liuk seakan hidup sedang menyeringai ke arah mereka. Tubuh mereka bergetar hebat, bahkan sebagian mereka terjutuh duduk berlutut begitu melihat seringaian mengerikan ke arah mereka dan tatapan tajam menusuk hati membuat mereka menelan ludah.


"Tttuaan Muda, maaf, apakah anda mengenal kami.?" Ucap seorang pria paruh baya terbata-bata begitu merasakan aura pembunuh yang keluar begitu pekat. Aura itu hanya diarahkan ke sepuluh pria bertopeng ini, hingga orang-orang disekitar mereka tidak merasakannya.


"Sebenarnya aku tidak mengenal kalian. Tapi Tuan ku mengenal kalian." Jawab Xiao Long santai.


"Tu.. Tuan siapakah yang anda maksud? Dan apakah kami mengenalnya?" Tanya lagi pria paruh baya itu. Saat ini hanya dia yang masih mampu menguasai dirinya, sedangkan rekannya yang lain masih bergetar tubuh mereka.


"Tuanku adalah pria bertopeng yang tadi muncul di sebelah sana" Tang Xiao menunjuk ke arah tempat pertarungan tadi. Yang mereka lihat tampak sedang mengobati seorang gadis yang tak sadarkan diri. Kali ini pria paruh baya itu betul-betul dia buat bergetar hebat saat dia melihat, pria bertopeng itu sedang memandang mereka walaupun mereka sudah menyembunyikan hawa keberadaan mereka.


"Aammppunn Tuan, ampun... Kami tau kami salah, tolong jangan bunuh kami. Apapun akan kami berikan yang penting nyawa kami diampuni" Ucap kedelapan orang itu sambil bersujud ketakutan. Bahkan diantara mereka ada yang sudah ngompol dicelana.


"Oh begitukah?"


"Benar Tuan, apa saja yang penting nyawa kami selamat."


"Baiklah... Aku butuh informasi kalian. Dan satu lagi temani aku bermain sebentar."


Klikk... Xiao Long menjentikkan jarinya. Kesepuluh orang bertopeng dan Xiao Long lenyap dari tempat itu. Mereka tiba di dunia jiwa Tang Xiao.


...----------------...


Tang Xiao yang berada di dekat tembok kota segera berbaur bersama beberapa penduduk yang sedang mengantri di depan gerbang. Kehadirannya disitu menarik perhatian orang-orang sekitar. Tang Xiao tak mempedulikan mereka. Yang dia pikir saat ini adalah keselamatan Pangeran Mahkota.


"Berhenti Tuan..... Jika anda hendak memasuki kota, anda harus membayar terlebih dahulu. Saya yakin anda bukanlah penduduk kota ini maupun daerah sekitar sini ya kan" Seorang prajurit penjaga gerbang menghentikan Tang Xiao dan berbicara cukup ramah.


"Maaf prajurit, benar saya bukan orang sini. Berapakah yang harus saya bayar agar bisa memasukinya."


"Anda cukup membayar dua perak saja Tuan."


"Baiklah prajurit, ini" Tang Xiao mengeluarkan satu koin emas yang cukup berat.


Prajurit yang menerima koin itu bergetar tangannya. Koin emas yang dia terima bukanlah koin biasa. Melainkan koin yang hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan saja. Koin emas ini setara dengan dengan 5 keping koin emas biasa.


"Tuan.... Ini..." Prajurit itu kehabisan kata-kata.


"Tidak masalah ambil saja kembaliannya" Ucap Tang Xiao sambil berjalan memasuki kota.


"Terima kasih Tuan Muda, terima kasih banyak." Ucap prajurit itu sambil membungkukkan badanya.


Tang Xiao memasuki Ibu Kota. Dia kagum melihat bangunan-bangunan yang cukup mewah. Ini pertama kalinya memasuki kota terbesar di benua ini.


Tang Xiao melihat sekitaran. Dia mendengar semua percakapan orang-orang di sekitarnya. Dia membuka ilmu membaca pikirannya. Dia mencari informasi kerajaan berada. Tang Xiao cukup jengah ketika secara tak sengaja membaca pikiran dua orang sejoli yang sedang dimabuk asmara. Dia cepat-cepat menutup pikirannya. Untungnya dia sudah mengetahu lokasi kerajaan. Sebenarnya bisa saja dia menggunakan mata ilahinya, namun itu akan menarik perhatian lebih orang-orang yang sejak tadi memperhatikannya. Dengan langkah tergesa dia bergegas ke arah istana. Dia tidak menemukan informasi yang lebih baik mengenai keadaan Pangeran Mahkota. Informasi saat ini sama seperti yang dia dengar dari kedua Tetua Bambu Emas. Hanya saja ada informasi yang cukup menarik yang dia dengar, yaitu Patriak Sekte Bambu Emas juga datang ke Kerajaan. Dan sudah dua hari ini dia berada di Istana.


Setelah berjalan cukup lama, Tang Xiao sampai di gerbang Istana. Telah berdiri antri beberapa orang termasuk dirinya yang terakhir. Dilihat dari dari penampilan orang-orang itu, mereka kelihatan seperti seorang tabib. Mereka membawa beberapa tas kulit di punggung mereka. Mereka kelihatan tidak perduli dengan kehadiran Tang Xiao. Tang Xiao sendiri sudah berpenampilan layaknya pendekar, pendekar tersarung di pinggang. Rambutnya sudah dirubah berwarna hitam. Hanya topengnya yang tidak berubah.


"Perkenalkan diri anda dan hendak apa anda disini" Seorang prajurit di tingkat timah akhir menghentikan langkah Tang Xiao ketika hendak memasuki gerbang Istana.


"Apakah anda tau peraturan baru disini? " Tanya prajurit itu. Tang Xiao menaikkan alisnya. Dia mencoba membaca pikiran prajurit itu walau hanya sesat. Dia sedikit kaget dengan informasi baru ini. Tang Xiao menemukan bahwa setiap orang yang hendak mengikuti sayembara haruslah para pendekar dengat tingkat praktik minimal tingkat Timah awal. Karena jika orang yang mencoba mengikuti sayembara itu tidak memenuhi syarat maka bisa jadi orang itu akan gila setelah keluar dari ruangan itu. Dan telah banyak kasus seperti ini. Mereka yang gila saat ini mendapat perawatan di ruang medis Istana.


"Ya saya tahu prajurit. Ketahuilah bahwa anda tidak akan pernah mampu membaca tingkat saya. Karena saya sudah jauh melampaui anda prajurit." Ucap Tang Xiao meyakinkan.


"Jadi apakah saya boleh masuk, Prajurit?" Lanjut Tang Xiao. Prajurit itu terdiam sejenak, dia memikirkan ucapan Tang Xiao. Dia tahu bahwa seorang pendekar hebat mampu menyembunyikan tingkat mereka agar tidak membawa masalah. Namun jika orang bertopeng ini memang orang hebat, masalahnya terletak pada apakah orang ini dari Aliran Putih atau Aliran Hitam.


"Tenang saja Prajurit, saya ini dari aliran putih, tapi maaf saya tidak bisa mengatakan Sekte saya. Jadi apakah boleh saya masuk" Tanya Tang Xiao sekali lagi.


Prajurit itu terdiam lagi. Dengan beberapa pertimbangan akhirnya dia membolehkan Tang Xiao masuk.


"Oh iya prajurit, ini sebagai hadiah atas informasinya" Tang Xiao melemparkan ke arah prajurit tadi sebotol pil penambah tenaga dalam. Prajurit itu menangkap dengan rasa bahagia dan bingung. Bahagia karena mendapat pil walaupun dia belum membuka botol itu. Bingung karena pria bertopeng itu mengatakan atas informasinya. "Terima Kasih Tuan Pendekar"


Tang Xiao berjalan dengan santai. 'Istana yang cukup mewah' gumamnya dalam hati. Seorang prajurit menghantarkan Tang Xiao menuju ruangan dimana Pangeran Mahkota berada. Di depan ruangan itu telah berkumpul beberapa tabib yang ditemuinya di depan gerbang istana tadi. Tang Xiao mendekati rombongan itu dan duduk di salah satu kursi yang kosong yang paling dekat dengannya. Dia dusuk sambil memejakan mata.


"Apa kau yakin bisa menyembuhkan Pangeran Mahkota?"


"Aku pun tidak yakin, tapi apa salahnya mencoba?"


"Ya siapa tau aku bisa menyembuhkan Pangeran, maka aku bisa menjadi saudara Pangeran, berarti aku juga akan menjadi seorang Pangeran, aku juga bisa memanggil Yang Mulia Kaisar sebagai seorang Ayah."


"Tapi kalo gagal, bisa jadi kamu juga ikut gila seperti beberapa orang yang tadi lewat"


"Itu kan karena mereka dibawah tingkat Timah, sedangkan yang berada di tingkat Timah ke atas, efek gila itu tidak akan mempan"


Beberapa Tabib itu bercakap-cakap. Ketiba giliran mereka, Tabib yang jumlahnya empat orang barusan masuk bersama. Memang syrat sayembara boleh bersama kelompok maksimal anggota empat orang boleh juga sendiri.


Sekitar satu jam keempat Tabib tadi masuk, kini mereka keluar dengan muka kusut dan berjalan gontai. Terlihat harapan putus asa di wajah mereka. Tang Xiao tersenyum geli memandang mereka.


"Pendekar pengelana, silahkan berdiri" Seorang pria sepuh mendekati Tang Xiao. Tang Xiao berdiri menyambut pria sepuh itu kemudian menagkupkan tangannya ke depan dada. Terlihat sedih dan lelah di raut wajahnya. Namun dia mencoba tersenyum ke Tang Xiao.


"Tuan pengelana, saya tidak berharap banyak ke pada Tuan. Namun saya merasakan aura misterius dari tubuh anda. Semoga saya tidak salah." Ucap pria sepuh itu. Tang Xiao tidak heran dengan ucapan pria sepuh yang telah berjalan didepannya. Pria sepuh itu adalah Kaisar sebelum Kaisar saat ini. Tingkat pria sepuh itu berada pada tahap Dewa Langit Akhir. Tahap yang hanya ada dua atau tiga orang saja di benua ini.


"Terima Kasih Yang Mulia Kaisar Sepuh. Saya akan mencoba yang terbaik."


"Hei bocah, jangan memanggil ku Yang Mulia sepuh. Aku ini masih muda baru berumur 120 tahun." Balas pria sepuh yang bernama Yan Zhi itu. Yan Zhi sedikit tersenyum mendengar ucapan Tang Xiao tadi. Dia tidak menyangka akan ada orang yang memanggilnya seperti tadi. Namun anehnya dia sedikit menyukai panggilan itu. Lebih aneh lagi dia tidak bisa membaca tingkat praktik Tang Xiao. Ada beberapa hal, pertama pria bertopeng itu, lebih tinggi tingkat Kultivasinya dari Yan Zhi dan yang kedua adalah pria bertopeng itu hanya manusia biasa. Namun Yan Zhi berpikir lagi, mana mungkin manusia biasa membawa pedang dengan tingkat yang bisa dibaca Yan Zhi dan juga pria bertopeng itu mengeluarkan aura misterius yang hanya dimiliki pendekar tingkat tinggi. Hal ini cukup membuat Yan zhi sedikit sakit kepala. Namun juga ada sedikit harapan di hati Yan Zhi terhadap pria bertopeng itu.


"Eh... Iya... Iya Kaisar Sepuh, eh salah.... Paman Kaisar... Hehehe" Ucap Tang Xiao sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Mereka berdua tiba di depan pintu kamar yang dibuka langsung oleh Yan Zhi lalu berjalan memasukinya.


Orang-orang di dalam kamar cukup kaget melihat seorang pria bertopeng. Selama ini mereka tidak pernah bertemu dengan orang yang mengobati Pangeran yang memakai topeng. Ada secercah harapan di hadapan semua orang yang berada disitu ketika mereka tidak mengetahui tingkat Tang Xiao.


Tang Xiao memperhatikan orang-orang di ruangan itu. Terlihat tiga orang pria sepuh dengan tingkat Dewa Bumi. Kaisar Yan yang duduk dekat kasur menatap kosong ke arah Tang Xiao. Seorang lagi laki-laki yang dukuk di samping cukup membuat Tang Xiao kaget. Laki-laki itu juga menatap Tang Xiao tajam dan penuh selidik. Tang Xiao sangat bahagia melihat laki-laki yang tak lain adalah ayahnya kini berada pada tingkat Dewa Bumi tahap awal sama seperti Kaisar Yan. Seorang lagi adalah wanita yang duduk memangku kepala Pangeran yang tidur tak sadar. Keadaan Pangeran begitu memprihatinkan. Kulitnya sedikit gosong, tubuhnya sangat kurus seperti orang tidak makan bertahun-tahun. Nafasnya satu-satu dan terputus-putus.


"Salam Yang Mulia Kaisar, Salam Yang Mulia Permaisuri, Salam senior, Salam Sesepuh semua." Tang Xiao menyapa satu-satu orang yang di dalam kamar itu. Mereka semua mengangguk lemah, namun ada seorang yang mengerutkan dahi mendengar ucapan Tang Xiao itu. Tang Xiao yang mengetahui reaksi ayahnya itu berkeringat dingin. Dia cepat-cepat berjalan ke arah Pangeran.


Tang Xiao duduk di dekat Pangeran dan mulai memeriksa nadinya. Walaupun lemah namun dia merasakan aura kehidupan yang kuat. Sepertinya Pangeran mencoba bertahan dari sakitnya ini. Tang Xiao tersenyum lebar, 'Ah... Hari ini bakal dapat satu peliharaan lagi ni' Gumam Tang Xiao dalam hati senang. Kemudian dengan cepat Tang Xiao menotok beberapa titik di bagian leher Pangeran. Sesaat setelah ditotok, tiba Pangeran tertawa panjang......


'Hahahahaha.......


Ternyata ada juga manusia yang mengetahui keberadaan ku. Sepertinya kamu cukup hebat anak muda. Hahahaha....' Tawa pangeran itu membuat jantung semua orang yang ada disitu hampir copot. Tawa serta ucapan Pangeran tadi jelas bukan suaranya. Melainkan ada sesuatu yang tertawa dari dalam tubuh Pangeran. Suara itu suara seorang wanita muda yang menyeramkan dan suara itu sedikit bergema yang membuat kuping sedikit sakit. Semua orang menjauh dari Pangeran dan Tang Xiao yang sedang berdiri berhadap-hadapan.


"Heh.... Hanya roh terkutuk hina berani berlagak di depanku" Ucap Tang Xiao sinis.


"Hahaha..... Anak muda kamu begitu sombong..... Karena kamu mengetahui ku, maka aku akan mengambil alih tubuh yang cukup berotot itu. Sekarang rasakan ini...." Pangeran melompat ke arah Tang Xiao sambil mengarahkan pukulan ke arah wajah Tang Xiao. Belum sempat pukulan itu mengenai ke wajah Tang Xiao, tubuh pangeran yang melayang itu terhenti seketika.


"Hahahaha...... Apa hanya ini kekuatanmu..... Aku bahkan tidak mengeluarkan dua persen kekuatan ku, tapi kamu sudah tak bisa bergerak.... Menyebalkan, ku kira kamu cukup kuat." Ucap Tang Xiao sinis sambil mengitari Tubuh Pangeran yang sedang melayang itu dengan posisi tangan kanan ke depan hendak menonjok sesuatu.


"Aa... Aaammpuunnnn Tuan... Aaa.. Aammppuun... To..long jangan mem...bunuh saya... Hiks... Hiks....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...