
Whoosshh..
Kkhhaaakkk...
Angin yang sangat besar berhembus kencang. Sekelompok orang Bandit Gunung ketakutan melihat kemunculan sosok yang paling menakutkan di benua ini. Sosok yang telah membunuh puluhan Kultivator ranah Saint-Expert. Sosok yang menjadi Legenda benua ini. Kini sosok itu melayang di hadapan para anggota Bandit Gunung itu. Hanya dengan kehadirannya saja sudah mampu menekan mereka dan membuat mereka ketakutan. Bahkan sebagian dari mereka telah ngompol duluan hanya dengan tatapannya.
"Sepertinya kalian mengenal Gagak ini?" Tanya Tang Xiao saat dia melihat para Bandit Gunung ini ketakutan dan terbelalak tak percaya.
"I...iya tuan. Ka..mi meng..enalnya." Ucap pemimpin mereka yang bernama Paul. Tang Xiao melirik Gagak yang melayang tanpa mengepakkan sayapnya. Gagak itu tampak sombong di hadapan para Bandit Gunung.
"Siap dia?" Tanya Tang Xiao.
"Di...a... Ra...Raja... Ga..gak Ne..Neraka...." Ucap Paul gemetar ketakutan saat menyebut nama itu. Tang Xiao melirik Gagak itu yang kelihatan membusungkan dadanya sombong.
"Oh... Nama yang cukup kerena." Gumam Tang Xiao lalu berjalan mendekati Paul yang berlutut dengan tubuh gemetaran.
"Karena kalian mengenal burung ini maka jawab dengan jujur semua pertanyaanku. Kalo tidak kalian sudah tahu nasib yang kalian terima. Oh tentu saja Raja Gagak Neraka itu adalah peliharaanku. Kalian paham?" Tanya Tang Xiao pelan pada Paul.
"I...iya tu..tuan.." Jawab Paul sambil menelan ludah. Dia tidak percaya anak muda di usia semuda ini sudah menjadikan Raja Gagak Neraka sebagai peliharaannya. Jika dunia tahu mungkin akan terjadi kehebohan menggemparkan.
"Baik. Pertanyaan pertama. Siapa yang mengirim kalian ke sini?"
"Yang mengirim kami adalah Kakak ketiga dari Bandit Gunung."
"Kenapa kalian kemari?"
"Kami disuruh untuk membalas dendam adik kesepuluh."
"Hanya itu?"
"I..iya tuan.."
"Gagak kecil bakar satu kakinya." Ucap Tang Xiao kepada Raja Gagak Neraka.
Wooshh..
Aakkhhh..
"Ampun tuan.. Ampun.. Saya sudah jujur.. Tolong ampunn.. tuan.. ampun..." Teriak kesakitan Paul sambil memegangi kakinya yang terbakar.
Seessshh..
Tang Xiao memadamkan api itu. Terlihat kaki kirinya telah hangus terbakar hingga lutut hanya meniysakan abu yang berterbangan. Api yang sangat panas. Hanya sebentar dan kecil saja mampu membakar tulang sekeras baja sampai habis. Paul meringis menangis menahan sakit kakinya.
"Beginilah rasanya sakit dari orang-orang tak bersalah yang kalian bunuh. Tenang saja kalian akan merasakan sakit yang lebih dari ini selama aku di sini. Rasa sakit yang bahkan lebih baik mati tapi kalian tidak mampu mati." Ucap Tang Xiao. Paul merinding ketakutan. Seluruh tubuhnya telah memucat. Dia telah ngompol di celana berkali-kali.
"Baik pertanyaan selanjutnya. Ada berapa jumlah kalian seluruhnya dan ada dimana saja kalian." Tanya Tang Xiao.
"Un..tuk.. sa..at ini...kami se..mua ber..jumlah le...bihh dari.. Satu...Ju..ta... Kami... tersebar.. ke.. berbagai benua..." Jawab Paul jujur. Dia sudah pasrah dengan hidupnya.
Tang Xiao mendekati Paul lalu memegang pundak Paul.
Sruutt...
Kaki Paul yang hangus tadi secara cepat beregenerasi dan membentuk kakinya seperti semula. Rasa sakit dan nyeri di kaki kiri Paul hilang seketika. Paul terperanjat tak percaya begitu juga dengan orang-orang di belakangnya.
"Jawab pertanyaanku dengan benar." Ucap Tang Xiao kembali ke tempatnya berdiri.
"Siapa sebenarnya kalian?"
"Bandit Gunung itulah nama kami secara umum. dan orang-orang memanggil kami. Namun sebenarnya kami adalah cabang dari Aula Jiwa di Land Of Soul. Hanya sepuluh ketua lah yang mengetahui ini." Jawab Paul terang-terangan.
"Aula Jiwa lagi. Hemm.. Mereka perlu dijewer." Gumam Tang Xiao. Paul terkejut.
"Apa tuan pernah bertemu mereka?" Tanya Paul penasaran.
Wusshh..
Tang Xiao mengeluarkan token milik tetua Hundai yang diambilnya setelah membunuh orang itu.
"i...itu.. Token.. Tetua Aula Jiwa.." Gumam Paul tak percaya.
"Tidak perlu bertanya-tanya ini milik siapa. Aku sudah membunuh sampah itu. Sekarang pertanyaan selanjutnya. Organisasi apa Aula Jiwa itu?" Tanya Tang Xiao sambil menyimpan kembali token itu.
"Aula Jiwa awalnya adalah Sekte Iblis kecil. Namun ketika Asosiasi Kultivator Dunia membasmi sekte-sekte Iblis besar di dunia dua ratus tahun yang lalu, sekte kecil itu segera mengganti namanya menjadi Aula Jiwa sehingga sekte kecil itu tidak ikut dibasmi. Beberapa ratus tahun kemudian Aula Jiwa berkembang dengan cepat dan menjadi salah satu organisasi terkuat di dunia.
Orang-orang tidak curiga bahwa di dalam Aula Jiwa terdapat Demonic Kultivator ranah Holy Ancestor yang menjadi dalang dibalik kesuksesan Aula Jiwa dan menjadi salah satu kaki tangan dari Iblis di dunia lain." Ucap Paul gemetaran.
Tang Xiao mengangguk paham. Saat bertarung dengan Hundai dulu, Tang Xiao merasakan adanya Qi Demonic yang menjadi dasar kultivasi Hundai namun saat itu Tang Xiao tidak merasa yakin.
"Tuan tidak terkejut dengan jawaban saya?" Tanya Paul penasaran.
"Mengenai apa? Dunia lain?" Tanya Tang Xiao menyeringai. Paul menelan ludah tak berani menjawab.
"Aku sendiri berasal dari dunia lain. Kenapa harus terkejut." Jawab Tang Xiao ringan.
"Aapppaa..." Semua orang terkejut mendengar pernyataan itu termasuk Raja Gagak Neraka.
"Master, anda benaran dari dunia lain?" Tanya Raja Gagak tak percaya. Suaranya yang berat dan menggelegar itu menakuti Paul dan anak buahnya.
"Haih... Dasar Gagak kecil. Baru percaya ada dunia lain di luar sana?" Jawab Tang Xiao.
"Baiklah tapi aku ingin kalian berjanji. Jika bisa berjanji aku akan melepas kalian." Ucap Tang Xiao pada Paul dan anak buahnya. Mendengar itu mereka sangat gembira.
"Katakan tuan kami akan berjanji dengan sepenuh jiwa kami." Ucap mereka.
"Tapi tuan. Kami pasti akan dicari oleh organisasi mengetahui kami masih hidup." Ucap Paul ragu.
"Tenang saja. Tanda jiwa kalian telah aku hapus dan mereka tidak akan tahu kalian dimana serta mereka mengira kalian telah mati." Ucap Tang Xiao ringan
Ctak..
Tang Xiao menjentikkan jarinya. Seketika dimensi tempat Tang Xiao bicara hilang. Mantan Bandit Gunung itu tidak tahu apa yang telah dilakukan Tang Xiao pada mereka.
"Aku anggap diam kalian jawaban sebagai tanda persetujuan nyawa kalian. Terserah jika kalian menghianatinya, namun jangan salahkan aku jika kalian merasakan sakit yang kalian tidak akan penah bisa mati untuk menghindarinya." Ucap Tang Xiao sambil berjalan meninggalkan mereka. Raja Gagak Neraka yang melayang-layang dan kebanyakan hanya mendengar pembicaraan tadi, kembali menjadi burung pipit kecil tujuh warna dan bertengger di kepala Tang Xiao.
Ctak...
Tang Xiao menjentikkan jarinya, kuda-kuda mereka yang sebelumnya hilang telah berdiri tegak di belakang mereka.
Paul terdiam dikerubungi anak buahnya.
"Ketua kelima. Bagaiaman ini? Apa kita harus mengikuti perkataan pemuda itu?"
"Ketua kelima, lebih baik kita segera pergi dari sini dan memberitahukan hal ini pada yang lain"
"Ketua kelima..."
"Ketua Kelima..."
"Ketua kelima..."
"Berhenti bajingan. Kalian bisa berhenti merengek tidak." Bentak Paul mengeluarkan hawa membunuhnya kepada bawahannya. Dia sudah tidak sabar lagi mendengar rengekan anak buahnya yang ketukan.
"Dasar bajingan. Kalian tidak merasakan bagaimana sakitnya terbakar seperti yang aku alami. Lebih baik kita mengikuti perkataan pemuda tadi. Apa kalian buta dan tuli bagaimana seekor Raja Gagak Neraka tingkat sembilan Mythical Beast Half-Saint yang terkenal angkuh dan sombong di benua ini memanggilnya master dan sangat sopan padanya? Bahkan belum tentu kakak pertama bisa lolos dari tangan Raja Gagak Neraka itu jika mereka bertarung." Ucap Paul mendiamkan seluruh anak buahnya yang tolol. Mereka semua terdiam memikirkan ucapan Ketua mereka.
"Di hadapan kekuatan absolut, yang mengerikan bukan tentang bagaimana rasanya sakit akan kematian tapi bagaiamana mengerikan sakitnya kematian namun kalian tidak mati-mati." Ucap Paul lalu menaiki kudanya dan berjalan mendekati rumah kecil tempat Tang Xiao masuk. Anak buahnya yang membenarkan ucapan ketua mereka mengikuti Paul dan berjalan di belakangnya. Mereka berjaga di atas kuda di sekeliling rumah kecil itu sepanjang malam.
...****...
Sinar mentari pagi menembus cakrawala menerangi semesta, membawa semangat dan harapan bagi siapa saja yang menyapa. Burung-burung kecil berkicauan menyambut sinar surya menghangatkan tubuh mereka.
Burung-burung bangau raksasa seukuran satu meter berterbangan di udara pergi mencari makan. Mereka tidak akan kembali kecuali petang telah datang. Beberapa Mythical Beast bersayap terbang bebas di langit desa Hun.
Para penduduk kampung silih berganti keluar masuk desa mencari nafkah untuk keluarga. Mereka belum mengetahui apa yang terjadi di rumah kecil yang terletak jauh di ujung desa dan mereka memang tidak mau tahu atau takut akan terkena penyakit menular.
Pagi hari di rumah kecil yang pertama kali bangun adalah Adam dan istrinya. Malam ini mereka tidur dengan sangat nyenyak dan lupa mempersilahkan ketiga pemuda tamu mereka untuk tidur di ruang sebelah. Mereka berdua bangun saat mencium aroma lezat dari dapur.
Maria yang juga bangun karena mencium aroma lezat sangat terkejut saat melihat kasur jeleknya telah diganti dengan kasur cantik, megah dan mungil sesuai ukurannya. Maria sangat senang hingga melompat-lompat di atas kasurnya dan melupakan aroma lezat yang membangunkannya.
Adam dan Hawa berjalan keluar kamar. Mereka sangat terkejut saat melihat ada beberapa orang tak dikenal sedang mengangkut barang-barang mereka, seperti kursi, meja dan lemari.
"Heii.. Pencuri tolong pencuri.. Tolong ada pencuri...." Teriak Adam dan Hawa berlari menuju orang-orang tak dikenal itu dan merebut barang-barang yang sedang diangkut.
Orang-orang yang sedang mengangkut barang-barang itu berhenti dan mundur membiarkan mereka berdua mengambil barang-barang mereka. Enam orang yang tadi mengangkut barang-barang tadi membungkuk dan memberi hormat.
"Selamat pagi tuan dan nyonya." Ucap enam orang tadi.
"Haaahhh.... Hei kalian pencuri tidak usah sok ramah." Ucap Hawa berkacak pinggang dan menggulung lengan bajunya seakan bersiap bertarung dengan enam orang di hadapannya.
"Ehhh..... Tuan Adam dan Nyona Hawa tenang dulu." Andri yang berjalan dari dapur menegur Adam dan Hawa agar tidak bertindak lebih jau.
"Eh Tuan Andri selamat pagi. Mereka berenam mau mencuri barang-barang kami." Ucap Adam dan Hawa yang terlebih dulu menyapa Andri.
"Haha... Tuan Adam dan nyona Hawa mereka bukan mencuri, tapi menukar barang-barang ini dengan yang lebih bagus dan lebih baik." Ucap Andri sambil memberi isyarata pada enam orang mantan Bandit Gunung itu.
"Hah... Mau mengganti dengan yang lebih bagus? Memangnya mereka siapa?" Tanya Hawa yang tidak tega barang-barangnya dibawa pergi.
"Mulai saat ini dan seterusnya mereka adalah bawahan tuan Adam dan Nyona Hawa." Ucap Andri tersenyum lebar.
"Hah... Apa yang nak Andri katakan? Bawahan? Siapa?" Tanya Adam makin bingung.
"Mereka itu adala segerombolan orang-orang yang tadi malam tuan dan nyonya melihat mereka sedang melayang-layang. Lah entah apa yang dikatakan adik kedua hingga mereka semua bisa menjadi bawahan dan pelindung tuan dan nyonya selamanya." Ucap Andri tersenyum dan mengangkat bahu.
Beberapa orang masuk membawa lemari, kursi dan meja yang jauh lebih besar dan lebih bagus dari sebelumnya. Orang-orang itu setelah menaruh barang-barang itu memberi hormat pada Adam dan Hawa layaknya hormat anak buah terhadap Bos.
"Apa? mana pencurinya? Eh siapa mereka ini?" Maria yang telat keluar berlari ke arah Adam dan Hawa dan terkejut saat melihat beberapa orang yang tidak dikenalnya berjalan ke luar rumah.
"Haduh Maria cucu nenek satu-satunya baru bangun juga?" Ucap Hawa sambil mengelus rambut Maria. Dia melupakan sesaat kejadian tadi.
"Iya nek. Maria juga menemukan bahwa kasur Maria telah menjadi sangat bagus nek." Ucap Maria sambil menarik tangan Hawa berjalan ke kamarnya. Hawa menuruti Maria dengan penuh tanda tanya.
"Tidak kah ini terlalu berlebihan Nak Andri?" Ucap Adam saat Hawa telah pergi bersama Maria, cucunya.
"Tidak juga. Ini memang sudah keputusan kami bertiga. Terutama Adik pertama yang mungkin Over Protektif. Dan saya berharap tuan Adam sekeluarga tidak menolak niat baik adik kedua." Ucap Andri.
Adam terdiam tidak tahu harus bagaimana. Matanya berkaca-kaca terharu. Sebelumnya dia dan keluarganya tidak pernah diperlakukan seperti ini bahkan oleh kawan-kawan dan atasannya. Namun di usia tuanya dia baru saja bertemu dengan tiga pemuda jenius yang tak dikenalnya namun sudah seperti keluarga dan memperlakukan mereka sekeluarga melibihi kawan-kawannya selama ini. Adam mengusap air mata yang menggumpal di pelupuknya.
"Terima kasih banyak Nak Andri terima kasih banyak. Saya mewakili keluarga saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas perlakuan kalian pada kami yang lemah ini. Sungguh kalian adalah tiga pemuda dari surga pemberian Tuhan kepada dunia ini." Ucap Adam sambil membungkuk.
"Sudahlah tuan Adam. Jika adik kedua melihat ini dia tidak suka. Dia tidak ingin menerima ucapan terima kasih. Baginya ucapan terima kasih adalah kata pemisah jarak anatara keluarga. Dan akupun mulai sekarang mengikuti pemikiran adik ketiga itu." Ucap Andri sambil mengangkat tubuh Adam dari bungkuknya yang lama.
"Creng-creng... Waktunya sarapan." Ucap Denas yang membawa satu daging pagang sebesar satu meter di atas nampan. Di belakangnya menyusul Tang Xiao yang juga membawa satu nampan daging panggang sama besarnya dengan yang dibawa Denas. Di belakang Tang Xiao juga ada beberapa orang yang membawa daging panggang dengan ukuran yang sama. Melihat hal itu Adam hanya dia terharu menangis dalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yo Guys sesuai janji hari ini up dua kali.