The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 69. KRISTAL SALJU ABADI



Malam mulai menyelimuti siang dan siang kembali ke peraduannya. Bintang-bintang di angkasa sedikit demi sedikit mulai menerangi gelapnya langit. Malam ini bulan tak tampak sama sekali padahal langit sangat cerah.


Kota paviliun bintang telah menyala lampu-lampu di sepanjang jalan maupun di setiap sudut rumah. Anak-anak kecil berlarian dengan temanannya tanpa memikirkan masalah yang tidak mereka ketahui.


Malam itu Denas duduk sendiri di atas atap penginapan Griya Dahar sambil menatap taburan bintang di angkasa. Pemuda tampan itu tidak menyadari bahwa Tang Xiao telah duduk di sampingnya dan ikut melihat gemintang bertaburan.


"Malam ini tidak ada rembulan, namun suasana tetap indah dalam balutan kelamnya malam." Ucap Tang Xiao tanpa mengalihkan pandangannya.


"Eh.." Denas terkejut dan menoleh ke samping kemudian mengangguk pelan.


"Mungkin Dewi Chang'e sedang membagikan cahaya bulannya di sisi dunia lain." Balas Denas dari samping.


"Adakalanya sesekali keindahan itu tetap tertutup rapat tanpa ada yang mengetahuinya dan menantinya maupun mengenalnya agar keindahan itu tetap ada dan tidak pudar." Ucap Tang Xiao datar. Dia mulai merebahkan tubuhnya di atas atap berbantalkan kepalan tangannya.


"Bagaimana mungkin bisa dikatakan indah tanpa ada yang mengetahui dan mengenalnya? Bagaiamana mungkin bisa tetap ada tanpa pudar jika tidak ada yang memolesnya?" Balas Denas yang ikut merebahkan tubuhnya di bawah langit malam.


"Segala sesuatu yang tercipta memang tidaklah abadi, tidaklah tidak pudar, seperti halnya rembulan yang banyak menanti kedatangannya, banyak yang menginginkan keindahannya namun tidak sedikit yang serakah terhadapnya." Ucap Tang Xiao datar.


Denas mengerutkan kening tidak memahami maksud Tang Xiao. Dia berpikir sesaat lalu mengangkat tangan kanannya seolah-olah hendak meraih bintang diangkasa.


"Sejak kapan kakak pertama berada di sini?" Tanya Denas mengalihkan pembicaraan. Dia memang tidak tahu sejak kapan Tang Xiao telah duduk di sampingnya.


"Sejak tadi, sejak kakak kedua bilang dia mempunyai tamu di kamarnya. Aku penasaran, kenapa sih kakak kedua mau sekamar denganmu?" Tanya Tang Xiao penasaran. Dia mengubah posisi tidurannya menjadi miring dan menatap Denas yang masih terlentang.


"Haha.. Kakak ketiga ingin tidur di kamar kakak kedua ya? Hihi nanti aku kasih tahu deh.." Ucap Denas menggoda Tang Xiao.


Tuk..


Tang Xiao menjitak kepala Denas. Pemuda itu memijat kepalanya yang dijitak Tang Xiao.


"Dasar, awas sekali lagi adik keempat berbicara sembarangan, benjol-benjol itu kepala." Ucap Tang Xiao berlagak galak namun sebenarnya menahan tawanya melihat wajah Denas yang cemberut.


"Haiss.. Lama-lama kepalaku bocor dijitak terus. Eh iya kayaknya nona Ririn menyukai kakak ketiga." Ucap Denas kembali menggoda Tang Xiao.


"Mana mungkin nona Ririn bisa menyukaiku bahkan tanpa melihat wajahku. Sudahlah jangan mengada-ngada." Ucap Tang Xiao menyangkal ucapan Denas.


"Haish.. Kakak ketiga, aku ini.... Eh aku dapat melihat di matanya saat kakak ketiga menariknya dan membawanya melompat mundur, bahwa saat itu nona Ririn sedang menatap kakak ketiga dari samping tanpa berkedip. Aku mengerti tatapan itu karena aku juga pernah mengalaminya." Balas Denas terlihat serius namun dia tidak berani memalingkan wajahnya ke arah Tang Xiao.


"Aku memang tidak tahu gimana nona Ririn memandangku, hanya saja aku tidak terlalu peduli dengan kehidupan romansa." Ucap Tang Xiao datar tanpa beban.


Denas terdiam sejenak kemudian tersenyum lebar lalu berkata, "Mesti kakak ketiga belum pernah menyukai seseorang sebelum ini kan?"


Tang Xiao mengangguk pelan kemudian berkata dengan pasrah, "Aku memang belum pernah menyukai seseorang, entah ada orang yang bisa membuatku menyukainya atau tidak yang jelas aku orang yang tidak romantis. Teman-teman dan sahabatku mempunyai kekasih mereka masing-masing, sedangkan hanya aku yang hidup sendiri."


Denas terdiam mencoba memahami maksud kata-kata Tang Xiao yang mengatakan teman-teman dan sahabatnya memiliki pasangan. Lalu dia bertanya dalam hati, teman-teman dan sahabat yang mana?


"Sudahlah, aku nggak terlalu memusingkan masalah pasangan. Saat ini yang aku tahu hanyalah bagaimana menjalani hidup ini dengan tenang dan memberikan kebaikan untuk orang lain. Jika suatu hari aku menyukai seseorang, aku akan menjadikannya yang pertama dan terakhir untuk selamanya." Ucap Tang Xiao kembali membalikan badannya menghadap langit malam yang tenang.


"Wow.. Kak lihat ada bintang jatuh." Ucap Denas sambil menunjukan beberapa benda angkasa yang sedang melintas di langit. Denas bangkit lalu duduk bersila dengan tenang. Dia menggenggam kedua tangannya di depan wajahnya kemudian memejamkan mata seperti seseorang yang sedang berdoa.


Tang Xiao memperhatikan dari samping dengan diam. Dia tidak pernah melihat sikap adik keempatnya itu seserius dan setenang itu. Seolah-olah jiwanya sudah tidak ada di tubuhnya lagi. Seolah-olah dia sedang menerima pencerahan surgawi. Tang Xiao menggeleng-geleng kepala melihat tingkah adik keempatnya itu.


Setelah beberapa saat kemudian Denas membuka mata lalu menurunkan tangannya kemudian tersenyum lebar. Seolah-olah dia terlihat sangat puas dan lega. Seolah-olah dia sudah menumpahkan segala keinginannya dalam permohonan itu.


"Adik keempat, kamu meminta apa sampai seserius itu?" Tanya Tang Xiao yang sudah duduk di sampinganya sambil melihat keramaian kota.


"Hemm..Ada deh..." Ucap Denas sedikit malu. Dia menutup mulutnya dan bulu matanya mengerjap-ngerjap.


Tang Xiao melongo melihat sikap Denas yang sedikit aneh dan tidak biasa itu. Tang Xiao menelan ludah kasar lalu tangan kanannya diletakkan di kening Denas untuk mengecek suhu tubuh adik keempatnya ini.


"Ck ck.. Adik keempat ada apa denganmu? Apa kamu kerasukan arwah bintang tadi?" Tanya Tang Xiao setelah mengecek suhu tubuh Denas yang biasa-biasa saja.


"Haish... Apalah kakak ketiga nanya begitu." Jawab Denas manyun saat diperlakukan seperti anak kecil oleh Tang Xiao.


"Gini ya kak." Lanjut Denas sambil menata duduknya berhadapan dengan Tang Xiao.


"Di klan aku ada kepercayaan bahwa bintang jatuh itu sebenarnya adalah para Dewa yang sedang melintasi langit dunia. Mereka melewati dunia sambil mendengarkan doa-doa dari penduduk dunia dan kemudian mengabulkan doa-doa itu. Meskipun aku tidak terlalu percaya, namun banyak permintaan yang terkabul setelah para Dewa melewati dunia. Tentu saja sangat jarang para Dewa yang mau melintasi dunia ini. Katanya sih Dewa yang mau menampakan dirinya saat terbang melintasi dunia adalah para Dewa Kebajikan yang bertanggung jawab mengontrol jalannya kehidupan damai manusia." Ucap Denas tenang sambil sesekali menatap mata biru Tang Xiao.


Tang Xiao diam sambil mendengar ucapan Denas. Jika sudah berbicara tentang sebuah keyakinan, manusia bebas mau meyakini apa saja dan itu adalah haknya. Tang Xiao sangat memahami itu sehingga dia tidak membantah ucapan Denas. Dia hanya mendengarkan dengan tenang dan sesekali mengangguk paham. Dia tidak ingin merusak kepercayaan Adik keempatnya itu, biarlah nanti adik keempatnya itu sendiri yang mengetahui kebenaran dari apa yang selama ini diyakininya.


"Lalu apa yang adik keempat minta sampai segitu seriusnya?" Tanya Tang Xiao demi menunjukan kepada Denas bahwa dia mendengarkan dan memahami cerita adik keempatnya itu.


Denas berpindah tempat duduk di samping Tang Xiao sambil menatap bintang di langit dia berkata, "Aku meminta orang yang aku cintai mau mencintaiku dan menerimaku apa adanya tanpa peduli siapa aku. Aku juga meminta semoga aku bisa menatap langit dan bintang yang sama serta duduk beralaskan bumi yang sama sambil bergandengan tangan berbicara masa depan kehidupan bersama dengan orang yang aku cintai. Aku juga meminta semoga orang yang aku cintai segera memahami perasaanku dan pribadiku seperti kakak kedua yang tetap mencintai kakak pertama tanpa mempedulikan masa kelam kakak pertama dan terus berada di sisi kakak pertama." Ucap Denas sedikit menahan emosi di dadanya. Terlihat kedua mata pemuda itu mulai berkaca-kaca.


Tang Xiao diam sesaat sambil melihat angkasa. Tanpa di sadarinya, Tang Xiao melihat sesuatu di langit namun sesuatu itu dengan cepat menghilang dari pandangannya. Tang Xiao tidak ambil pusing sesuatu itu apa. Selama dia berada di dunia ini, tidak ada yang bisa menindas orang-orang di sini dan memisahkannya dari orang-orang tercintanya.


"Aku yakin, orang yang mencintai adik keempat pasti adalah orang beruntung. Jika orang itu tidak mau menerima adik keempat, akan aku buat orang itu menyesal selama-lamanya." Ucap Tang Xiao tersenyum lebar menenangkan Denas.


"Hihi..." Denas tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya.


"Orang yang kucintai ini sedikit bodoh kak, bodoh karena dia tidak tahu aku mencintainya. Padahal kakak kedua tahu bahwa aku mencintai orang itu dan tentu saja kakak kedua akan membantuku jika orang itu tahu bahwa aku mencintainya." Ucap Denas sambil sesekali melihat bintang di langit, lalu melihat suasana kota, kemudian melihat Tang Xiao dari samping.


"Oh ternyata kamu dipanggil kakak kedua untuk membicarakan mengenai orang yang kamu cintai dan kalian merahasiakannya dari aku dan kakak pertama?" Tanya Tang Xiao penuh selidik sambil menjulurkan kepalanya ke depan Denas.


"Hehe... Ini rahasia kami berdua. Kakak pertama pun gak tahu rahasia ini." Ucap Denas berlagak sok misterius memancing rasa penasaran Tang Xiao. Namun Tang Xiao biasa-biasa saja mendengar ucapan Denas. Dia tidak terlihat berminat meskipun sebenarnya dia merasa sangat penasaran. Rasa penasarannya masih sedikit kalah dengan ketenangannya yang seperti Samudra.


Denas dan Tang Xiao melanjutkan perbincangan mereka. Sesekali Denas terbahak mendengar cerita Tang Xiao. Dan sesekali juga Denas merasa jengkel dengan tingkah Tang Xiao. Malam itu di bawah taburan gemintang mereka berbagi cerita.


Tidak hanya mereka berdua yang duduk di atap sambil menikmati indahnya malam dengan taburan bintang. Masih ada seorang gadis yang juga menikmati indahnya malam di bawah cahaya temaram bintang dielus oleh angin sepoi-sepoi.


Gadis itu memainkan seruling kecil di tangannya. Seruling kecil yang kadang ditiupnya dikala dia mencoba menenangkan dirinya. Malam itu, gadis cantik yang semulanya bercadar kembali meniup serulingnya yang menyayat siapapun yang mendengarnya. Tiupan seruling gadis nan cantik itu meskipun pelan, angin yang berhembus telah membawanya hingga ke pendengaran Tang Xiao yang langsung terdiam mencoba mendengarkan suara seruling itu dengan jelas.


Seruling itu kembali mengalun indah melewati beberapa orang hingga kembali terdengar di telinga Tang Xiao yang membuatnya tambah penasaran. Gadis peniup seruling itu tidak tahu bahwa tiupannya telah mengundang minat seseorang yang tidak disangka-sangkanya.


Tang Xiao pamit undur diri dari Denas. Dia masih penasaran dengan siapa yang meniup seruling hingga dia mampu mendengarnya sedangkan adik keempat di sebelahnya tidak mendengar apa-apa.


Tang Xiao melompat turun ke kamarnya lalu mengambil topeng dan mengenakkannya. Dia melihat ke sekeliling memastikan tidak ada orang, baru kemudian terbang melesat dengan cepat.


Gadis peniup seruling itu menghembuskan nafas. Dia tidak tahu sudah meniup seruling yang keberapa kali. Dia meletakkan seruling kecil itu di sampingnya kemudian melihat kerumunan orang-orang di bawah. Di sana dia dapat melihat keceriaan anak-anak kecil maupun dewasa saling bercengkrama. Gadis itu tersenyum kecut. Dia kembali menghela nafas sambil menatap bintang di angkasa.


Saat sedang melamun, gadis itu dikejutkan oleh suara pria yang tidak dikenalnya.


"Permisi nona...."


Gadis itu menoleh ke belakang. Di sana dia melihat seorang pemuda bertopeng dengan rambut warna biru telah berdiri tegap.


Gadis itu terkejut karena tidak merasakan kehadiran pemuda yang berdiri di sana. Gadis itu sudah mengenakan cadarnya kembali, dia hanya mengangguk pelan.


"Bolehkah saya duduk di sini?" Tanya Tang Xiao sambil menunjuk tempat duduk di samping gadis itu.


Gadis itu kembali mengangguk pelan lalu kembali melihat kerumunan di bawah. Dia masih bertanya-tanya bagaimana pemuda itu telah berdiri di sana tanpa disadarinya padahal tingkat kultivasinya jauh dibawahnya. Gadis itu juga tidak merasa terancam denga kehadiran pemuda bertopeng itu.


"Meniup seruling di bawah taburan bintang memang begitu syahdu, terlebih ditemani dengan seseorang yang spesial." Ucap Tang Xiao memulai percakapan. Dia memang tidak pandai cara mencairkan suasana, apa yang dipikirnya itulah yang diucapnya.


Gadis itu mengangguk pelan tanpa menoleh ke arah Tang Xiao. Tatapannya masih melihat kerumunan orang-orang yang berada di bawah.


Tang Xiao menggaruk-garuk kepala melihat respon gadis cantik di sampingnya ini. Dia mencari cara agar kedatangannya ke sini tidak mengganggu gadis ini.


"Saya juga suka mendengar suling dikala sendiri. Saya bisa memainkan seruling." Ucap Tang Xiao kaku.


Gadis itu kembali mengangguk pelan seolah tidak peduli dengan ucapan Tang Xiao.


Tang Xiao mengeluarkan seruling putih dengan ukiran daun-daun bambu emas di permukaannya. Seruling itu mengeluarkan aura yang menarik minat gadis itu.


Gadis itu menoleh melihat pemuda bertopeng di sampingnya telah memegang sebuah seruling yang sangat indah. Jauh lebih indah dari seruling manapun yang pernah dilihatnya, bahkan seruling itu mengeluarkan aura yang tidak biasa.


"Bisakah anda memainkan seruling itu?" Tanya gadis itu untuk pertama kalinya dia membuka suara setelah sekian lama terdiam.


"Tentu saja, tapi saya punya syarat." Ucap Tang Xiao tersenyum licik.


"Katakan apa syaratnya?" Tanya gadis itu datar.


Gadis itu terdiam sejenak. Dia menoleh seruling kecil di sampingnya, terlihat sangat jauh berbeda. Padahal serulingnya itu termasuk benda pusaka di keluarganya.


"Baiklah saya setuju." Ucap gadis itu mengangguk.


Tang Xiao tersenyum lebar, dia mulai menaruh seruling di mulutnya dan kemudian meniupnya.


Serr.......


Gadis itu terbelalak mendengar permainan suling pemuda bertopeng di sampingnya. Gadis jelita itu mengubah posisi duduknya menghadap pemuda bertopeng yang sedang meniup seruling dengan penuh penghayatan sambil memejamkan kedua matanya.


Seolah, dia sedang berada di bawah cahaya rembulan dengan ribuan kunang-kunang berterbangan mengitari gadis itu dan pemuda bertopeng di depannya. Dia tidak tahu kenapa, namun untuk pertama kalinya jantung gadis itu berdegup kencang.


Dgup dgup dgup....


Gadis itu menekan dadanya yang berdebar mengikuti ritme seruling pemuda bertopeng di depannya ini. Entah di sadarinya atau tidak, kedua mata gadis itu mulai berkaca-kaca dan mulai merasakan ketertarikan kepada pemuda di depannya sebagai lawan jenis.


Tang Xiao meniup seruling dengan mengingat masa lalunya. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia tidak meniup suling miliknya ini. Terakhir kali meniupnya dia hanya sendiri di bawah langit yang gelap. Namun saat ini dia kembali meniup seruling miliknya di depan seorang gadis bercadar. Dia juga tidak tahu kenapa dia meniup serulingnya di atas atap di bawah taburan gemintang dan langit yang cerah.


Setelah beberapa lama meniupnya, Tang Xiao sampai di lagu terakhir dan mengakhiri tiupannya dengan sentakan yang menyayat hati. Secara perlahan dia mengakhiri tiupannya.


Prok prok prok prok prok...


Suit suit suit suit suit....


Tanpa disadari oleh gadis itu dan Tang Xiao, ternyata orang-orang di bawah telah berkerumun dan bertepuk tangan saat Tang Xiao selesai bermain seruling.


Orang-orang dibawah telah menatap ke atas atap, dimana seorang pemuda bertopeng memainkan seruling di depan seorang gadis bercadar. Tanpa mereka sadari, mereka juga menikmati permainan seruling pemuda bertopeng itu. Mereka juga dapat merasaka kesendirian yang selama ini dirasakan oleh pemuda bertopeng itu melalui tiupan serulingnya.


Tang Xiao dan gadis bercadar saling pandang tidak menyangka orang-orang di bawah berkerumun melihat mereka. Tang Xiao tersenyum lebar mendengar ocehan orang-orang di bawahnya yang mengatakan bahwa mereka berdua adalah pasangan yang sangat romantis. Mereka bahkan meninta pemuda bertopeng mencium gadis bercadar di depannya. Tentu saja permintaan itu tidak digubris oleh Tang Xiao dan gadis bercadar.


"Bagaiaman nona, sudahkah saya mendapat kehormatan mengetahui nama nona?" Tanya Tang Xiao sambil menunjukan tanda penghormatan.


"Hihihi.... Tentu saja tuan." Ucap gadis bercadar itu yang sudah mulai luluh hatinya.


"Nama saya Rina, dari Hidden Kingdom." Ucap gadis bercadar itu.


"Jika boleh tahu nama tuan siapa?" Tanya gadis itu dengan cepat.


"Nama saya Tang Xiao dari benua Land Of Dead." Ucap Tang Xiao tersenyum. Dia kini mengetahui identitas gadis bercadar di sampingnya.


"Tidak menyangka, ternyata anda adalah tuan putri yang terhormat." Ucap Tang Xiao tersenyum lebar.


"Hihi.. Saya tidak yakin orang seperti anda mempunyai tata krama terhadap putri seperti saya." Ucap Rina yang sudah ceria tidak sedingin sebelumnya.


"Ahaha.. Nona Rina, saya tidak sejahat itu." Balas Tang Xiao sambil mengulurkan suling di tangannya ke depan Ririn.


"Seruling ini sudah terlalu lama di tangan saya, sudah waktunya untuk berpindah tangan. Saya merasa nona Rina lebih cocok dengan suling ini dari pada saya." Ucap Tang Xiao menjelaskan saat melihat kebingungan Rina.


Gadis bercadar itu terdiam sejenak. Dia sedang merasa kaget mendapat seruling secantik dan seindah itu dari orang yang baru dikenalnya.


"Suling ini, benar-benar buat saya?" Tanya Rina setengah tidak percaya.


"Tentu saja, suling indah ini sudah seharusnya berada di tangan orang yang indah juga." Jawab Tang Xiao tersenyum lebar.


"Uh... Tuan Tang datang kesini untuk menggoda saya atau ingin mengenal saya..." Balas Rina tersenyum lebar di balik cadarnya.


"Sejujurnya saya ke sini karena mendengar suara seruling yang nona tiup sebelumnya. Entah kenapa suara seruling nona hanya saya yang bisa mendengarnya saat itu saya sedang bersama saudara namun dia tidak mendengar apa-apa. Itulah yang membuat saya tertarik." Ucap Tang Xiao terlihat serius.


"Saya memang suka main suling di saat sendiri seperti tadi. Saya suka meniup suling dengan nada sesuai perasaan saya saat sedang meniupnya. Hanya inilah pertama kalinya dalam hidup saya ada seseorang yang memainkan suling kepada saya. Saya sangat menghargai itu." Ucap Rina yang juga terlihat serius.


"Tidak usah berterima kasih nona, saya datang kesini memastikan orang yang berhasil menarik perhatian saya dengan serulingnya. Saya memainkan seruling tadi hanya untuk menghibur anda nona Rina." Ucap Tang Xiao sambil melihat bintang di langit.


"Dari mana tuan Tang tahu saya dalam keadaan sedih?" Tanya Rina penuh selidik.


"Tentu saja dari permainan suling anda. Saya dapat merasakan nada-nada kesedihan dan hati yang sepi di dalamnya." Jawab Tang Xiao.


Rina diam sesaat kemudian melirik Tang Xiao yang duduk tepat di sampingnya sambil memperhatikan kerumunan orang yang semakin berkurang.


"Saya juga dapat merasakan kesepian dan kesendirian hati dalam permainan suling anda, tuan Tang." Balas Rina kembali melihat kerumunan di bawah.


Rina gadis bercadar yang biasanya sangat dingin kecuali untuk orang yang sudah dikenalnya, malam itu bersikap hangat kepada seorang pemuda yang baru dikenalnya. Entah kenapa, gadis itu merasa nyaman saat berbincang-bincang dengan pemuda bertopeng yang mengaku bernama Tang Xiao. Tanpa disadarinya, malam semakin larut dan orang-orang di bawah sudah sepi, hanya satu dua orang yang kadang lewat.


"Nona, malam semakin larut. Tidak bagus seorang puteri masih berduaan dengan pemuda yang baru dikenalnya. Sebaiknya nona kembali beristirahat. Jika takdir, besok kita bertemu kembali." Ucap Tang Xiao sambil melihat Ririn dari samping.


Gadis itu mengangguk dan kemudian bangkit dari duduknya sambil memegang erat suling dari Tang Xiao.


"Terima kasih atas hadiahnya tuan Tang. Saya juga punya hadiah yang saya anggap cocok untuk anda." Ucap Rina sambil mengeluarkan sebuah kotak dari cincin ruangnya.


"Ini adalah benda yang tidak sengaja saya temukan di Kerajaan Nusantara. Saya memberi nama Kristal Salju Abadi." Ucap Rina sambil membuka kotak itu lalu mengeluarkan sebuah benda bulat berbentuk bola kaca bening sebesar kepalan tangan. Dalam bola itu terdapat salju yang turus terus menerus, di tengah salju itu berdiri sepasang patung kecil yang bergandengan tangan seolah sedang berjalan bersama menikmati salju yang turun.


Tang Xiao tersenyum melihat hadiah dari Rina.


"Terima kasih nona Rina. Oh iya suling yang sudah berada di tangan anda bukanlah suling sembarangan. Jika ada takdir untuk bertemu, maka saat itu saya akan memberi tahu anda rahasia di balik suling itu." Ucap Tang Xiao tersenyum lebar.


"Baik... Saya akan menunggu takdir itu dengan sabar meski menghabiskan seluruh hidup saya, tuan Tang." Ucap Rina lembut sambil menaruh suling itu ke dadanya penuh harap.


Tang Xiao mengangguk pelan.


"Baiklah saya duluan tuan Tang." Ucap Rina buru-buru untuk meredakan degupan jantungnya yang berdetak dengan cepat.


Gadis itu berbalik dan berjalan dengan cepat di atap. Mungkin karena jalan gadis itu yang cepat atau karena dia tidak fokus dengan jalannya, gadis itu tiba-tiba terpeleset dari atap.


"Ahh..." Gadis itu berteriak pelan terkaget dengan reflek dia memeluk erat suling pemberian Tang Xiao ke dadanya.


Wushh...


Secara reflek Tang Xiao melompat menangkap tubuh Rina yang sudah melorot dari atap.


Hup...


Tang Xiao menangkap tubuh Rina dalam dekapannya dan membawa gadis itu turun secara perlahan. Tanpa disadari, kedua pasang mata Tang Xiao dan Rina saling menatap dalam.


Tubuh Tang Xiao melayang-layang di udara sambil membawa Rina dengan kedua belah tangannya di depan dada. Pandangannya tertuju pada kedua mata Rina yang juga menatap dalam kepadanya.


Rina yang pasrah dalam dekapan Tang Xiao sambil memeluk suling di dada dengan kedua tangannya, tidak menyangka bahwa pemuda bertopeng itu memiliki sepasang mata warna biru yang mempesona. Dia baru kali ini melihat mata seindah mata Tang Xiao dan itu membuat jantung Rina berdebar dengan cepat tak menentu. Rina dapat merasakan bahwa saat ini wajahnya memerah karena malu.


Tap...


Tang Xiao mendarat di tanah dengan mulus lalu menurunkan Rina dari bopongannya. Setelah Rina turun, gadis bercadar itu mundur selangkah sambil tertunduk malu.


"Terima... kasih.. tuan Tang..." Ucap Rina tergagap. Dia masih mencoba mengatur debaran jantungnya yang tak karuan.


"Sama-sama nona Rina." Jawab Tang Xiao santai.


"S..saya pamit..dulu..." Ucap Rina menunduk setengah badan lalu berbalik melangkah memasuki penginapan di belakangnya. Setelah berjalan beberapa langkah, gadis itu berhenti dan berbalik ke arah Tang Xiao.


"Besok, turnamen akan dimulai, saya harap dapat bertemu dengan segera." Ucap Rina lalu berbalik dan berjalan memasuki penginapan dengan kedua tangan masih di depan dada sambil memegang suling barunya pemberian Tang Xiao.


"Hufff..." Tang Xiao menghela nafas panjang. Dia memegang dadanya.


"Ini pertama kalinya jantungku berdebar sekencang ini." Ucap Tang Xiao sambil berjalan menuju penginapannya. Untungnya tidak ada orang yang melihat kejadian itu sehingga tidak terjadi kehebohan.


Di langit yang luas, salah satu bintang diantara jutaan bintang mengedipkan cahayanya lalu kemudian menghilang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hem.. Scene ini memang untuk romance. Jadi mungkin ada yang kurang puas saya bisa faham itu. Okeh untuk readers yang suka action bisa baca di CH. selanjutnya


#Pada dasarnya, kamu hanya bagian dari ekspektasi kecilku yang berubah menjadi luka.