The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 84. GRAND FINAL



UNIVERSE DIMANA TANG XIAO BERADA


Saat ini Andri, Jessika, Tang Xiao dan Arya sedang berada di ruang pengobatan Ririn. Keempat orang itu masuk membawa berbagai titipan dari para penggemar dan fans Ririn yang khawatir kepadanya namun tidak diperbolehkan ke dalam oleh para petugas yang berjaga.


Meskipun titipan itu bermacam-macam, namun kebanyakan adalah obat-obatan dan beberapa herbal berkualitas tinggi. Tang Xiao dan yang lainnya memberikan barang-barang itu kepada kelompok Ririn yang tinggal tiga orang serta seorang wanita berumur dua puluhan tahun dan seorang pria berumur dua puluh lima tahun yang sepertinya mereka adalah keluarga Ririn atau lebih tepatnya saudara seperguruan.


"Adik ketiga bagaimana kondisi Ririn?" Tanya Jessika khawatir. Tang Xiao yang memeriksa denyut nadi Ririn perlahan menggeleng.


"Aku tidak tahu apa yang telah dilaluinya, sepertinya gadis ini masih cukup kuat untuk mempertahankan hidupnya. Meskipun lemah, aku dapat merasakan hawa kehidupan yang dimiliki Ririn semakin menguat." Ucap Tang Xiao sambil melepas kedua jarinya dari leher Tang Xiao.


"Jadi intinya bagaimana?" Tanya Jessika.


"Ya intinya dia baik-baik saja. Dan mungkin beberapa saat kemudian dia akan segera bangun." Jawab Tang Xiao enteng sambil duduk di sebuah kursi.


"Hufff.. Untung saja para medis telah bekerja keras." Ucap Jessika lega. Dia sangat yakin dengan ucapan adik keempatnya itu.


Namun berbeda dengan reaksi orang-orang yang sudah ada di ruangan sejak Ririn mulai diobati.


"Omong kosong. Bocah sombong jangan sembarangan berbicara. Meskipun kamu berniat baik, tapi kamu telah melecehkan para petugas medis yang telah merawatnya dengan hati-hati" Ucap kasar laki-laki berumur dua puluh lima tahunan yang sedari tadi diam dan jengkel saat Tang Xiao menyentuh Ririn.


"Apa maksudmu dengan omong kosong?" Tanya Andri cepat yang tidak terima dengan tuduhan pria itu.


"Cih kalian semua sama. Petugas medis jelas-jelas mengatakan bahwa akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan Ririn. Bahkan mereka telah menggunakan beberapa herbal tingkat tinggi namun hanya sedikit hasil yang didapatkan. Sedangkan bocah ini baru datang dan berpura-pura menganalisa penyakit lalu dengan bodohnya memberi hipotesa yang tidak masuk akal." Ucap laki-laki itu sambil membentak. Untung saja suaranya tidak sampai ke luar ruangan yang mana telah banyak fans Ririn menunggu di situ.


"Jika adik ketiga mengatakan akan sembuh pasti sembuh. Jika mengatakan akan mati pasti mati. Dan kamu, bagaimana jika kita bertaruh.?" Balas Andri cepat.


Laki-laki itu memicingkan matanya.


"Baik apa taruhannya?" Balas Laki-laki itu sombong.


"Jika adik ketigaku benar, maka potong sebelah tanganmu karena telah menghina adik ketigaku. Dan jika adik ketigaku salah, maka kamu bebas melakukan apa saja terhadapku." Ucap Andri tegas.


Semua orang yang ada di ruangan terdiam membisu termasuk Tang Xiao. Dia tidak menyangka kakak pertamanya ini akan berbuat sejauh itu. Yang lebih terkejut lagi adalah laki-laki itu. Dia tidak percaya dengan taruhan yang begitu besar itu. Pemuda berumur dua puluh lima tahunan itu mulai ragu dan bimbang. Di satu sisi dia mempercayai apa kata dokter sewaktu memeriksa kondisi Ririn. Di satu sisi dia tidak bisa kehilangan tangannya jika ternyata analisis Tang Xiao benar karena melihat keyakinan pemuda yang mengajaknya bertaruh.


Melihat keraguan pemuda itu, Andri tersenyum lebar. Dia kembali memgompori pemuda itu.


"Kalau takut tidak usah bertaruh. Dari awal adik ketigaku telah benar tapi kamu saja yang tidak mengetahui kemampuan adik ketigaku." Ucap Andri sombong. Entah kenapa hari ini dia terlihat agak sensitive dari hari biasanya yang terlihat selalu tenang.


Ketika pemuda itu hendak menerima tawaran Andri, satu suara mengejutkan semua orang di ruangan itu.


"Uggh. Di mana ini?" Ya itu suara Ririn yang telah telah sadar dan terlihat memegangi kepalanya sambil melihat sekeliling dan terkejut saat mengetahui orang-orang sedang mrmandangnya dengan pandangan takjub dan tak percaya.


"Saudari Ririn...." Ucap anggota kelompok Ririn sambil memeluknya dan ada diantara mereka yang menangis karena terharu. Saudara sepergeruan yang perempuan juga ikut mendekati gadis itu lalu memeluknya setelah anggota Ririn usai memeluknya.


Jessika tersenyum lebar lalu berjalan mendekati Ririn sambil membuka topengnya lalu memeluknya.


"Saudari Jessika.." Ucap Ririn yang tidak menyangka kehadiran Jessika. Ririn tersenyum senang melihat kehadiran Jessika karena dipikirnya bahwa gadis itu sudah lupa dengan dirinya. Dia juga tidak berharap lebih dengan kehadiran Jessika karena perbedaan status diantara mereka. Terlihat dari outfit yang dikenakan Jessika bahwa gadis itu berasal dari bangsawan tingkat tinggi sedangkan Ririn hanya berasal dari kalangan biasa saja.


"Terima kasih sudah datang ke sini." Ucap Ririn senang. Dia lalu memandang ke arah kelompoknya.


"Maaf membuat kalian khawatir. Tapi lihat aku baik-baik saja." Ucap Jessika tulus.


Ketiga orang itu menggeleng pelan. Bagi mereka bertiga, tidak seharusnya gadis manis itu meminta maaf karena dari awal mereka memang tidak mengharapkan lebih atas turnamen ini. Mereka sadar ada begitu banyak jenius yang akan mereka hadapi di atas arena. Namun masuk tiga besar adalah hal yang tidak mereka sangka dan itu semua berkat perjuangan salah satus gadis di depan mereka ini.


"Bagaimana dengan keadaan saudari Silvie?" Tanya Ririn kemudian yang tidak melihat Silvie di ruangannya. Seingatnya mereka berdua sama-sama mengeluarkan seluruh kemampuan mereka dan berakhir kehabisan energi qi serta mengalami luka parah di dalam.


"Saudari Silvie telah dibawa kakeknya sebelum dibawa para petugas medis. Namun sebelum pergi, Kakek saudari Silvie sedikit membantu pengobatan saudari Ririn." Jawab salah satu anggotanya.


Ririn tersenyum senang mendengar ucapan anggotanya itu. Silvie sendiri sering menceritakan kehebatan serta kemampuan kakeknya itu kepada para anggotanya sehingga Ririn dan anggotanya merasa tenang jika Silvie bersama kakeknya.


Sementara itu pemuda yang awalnya arogan, kini terdiam bengong melihat adik seperguruannya itu sudah jauh lebih baik. Sedangkan sebelumnya para petugas medis hebat dari Asosiasi Medis Benua yang ditugaskan untuk mengobati Ririn hanya bisa menggeleng dengan luka-luka dalam Ririn yang sangat parah. Dia menjadi malu teringat ucapannya barusan.


Namun yang masih dipikiran pemuda itu, bagaimana mungkin adik seperguruannya itu bisa sembuh sedemikian cepatnya? Pasti ada campur tangan seseorang sebelumnya dan tidak ada seseorang setelah para medis itu kecuali pemuda berambut biru tadi.


Dia lalu memandang ke arah pemuda berambut biru yang tadi menganalisis penyakit adik seperguruannya. Dia mengenal pemuda itu karena pemuda berambut biru itu cukup terkenal akhir-akhir ini karena berhasil mengalahkan seorang kultivator di ranah Saint-Expert puncak dengan cepat bahkan tanpa luka sedikitpun yang mana itu sangat mustahil dilakukan seseorang yang berada di ranah Grand Master bintang sembilan.


Dengan menegak ludah, Pemuda itu berjalan mendekati Tang Xiao, menyatukan kedua tangannya di depan dada, tangan kiri menggenggam kepalan tangan kanan dan sedikit membungkuk.


"Mohon maaf saudara Tang atas ucapan saya tadi." Ucap pemuda itu ramah dan berbicara sopan.


Tang Xiao berbalik. Dia tersenyum melihat ke-gentel-an pemuda di depannya ini.


"Ahaha saudara tidak mengapa. Saya juga akan berpikir demikian jika saya di posisi saudara." Jawab Tang Xiao bangkit dan melakukan hal yang sama dengan pemuda di depannya.


Suasana kembali cair dan hangat di ruangan itu.


Tok tok tok.


Pintu diketuk membuat Tang Xiao dan yang lain terdiam.


Krieett..


Pintu terbuka secara perlahan dan masuk ke dalamnya seorang kakek-kakek dan seorang gadis muda cantik manis sambil membawa beberapa keranjang yang berisi makanan minuman, buah-buahan serta obat-obatan.


Gadis itu segera berlari begitu melihat Ririn yang terduduk di atas ranjang tersenyum padanya.


"Saudari Silvie...."


......................


"Syukurlah saudari baik-baik saja." Ucap Silvie tersenyum senang. Sementara kedua gadis itu berbincang-bincang, Kakek Lao mengernyitkan dahinya saat melihat kondisi Ririn baik-baik saja.


Pasalnya kakek Lao mengetahui bagaimana luka dalam yang dialami Ririn, dan orang tua itu yakin akan cukup lama untuk disrmbuhkan meskipun menggunakan obat-obat serta herbal berkualitas tinggi. Selain organ dalam yang terluka parah, dantian gadis itu juga sedikit mengalami luka yang cukup parah. Namun kini dia terlihat baik-baik saja dan dantian gadis itu telah kembali seperti biasanya.


"Mungkin ini sebuah keajaiban" Gumam Kakek Lao pasrah. Dia kembali mengamati luka dalam Ririn dan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.


Tang Xiao, Andri, Jessika dan Arya kembali ke kamar mereka untuk beristirahat begitu malam menjelang.


Kakek Lao juga pergi beberapa saat setelah kepergian kelompok Tang Xiao meninggalkan Silvie bersama kelompoknya. Laki-laki tua itu tidak pergi ke kamarnya melainkan ke suatu tempat yang cukup jauh. Tempat yang menakutkan begitu malam telah tiba. Tempat yang bahkan ditakuti seseorang yang berada di ranah Holy Ancestor untuk dilewati. Tempat itu adalah Lembah Dawai.


......................


Turnamen antar benua kembali dilanjutkan. Memasuki semi final, kelompok tersisa yang belum bertanding tinggal dua. Kelompok pertama di dalamnya terdapar Rina bernama Black Rose, dan kelompok kedua bernama White Moon.


Kedua kelompok itu sama-sama bertarung dengan sengit di atas arena. Tentu saja memperebutkan posisi di Grand Final tidaklah mudah. Trik dan kekuatan serta bakat harus benar-benar dikeluarkan.


Tanpa terkecuali Rina, meskipun kultivasinya adalah yang terendah dalam kelompok, namun bakat dan tekniknya menyamai teman-teman kelompoknya yang lain. Entah pelatihan seperti apa yang telah dilalui oleh gadis rupawan itu selama ini sehingga teknik-tekniknya begitu mematikan.


Pertarungan terus berlanjut dan baru berhenti setelah cukup lama ketika kedua kelompok itu saling mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Pertarungan untuk memperebutkan posisi di Grand Final akhirnya dimenangkan kelompok Black Rose. Meskipun kedua krlompok sama-sama memiliki dua kultivator di ranah Saint Expert, namun di kelompok Black Rose berada di bintang tujuh dan bintang delapan. Sedangkan di kelompok White Moon berada di bintang empat dan lima.


Para penonton bersorak cukup gembira karena mereka telah diberikan tontonan yang benar-benar menarik. Pertarungan di ranah Saint Expert jelas berbeda. Kini arena itu sudah hancur lebur. Bahkan beberapa interior aula pertandingan ada yang hancur dan rusak karena terkena fluktuasi yang terjadi akibat gelombang energi kekuatan ranah Saint Expert.


Wasit menghentikan pertandingan dan dilanjutkan besok hari sementara kedua kelompok yang memasuki babak Grand Final dibiarkan istirahat yang cukup.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali suasana telah sangat meriah. Aula pertandingan yang sangat luas itu telah dimodofikasi dan dihiasi semeriah mungkin. Bahkan meja tempat hadiah bagi pemenang telah di letakkan di depan meja para juri. Meja hadiah itu sengaja di keluarkan untuk menyemangati kontestan untuk memenangi babak Grand Final.


Kelompok Black Rose telah naik ke atas panggung arena disusul dari arah berlawanan kelompok yang akan mereka lawan. Kelompok itu cukup percaya diri meskipun anggota mereka cuma empat orang sedangkan kelompok Black Rose beranggota lima orang.


Keempat orang itu sama-sama menyembunyikan wajah mereka di balik topeng dengan alasan tertentu. Keempat orang itu, tiga diantaranya menyembunyikan kekuatan asli mereka. Keempat orang itu juga cukup terkenal akhir-akhir ini di kalangan para kultivator karena aksi-aksi hebat yang mengagumkan. Kelompok tersebut bernama Young Ashura.


Sebelum memulai, wasit lapangan kembali mengingatkan tentang peraturan serta hal-hal yang tidak boleh dilanggar. Setelah dirasa kedua kelompok itu memahaminya, sang wasit terbang ke atas dan memulai memberikan aba-aba pertandingan dimulai.


Namun, kedua kelompok belum sempat beradu, sebuah portal yang cukup besar terbuka tepat di atas aula. Portal itu mengeluarkan aura yang menindas kultivator di ranah Saint Experti ke bawah.


Para kultivator yang berada di dalam aula merasakan tekanan itu sebagian dari mereka ada yang telah tidak sadarkan diri karena tekanan hebat yang tiba-tiba muncul dari atas itu.


Bboomm..


Atap aula pertandingan hancur dan orang-orang yang ada dalam arena dapat melihat ribuan orang telah melayang-layang di atas udara.


Kekacauan yang tidak disangka-sangka pun terjadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Guyss...


Gmn kbr hari ini? Sudahkah kita mengeluh? Atau kita sudah menyerah?


Yah apapun masalah, sebesar apapun masalah yang anda hadapi, seberat apapun itu, jangan khawatir, jangan takut karena itu masalah anda bukan masalah saya. Fiks kan...😁😁


Oke lah tanpa banyak membuang waktu yang tidak berguna, lebih baik baik berbuat sesuatu yang berguna. Jika tidak bisa berarti anda benar-benar tidak berguna...😆😆


Itulah sedikit Quotes dari author😋😋


Semoga hari kalian menyenangkan🙏🙏