
Tang Xiao keluar dari kamarnya dengan senyuman. Dia bahagia dengan hidupnya saat ini. Serasa baru kemarin dia meratapi hidupnya dan menyesali, kini dia mempunyai kekuatan yang tak pernah terbayang oleh siapa pun. Hidup ini memang terlihat seperti permainan. Jika tidak pandai memainkannya maka dia akan mempermainkanmu. Hidup ini juga adalah timbal balik. Dimana ada cahaya di situ ada kegelapan. Suatu bayang-bayang akan terhasil oleh cahaya yang menyentuh benda. Sifat baik dan sifat buruk akan ada jika ada wadahnya. Ibarat dua koin yang saling bertolak belakang namun saling melengkapi. Tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Tang Xiao berjalan memasuki kamar ayahnya. Terlihat ayahnya itu masih sibuk berkultivasi. Kini badan ayahnya terlihat lebih kurus dari sebelumnya karena tidak makan berhari-hari dan tidak berhenti berkultivasi. Namu demikian, aura yang keluar dari ayahnya terlihat lebih bersahaja dan lebih mempesona dari sebelumnya.
Tang Xiao lalu berjalan-jalan di lorong istana melihat sekelilingnya kemudian berjalan ke aula istana. Di sana ternyata telah ada Yan Shan, Yan Zhi, Yan Zhou serta beberapa tetua dan beberapa keluarga dari empat Keluarga pilar Kekaisaran. Melihat kedatangan Tang Xiao yang bertopeng susana sedikit berubah.
Dia dapat merasakan nafsu membunuh dari beberapa orang yang hadir. Dia tahu orang-orang itu adalah dari keluarga Lin.
"Xiao'er akhirnya kamu datang juga. Ada beberapa hal harus dibahas tentang kejadian menggemparkan baru-baru ini." Yan Shan berdiri dan menyuruh duduk di kursi di sampingnya. Kursi yang seharusnya diduki oleh Yan Zhi selaku mantan Kaisar sekaligus penasihat Kekaisaran. Beberapa orang kasak-kusuk melihat kejadian itu. Terutama dari keluarga Lin. Mereka tahu Tang Xiao telah berhasil mengubah rencana yang telah tersusun secara matang. Alhasil hingga sekarang mereka belum dapat kabar dari Dewa Iblis.
Sambil memberi hormat ke pada Yan Zhi dan Yan Shan, Tang Xiao duduk santai di kursi kehormatan seakan sangat menikmati hal itu. Keluarga besar yang lain dapat memahami hal itu karena jasa besar yang ditorehkan Tang Xiao. Namun tidak halnya keluarga Lin. Mereka semakin panas ketika melihat Tang Xiao memandang dengan pandangan mengejek ke mereka. 'Tenang kan diri kalian. Jangan sampai kita ketahuan. Bocah bertopeng itu sebenarnya tidak tahu apa-apa. Dia hanya merasa sangat bangga bisa duduk di situ." Patriak Lin Jun menenangkan orang-orang nya.
"Iya ayah Kaisar, saya juga ingin membahas hal itu." Tang Xiao yang telah duduk buka suara dan berbicara santai seolah seperti ayah sendiri.
"Katakanlah Xiao'er. Sepertinya informasi dari mu lebih baik." Yan Shan mempercayai betul anak angkatnya itu. Apalagi dengan tingkat kekuatannya saat ini menjadi pilar tertinggi Aliran Putih sekaligus Kekaisaran Yan di benua ini.
"Kita pasti mengetahui kejadian beberapa hari lalu di Pantai Selatan. Pantai Selatan yang selama ini banyak menyebar misteri, kini memberi misteri yang lebih besar dan tidak sesederhana yang dibayangkan." Tang Xiao terdiam sejenak. Dia tersenyum lebar melihat ekspresi keluarga Lin.
"Di dasar Samudra Pantai Selatan ada sebuah Istana Kastil makhluk bertanduk dua beserta seluruh anggotanya. Makhluk itu disebut Dewa Iblis. Makhluk itu telah berdiam entah berapa lama dan semua kejahatan aliran hitam didalangi oleh Iblis ini. Bahkan Sekte Pemuja Iblis telah lama bergabung dan tinggal di dasar lautan beserta seluruh anggotanya. Hantu Laut sebagai Patriak Sekte Pemuja Iblis telah berada di tingkat Jenderal Surga. Tingkat yang tidak akan pernah ada di dunia ini." Tang Xiao menghentikan penjelasannya. Dia membiarkan semua orang mencerna informasi darinya.
Tentu saja semua kaget bukan kepalang mendengarnya. Sebagian dari mereka ada yang tidak percaya namun sebagian lagi mengangguk-angguk paham. Selama ini juga mereka diselimuti misteri dengan hilangnya seluruh anggota sekte Pemuja Iblis dan Patriaknya. Bahkan satu pun tidak ada yang tertinggal. Hanya reruntuhan bangunan yang tersisa. Padahal Sekte Pemuja Iblis adalah Sekte terbesar aliran hitam. Yang Patriaknya saja sudah berada di tingkat Dewa Langit awal. Semua misteri kini sedikit demi sedikit terungkap. Terutama dari keluarga Zhou, mereka semakin paham akan situasi dan semakin mempercayai pemuda bertopeng di hadapan mereka ini.
"Lalu apa hubungannya dengan kejadian di Pantai Selatan. Apakah telah terjadi pertempuran besar-besaran.?" Patriak Zhou Yun yang tak sabar segera bertanya. Walaupun dia ragu untuk bertanya karena mana ada orang waras yang menyerang istana Dewa Iblis yang kekuatannya tidak terukur. Semua orang juga penasaran terutama Keluarga Lin.
"Ya telah terjadi pertempuran. Bukan pertempuran, tapi lebih tepatnya pembantaian" Tang Xiao berkata dingin.
"Apa pembantaian?" Semua bertanya bersamaan.
"Si.... Siapa yang dibantai?" Lin Yan tak sabar bertanya. Dia lupa jika kecoplosannya itu mengandung kecurigaan terhadap keluarga tiga Kekaisaran lain.
"Tentu saja yang dibantai adalah Dewa Iblis dan seluruh antek-anteknya." Jawab Tang Xiao santai namun dingin.
"Ap...apa....... Dewa Iblis dibantai?"Semua orang hampir mati terkejut. Manusia macam apa yang mampu membantai Dewa Iblis hanya sekejap beserta antek-anteknya. Aula Istana mulai ricuh. Berbagai pendapat terlontarkan. Keluarga Zhou, Keluarga Ling dan Keluarga Nan masih bingung dengan informasi ini. Mereka terlihat percaya namun juga terlihat tidak percaya. Semakin banyak hal yang terkuak semakin banyak pula misteri tercipta.
Keluarga Lin menjadi pusat pasi. Tubuh mereka bergetar. Informasi baru ini jelas sangat merugikan mereka. Bahkan bisa jadi penyamaran mereka terancam. Selama ini mereka bergantung penuh kepada Dewa Iblis sebagai sekutu mereka. Kini malah dibantai tanpa sisa. Jelas orang yang membantai itu bukan sembarang karena bisa mengetahui lokasi Dewa Iblis yang mereka saja tidak mengetahuinya.
"Saya yakin kalian semua bertanya-tanya dari mana saya mendapat informasi ini dan siapa orang yang membantai Dewa Iblis. Namun percayalah dia orang yang tidak pernah kalian bayangkan kekuatannya. Dan percayalah bahwa orang itu di pihak kita."
"Tuan bertopeng, lantas apa hubungan anda dengan orang itu dan apa ada bukti atas ucapan anda itu?" Lin Yan bertanya ketar ketir. Dia butuh waktu berpikir untuk lepas dari suasana genting yang sebentar lagi akan menimpa keluarganya. Mendengar pertanyaan itu Tang Xiao tersenyum lebar.
"Hubungan saya dengan orang itu bahwa orang itu adalah guru saya. Dan buktinya yaitu ada pada keluarga anda Tuan Lin." Ucap Tang Xiao sambil mengeluarkan pedang tingkat langit.
Semua orang yang terkaget mendengar ucapan Tang Xiao, tiba-tiba tubuh mereka tidak mampu bergerak. Terutama keluarga Lin. Mereka kesusahan bernafas. Seolah mereka ditarik gravitasi yang sangat besar.
Tang Xiao mengeluarkan aura Dewa Naga Ilahi yang mampu menekan satu semesta.
......................
Xiao Long yang terus berenang di kedalaman laut yang sangat gelap kini berhenti di depan sebuah palung yang sangat besar. Dia berhenti sesaat memperhatikan palung itu. Dipucuk palung ada lubang mengerucut dengan lebar yang hanya bisa dimasuki dua orang secara bersamaan. Namun semakin kebawah, ukuran palung itu semakin besar. Aura yang dia rasakin tadi semakin jelas walau tidak sebesar sebelumnya. Dia segera memasuki palung itu dan berenang dengan cepat menuju dasar palung. Membutuhkan sekitar empat batang dupa dibakar untuk sampai di dasar. Dia cukup terkejut akan lamanya dia berenang yang membutuhkan waktu demikian padahal kecepatannya sudah seperti kecepatan dia terbang ketika menuju Pantai Selatan.
Di dasar palung dia dikejutkan dengan adanya lorong luas yang menjorok ke bawah dengan anak tangga yang sangat banyak. Lampu-lampu kristal penerangan menerangi lorong itu membuatnya sedap dipandang. Lorong itu kering tanpa ada setetes air. Seolah ada pembatas antara lorong dan air laut.
Xiao Long masih berdiri cukup jauh dari lorong itu. Dia dapat melihat dua orang penjaga tingkat Nirwana berdiri di atas hewan sejenis kuda laut namun bisa hidup tanpa air. Penjaga memakai zirah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya hingga mata. Kehadiran Xiao Long tidak dirasakan oleh dua orang itu.
Karena rasa penasaran serta Xiao Long tak ingin menimbulkan masalah dan mengusik kedamaian tempat yang belum diketahuinya itu, dia lalu meleburkan keberadaan hawa dan keberadaan dirinya menggunakan ilmu Halimun Semesta. Kehadirannya tidak dapat dideteksi oleh siapapun dan melebur dirinya bersama udara.
Xiao Long secara perlahan berenang ke bawah. Sungguh hebat ilmu halimunnya, riak air dari berenangnya pun tidak ada. Xiao Long leluasa memasuki lorong itu. Dia memperhatikan ukiran-ukiran dan simbol kuno yang terpahat sangat rapi di dinding. Dia memperkirakan ukiran tersebut sekitar umur ratusan ribu tahun. Begitu juga dengan dinding serta lantai yang terbuat dari batu pualam mempunyai usia yang tak jauh berbeda.
Dia memasuki lorong yang awalnya vertikal semakin lama semakin horizontal. Terdapat beberapa penjaga tingkat Dewa Bumi di setiap lorong. Sejauh ini dia belum menemukan penjaga tingkat Nirwana kecuali yang ada di pintu lorong. PerjalananXiao Long terhenti ketika melihat sepasang pintu yang cukup tinggi dan lebar. Sekitar lima meter ukuran satu daun pintu. Dia memasuki pintu tanpa membuka dan tiba di suatu ruangan sangat luas dan mewah. Sangking luasnya terdapat ratusan bangunan mewah dan taman luas. Di tengah taman ada kolam dengan air mancur berwarna warni. Ruangan itu lebih cocok disebut kota kecil. Ruangan itu terlihat temaram dengan pencahayaan ala kadarnya. Ruangan itu ibarat disinari bulan purnama. Mungkin di tempat ini adalah malam. Beberapa orang duduk di kursi yang mengelilingi taman. Beberapa anak kecil berkejar-kejaran di taman. Sesekali orang tua mereka mengingatkan agar hati-hati. Orang-orang ini terlihat seperti manusia umumnya. Putih, cantik, ganteng dan tinggi-tinggi.
Xiao Long menggunakan mata Naga Ilahinya untuk melihat keadaan. Dia cukup terkejut begitu melihat ada kehidupan lain di ruangan itu. Tepatnya ada dimensi buatan di ruangan itu. Dalam dimensi itu telah duduk beberapa puluh orang mengelilingi meja bundar dengan satu kursi megah di ujung meja itu dan duduk seorang sepuh dengan seikat jenggut menjuntai hingga ke dada. Pria sepuh itu duduk membelakangi sebuah tiang besar dengan ukiran harimau biru mengaum setinggi 2 meter. Di atas tiang itu ada kotak terbuat dari kaca bening. Dalam kaca itu terdapat kotak persegi seukuran kepala manusia dewasa. Kotak itu bercahaya merah dan terus bergetar.
Cahaya merah itu menampilkan seseorang bertopeng berjubah emas sedang berenang dan berhenti ketika melihat lorong yang dijaga dua orang. Orang yang berenang itu tiba-tiba lenyap dari layar dan menghilang entah kemana.
Xiao Long memperhatikan orang-orang dalam dimensi itu. Ada kekhawatiran sekaligus rasa takut dalam diri mereka. Tanpa basa-basi Xiao Long segera memasuki ruangan dimensi. Dia berdiri agak jauh dari orang-orang yang duduk mengelilingi meja bundar. Cahaya merah dalam kotak semakin cerah. Dan getarannya semakin kencang.
"Kenapa Kotak Pandora menjadi seperti ini. Tuan, apakah anda merasakan kehadiran seseorang?" Seorang perempuan tua bertanya ke seorang Kakek tua yang duduk membelakangi kotak itu.
"Aku tidak merasakan kehadiran seseorang. Tapi kotak ini menunjukkan ada seseorang sekitar sini. Seseorang yang menjadi utusan menerima kotak ini. Tapi entah mengapa aku tidak bisa merasakan apa-apa. Kotak Pandora ini tak pernah salah dan tak meleset." Laki-laki tua sekitar umur 70-an tahun menjawab bingung. Semua orang menghela nafas. Mereka tau jika kotak Pandora ini jatuh ke tangan yang bukan pemiliknya maka bisa jadi kehancuran yang terjadi.
"Tuan. Apa mungkin laki-laki berjubah emas itu adalah takdir yang telah diramalkan itu?" Seorang wanita paruh baya bertanya.
"Aku juga tidak tahu. Tapi jika laki-laki berjubah emas adalah orang yang dimaksud dengan Kotak ini, maka laki-laki itu bukan orang yang dalam ramalan itu." Laki-laki tua itu menarik nafas.
"Kalian semua pasti ingat apa yang dulu dikatakan leluhur. Jika orang yang ditakdirkan itu datang, maka warna yang keluar dari kotak ini adalah warna emas. Sedangkan jika utusannya yang datang maka warna kotak ini menjadi merah. Sedangkan kotak ini dari tadi berwarna merah terang. Menandakan utusan itu telah datang dan berada di dekat kita." Laki-laki tua itu berucap sambil menghadap ke kotak yang bersinar warna merah terang benderang.
"Tapi tuan. Bagaimana mungkin ada orang yang berhasil mengetahui dan masuk ke dalam dimensi ini. Dimensi yang bahkan Kaisar Surga sendiri tak mempu melihat dan mendektesinya?" Seorang laki-laki paruh baya bertanya ragu.
"Disitulah letak ambigunya. Bagaimana mungkin ada orang yang mempunyai kekuatan tak terhingga di dunia ini tapi kita tidak merasakannya. Kekuatan yang bahkan lebih kuat dari leluhur. Tapi kekuatan itu mampu dirasakan oleh Pandora ini. Seakan orang itu berada di sini. Dan satu hal lagi, Pandora ini hanya mengenal apa yang telah ditakdirkan untuknya." Laki-laki tua yang memimpin perundingan itu menghela napas. Semua orang terdiam. Mereka menyelam dalam pikirannya masing-masing.
"Tapi setidaknya Pandora ini benar-benar menyala setelah ratusan ribu tahun yang lalu. Ada harapan bahwa Dewa Iblis yang dirumorkan dalam lamaran tak jelas beberapa ratus tahun lalu telah binasa dan tidak menemukan Pandora ini. Setidaknya sebelum pemiliknya datang semesta ini masih dalam keadaan baik-baik saja." Laki-laki tua itu menghela napas pelan. Seolah dia melepas beban berat di pundaknya selama ini. Terlihat wajah-wajah semua orang di ruangan itu sumringah dan sedikit cerah. Mereka mengangguk membenarkan ucapan laki-laki tua itu.
Xiao Long mendengar jelas semua percakapan itu. Dia tidak hentinya dibuat kaget. Selain tuanya, selama hidupnya baru kali ini ada yang merasakan kehadirannya walau hanya sebuah kotak. Ya itu adalah kotak Pandora. Dia melihat orang-orang di ruangan ini mempunyai darah naga. Dan tingkat yang paling rendah di antara mereka berada di Jenderal Surga. Beberapa telah berada di tingkat Kaisar Dewa awal. Hanya laki-laki tua itu yang berada pada tingkat Kaisar Dewa akhir. Xiao Long berpikir sesaat. Apakah dia akan mencul atau tidak dan melihat semua kejadian itu.
Xiao Long akhirnya dapat ide. Dia sedikit demi sedikit membuka hawa kehadirannya. Agar semua orang tidak kaget atas hadirnya yang tiba-tiba muncul.
Semua orang yang tadi diam kini saling pandang. Ada sesuatu yang mengusik mereka. Semakin lama orang-orang itu semakin dibuat bingung. Mereka merasakan kehadiran seseorang tapi mereka tak dapat melihat wujudnya.
"Tuan... Ini..." Perempuan tua berambut putih berbicara sambil melihat sekitaran. Ruangan pun sedikit ricuh. Mereka melihat kesana sini namun tidak menemukan siapapun. Kotak Pandora berdesing keras. Cahaya merah semakin menyala terang. Sedikit demi sedikit cahaya itu meredup dan tenang tanpa mengeluarkan suara desingan seperti tadi.
"Wahai Tuan terhormat tolong nampakan diri anda. Kami akan mengikuti tuan" Laki-laki sepuh yang duduk menghadap Kotak Pandora berbicara sopan namun mengeraskan suaranya. Dia berbicara sambil membungkuk ke arah kotak Pandora. Semua orang yang hadir melakukan apa yang dilakukan laki-laki sepuh itu.
"Hemm... Baiklah. Sepertinya memang Tuan Besar berjodoh dengan kotak ini. Sebelum itu saya ingin bertanya." Xiao Long berbicara sambil mengedarkan suaranya agar tidak ada yang tahu dimana dia berada.
"Silahkan Tuan. Silahkan bertanya kami akan menjawab" Ucap orang di ruangan itu bersamaan.
"Apa kalian mengenalku?"
Semua orang saling bersitatap. Mereka tidak tahu harus menjawab apa.
"Ehem tuan... Kami memang tidak mengenal tuan. Tapi kami pernah melihat tuan. Bukan kami yang melihat, tapi kotak pandora ini yang memperhatikan." Pria tua menjawab sambil garuk-garuk kepala. Memang telah lancang jika mereka memata-matai seseorang yang tidak harusnya mereka usik. Tapi jelas hal itu bukan keinginan mereka.
"Hemm baiklah. Saya hanya bertanya." Xiao Long menampakkan dirinya sedikit demi sedikit. Dia melepas topengnya dan menampilkan wajah tampan rupawan. Dia tersenyum hangat ke arah orang-orang yang memandangnya.
Semua orang terkesiap melihat seorang laki-laki tampan muncul sedikit demi sedikit berdiri tegak di depan mereka. Laki-laki berjubah emas dengan ukiran Naga yang meliuk-liuk seakan hidup sedang tersenyum memandang. Laki-laki yang berdiri tepat di depan Kotak Pandora.
"Selamat datang Tuan di dunia kami." Ucap laki-laki tua sepuh yang menjadi pemimpin sambil membungkuk setengah badan dan diikuti seluruh pengikutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
#
Kening kuletakan di bumi
Peluh bercucuran membasahi
Ya Rabb diri ini terlalu lemah
Hanya dengan rahmat hamba bisa selamat
El-Khan
Kendal, 8 Des 2020
Maaf upnya lama..... Benar-benar ada kesibukan.