The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 91 - True Treasure Room



“HUAHAHAHA....KEMARI!? HADAPI AK—UKH!?”


BUAKH!


“DIAM SIALAN!?”


Hua Riyun menginjak kepala Tie Mu geram, meski setengah badannya tertindih batu besar bocah itu masih tertawa seperti orang gila sambil berusaha menarik keluar tongkatnya. Kalau bukan karena Tie Mu mungkin Hua Riyun, Xie Jingyi, Xue Yi, Qiu Na, dan Xu Bai tidak terperangkap disana.


Sekarang mereka berenam berada di semacam tempat tertutup, tak nampak jalan keluar sedikitpun. Hanya ada bebatuan besar sejauh mata memandang. Xie Jingyi menyalakan api agar pengelihatan masing – masing bisa lebih jelas.


“Untuk sekarang, sebaiknya kita melupakan perseteruan sebelumnya....”


“Aku setuju.....” balas Xue Yi mengangguk.


“Ckk....” Qiu Na berdecak tidak puas.


“Waaa.....apa – apaan!? Kenapa aku harus terjebak dengan kalian!? Suasana canggung macam apa ini.....??!!! Aku mau keluar....!??” teriak Riyun histeris meratapi kebuntuan disekitarnya.


------><------


“Wooaaa!? Eh? Pyuh....mimpi? Kok bisa ada lubang tiba – tiba mun—Ouch!?”


“Jangan banyak bergerak, aku baru menyembuhkan lukamu....”


Tian Xiaoye tersentak kaget ketika menyadari Lian berdiri disampingnya sambil memegangi reruntuhan batu. Dia memejamkan mata seperti berusaha mendengarkan sesuatu. Penasaran, Xiaoye mendekat terus menunggu.


“Kau sedang melakukan apa?” celetuknya akhirnya.


“Mencari keberadaan yang lain, ternyata jaraknya cukup jauh. Menghancurkan batuan ini juga berbahaya karena dapat menyebabkan langit – langit runtuh menimpa kita semua....”


“Ajarkan aku caramu mengetahuinya.....”


“Hehehe....Saudari Tian, kau cuma perlu memanfaatkan indra pendengaran dan perabamu.....” Bing Lian menoleh sembari tertawa.


Tian Xiaoye melakukannya seperti petunjuk Lian, Bing Lian memperhatikan wajah gadis tersebut dalam – dalam tapi malah menambah perasaan sakit hatinya. Beberapa menit berselang Xiaoye membuka mata sebelum menggelengkan kepala pelan, dia berkata tak merasakan apapun.


“Berarti Saudari Tian kurang berlatih, dalam ilmu pedang pun demikian. Terkadang kau sebaiknya jangan terlalu mempercayai matamu.....”


Xiaoye terpukau oleh ucapan Lian tadi, sebenarnya ia pernah merasakan langsung makna kata – kata Lian. Setiap kali latihan tanding menghadapi kakeknya, Tian Xiaoye selalu kalah. Pergerakan Patriach Twin Sword Mountain teramat cepat sampai Xiaoye gagal mengikutinya, disaat begitulah Xiaoye harus memanfaatkan indra – indra lain miliknya.


“Kamu pintar merangkai kalimat.....” puji Tian Xiaoye tulus.


“Sungguh? Hehehe....tapi apa Saudari Tian nanti baik – baik saja jika terus begini?”


“Maksudnya?”


“Bukankah Senior Di memintamu agar menjauhiku?”


“Ahhh!? Benar, karena rumor – rumor buruk itu bukan? Namun bukannya kau bilang sedang difitnah?”


“Bagaimana kalau kabar – kabar burung tersebut nyatanya benar?”


“Hmm....menurutku pribadi kau sama sekali tak terlihat jahat dimataku....”


Bing Lian terdiam entah berapa lama dan pada akhirnya berterima kasih, dia bangkit kemudian menunjukan sebuah gua besar tidak jauh dari lokasi keduanya berada. Lian berencana memasukinya tadi tetapi mana tega meninggalkan Xiaoye yang pingsan sendirian, ia juga mengurungkan niat membawanya karena siapa tau Tian Xiaoye menolak.


“Menurutmu diujungnya adalah jalan keluar?”


“Hmm....mungkin—“


“Aku ikut....” kata Xiaoye cepat bahkan tanpa menunggu Lian usai bicara.


“Eh? Ahh....Blue Firefiies”



Lian menggaruk – garuk kepalanya bingung kemudian memunculkan bola cahaya kebiruan dari tangannya. Penerangan tersebut cukup untuk mereka, Bing Lian tidak tau jika Xiaoye sangat senang. Belum pernah dia merasakan pengalaman berbincang – bincang layaknya orang normal dengan anak sebayanya tanpa memunculkan perasaan canggung.


Xiaoye takut salah bicara sebab melupakan wajah lawan bicaranya, tetapi bersama Bing Lian seluruh kekhawatirannya sirna bagai debu tertiup angin. Rasanya sedikit berbeda dari bicara bersama Di En, seniornya itu selalu mencari topik supaya pembicaraan keduanya tetap berlangsung. Sementara Xiaoye mendengarkan, disisi lain Lian nampaknya lebih sering merespon pertanyaan Xiaoye ketimbang berputar – putar kesana kemari.


“Mari....Saudari Tian....”


“Baiklah, Lian....”


DEG!


Langkah Bing Lian terhenti sampai Tian Xiaoye menabrak punggungnya, ingatan mengenai pertemuan pertamanya dengan Bai Wen seolah diputar kembali memenuhi pikiranya. Saat perdana sang Tuan Putri menyebut namanya.


“Eh!? Maaf!? Aku bersikap kurang sopan, harusnya aku memanggilmu Saudara Bing....” ujar Tian Xiaoye cepat – cepat.


“Mana bisa begitu, sebagai gantinya kau juga boleh memanggilku Xiaoye....”


“Aku mengerti....Xiaoye....” Lian tersenyum sebelum melanjutkan langkahnya.


------><------


“Lian? Menurutmu tempat apa ini?”


“Ruang Harta yang sebenarnya.....”


“Eh? Bukankah seharusnya berada di Utara seperti perkataan Seniormu?”


Sambil berjalan menyusuri lorong panjang alami barusan Lian menjelaskan kalau terdapat beberapa Dimension Realm mempunyai Ruang Harta palsu demi mengecoh Cultivator penjelajah agar gagal menemukan lokasi inti sumber daya berada.


Biasanya hal ini disebabkan oleh penjaga Ruang Harta berkekuatan besar jadinya mampu menyembunyikan tempat sebenarnya, bukan berarti pada yang palsu tak terdapat barang berharga. Hanya saja isinya dapat dibilang kualitasnya sangat rendah dibandingkan aslinya, kebanyakan Ruang Harta tipuan berisi benda peninggalan Cultivator korban meninggal di dimensi tersebut.


“Terus....kenapa kau yakin kita di tempat Ruang Harta sungguhan?”


“Firasat....” balas Lian mengernyitkan dahi melihat hawa jahat semakin bertambah pekat.


“Ugh....”


“Xiaoye?”


“Tiba – tiba aku merasa kurang enak badan.....pusing.....ekh.....”


Tian Xiaoye tersungkur lemah, Bing Lian segera mendekat dan membantunya bersandar kepada dinding gua. Lian memintanya menahan sebentar terus menyentuh jidatnya, Qi murni mengalir deras menyebabkan kondisi Xiaoye membaik.


“Terima kasih.....meski aku tidak mengerti kamu melakukan apa....”


“Aku membersihkan hawa jahat dari seluruh badanmu, mereka mengganggu kestabilan jiwa serta ragamu....”


“Hawa jahat? Apa itu?” Xiaoye balik bertanya penuh ingin tau.


“Ahahaha....Xiaoye? Pernahkah kau bermimpi indah?”


“Mimpi? Hmm...seingatku iya, aku tidur diatas awan....”


“Bagus, sekarang aku mau bertanya. Apa kau pernah jatuh dilubang yang sama dua kali?” bisik Lian mengusap lembut pipi gadis tersebut


“Emm....iya kakek selalu mengatakan aku sedikit ceroboh....”


“Aku juga sama, aku berusaha tapi sepertinya gagal....Desire Reflection....”


Usai Lian mengucapkan kalimat barusan pandangan Tian Xiaoye menjadi kosong, dia memejamkan mata lalu tertidur. Bing Lian membentuk mantra tangan tuk membuat pelindung agar Xiaoye tidak terkena dampak hawa jahat.


“Sekeras apapun aku berjuang menolak, nampaknya aku tetap jatuh ke pangkuanmu. Wen’er, tunggulah disini....aku harus menemui seseorang....”


------><------


Bing Lian sampai diujung jalan, tempat berlangit – langit tinggi menantinya. Hamparan benda berharga layaknya Spirit Stone, Spirit Tools, Jade Slip ilmu tingkat tinggi, dan masih banyak lagi berserakan. Lian mengabaikan semuanya kemudian berjalan lurus.


Mengikuti arah datangnya hawa jahat pekat familiar ini, semakin dalam ia berjalan bertambah pula sumber daya berkualitas mengelilinginya. Akhirnya langkah Lian berhenti sewaktu bunyi keras guntur memekakkan telinga terdengar.


JDUAARRR!!!


“BOCAH MANUSIA TENGIK!? BERANI SEKALI KAU DATANG KEMARI!!??”



Pada puncak semacam pilar batu, keluar asap disusul siluet makhluk besar panjang bertanduk. Suaranya berbicara sangat mengerikan nan mengintimidasi, Lian menengadah sebentar terus lanjut berjalan. Tentu si penghuni ruang harta kaget karena pertama kali menerima sikap acuh tak acuh demikian.


“HOIII!? KAU MAU MENANTANG SANG RAJA NAGA PUTIH PERKASA INI!?”


“Hentikan ocehanmu Baixian, bagaimana jika pendengaranku terganggu?” Lian menghela napas sambil menutup kedua kupingnya.


“Eh....? Kok dirimu dapat mengetahui namaku?”


“Tentu saja, sebab akulah yang memberikannya kepadamu....”


“HAH!?”


“Apa? Baru lima ratus tahun dan kau telah berani melupakan Tuanmu?”


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.