
“Eh? Aku?” Bing Lian menunjuk dirinya sendiri bingung, sama terkejutnya dengan semua anggota Crow Feather Elder yang mendengar pengumuman mendadak barusan.
Yin Wuya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi sehingga orang – orang mulai melemparkan pandangan menuju Yin Jiang meminta kepastian, namun sang Grand Elder juga hanya mengangkat kedua bahunya pertanda dia mengkonfirmasi perkataan Patriach.
Kehebohan segera meledak, protes – protes keras dilayangkan atas keputusan berkesan terburu – buru tersebut. Ada bebeberapa keturunan diantara mereka ingin mendapatkan posisi sebagai murid langsung Yin Jiang kemudian membuka kesempatan besar menjadi Grand Elder masa depan White Crow Sect.
Akibat kemenangan Yin Kiew pada seleksi Legacy Disciple, gadis itu sama saja memastikan kedudukanya untuk menggapai gelar Matriach bertambah besar. Bisa dibilang jabatan pemimpin sekte mustahil diberikan kepada sosok lain.
Jadi satu – satunya kesempatan tersisa bagi Crow Feather Elder yang berkeinginan memperbaiki kualitas hidup keluarganya hanya mengincar tempat tertinggi kedua yaitu Grand Elder, tapi pernyataan Wuya tadi menghanguskan segala daya dan upaya persiapan mereka.
“Patriach? Grand Elder? Kumohon pikirkan kembali!”
“Bukankah kalian sedikit tergesa – gesa? Bahkan tanpa meminta pendapat kami terlebih dahulu?”
“Bagaimana nasip mimpi anak – anak di luar sana!”
“Hehehe....kalau begitu berikan aku catatan riwayat salah satu keturunan kalian yang menyamai Bing Lian saat berada di Forging Qi, jika ada maka akan aku angkat langsung sebagai murid” ujar Yin Jiang pelan kepada semua hadirin.
Tiap individu menutup mulut seketika, membukanya pun belum tentu bicara berucap. Sepak terjang Lian sampai saat ini sulit ditandingi bahkan oleh para jenius generasi sebelumnya, termasuk Cultivator Foundation Realm maupun Core Formation keturunan tetua – tetua.
“Patri—“
“Sudahlah Grand Elder, kita katakan sejujurnya supaya tak muncul perdebatan sia – sia. Kami sebenarnya juga terkejut seperti kalian, tetapi ini adalah perintah Old Matriach. Semisal ada yang keberatan, silahkan melayangkan protes langsung....”
DEG!
Ruangan senyap seketika nama Old Matriach disebut, kalau sampai beliau dibawa – bawa dalam percakapan berarti pendapat mereka tidak berarti apa – apa. Dengan kata lain pengangkatan Bing Lian sebagai murid langsung Grand Elder merupakan keputusan mutlak.
“Ibuku juga berpesan, kalau masih ragu. Sebaiknya periksa Spirit Root miliknya, Tetua Hou? Bersediakah kau?”
“Hah?”
Ekspresi kebingungan menghiasi wajah anggota Crow Feather Elder, Hou Dai maju menuruti permintaan Wuya dan memeriksa telapak tangan Lian. Ia membacanya sekali namun mengerutkan dahi kebingungan, lalu menggelengkan kepala sebelum mencoba kembali.
WAAA!!!
Teriakan kencang Hou Dai mengagetkan semua orang, si pria tua mundur perlahan sembari menunjuk Bing Lian dengan mulut terbuka lebar. Mereka saling menatap aneh, karena bakatnya beberapa memang menduga Lian pasti maksimal mempunyai dua elemen pada Spirit Root tubuhnya.
“K... ka....kau....!”
“Tetua Hou....?”
Hou Dai menoleh terus menjelaskan hasil analisisnya sambil terbata – bata, usai bercerita tiap orang bergerak serempak kesana kecuali Yin Wuya dan Yin Jiang. Ingin melihat sendiri mengunakan mata kepala masing – masing. Sampai menyebabkan Lian terdorong mundur hendak terjatuh dari podiumnya, tarikan napas kencang mengisi penjuru ruangan.
“ICE DANTIAN!!???”
“A....hahaha....” Lian tertawa lemah.
Bertepatan dengan fakta tersebut, hilang sudah perasaan egois Crow Feather Elder. Spirit Root satu elemen teramat langka, apalagi es. Mau bersikeraspun membahas soal bakat tidak mungkin salah satu keturunan mereka menyamainya.
“Selesai? Baiklah, Bing Lian kamu selanjutya tinggal di King Crow Pavillion. Jadi persiapkan barang – barangmu, Kiew’er akan senang melihatmu....” akhir Patriach berniat meninggalkan lokasi.
“Eh? Maksudnya?”
“Hah? Tapi!?—“
“Tentu kami juga disitu, jangan berpikiran aneh – aneh”
“Bukan begitu! Tunggu sebentar Partriach!? Bolehkah aku meminta sesuatu?” Lian cepat – cepat menahannya.
------><------
“Begitulah kejadiannya....”
“Kau bakal menjadi murid Grand Elder!? Keren sekali!”
“Selamat ya!”
Lu Xiulan dan Tan Minjie saling menatap penuh senyuman, Bing Lian yang baru memberitahu kejadian di Crow Nest Tribunal memiringkan kepala penasaran. Saat kedua sahabatnya tersebut menganggukan kepala bersamaan barulah ia mengerti.
Ternyata bukan hanya Lian, mereka berdua pun mendapat tawaran sama. Menjadi anak didik langsung Crow Feather Elder, Lu Xiulan diajak Hou Dai ke Crow Furnace Division demi mempelajari ilmu Alchemy lebih jauh. Disanalah tempat para Alchemist penyedia pasokan bagi sekte bekerja, Hou Dai ingin Xiulan menjelma sebagai penerusnya kelak.
Sementara Tan Minjie digaet Geng Jun, Tetua yang mengepalai Secret Crow Division. Kecepatan disertai kemampuanya bicara nampaknya cocok mengisi tempat kosong, Minjie mempunyai dasar – dasar informan dengan cukup baik. Geng Jun berencana ikut mengangkatnya menjadi murid langsung.
Demikianlah ketiga petinggi Snow Feather Dormitory memperoleh rumah baru, Bing Lian tidak perlu bertanya apakah Lu Xiulan juga Tan Minjie bakal menerima tawaran barusan atau tidak. Pasti keduanya mau berkembang dan bertambah kuat.
Lalu seperti dugaannya, Xiulan serta Minjie bersedia mengikuti dua Crow Feather Elder itu. Sekarang yang jadi pertanyaannya adalah bagaimana nasip asrama kedepannya jika ketiganya pergi, apakah sebaiknya memilih ketua baru?.
Tan Minjie mengusulkan kalau salah satu tetap tinggal disini, tetapi Lian segera memberitahu kalau hal tersebut mustahil dilakukan. Kalau telah resmi sebagai murid, mereka seharusnya mendapatkan pelatihan ditambah misi – misi tertentu dari guru masing – masing.
Bing Lian lalu membahas mengenai rencana Patriach White Crow Sect, Yin Wuya. Bersama Grand Elder mereka Yin Jiang tuk melaksanakan latihan tertutup selama sekitar dua tahun supaya memantapkan dirinya dan Yin Kiew memasuki Foundation Realm kelak.
Lagi – lagi ketiganya terdiam, merenungkan jalan keluar masalah tersebut. Akhirnya Lian bangkit sembari berkata lantang. “Ahhh....bukan saatnya bingung, kita bisa memikirkannya lain kali. Sekarang waktunya menenangkan pikiran, kau siap Xiulan?”.
“Hmm? Apa?”
“P....U....L....A....NG” eja Lian gembira.
Lu Xiulan langsung tegak berdiri, wajahnya sumeringah. Ia berkata akan membawa beberapa barang sebelum berangkat, Lian berteriak kalau mereka berangkat besok jadi tak perlu terburu – buru. Ini adalah alasan mengapa Bing Lian memanggil Yin Wuya sewaktu selesai rapat.
Karena ingin cepat menjalankan latihan tertutup, Lian meminta satu bulan untuk pulang menengok kabar Windless Heights Valley. Patriach menyetujuinya agar konsentrasi Bing Lian tidak teralihkan semasa berlatih nanti.
Dia penasaran bagaimana keadaan ladang keluarganya sesampainya disana besok, semoga rumput liar pada makam orang tuanya tidak terlalu tinggi sehingga sulit ditemukan. Cukup membayangkan debu – debu yang melapisi perabotan pondok sudah menyebabkan hidungnya gatal.
Malam harinya Lian mendatangi kediaman Lu Xiulan, gadis tersebut nampak tertidur pulas diatas tumpukan barang bawaanya. Bing Lian menggelengkan kepala heran sebelum mengucapkan permisi dan masuk, dia mengambil selimut agar Xiulan tidak masuk angin.
“Kau tidak perlu memenangkan seleksi untuk pantas berdiri disampingku....hehehe” Lian mengusap rambutnya lembut kemudian meninggalkan lokasi dengan menutup rapat pintunya serta mematikan lampu.
Seperginya Lian, Lu Xiulan membuka sebelah matanya sembari tersenyum lebar. Ia merapatkan selimutnya lalu melanjutkan perjalanan menuju alam mimpi berharap fajar segera tiba.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.