The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 24 - Sanksi



“Terima kasih atas kemurahan hati Old Matriach” Lian menghela napas lega, bersyukur masih diberi muka.


“Tapi pelanggaran tetap pelanggaran, Yin Kiew dengan adanya kejadian tadi. Silahkan lupakan posisimu sebagai kandidat Murid Suci generasi ini”


Ekspresi Yin Kiew langsung berubah seperti orang yang tersambar petir, mulutnya membuka kemudian menutup seolah ingin mengatakan sesuatu namun tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Patriach cuma menggelengkan kepala mendengar pernyataan barusan.


Sekali Ibunya mengambil keputusan, dia tidak akan pernah menarik kembali kata – katanya. Bukan hanya mereka berdua, semua orang termasuk Bing Lian sendiri terkejut akan sanksi pemberian Old Matriach.


‘Dirimu terlalu keras terhadap cucu sendiri....’


Selesai mengomel sebentar lalu memerintahkan Patriach juga memberikan hukuman setimpal, suara perempuan sepuh tersebut menghilang dan membuat masing – masing bisa kembali bernapas seperti semula.


Tanpa menunggu lagi, Patriach meminta Yin Kiew tuk mengganti tiap kerugian yang diterima Snow Feather Dormitory terutama kerusakan bangunan. Beliau juga mengusir putrinya dari hunian miliknya sekarang terus menegaskan agar ia tinggal sementara di sini sampai kondisi asrama normal kembali.


Yin Kiew hanya diam seribu bahasa, seluruh semangatnya seolah menguap bersama kata – kata sang nenek sebelumnya. Dia baru mengangkat kepala sewaktu Patriach bilang kalau semua tabungan serta pemberian darinya disita, sehingga Yin Kiew berkewajiban memakai pendapatan sendiri demi menyelesaikan masalah ini.


“Serahkan Silver Falcon....”


“Patriach tunggu sebentar.....”


Lian maju ketika Patriach menjulurkan tangan berniat mengambil pedang Yin Kiew, penjelasan anak itu terdengar janggal dan membuat Patriach penasaran. Benar saja pada saat memeriksa terdapat retakan halus menghiasi bilah Silver Falcon.


"Apa perkataannya benar?”


“Iya....” jawab Yin Kiew mmengangguk lemah.


“Hmm....menarik, kalau begitu kau boleh menyimpanya. Lagi pula dirimu minimal harus mempunyai senjata untuk mengerjakan misi”


“Terima kasih banyak Patriach”


Sebenarnya tadi Lian memberitahu tentang kerusakan senjata Spirit Tool Profound-Mid Tier Yin Kiew supaya Ayahnya tidak turut mengambil benda tersebut. Sejujurnya si pria paruh baya bertampang muda dihadapannya malah bertanya – tanya bagaimana cara anak Forging Qi tingkat 4 memberikan cacat terhadap sebuah pusaka.


Terakhir sebelum pamit, Patirach melemparkan satu pil berwarna kemerahan yang ditangkap hati – hati oleh Lian. Waktu dikonsumsi, perlahan luka – luka disekujur tubuhnya mulai menutup serta sembuh. Ia merasa bugar dan penuh tenaga layaknya pertarungn melawan Yin Kiew tidak pernah terjadi.


‘Sword Intent pada umur semuda ini....’ Patriach melirik Lian sekali lagi sembari mengelus dagunya, dalam hitungan detik sosoknya lenyap bak tertelan bumi.


Tidak jauh dari sana, ada seorang pri tua mengamati. Dia mengumpat pelan menyadari Lian masih baik – baik saja. Orang itu adalah Chun Tao, salah satu dari Crow Feather Elder. Berbekal Divine Sense, setelah mendengar kabar Yin Kiew menyerbu Snow Feather Dormitory dirinya sangat gembira.


Karena tidak perlu turun tangan langsung menyingkirkan Bing Lian, alasan mengapa Chun Tao ingin bocah tersebut mati tentu sebab pembununan sadis Chun Lang. Walau hanya berasal dari keluarga cabang, Chun Lang tetap kerabatnya yang punya potensi menguatkan posisinya di sekte.


Padahal bakatnya terbilang cukup menjanjikan, namun sayang harus tewas mengenaskan dimakan kesombongannya sendiri. Siapa sangka Patriach maupun Old Matriach White Crow Sect menunjukan tanda – tanda memperhatikan Bing Lian, fakta ini makin menyebabkan kepala Chun Tao terasa mau pecah memikirkan cara pembalasan terbaik tapi tanpa resiko dirinya mengalami kerugian besar.


------><------


Seminggu berlalu sejak Yin Kiew mulai tinggal bersama mereka, ia diberikan salah satu ruangan terbesar tempat untuk beristirahat. Yang dimana dulunya merupakan lokasi kamar dari Lian, sang tuan putri jarang menampakan diri dan cuma berdiam saja di dalam.



Anak – anak Snow Feather Dormitory yang awalnya kesal atas sikapnya menyerang asrama perlahan tapi pasti agak luluh dikarenakan kecantikan Yin Kiew. Ada saja beberapa penghuni mencoba peruntungan supaya berkesempatan melihat wajahnya walau hanya sekilas.


Tiap hari itu juga Lu Xiulan bersama para pengurus meletakan makanan sebanyak tiga kali sehari di depan pintunya namun selalu kembali utuh seolah tidak digubris. Suatu ketika Bing Lian tengah memenuhi gilirannya memasak dan jadi terkejut akibat suara keras nampan dihentakkan ke meja .



“Dasara perempuan sombong.....” Lu Xiulan menggeram.


“Nona Lu? Kau baik – baik saja....?”


Keluh kesah Xiulan berisi tentang betapa lelahnya anak – anak membuat lauk pauk tetapi Yin Kiew seolah tidak perduli kemudian membiarkannya semuanya basi terus terbuang sia – sia. Lian terkikik geli namun segera berhenti melihat tatapan tajam Lu Xiulan.


“Ahahaha....jika sudah berada di Forging Qi tingkat 9 tentu jarang perlu mengisi perut, sebaiknya Nona Lu bersama yang lain tak usah mengantarkan makanan lagi kepada Nona Yin”


“Katakan Lian, Apa menurutmu Senior Yin Kiew cantik?”


“Hmm....”


Dia terdiam sebentar berusaha berpikir, jika ingatannya belum kembali. Pasti Lian akan menjawab iya tanpa ragu sedikitpun, tetapi jika boleh jujur. Karena telah bertemu dengan sepuluh besar peringkat perempuan paling menawan di seluruh benua Huawai dulu, Yin Kiew belum mencapai tahap tersebut bagi Bing Lian.


Terlebih adiknya, Bai Wen Sang Tuan Putri Kerajaan Seoris Kingdom berada diurutan nomor tiga dan menjadi satu – satunya manusia biasa dalam daftar tersebut. Sementara sisanya merupakan Cultivator – Cultivator tingkat tinggi.


“Bagaimana?” Xiulan masih menunggu.


“Biasa saja, menurutku Senior tidak terlalu buruk.....”


“Ehh...”


“Kenapa?”


“Tidak, kau laki – laki pertama di Snow Feather Dormitory yang memberikan jawaban begitu”


“Apa Nona Lu merasa cemburu?” canda Lian.


“Hmph!? Jangan terlalu percaya diri ya!”


“Hehehe....”


Keduanya kemudian bersama – sama menyiapkan hidangan demi seluruh murid – murid asrama mereka. Beberapa yang mencium aroma menggoda dari dapur perlahan meneteskan air liur sembari mengusap perutnya.


Tan Minjie hampir terlelap ketika membaca sebuah Manual Praktik pinjaman dari perpustakaan langsung terjaga kembali akibat suara protes lambungnya, cukup hanya dari itu dia tau pasti siapa gerangan si pelaku utama.


Ia pernah sekali meminta masakan Lian dan hal tersebut sungguh pengalaman luar biasa, sementara Yin Kiew kehilangan konsenterasi meditasinya saat bau harum barusan perlahan masuk melalui ventilasi udara.


Bing Lian memberikan bumbu terakhir sebelum menutup panci penuh uap mengepul, setelah mengelap keringat dirinya bergerak cepat membantu Xiulan mengurus piring – piring kotor kemudian meletakannya secara berjejer rapi.


Anak – anak mulai berdatangan satu per satu mengambil jatah masing – masing, tidak membutuhkan waktu lama. Semua ludes tak bersisa, Lian menggaruk – garuk kepala bingung mengapa bocah – bocah Cultivator ini begitu terikat dengan makanan.


‘Padahal kelak makan akan menjadi kegiatan merepotkan bagi kalian’


“Lian?”


“Iya? Ada perlu apa Nona Lu?”


“Bisakah kau berhenti memanggilku menggunakan sebutan itu? Xiulan atau Xiuxiu cukup bukan?” Lu Xiulan memanyunkan bibirnya.


“Ahh....kupikir sedikit kurang sopan jadi....”


“Pokoknya jangan harap aku merespon jika kau masih melakukannya”


“Eee....baiklah, mungkin pada kesempatan berikutnya” ujar Lian tersenyum canggung.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.