The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 64 - Lengser



Di tengah perjalanan pulang, Yang Wei dan Liao Mei saling tatap ketika Fan Li meminta mereka meminjamkan Spatial Ring masing – masing. Ekspresi keduanya kian bingung melihat Tetua Legendary Sword Valley tersebut seperti memasukan sesuatu.


Waktu sudah dikembalikan kemudian memeriksa apa isinya, mata Yang Wei maupun Liao Mei melebar. Mulut dua anak itu membuka namun tidak ada kata – kata yang keluar dari sana.


“Hehehe sejak awal dia memang tak berniat mengambil Spirit Stone kita....” jelas Fan Li.


Fan Li bercerita malam pertama ketiganya menginap, Bing Lian mendatangi kamarnya kemudian mengembalikan semua bayaran menginap tanpa kurang sepeserpun. Dia percaya tamu – tamu lain juga demikian, saat ditanya mengapa?. Lian cuma berkata.


‘Kupikir sumber daya ini akan lebih bermanfaat di tangan kalian....hihihi...tolong rahasiakan hingga semua tamu meninggalkan White Crow Sect’


“Apa maksudnya?” Yang Wei menaikan sebelas alis.


“Terdapat dua kemungkinan, pertama ia tidak sedang memerlukan Spirit Stone atau memang dia cukup percaya diri dengan aset yang dimilikinya”


“Terus kenapa bocah itu memintanya?”


“Sepertinya agar penghuni Snow Feather Dormitory lain berhenti membenci kita, mengingat perbuatan buruk seseorang ingin membeli tubuh sahabatnya....” sindir Liao Mei halus.


“Kau sendiri menyerang kepala asramanya!”


“Sudah – sudah, hei sebentar. Mengapa kalian berdua terlihat sangat terburu – buru?” Fan Li baru sadar jarak antara dirinya dengan kedua murid sektenya makin melebar.


“Aku ingin segera pulang dan meminta kakek mengajarkan beberapa teknik pembaharuan tingkat tinggi” jawab Yang Wei serius.



“Kalau kau Mei’er?”


“Hmm? Emm....aku punya sebuah target baru....” Liao Mei menyahut sembari tersenyum.


“Apakah itu?”


“Melebihi Yin Kiew....mengalahkan Tian Xiaoye.....kemudian membuat Bing Lian terpesona....hihihi....”


“Ahahaha sepertinya keputusan Patriach mengirim mereka kesana telah tepat, semangat kalian berdua....” gumam Fan Li menatap langit, dia yakin kunjungan ke White Crow Sect bakal selalu diingat oleh Yang Wei serta Liao Mei.


------><------


Sepulangnya mengantar tamu dari Legendary Sword Valley, Lian disambut kiriman surat peting dari petinggi sekte. Lu Xiulan memberikan kertas tersebut kepadanya dan mengatakan kalau seorang murid Tetua baru meninggalkan lokasi beberapa menit lalu selesai meninggalkan pesan barusan.


Bing Lian mengangguk pelan terus mengintip isinya, kerutan dikeningnya menandakan kalau dia bertambah bingung. Tan Minjie bersama Xiulan menyadari perubahan ekspresi Lian sehingga mulai bertanya – tanya dalam hati.


“Ada apa Lian?”


“Tidak....hanya saja....aku diminta mendatangi Crow Nest Tribunal....”


“Pengadilan? Kenapa? Kau tidak melakukan suatu hal terlarang bersama Senior Yin buk—Ugh!?”


Lu Xiulan menyikut keras rusuk Tan Minjie sebelum pemuda itu menyelesaikan kalimatnya, Bing Lian masih nampak berpikir. Waktu yang tertera disana menunjukan besok pukul sembilan pagi, akhirnya dia menghela napas panjang. Tak ada gunanya capai – capai memikirkannya, besok juga dirinya pasti tau.


“Kau ingat sesuatu? Xiulan menyeletuk.


“Mmm....entahlah, namun aku punya perasaan semua petinggi sekte nanti hadir. Sepertinya semacam rapat umum, sebaiknya aku tidur lebih awal hari ini” Bing Lian mengelus kepala gadis tersebut untuk menenangkannya.


------><------


Crow Nest Tribunal merupakan tempat dimana anggota sekte mendapat penghakiman atas segala perbuatannya semisal pelanggaran – pelanggaran tertentu. Disana mereka akan diadili sesuai dengan kesalahan masing – masing.



Tepat pukul sembilan, seseorang datang menjemputnya menuju tempat yang sudah ditentukan. Ketika pintu dibuka, ekspresi Bing Lian berubah serius. Dia bisa merasakan sejumlah Divine Sense menusuk melalui segala arah, udara pun berubah berat menandakan orang – orang disana bukanlah sosok sembarangan.


Praktik terlemah adalah Nascent Soul Early – Stage. Lian diminta berdiri di salah satu titik berpagar kayu. Dihadapanya berdiri mimbar tinggi, semuanya telah diisi oleh petinggi – petiggi White Crow Sect. Patriach, Grand Elder, dan para Crow Feather Elder bekumpul bersama.


Lian bertanya – tanya dalam hati apa ia menyebabkan semacam masalah tanpa dirinya sadari, atau melukai putri Patriach saat seleksi masuk hitungan? Entahlah. Bing Lian hanya diam memperhatikan sekeliling, tidak berniat bicara sebelum diminta. Namun tatapan hangat Yin Wuya cukup sebagai pertanda baik bagi Lian menurutnya pribadi.


Beberapa menit kemudian pintu terbuka kembali, tapi sedikit lebih berisik. Sekitar lima orang nampak masuk menyeret tahanan, rantai Qi mengekang sekujur tubuhnya. Matanya menatap penuh kebencian melihat Lian berdiri tak jauh dari lokasinya berada.


“Setan....kecil.....kemari biar kucabik – cabik wajahmu!”


“Tetua Chun....” Lian memberi hormat tenang.


Penampilan Chun Tao benar – benar berbeda dari ketika dia menjabat sebagai Crow Feather Elder, tampang wibawa serta pembawaannya telah sirna. Rambutnya terurai berantakan, memperlihatkan uban mencuat dimana – mana.


“Lihat saja nanti....aku pasti—Mmmm!?”


“Diam, kau tidak punya hak tuk bicara” hanya dengan lirikan sederhana, Patriach membungkam mulut Chun Tao.


Raut mukanya dipenuhi ketakutan, nyalinya menguap begitu saja. Grand Elder menggelengkan kepala pelan lalu berdiri. Yin Jiang mulai menjelaskan alasan utama mengapa mereka semua berkumpul disini, Bing Lian mendengarkan baik – baik agar tak ada poin terlewat.


“Patriach, Saudara – saudaraku sekalian. Kita disini akan mengadakan rapat umum sekaligus persidangan terhadap Chun Tao, atas tuduhan melakukan sabotase dalam seleksi Legady Disciple tahap kedua.


Oleh karena itu, kita membutuhkan kesaksian langsung korban yaitu Bing Lian. Diharap seluruh hadirin bertindak sepantasnya selama acara berlangsung. Sidang dipimpin langsung oleh Yin Wuya selaku Patriach.....”


Yin Wuya menghela napas dan berbicara pelan tetapi jelas, setiap kalimatnya mengandung semacam kekuatan tersembunyi. Bing Lian tau sejak lama kalau pria tersebut memang mempunyai jiwa seorang pemimpin, kelebihan dimana kata – katanya selalu didengarkan juga diikuti.


Satu per satu pertanyaan dilontarkan kepada Lian, dia menjawab sebaik mungkin. Faktor paling kuat supaya menang ketika berada disituasi sekarang adalah berkata jujur, makin Bing Lian membuka fakta kebenaran maka posisi Chun Tao tambah terpojokan detik demi detik.


Mengelak pun percuma, sebab Yin Jiang sendiri mendapat sampel langsung kabut formasi sihir dari tirai Bing Lian. Apa lagi pengakuan Chun Ah sebelumnya kian memperburuk keadaan bagi Chun Tao.


“Baiklah, selesai mempertimbangkan banyak hal. Para dewan setuju mencabut jabatan Crow Feather Eldet milik Chun Tao serta....mengeluarkannya dari sekte....” tutup Patriach sembari memukul palu tanda persidangan usai.


“Apa....? Patriach? Anda tak bisa begitu!? Aku seorang Nascent Soul! White Crow Sect membutuhkanku!” Chun Tao melebarkan mata frustrasi.


“Kami tidak membutuhkan Cultivator sepertimu....selamat tinggal. Semua ingatanmu mengenai formasi sihir Illusionary Mist Forest otomatis dihapuskan”


“Tapi—“


“Kau memiliki dua pilihan, angkat kaki.....atau mati”


“UGH....!? BING LIAN....!!? LIHAT SAJA! SUATU HARI AKU PASTI MEMBUNUHMU....! ARGHH...!!!”


“Silahkan mencoba Tetu—eh? Sudah bukan ya? Senior Chun maksudku, hehehe....” gelak tawa jahil Lian menambah sakit hati si pria tua. Dia melambaikan tangan dengan senyum lebar.


Disaat suara amukan Chun Tao telah tidak terdengar lagi, Yin Wuya bangkit. Patriach White Crow Sect itu mengedarkan pandanganya sebelum akhirnya berdeham.


“Satu masalah selesai, berikutnya kita dihaharapkan melaksanakan rapat umum petinggi sekte mengenai topik pengangkatan Bing Lian sebagai Murid Langsung Grand Elder Yin Jiang” pungkasnya.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.