
“Bagaimana pertarungannya?”
“Xiulan?! Kau baik – baik saja?” Tan Minjie terlonjak kaget ketika tiba – tiba gadis tersebut mendatangi podium tempatnya berada, ia buru – buru membantunya berjalan.
“Huum begitulah, lukaku sudah pulih semua. Hanya perlu sedikit adaptasi”
“Syukurlah....”
“Jadi....” pandangan penuh tanya Lu Xiulan membuat Minjie sulit menjelaskan.
GLEK!
“Aku—“
SRRTTT.....JDUAARRR!!!
Suara guntur dan juga cahaya kuning terang mengakibatkan keduanya melindungi mata masing – masing menggunakan tangan. Percikan – percikan listrik memenuhi udara disekitar arena, seruan terkejut bukan hanya berasal dari mereka melainkan seluruh penonton.
“Apa – apaan yang barusan itu?!”
“Ini....pertama kalinya aku melihat Lian bertarung serius, dia mengkombinasikan tiga jenis Tallisman pada saat bersamaan....” Minjie menerangkan.
“Dia....apa!?”
“Menyatukan elemen – elemen paling cocok satu sama lainnya....”
Kejadian sebenarnya adalah ketika Yin Kiew berusaha meloloskan diri dengan menjaga jarak, tanpa sengaja ia berdiri diantara formasi kertas sihir Bing Lian yang membentuk segitiga. Entah sejak kapan si pemuda berambut putih menyiapkannya, pertanyaan sama mengisi kepala orang – orang.
Tetapi hal tersebut menandakan betapa menakjubkan kontrol Qi miliknya, Tallisman berwarna abu – abu menyala terang kemudian menjadi dua bagian bola besi berongga. Keduanya membungkus Yin Kiew sehingga tidak mampu kabur.
Satunya lagi menyebabkan genangan air aneh lalu menenggelamkan benda barusan. Kertas kuning terakhir yang berposisi dibagian atas memancarkan energi luar biasa sebelum membentuk makhluk istimewa campuran kijang dan juga naga dari kilat.
Sang Kirin petir menyambar telak bola besi sebelumnya, akibat unsur dua jurus awal merupakan penghantar listrik terbaik. Dampak kerusakan meningkat berkali – kali lipat, sampai membuat retak penjuru lantai arena.
‘Pemilihan Daoist Magicnya benar – benar tepat....’ batin Yin Jiang sembari melebarkan mata.
“Seolah ia menentukan yang paling tak mungkin diantisipasi oleh Yin Kiew” Fan Li bergumam sambil menggeleng – gelengkan kepala.
“Manajer Teng? Apa dia si penyuplai Tallisman misterius itu?”
“Benar, bocah disanalah Tuan Muda Bing....” ujar Teng Lim dengan wajah sumeringah memberitahu salah satu orang kepercayaannya yang ikut datang menyaksikan seleksi.
Beberapa menit berselang, sesosok siluet mulai terlihat dikerubungi asap dan debu. Yin Kiew berdiri memegangi sebelah lengannya, nampak aliran darah serta percikan listrik menyelimuti tangan kanannya. Sewaktu gadis itu berusaha menggerakannya, tidak ada respon berarti.
Anggota tubuhnya tersebut cuma bergetar hebat, menandakan hampir semua bagian dari pangkal hingga ujung jari tak dapat berfungsi. Yin Kiew merobek sedikit jubahnya sebelum memperban sendiri cedera barusan dengan bantuan giginya, setelah usai ia bangkit sambil menggenggam erat pedang ditangan satunya lagi yang notabene bukanlah tangan terkuatnya.
“Kiew’er....” Patriach menatap putrinya sendu, dia seperti melihat mendiang istrinya dalam diri anak semata wayangnya itu.
“Senior Yin....? Kau menghabiskan seluruh Qi mu demi menahan serangan barusan, apa Senior masih ingin melanjutkan?” kata Lian sopan memberi hormat, dirinya tidak tega maju ketika Yin Kiew tengah membalut lukanya.
“Junior Bing....?”
“Hmm?”
“Kamu tau ini belum berakhir....” Yin Kiew tersenyum lalu memposisikan senjatanya vertikal didepan wajahnya.
“Tetapi—!?”
SYUU!!! JEBRET!!! WOSHHH!!!
Bing Lian sukses tepat waktu menarik kepalanya karena detik selanjutnya ujung runcing pedang Yin Kiew melintas begitu saja dan menghasilkan hembusan angin kencang. Sergapan Yin Kiew seolah membangunkan Lian dari lamunannya.
Dalam sekejap permainan pedang Yin Kiew berubah menjadi sangat tak beraturan sampai – sampai Lian kesulitan membaca arah datangya bilah besi yang lawannya ayunkan. Yin Kiew terus berputar entah berapa kali layaknya seorang penari namun membawa benda tajam ditangan kirinya.
Rasa perih janggal membuat Bing Lian mengangkat sebelah alis, saat berusaha mencari asal muasalnya ternyata telapaknya sudah dilapisi darah. Sebuah sayatan tipis menghiasi salah satu pipinya, telah lama sekali sejak terakhir dia memperoleh luka macam begitu.
‘Gadis ini....memakai teknik pembaharuan....’.
------><------
Alasan mengapa Bing Lian selalu berhasil menghadapi lawan yang bahkan mempunyai praktk diatasnya adalah karena ia mempunyai ingatan, wawasan, juga pengalaman pada kehidupannya sebagai Ice Emperor
Sehingga Lian rata – rata mengetahui semua jenis jurus Cultivator diluar kepalanya, inilah bekal utamanya bertahan meladeni Chi Tu, Gu Yinying, maupun Yang Wei. Masalah tercipta jika musuh menggunakan sebuah ilmu baru dan tak pernah dilihat olehnya sama sekali.
Seperti sekarang, secara umum orang – orang mengenal Crow Sword Dance berupa teknik berpedang dasar milik White Crow Sect. Chun Lang sendiri menguasainya tapi Bing Lian hanya perlu satu gerakan untuk mematahkan permainan tersebut sebab memahami keseluruhanya secara sempurna.
Sedangkan Yin Kiew saat ini memanfaatkan keahlian baru berdasar dari rangkaian jurus pedang itu dan sukses menekan Lian. Pada satu kesempatan berikutnya, tebasan berhasil ditahan. Bing Lian menjepit senajatanya dengan kedua telapak tangan.
TESSS!!!
“Dapat!”
“Crow Sword Dance Renewal Second Move; Fatality Bird Nest!”
Yin Kiew maju lalu menjadikan tubuh Lian sebagai pijakan tuk melompat, Bing Lian terdorong mundur penuh keterkejutan. Detik berikutnya, Yin Kiew melesat sembari melepaskan tebasan. Dia mengulanginya terus menerus melalui berbagai arah sehingga memaksa Lian mengambil posisi bertahan.
Bukannya cemas atau frustrasi, senyum lebar menghiasai wajah Lian. Ekspresinya seperti makhluk kelaparan yang tengah menikmati makanan, matanya bergerak kesana kemari mengikuti gerakan Yin Kiew tanpa memperdulikan luka disekujur tubuhnya. Menganalisis kelebihan dan kekurangan, kemudian mencari titik lemah agar semuanya dapat dipatahkan sekali serang.
Memang begitulah dirinya, Bing Lian terkenal akan rasa hausnya terhadap ilmu sangat tinggi. Makanya Sang Ice Emperor dahulu teramat ditakuti, banyak sekali keberagaman keahlian lain tersembunyi dibalik sosok misterius nan kuat miliknya.
“Crow Sword Dance Renewal Third Move; Deadly Bird Screaming!”
CTAK!!! WOOOSSSHH!!!
Beberapa penonton berdiri seketika, kali ini Bing Lian sungguh – sungguh berhasil menangkap ujung pedang Yin Kiew hanya berbekal dua jari tangannya. Gerakan menusuk gadis tersebut segera terhenti, badanya berubah kaku. Mau mendorong ataupun menarik, senjatanya tetap tidak dapat bergeming.
“Hah....akhirnya ketemu....!!!”
JDUAK!
Lian langsung melepaskan tendangan memutar keras, seranganya mendarat pada perut Yin Kiew sampai terseret mundur di tanah sembari terbatuk – batuk.
“Uhuk! Uhuk!? Ugh....”
Belum pulih dari serangan kejutan barusan, ada empat Bing Lian melompat melalui sisi – sisi berbeda ke arahnya. Yin Kiew buru – buru bangkit bersiap menangani mereka, namun terbersit sedikit keraguan diwajahnya.
“Jurus ilusi....?”
GRAB!
“Bukan Senior.....”
“Apa!?—“ teriak Yin Kiew menyadari keempatnya menahan badannya supaya tidak mampu menghindar.
“Ice Magic – Winter Breath!”
Bing Lian yang asli masih berdiri ditempatnya semula, ia menghembuskan udara dingin dari mulut tepat menuju lokasi Yin Kiew. Sang Putri Patriach menutup mata sembari menyiapkan kuda – kuda sebelum berbisik.
“Crow Sword Dance Renewal Fourth Move; Entire Night Song!”
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.