
Keesokan harinya Bing Lian kembali menuju pertanian ditemani Tan Minjie dan Yin Kiew, keduanya membantu Lian membersihkan tempat tersebut. Banyak sekali barang berserakan di ladang sehingga membuatnya terlihat begitu kotor.
Untungnya tidak ada satupun anggota Savage Crocodile Tribe berkeinginan memasuki gubuk reyot Lian, selain sempit. Kondisinya memang terlihat agak mengkhawatirkan, saat masuk pertama kali. Mereka langsung terbatuk – batuk, debu yang menumpuk selama lima tahun memberi sambutan hangat.
Bing Lian menggelengkan kepala sebelum melipat masing – masing lengan jubahnya, berkat pertolongan Yin Kiew juga Minjie. Perlahan tapi pasti nuansa kehidupan telah nampak menghiasi pertanian.
Selesai makan siang serta beristirahat, Lian pergi ke bagian belakang gubuk tempat dimana rumput – rumput liar tumbuh tinggi. Ia mulai menepikan tiap tanaman pengganggu tadi seakan mencari sesuatu, Yin Kiew mengikutinya dari belakang penasaran.
“Ah!? Ketemu!”
“Apa yang kau lakukan Junior Bing?”
“Ini....” Lian menunjuk nisan kayu usang termakan cuaca antusias.
“Makam?”
“Benar, aku pulang Ayah. Ibu”
“Eeehh....” gumam Yin Kiew kemudian berjalan anggun kehadapan benda tersebut terus menyatukan tangan berdoa.
Bing Lian menaikan sebelah alisnya, tak menyangka kalau Yin Kiew bakal melakukan tindakan barusan. Sesudah berhenti, gadis itu menoleh ke arah Lian sembari menatap polos. Tatapan keheranan pemuda disebelahnya pasti membuatnya sadar.
“Senior kenapa....”
“Ibuku telah meninggal, entah mengapa perasaanku selalu lega setiap melakukan hal tadi. Kau keberatan?”
“Huum, tidak sama sekali. Kupikir Ayah dan Ibuku juga senang ada perempuan secantik Senior mendoakan mereka berdua” Bing Lian tertawa pelan.
Yin Kiew mengangguk terus menundukan kepalanya lama, berusaha menyembunyikan wajah memerahnya. Detik berikutnya teriakan Tan Minjie dari dalam gubuk membuat keduanya tersentak kaget.
“Oi?! Kalian sedang apa disana!? Tolong aku menyiapkan tempat supaya bangunan ini layak ditempati!”
“Aaa..., segera datang! Ayo Senior”
“Tentu....” balas Yin Kiew dengan senang hati menggapai juluran tangan Lian.
------><------
Ketika malam tiba, Bing Lian berkeliling menyalakan obor – obor sekitar ladang supaya tiap sudutnya mendapat penerangan. Lu Xiulan datang berkunjung sore tuk menolong persiapan menginap dan membawakan beberapa persediaan makanan, lalu pulang ke desa sebelum petang.
“Kalian yakin tidak mau tinggal di kediaman keluarga Lu? Mereka punya salah satu rumah terbaik lho” Lian menyeletuk begitu memasuki gubuk.
“Tenang saja, lagi pula kami tak ingin merepotkan”
“Aku sih kurang perduli padamu Saudara Tan, tetapi Senior Yin disini adalah seorang gadis. Bagaimana mungkin ia tidur bersama—“
“Psstt! Kemari!”
“Woaaa!?”
Tan Minjie menarik Bing Lian keluar sambil merangkulkan lengan mengelilingi lehernya, pada gelapnya malam di tengah – tengah ladang Minjie memijit – mijit keningnya berpikir cara agar membuat sahabatnya mengerti.
“Kau mengkhawatirkan apa?! Senior Yin merupakan juara seleksi Legacy Disciple White Crow Sect, kalau berniat bekerja sama melakukan hal buruk kepadanya sekalipun belum tentu kita berhasil!”
“Ahahaha....”
“Dasar....cobalah melihat kesempatan dalam kesempi—“
“Apa semua baik – baik saja?”
KYAAAA!!!
Jeritan memalukan Minjie memenuhi udara, membuat Bing Lian dan Yin Kiew yang baru saja muncul menatapnya hina. Untuk menyembunyikan perasaan tertekannya ia mengajak mereka masuk lagi ke pondok, namun Lian menghentikan langkah mereka.
“Kalian tau hal terbaik mengenai pertanian kami?” tanyanya senang.
“Hmm?”
“Ikuti aku....”
Bing Lian menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menaiki atap bangunan sederhana itu, beberapa saat kemuian Yin Kiew maupun Tan Minjie menyusulnya. Mata keduanya melebar seketika, sebuah pemandangan langit malam menakjubkan nan indah terpampang dihadapan mereka. Seolah galaksi tersenyum menyambut kedatangan masing – masing.
“Keren sekali....!!!” seru Tan Minjie geregetan.
“Yap, bagaiamana menurut kalian langit malam yang menemani hidupku selama sebelas tahun?” Bing Lian tersenyum tipis mengenang bagaimana dahulu Lingxin serta Yimu menunjukan hal tersebut kepadanya.
------><------
“Pagi!” sapa Lu Xiulan sembari melambaikan tangan.
“Pagi....” Lian dan Yin Kiew menyahut, keduanya baru selesai memanen hasil pertanian.
Tanpa terasa keempat murid White Crow Sect itu sudah tinggal hampir selama satu bulan di Windless Heights Valley, Bing Lian memutuskan mengajak Yin Kiew juga Tan Minjie menanam beberapa tanaman yang mempunyai masa panen pendek.
Keduanya setuju karena berladang merupakan hal baru bagi masing – masing, terkadang Lu Xiulan maupun beberapa penduduk desa datang berkunjung ikut membantu atau sekedar berbincang – bincang. Dagangan mereka sebelumnya sukses besar.
Selama memiliki Yin Kiew dipihaknya, Lian yakin bagaiamanapun kualitas hasil pertanian ini penduduk tetap membelinya. Banyak kejadian konyol pada pengalaman pertama Yin Kiew maupun Tan Minjie bercocok tanam. Contohnya saat Minjie menaburi bubuk.
“Hmm....Saudara Bing? Kenapa ya aku merasa aromanya sedikit familiar dan membuat ketagihan....”
“Kau bicara apa?” Lian menatapnya aneh.
“Terbuat dari apa benda ini?”
“Kotoran keledai?”
“Pffh!? Uhuk! Uhuk! Oek! Kenapa kau baru bilang!?” Tan Minjie menyembunyikan hidung serta mulutnya mual dibalik kerah pakaiannya.
“Lalu kau pikir selama hidupmu sampai sekarang pupuk terbuat dari apa? Kelopak bunga mawar?”
Xiulan melemparkan pandangan ke sekeliling sebelum menanyakan keberadaan Minjie, Bing Lian berkata kalau paling pemuda tersebut sedang berjalan – jalan di desa dikelilingi gadis – gadis. Memang sejak misi penyelamatan, Tan Minjie cukup terkenal sebab termasuk orang paling berjasa menemukan lokasi serta membebaskan para perempuan yang ditahan.
“Apa – apaan bocah mata keranjang itu!?” gumam Lu Xiulan jijik.
“Sudahlah biarkan saja dia menikmati waktunya, lagi pula hal tersebut jarang terjadi. Baiklah....” Lian bangkit berdiri merenggangkan tubuhnya.
“Mau kemana?” tanya Yin Kiew dan Lu Xiulan serempak.
“Aku ada urusan sebentar, ingin menemui seseorang. Tolong temani Senior Yin untukku Xiulan, aku mandi dulu. Dah....”
“Hei Lian!? Tungg—“
Lian melesat cepat supaya tak mendengar protes – protes yang akan dilayakangkan kedua gadis tadi. Usai membersihkan diri kemudian mengenakan baju bersih. Bing Lian berangkat ke desa, menyapa setiap orang ramah. Beberapa meminta dirinya mampir namun segera ditolak dengan sopan.
“Lian?”
“Kepala Keluarga Lu, bagaimana kabar anda?”
Tanpa disangka, Ayah Xiulan. Lu Cai keluar kediamannya sembari menunggangi kuda, dia menaikan sebelah alisnya menemukan Bing Lian berada di luar rumahnya. Si pemuda berambut putih memberi hormat penuh senyuman.
“Baik, berhentilah memanggil begitu. Paman saja cukup bukan? Kau telah menepati janjimu menjaga Xiu’er. Ia selalu bercerita tentangmu..... Kau nampaknya menjadi Cultivator hebat ya....”
“Ahahaha....sungguh, akan kucoba. Namun aku tetaplah anak petani sederhana yang anda kenal....”
“Hehehe....aku suka kerendahan hatimu, kau hendak kemana?” tanya Lu Cai penasaran.
“Menyelesaikan masalah yang pernah kita bahas bersama Guru Guan waktu itu”
“Maksudmu?!”
“Iya” Lian mengangguk mantap.
Tiba – tiba kuda hitam tunggangan Lu Cai bergerak sendiri mendekatinya lalu menjilat tangan Lian sayang, Bing Lian tertawa geli terus mengelus lembut makhluk besar tersebut. “Kau masih mengingatku rupanya, syukurlah kau berhasil pulang kesini. BlackThunder, hihihi....”.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.