
Setelah semua penghuni mendapat bagian dan dirinya selesai menyantap makanannya, Bing Lian pamit terlebih dahulu sambil membawa nampan dengan mangkuk serta gelas minuman diatasnya. Dia segera pergi menuju kamar Yin Kiew kemudian meletakan barang bawaan tersebut di depan pintu kamar.
Lalu mengambil posisi duduk bersila untuk latihan, sejam berselang belum ada tanda – tanda set santapan tadi akan diambil. Puas bermeditasi, Lian membuka mata hanya untuk mendapati nampan sebelumnya.
“Mau sampai kapan dibiarkan begitu? Jadi dinginkan?” ujarnya menggelengkan kepala sembari menghela napas panjang.
JDUK!
Yin Kiew yang sedari tadi duduk bersandar pada pintu menunggu kepergian Lian baru mengambil makanan tersentak kaget mendengar ucapan barusan. Memasang wajah cemberut, gadis itu muncul terus menyeret masuk pemberian Lian tanpa mengatakan sepatah katapun.
Lian cuma tersenyum tipis kemudian memutusukan melanjutkan latihan, memang sejak mencapai Forging Qi tingkat 4 kecepatan praktiknya menurun akibat lebih sering menyempatkan diri mencoba Daoist Magic elemen es.
Suara lagi – lagi terdengar saat nampan yang isinya telah kosong nampak, Lian bangkit hendak mengembalikannya ke dapur namun terpaksa berhenti karena bisikan lirih. Akhirnya ia memutuskan berada disitu lebih lama.
“Bagaimana kau tau?”
“Semua pasti menyadari bunyi perut Nona Yin hehehe” Lian terkekeh geli.
“Ekh—!?”
“Aku bercanda, aku bercanda”
Yin Kiew menggebrak pintu kesal Lian menggodanya, hal ini menyebabkan punggung pemuda itu terdorong beberapa senti. Lalu Bing Lian menjelaskan kalau meskipun Yin Kiew adalah seorang Cultivator Forging Qi tingkat 9, dia belum makan sama sekali dalam jangka waktu satu minggu.
Itu tentu bukan masalah sebab dirinya mampu menyerap Qi, tetapi Yin Kiew belum pada tahap mampu memenuhi seluruh nutrisi tubuhnya hanya mengharapkan hal tersebut. Apa lagi mereka tidak tau kapan terakhir kali sang tuan putri mengkonsumsi sesuatu.
“Ahh....namun perkataanmu tadi tak menjelaskan mengapa kau mau mengantarkan makanan untuk orang yang berusaha membunuhmu beberapa waktu lalu”
“Alasan pertama karena akulah jurus masak hari ini jadi aku yakin rasanya tidak terlalu buruk, kedua sebab aku berhutang nyawa kepada Senior”
“Heh?”
“Ahaha wajar saja sih kalau Senior Yin lupa....”
Lian menceritakan tentang pertemuan keduanya di Windless Heights Valley, tepatnya restauran Ruby Cloud. Secara mengejutkan Yin Kiew keluar dan menatap wajah Lian lekat – lekat penuh selidik, terlihat jelas ketidakpercayaan pada ekspresinya.
“Kau berusaha membodohi—“
Tanpa memberikan kesempatan Yin Kiew menyelesaikan kalimatnya, Bing Lian menangkap pergelangan tangannya kemudian memaksa telapak gadis tersebut bersentuhan dengan dahinya.
“Apa Senior masih belum percaya?”
“K..ka...kamu....!? Sungguh anak waktu itu!? B...ba...bagaimana bisa....?”
Yin Kiew memang pernah memeriksa tubuh Lian ketika cedera akibat tendangan Chun Lang sehingga tau persis struktur tulang, kualitas darah, maupun umurnya. Namun wujud pemuda dihadapannya sekarang sangat berbeda jauh dari ingatannya.
Ia sebenarnya sempat mendengar dari sang Ayah jika ada beberapa kasus unik perubahan fisik manusia begitu menjadi Cultivator. Perbincangan mereka mengalir, Lian menyadari kalau Yin Kiew mulai terbuka. Ternyata banyak orang tidak tau kalau si putri Patriach punya hobi bicara, mungkin karena kebanyakan murid sungkan kepadanya. Tebakan Lian tidak meleset jauh, anehnya ini pertama kali bagi Yin Kiew merasa nyaman mengajak ngobrol anak seumurannya.
“Hey? Katakan padaku bagaimana caramu mencapai Sword Intent padahal belum setengah tahun mengawali praktik? Kemampuan berpedangku sedang tersendat”
“Sword Without Form ya?”
“Huum” jawab Yin Kiew walau tak mengerti Lian mengetahuinya dari mana.
“Emm.....mustahil.....” Lian berdiri sebelum melangkahkan kaki menjauh.
Yin Kiew benar – benar kecewa, tapi langsung menegur diri sendiri. Dia harus memaklumi sikap Lian, bagaimana pun seminggu lalu Yin Kiew sempat berusa membunuhnya. Tiba – tiba sebuah ranting cukup panjang dilemparkan ke arahnya, Bing Lian sudah berdiri di halaman sambil memegang benda yang sama.
Mata Yin Kiew perlahan berair, namun cepat – cepat ia mengusapnya. Lian meminta keduanya berduel tanpa menggunakan Qi. Cukup ilmu pedang saja, Yin Kiew setuju kemudian langsung menyerang. Suara keras kayu beradu menghiasi udara.
TAK! TAK! TAK!!!
“Lamban....mudah ditebak......fokus.....”
Lian terus memberi saran sambil mematahkan segala upaya Yin Kiew, sampai akhirnya anak perempuan tersebut kelelahan. Ia heran akan kemampuan fisik Lian, padahalkan praktiknya jauh lebih tinggi.
“Hah....hah....hah.....”
“Senior mempelajari suatu teknik pedang tertentu?”
“Umm....”
“Biar kutebak, Mist Feather Sword?”
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Yin Kiew tersedak minumannya, jelas sekali terkejut Lian tau tentang jurus barusan.
“Senior baik – baik saja? Aku pernah tidak sengaja mendengar mengenainya dari para Instruktur” kata Lian buru – buru berbohong.
Bing Lian memberitahu cara Yin Kiew mengayunkan pedang terlalu frontal, sehingga berbanding terbalik dengan teknik yang sedang berusaha dikuasainya. Lian juga berpesan saat dirinya mampu menggunakan semua gerakan teknik tersebut, maka Yin Kiew pasti mencapai tahap Sword Without Form cepat atau lambat.
Bukannya merasa kesal diceramani juniornya, Yin Kiew malah bertambah semangat seolah telah tercerahkan. Duelnya waktu itu terus mendorongnya giat berlatih.
“Kau tau Senior? Aku pernah membaca sebuah kutipan menarik, jalan pedang bukanlah menuju puncak gunung tertinggi melainkan ke bawah laut yang tidak berdasar. Tetapi setelah kupikir – pikir kembali, laut pasti mempunyai batas. Karena kita merupakan Cultivator, mengapa tak berusaha menembus langit tanpa ujung?”
Yin Kiew mendengarkan penuh cermat kata – kata tadi sebelum menguap, Bing Lian sigap menangkapnya sembari menggeleng – gelengkan kepala. Kemudian membiarkannya beristirahat dengan menjadikan pahanya sebagai bantal.
Lian mengelus lembut kepala Yin Kiew, sadar betapa tertekannya gadis itu beberapa hari terakhir akibat keputusan sang nenek. Old Matriach untuk mengeluarkannya dari kandidat Murid Suci, bisa dilihat kalau Yin Kiew sepanjang hidupnya sampai sekarang berusaha mencapai impian tersebut demi membanggakan Ayahnya.
Namun terpaksa sirna oleh sebuah kerikil kecil, Bing Lian merasa bersalah. Sebab tau alasan dibalik tindakan Old Matriach, jika bukan karena dirinya Lian yakin membunuh satu atau dua Outer Disciple bukanlah suatu hal besar bagi sekte seperti White Crow Sect.
Lian cuma berharap praktiknya segera meningkat agar punya kesempatan bertemu langsung dengan Old Matriach. Ada banyak yang ingin dia bicarakan, tanpa disadari ternyata hampir semua penghuni Snow Feather Dormitory menyaksikan perbuatan mereka sejak mendengar suara pedang kayu beradu.
Termasuk diantaranya Lu Xiulan mapun Tan Minjie, melihat kilatan mata gadis disampingnya berubah. Minjie menelan ludah berat kemudian menepuk pelan pundaknya.
“Xiulan tenanglah, Saudara Bing memang punya perangai baik dan hangat kepada setiap—“
“BERISIK!!!”
“Hiyy?!!!”
Karena hari mulai gelap, Lian menggendong Yin Kiew menuju kediamannya. Pada keesokan pagi saat Lu Xiulan mengantarkan sarapan, nampaklah sang putri Patriach tengah berjemur dibawah sinar matahari. Tatapan Xiulan membuatnya menoleh sebelum memberi salam, pelan – pelan mulai terjalin ikatan kuat antara Yin Kiew dengan seluruh isi asrama tersebut.
Author Note :
Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan (kalau bener pas update chapter ini sesuai ya) mungkin agak kecepetan. Ehem - ehem gk ada yg mau bagi - bagi THR gtu ke Author? Wkwkwkw
Btw pilih tim Yin Kiew atau Lu Xiulan? ( ͡° ͜ʖ ͡°)
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.