
“Xiu’er?”
Wanita paruh baya tersebut menatapnya balik dengan air mata berlinang, Lu Xiulan segera maju kemudian memeluk ibunya untuk menenangkan. Setelah diperhatikan seksama mereka semua adalah penduduk Windless Heights Valley.
Bing Lian bergerak membantu Tan Minjie mengikat salah satu penunggang kuda, para prajurit dari Sky Jewel Kingdom memeriksa tubuh dua lainnya yang sudah tanpa kepala. Sementara Yin Kiew nampak membersihkan darah pada bilah pedangnya.
“Kalau aku tidak menyergap satu orang ini, kalian berdua pasti menghabisinya.....ugh....” Minjie menguatkan jeratan tali sebelum menyumpal mulut pria itu menggunakan kain.
“Mungkin....”
“Hey!? Kita bisa memperoleh informasi tentang musuh”
“Kupikir mustahil Saudara Tan, seperti kelihatannya. Dia bukan seorang Cultivator, ketiganya merupakan bandit gunung yang menetap disekitar lembah. Intinya dia hanya seorang pesuruh, pengetahuannya kurang berharga menurutku....” komentar Lian mengangkat bahu.
“Eh? Kenapa baru bilang sekarang!? Tau begitu mending kubunuh saja....hah....”
“Tenang, siapa tau kita bisa mengorek soal patroli mereka supaya mudah menyelundup....”
Akhirnya semua dibawa kembali menuju perbatasan tempat kamp pasukan Sky Jewel Kingdom. Lu Xiulan terus berada di sisi ibunya agar si wanita paruh baya merasa nyaman, sesampainya disana. Kolonel langsung menyambut, beberapa anak buahnya melaporkan keseluruhan kejadian. Membuat mukanya seketika kehilangan warna, ia bersyukur tak memulai masalah dengan kelompok Bing Lian.
“Ibu? Bersediakah kau menceritakan apa yang terjadi?”
“Hah....tepat satu minggu lalu, tengah malam mereka menyerang desa....”
Walaupun awalnya enggan, mau tidak mau Ibu Xiulan mulai menerangkan rentetan peristiwa penaklukan Windless Heights Valley. Serbuan tersebut dipimpin oleh seorang bernama Shen Hai bersama koleganya berjumlah tiga puluh pria.
Mereka tentunya sangat kuat hingga mampu memberi perintahan terhadap para bandit, namun masing – masing belum turun tangan dalam kegiatan itu dan membiarkan pekerjaan kasar diselesaikan kelompok perampok.
“Ada berapa korban jiwa di pihak kita?” celetuk Bing Lian tiba – tiba.
“Cuma sedikit, karena perintah Shen Hai. Kebanyakan penduduk ditahan, warga mati biasanya disebabkan terdampak tindakan brutal bandit gunung”
“Apakah Ibu tau dimana Ayah?”
“Ayahmu bersama Chun Jiao dan Guan Qianda sepertinya mendapat sel khusus sebab memegang pimpinan perlawanan atas serangan tersebut”
“Setidaknya mereka belum tewas, baiklah sekarang sebaiknya kita mencari letak pusat operasi musuh”
“Pendekar muda? Izinkan aku mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan nyawa kami” Ibu Xiulan menundukan kepala.
“Hmm? Angkat kepala anda Nyonya Lu, aku melakukanya karena kita tinggal di tempat yang sama” ujar Lian tersenyum tipis.
“Eh....?”
“Anda tidak mengenaliku?”
Ibu Lu Xiulan memperhatikan seksama tubuh pemuda dihapadanya dari ujung rambut hingga kaki, tetapi benar – benar merasa belum pernah bertemu dengan seseorang berciri – ciri begitu sebelumnya. Saat itulah aroma bunga teratai khas menusuk hidungya, matanya melebar penuh keterkejutan.
“Li...an?”
------><------
Lu Yong tak pernah menyukai Lian sejak dahulu, dia sebenarnya tidak memiliki masalah pribadi apapun. Sikap maupun perangai anak tersebut juga bukan hal buruk baginya, namun dirinya benci melihat Lu Xiulan bermain bersamanya.
Ia takut putri bungsunya akan mendapat pengaruh buruk, bergaul dengan anak petani sebagai orang terpelajar sangat aneh menurut Lu Yong. Perasaan itu tetap ada bahkan setelah Lian menyelamatkan Lu Xiulan sewaktu terperosok ke dalam parit.
Bahkan wanita ini menjadi satu – satunya anggota keluarga Lu penentang keputusan suaminya mengirim Lian ke White Crow Sect dulu. Ketika hampir semua anak – anaknya setuju, kakak – kakak Xiulan tenang karena menurut mereka Lian dapat membantu juga menjaga Xiulan disana. Tanpa disangka lima tahun kemudian, Lu Yong diselematkan hidupnya oleh bocah dekil miskin yang sama.
Meski perilakunya tak separah keluarga Chun, perasaan benci Lu Yong disadari Lian kecil. Alasan utama mengapa dirinya selalu menetapkan jarak dengan Lu Xiulan. Sosok pemuda tampan dihadapanya sekarang sungguh berbeda, rambut putih serta mata birunya dapat mudah membius para gadis.
Lu Yong menatap putrinya tuk memastikan ucapan Bing Lian, Lu Xiulan menganggukan kepala penuh tanda tanya. Sedikit heran melihat sikap aneh ibunya, badan Lu Yong gemetar hebat. Baru saja hendak bersujud, Lian bergerak cepat menangkap pundaknya.
“Nyona tolong....tidak apa – apa....aku sudah memaafkan anda sejak dulu.....Xiulan?” Bing Lian meminta bantuan, takut jika dibiarkan Lu Yong bakal menghantamkan kepalanya keras ke tanah sampai berdarah.
Lu Xiulan mengambil alih dan menyuruh Lian mundur, Bing Lian menggaruk – garuk kepalanya bingung. Ia tidak meduga Ibu Xiulan bakal sehisteris tadi, selagi beliau masih ditenangkan. Lian mengajak Tan Minjie, Yin Kiew, dan Kolonel mendatangi tahanan mereka.
“Phuah!? Uhuk! Uhuk! Cuih! Dasar kepa—“
“Ck ck ck.....jaga lisanmu, atau kupastikan kau menyesal.....” kata Lian pelan, jari tengahnya sudah menempel dileher pria tersebut.
Orang itu langsung menutup rapat mulutnya, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Tapi beberapa kesempatan nampak dirinya meronta supaya ikatan pada pohon dibelakangnya terurai. Tenggorokanya sangat kering akibat disumpal kain selama berjam – jam.
Bing Lian memulai interogasinya, informasi yang dia minta sederhana. Bagaimana rute penjagaan sekitar Windless Heights Valley ditambah lokasi markas utama Savage Crocodile Tribe, bandit tersebut tersenyum mengejek sebelum berkata tidak mengetahui apapun.
“Meski tau sekalipun aku tidak akan—“
KRAK!!!
“ARGGH!!!”
Lian tanpa basa – basi mematahkan salah satu jari tanganya, dia bergerak ke target berikutnya dengan santai. Tan Minjie dan Kolonel saling menatap ngeri, sementara Yin Kiew menyentuh bibirnya sendiri penasaran bagaimana rasanya melakukan hal barusan.
“Pertanyaanku masih sama....”
“Persetan idio—AKHH!!!“
“Kau lihat pil ini, aku punya lima buah. Jika manusia biasa sepertimu meminumnya, lukamu bakal pulih dalam sekejap” Bing Lian menunjukan obat berwarna merah.
“Ukh....!!!”
“Apakah kau tau? Lengan tersusun atas sekitar lima puluh empat tulang.....”
GLEK!
“Kau iblis!”
“Terima kash pujiannya, kalau dikali lima maka hasilnya dua ratus tujuh puluh. Mari lihat bisakah kau menahan rasa sakit patah tulang sebanyak itu, aku bisa melakukanya semalaman....hehehe....” Lian nyengir lebar.
KRAK! KRETAK! KRUTUK! KRETAK!
Malam tersebut dipenuhi teriakan kesakitan, selesai mengkomsumsi pil kedua. Si tahanan tak kuat lagi, ia menceritakan semua yang diketahuinya tidak berani berbohong sedikitpun. Lian mengangguk puas lalu meminta Kolonel memindahkannya.
“Bunuh aku!!!”
“Enak saja, tebus dosamu baru mati. Dasar orang tak bertanggung jawab” balas Lian ketus.
Bing Lian memanggil semuanya termasuk Lu Xiulan untuk membahas persiapan pembebasan Windless Heights Valley. Pasukan Sky Jewel Kingdom juga diharapkan ikut serta, menolak pun Kolonel segan setelah melihat cara interogasi Lian sebelumnya.
Lian melebarkan peta lembah kemudian memberikan tanda – tanda pada lokasi tertentu, dia ingin Kolonel bersama para anak buahnya membuat keributan di sekitar sana agar perhatian Cultivator Savage Crocodile Tribe terpecah.
“Lian bukankah disini....” Xiulan menunjuk titik terbesar.
“Benar, markas utama mereka....berada di pertanianku.....”
Author Note :
Karena permintaan dari pihak MT/NT, besok foto - foto Cast karakter TROIE bakal dihapus ya. Terima kasih!
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.