The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 8 - Windless Heights Valley



Di pagi – pagi buta nampak siluet seorang anak bermandi peluh, dia baru selesai mengangkut seluruh hasil panen lahan pertanian miliknya sejak matahari belum menunjukan kilaunya. Ia buru – buru bergerak menuju sungai untuk membersihkan diri.


Setelah mengganti baju, bocah tersebut melangkah ke belakang gubuk kecil miliknya. Menyatukan kedua tangan tuk berdoa depan dua buah nisan batu kecil sederhana.



“Ayah, Ibu. Selamat pagi, semoga sayur – sayuran kita hari ini laku ya”


Penduduk Windless Heights Valley tinggal pada beberapa desa kecil yang terpencar di seluruh penjuru. Demi memenuhi kebutuhan hidup biasanya orang – orang bekerja sebagai petani, peternak, juga pedagang.


Mereka mengenal sepasang petani tua bernama Lingxin dan Yimu, keduanya adalah salah satu penyedia pasokan utama pangan seluruh lembah. Karena termasuk masyarakat kelas rendah, masing – masing tidak memiliki marga.


Namun hal itu tak mengganggu Lingxin maupun Yimu sama sekali, kabar mengejutkan sampai ke telinga penduduk sekitar. Waktu langit bergejolak hebat, Yimu secara mengejutkan mengandung ketika usianya menginjak umur tujuh puluh tahun.


Mulai beredar banyak gosip aneh tentang kehamilannya, banyak yang mengaitkan kejadian tersebut dengan siluman. Tetapi Lingxin tidak menghiraukan mereka dan tetap menyayangi istrinya sepenuh hati, sembilan bulan kemudian lahirlah anak laki – laki sehat.


Ia diberi nama Lian, sebab memiliki aroma harum bunga teratai aneh keluar dari tubuhnya tanpa alasan jelas. Keluarga petani kecil ini hidup bahagia, si kecil Lian diajarkan cara bercocok tanam oleh kedua orang tuanya.


Tepat saat Lian menginjak usia sepuluh tahun, Lingxin dan Yimu meninggal dunia. Menyisakan Lian sebatang kara sendirian tinggal di gubuk reot sambil mengurus lahan pertanian mereka. Sudah satu tahun berlalu sejak kejadian tersebut.


Lian tumbuh sebagai anak ceria juga pekerja keras, dia mulai dikenal orang – orang sebagai pedagang sayur keliling. Walaupun masih terheran – heran bagaimana mungkin anak sekecil itu sudah mahir bercocok tanam serta menarik gerobak besar sendirian.



Hampir tiap minggu, Lian akan berkunjung dari satu desa ke desa lain ditemani oleh gerobak kayu tua buatan ayahnya. Menjajakan sayuran – sayuran segar, beberapa orang telah menjadi pelanggan tetapnya. Bukan hanya karena merasa kasihan, tapi jualan Lian memang terkenal memiliki reputasi bagus.


Pagi hari itu di desa Riverchill derik roda kayu bersama suara lembut tak asing mulai terdengar, penduduk langsung mengeluarkan kepala dari jendela menunggu sang pelaku kebisingan nampak.


“Sayur segar! Sayur segar! Ayo beli sayur hijau nan sehat!!!”


“Lian’er aku minta lobaknya setengah kilogram”


“Baik!”


“Nak!? Berikan aku beberapa batang wortel untuk kelinci – kelinciku”


“Segera datang”


“Lian apa masih ada bayam tersisa?”


“Ah! Ada! Aku menyisakan lima ikat untukmu Bibi Zhong”


Lian tersenyum puas menyadari kalau sayur bawaanya sudah berkurang setengah, waktu hendak meninggalkan desa. Muncul entah dari mana anak – anak yang lebih tua darinya menubruk masing – masing sisi gerobak hingga terjungkal.


“Ahh....!?”


“Ups....maaf, kami tak melihat kecoa rendahan sepertimu” salah seorang tertawa lepas menatap Lian terduduk lesu akibat dagangannya berantakan dan kotor.


“Chun Ah....”


Terdapat tiga keluarga berpengaruh di Windless Heights Valley, salah satunya adalah Chun. Mereka memiliki kekayaan luar biasa karena hampir mengontrol seluruh perdagangan wilayah terpencil tersebut, bisa dibilang kalau Chun telah memonopoli ekonomi tiap sudut lembah.


Ini menyebabkan orang – orang yang berasal dari keluarga Chun mempunyai perangai congkak dan merendahkan rakyat bawah macam Lian. Itulah yang tengah dilakukan Chun Ah sekarang, Tuan Muda ketiga keluarga Chun. Mengganggu Lian seakan menjadi makanan sehari – hari baginya.


“Hehehe....kau cekatan juga, seingatku baru dua hari lalu aku melubangi perut gerobakmu”


“Mau bagaimana lagi? Jika dibiarkan aku tak bisa makan”


“Hah!? Kau sepertinya jadi sedikit sombong karena orang – orang bodoh di sana membeli jualan menjijikanmu. Rasakan in—”


“Berhen—“


Sekitar lima anak tinggi besar lain langsung meringkus Lian, sehingga ia cuma menatap sedih sisa sayuran yang ditanam olehnya penuh susah payah dihancurkan satu per satu oleh Chun Ah bersama komplotanya.


Begitu lelah, Chun Ah bergerak cepat melayangkan tendangan ke arah wajah Lian. Anak tersebut memejamkan mata, namun rasa sakit hantaman kaki Chun Ah tak kunjung datang. Suara derap kuda seolah mengumumkan kedatangan seseorang.


“Lepaskan dia!”


“Xiuxiu....kau menawan seperti biasa”


Candaan Chun Ah disambut tawa teman – temannya, tapi tak berselang lama tamparan keras mendarat pada pipi kanannya. Gadis manis seumuran Lian menatap rendah Chun Ah, kemudian buru – buru membantu Lian.


“Lian? Kamu tidak apa – apa?”


“Nona Lu!? Apa yang anda lakukan?!” tanya Lian pucat.


Anak perempuan itu bernama Lu Xiulan, putri kelima keluarga Lu. Salah satu dari ketiga keluarga paling berpengaruh di seluruh Windless Heights Valley. Keluarga ini terkenal sebab memiliki bisnis restoran mewah juga toko pakaian berkelas, terlebih kebanyakan anggota keluarga mereka adalah sarjana – sarjana cerdas penggerak perubahan wilayah tersebut.


“Xiulan!? Berani sekali dirimu menamparku demi kotoran berjalan ini!? Ayahku bahkan tidak pernah memukulku!”


“Bagus! Kalau begitu biar aku yang memberimu pelajaran! Jangan pikir karena kau lebih tua beberapa tahun aku takut kepadamu Chun Ah”


“Gadis kepa—“


“Sentuh anak perempuanku dan kupastikan kau mendapat balasan setimpal”


“Ugh!?”


Sesosok pria paruh baya berkumis dengan pakaian mewah menghampiri keributan barusan diatas kuda gagah perkasa. Sorot matanya tajam penuh selidik, pertanda kalau ia memiliki kecerdasan tinggi. Aura wibawa terpancar kuat menghiasi sekitarnya.


“Paman Lu.....” Chun Ah menunduk lemah diikuti kawan – kawannya.


“Ha.ha.ha.ha.ha!!!” Lu Xiulan tertawa sebagai tanda kemenangan.


“Pergilah, katakan pada Ayahmu kalau aku akan berkunjung”


Tanpa bisa membatah Chun Ah mengangguk sebelum meninggalkan lokasi sambil mengumpat dalam hati. Kepala keluarga Lu menghela napas sembari menggelengkan kepala melihat tingkah laku anak – anak zaman sekarang. Lu Xiulan melihat beberapa sayuran masih belum rusak cekatan memungutnya.


“Nona Muda Lu tidak perlu repot – repot!?”


“Biarkan aku membantumu, sayang sekali bukan? Lian berhenti memanggilku begitu, kita sudah saling kenal lama. Cukup panggil aku Xiulan, mengerti?”


“Mana bisa semudah—Kepala Keluarga maafkan aku membuat pakaian Nona Muda jadi kotor!“


“Ahahaha....angkat kepalamu Lian, tenanglah. Kami melihat semua kejadiannya, untuk penyelesaian masalah dengan keluarga Chun biar aku yang urus. Terlebih lagi bagaimana kalau....”


Ayah Xiulan lalu secara mengejutkan memberi penawaran kepada Lian tuk membeli semua sayuran miliknya. Awalnya Lian ragu karena kebanyakan kondisi mereka sudah patah dan koyak, tetapi pria tersebut menanggapinya santai.


“Pilihkan yang masih dalam kondisi bagus terus antarkan ke Ruby Cloud, ini bayarannya”


“P..Pa...Paman!? Terlalu banyak!? Aku tak mampu memberi kembalian” ujar Lian melongo melihat sekantung penuh uang emas.


“Hehehe simpanlah, anggap saja hadiah dariku supaya kau bisa memperbaiki gerobakmu. Ayo Xiuxiu”


“Baik Ayah, sampai ketemu Lian. Nanti kita bicara lagi ya!?” Xiulan bergerak gesit naik ke tunggangan milik ayahnya.


“Akan segera kuantarkan! Terima kasih banyak!!!”


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.