The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 9 - Kelompok Misterius di Ruby Cloud



Karena merasa tidak enak, Lian kembali ke rumah mengambil beberapa persedian sayuran untuk ditambahkan dalam kotak yang akan dikirimkan menuju Ruby Cloud. Restoran terbaik di seluruh Windless Height Valley.


Gerobak rusak tak menghambatnya membopong tiga box besar, membuat orang – orang keheranan bagaimana anak berumur sebelas tahun dapat melakukannya. Salah satu tukang kayu melihatnya kemudian menyapa ramah.


“Lian’er? Sedang sibuk ya?”


“Ahh? Halo paman, begitulah. Aku ingin mengantarkan sayuran ke Ruby Cloud”


“Butuh bantuan?”


“Tidak apa – apa, aku bisa melakukannya sendiri. Oh iya paman aku membutuhkan beberapa potong kayu untuk memperbaiki gerobak”


“Hah? Rusak lagi? Kau ini harusnya lebih hati – hati, setelah urusanmu selesai kemarilah tuk mengambilnya”


“Baik! Terima kasih banyak!”


Lian terlau bersemangat sehingga tidak mendengar peringatan dari si tukang kayu, dalam hitungan detik bocah itu sudah tak nampak lagi batang hidungnya. Bangunan besar nan megah dengan papan nama berwarna emas dan merah berdiri tegak di tengah desa kecil tersebut.



Namun ada pemandangan tak biasa menyambut Lian, banyak penduduk berkumpul mengelilingi restoran seakan menonton sesuatu. Dia jadi kebingungan sendiri cara melewati kerumunan masa dihadapannya.


“Permisi....permisi....”


Beberapa diantara mereka langsung mengenalinya, tau kalau Lian bertugas mengantar pasokan bahan makanan. Salah satu menyuruhnya masuk melalui pintu belakang saja, yang lebih mudah dijangkau. Lian berterima kasih sebelum mengikuti arahan barusan.


Saat baru melangkah kedalam suara bising menghiasi dapur, para koki terlihat sibuk dan berlarian kesana kemari. Lian menghentikan seorang kenalannya demi mengabarkan kalau barang pesanan sudah datang.


“Lian?! Kau benar – benar penyelamat! Sekarang kami kedatangan tamu penting, tapi masalahnya bahan masakan semakin menipis”


“Ahahaha tentu, silahkan digunakan. Kepala Keluarga telah membayar semuanya, maaf mengganggu. Aku permisi”


Karena tak ingin membuat mereka kerepotan akan keberadaannya Lian cepat – cepat keluar, tanpa menyadari kalau pintu depan juga terbuka memperlihatkan rombongan manusia menakjubkan. Wajah masing – masing sangat mempesona.


Terutama seorang gadis bermata keperakan yang bediri palling tengah, kalau dilihat secara seksama. Dapat diprediksi umurnya sekitar lima belas tahun. Namun penampilan serta cara berjalannya sungguh dewasa, membuat laki – laki sekitar sana menelan ludah.


Lian ikut menyaksikan kejadian barusan, tetapi karena terlalu pendek ia terpaksa berdesak – desakan terus tanpa sengaja terlepas dari barisan penonton kemudian menabrak pelan perempuan cantik itu. Aroma wangi memenuhi indra penciumannya.


“Hmm?”


“Ahh maa—“


“Dasar bocah dekil keparat!!!”


BUAKH!!!


Detik berikutnya Lian merasakan tendangan keras menghempaskannya beberapa meter, perutnya seolah dihantam oleh godam ratusan kilogram. Darah segar merembes keluar dari mulutnya, saat sang penyerang mau memberikan gerakan penghabisan. Gadis tersebut menghentikannya.


“Senior Yin Kiew kau tidak apa – apa?”


“Tentu aku baik – baik saja, tapi sebelum itu siapa yang memerintahkanmu menyerang?” si gadis menatap dingin.


“Eh? Maksudku dia....hanya seorang anak petani miskin jadi....”


“Lalu? Kau mau bilang kata – kata barusan dapat digunakan sebagai alasan?”


“Aku.....”


Perempuan yang dipanggil Yin Kiew itu langsung medekati Lian dan memberikannya sebuah pil, muka pucat pasi Lian perlahan kembali berwarna. Tetapi kesadarannya semakin melemah, hal terakhir diingatannya adalah tampang cemas wajah cantik Yin Kiew.


------><------


“Adududuh.....”


“Hmm? Kau sudah bangun rupannya?”


Pandangan matanya yang semua gelap mulai jelas, pria paruh baya berjanggut tebal familiar memperhatikannya dari sudut ruangan. Lian langsung bangkit tuk memberi salam tetapi malah kehilangan kesimbangan lalu terjatuh.



“Lian’er pelan – pelan”


“Guru Guan....”


Laki – laki tersebut bernama Guan Qianda, petinggi keluarga Guan yang merupakan tiga penguasa Windless Heights Valley bersama Chun dan Lu. Mereka terkenal memiliki kemampuan bela diri hebat sehingga menghasilkan tentara pemerintahan, pendekar, serta pemburu bayaran.


“Kau harus berterima kasih pada Xiuxiu, dia segera kemari tuk memanggil begitu melihatmu terkapar dengan mulut bersimbah darah”


“Nona Lu melakukannya?”


“Ya, sekarang istirahatlah. Aku telah memberimu beberapa ramuan herbal, untung kau memiliki tubuh kuat. Aku sendiri tidak yakin mampu menahan tendangan salah satu dari mereka”


“Guru....sebenarnya siapa—“


“Besok kita bicara lagi”


Guan Qianda kemudian keluar menutup pintu meninggalkan Lian sendirian di ruangan, walau masih penasaran. Ia cuma bisa menunggu penjelasan pagi harinya. Lian terbangun mendengar bunyi kencang dari arah halaman rumah.


Lian keluar mendapati puluhan anak sebaya dengannya tengah memperagakan berbagai macalam pukulan juga tendangan. Alasan mengapa Lian memanggil sang pemilik sebagai Guru Guan adalah karena beliau memang memliki perguruan bela diri.


Ada wajah – wajah familiar diantara murid tempat tersebut, menyadari keberadaan Lian. Beberapa langsung berhenti lalu menghampirinya, ekspresi memuakan Chun Ah membuat Lian hanya bisa menghela napas. Tau kemana arah pembicaraan akan berlangsung.


“Pffth!? Lihat siapa ini? Coba ceritakan bagaimana rasa alas kaki kakakku wahai petani miskin”


Gelak tawa pecah seketika, barulah Lian mengingat sesuatu hal penting. Suara pria yang menendangnya kemarin memang tak asing, ternyata orang itu Chun Lang. Putra kedua keluarga Chun, fakta cukup mengejutkan karena Lian telah lama tidak melihatnya ataupun mendengar kabarnya.


“Hihihi heh....dekil, bodoh, dan jelek. Aku mulai malas menjahilimu, mari pergi semuanya. Lagi pula mungkin ini kali terakhir kita melihatnya”


Begitu rombongan Chun Ah meninggalkan lokasi, Lian mendekati salah satu gadis yang tengah melamun menatap langit. Dia sangat terkejut waktu Lian menyapanya.


“Hah!? Siapa? Ahh Lian....ternyata dirimu.....”


“Nona Lu terima kasih sudah memanggil Guru Guan untuk menolongku”


“Huum, tentu. Aku pasti membantumu saat kesusahan, anggap saja kita sudah impas”


“Eh? Memangnya—”


“Oh iya Lian, terimalah. Hadiah dariku.....simpan baik – baik, aku harap kita bisa.....”


Namun belum selesai ia bicara, Xiulan berbalik pergi sambil berlari cepat. Lian tentu kebingungan, perlahan anak itu memutar – mutar sebuah gelang buatan tangan yang diberikan oleh Lu Xiulan. Tiba – tiba sebuah pukulan kuat mengharuskan dia menunduk.


Detik berikutnya Lian menendang balik lengan Guan Qianda, dalam hitungan menit. Mereka beradu pukulan serta tendangan, walau nampak berbadan kurus kering. Sebenarnya Lian memiliki tubuh terlatih akibat sering bekerja di ladang.


Banyak menganggapnya demikian sebab memiliki pakaian kebesaran membungkus seluruh otot – ototnya. Tukar menukar serangan berakhir ketika pukulan Lian beradu melawan Guan Qianda, keduanya masing – masing mundur lima langkah.


“Heh....? Lumayan, nampaknya kondisimu telah normal“ Guru Guan tersenyum, tetapi tak berselang lama matanya menangkap kuda – kuda Lian bergetar hebat, “Ahahaha....atau mungkin belum”.


Pria paruh baya itu cepat – cepat membantu Lian berjalan, sejak dulu. Lian menjadi murid tidak resmi perguruan milik Guan Qianda. Dia mengakui kalau Lian punya bakat bagus dalam ilmu bela diri dan sayang jika disia – siakan cuma untuk bertani.


Tetapi karena Lian kurang mampu, dirinya tak pernah berkesempatan mendapat ajaran penuh. Guru Guan juga sengaja memintanya agar tak menggunakan apa yang diajarkan olehnya sembarangan, itulah alasan Lian hanya diam saja walau mendapat perlakuan buruk dari orang – orang seperti Chun Ah.


“Apa sekarang Guru mau memberitahuku siapa sebenarnya mereka?” tanya Lian akhirnya setelah sampai di teras kediaman Guan Qianda.


“Hah....Lian’er, kelompok Chun Lang kemarin adalah para Cultivator White Crow Sect. Sepertinya sekte itu berencana merekrut anggota baru dalam kurun waktu seminggu kedepan”


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.