
Kemudian Guan Qianda mulai menjelaskan kepada Lian mengenai apa itu Cultivator, awalnya dia terlihat biasa saja namun makin antusias sewaktu tau kalau orang – orang tersebut bahkan memiliki kemampuan jauh diatas pendekar seperti para anggota keluarga Guan.
Guan Qianda lalu menyarankan kepada Lian, mengapa dia tidak mencoba ikut dalam perekrutan ini, siapa tau beruntung. Jika sukses menjadi Cultivator mungkin Lian mampu mengubah hidupnya, tidak ada salahnya mencoba. Pilihan tuk menjalani keseharian sebagai petani seumur hidup atau menapaki jalur keabadian.
“Entahlah Guru....aku rasa menjadi makhluk abadi bukanlah yang aku cari”
“Oh...ayolah, kau punya bakat hebat dalam ilmu bela diri. Siapa tau dirimu berhasil menggantikanku mencapai impian”
“Guru Guan punya keinginan berlatih sebagai Cultivator?”
“Tentu, siapa yang tidak mau kuat, tampan, dan awet muda?”
Sebenarnya saat masih muda dulu Guan Qianda sempat mencoba ujian masuk salah satu sekte, namun mengalami penolakan karena bakat praktiknya terlalu minim. Sejak itu ia lebih memfokuskan diri mengasah kemampuan bela diri demi melampiaskan rasa kekesalan tersebut, sampai akhirnya memiliki perguruan cukup ternama di Windless Heigts Valley.
“Aku juga melihatmu bicara dengan Xiu’er sebelumnya”
“Ahh benar, Nona Lu memberiku ini. Tapi aku tidak mengerti alasan dia melakukanya” Lian mengeluarkan gelang pemberian Lu Xiulin.
“Haih....dasar bocah bodoh, jelas sekali bukan kalau itu merupakan hadiah selamat tinggal”
“Eh? Maksudnya?”
“Lu Xiulin akan pergi mengikuti ujian seminggu lagi, itulah mengapa rombongan White Crow Sect mendatangi Ruby Cloud kemarin” gumam Guan Qianda sendu sambil menopang dagunya.
“Tunggu sebentar!? Tapi kenapa?! Bukankah Nona Lu bercita – cita bersekolah demi mendapat gelar sarjana?”
“Hidup terus mengalir Lian’er, kau tak tau isi hati semua orang tetap sama atau berubah. Apa lagi perempuan. Sekte – sekte Cultivator selalu mencari calon murid hebat, aku dengar – dengar Xiu’er menarik perhatian mereka”
Lian terdiam sebentar, menggenggam erat benda ditangannya kemudian segera bersujud kepada Guan Qianda. Membuat pria paruh baya tersebut mengangkat sebelah alis heran, Lian memohon bimbingan Guan Qianda tuk melatihnya ilmu bela diri secara utuh selama sisa waktu seminggu.
Senyum lebar menghiasi wajah Guan Qianda, ia membangunkan Lian sebelum menyanggupi permintaan bocah itu. Tujuh hari kedepan Lian diminta datang setiap sore, Guan Qianda berencana menurunku beberapa teknik hebat kepadanya.
Waktu Lian bertanya soal bayaran, Guan Qianda menggelengkan kepala. Dia menyalakan salah satu obor sembari berkata. “Melihatmu lulus dan berhasil menjadi Cultivator sudah lebih dari cukup untukku.
Aku mengenal orang tuamu cukup dekat, mereka berdua adalah manusia berhati mulia yang rela membantu orang lain ketika dirinya juga susah. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih karena kau mau menggantikanku menggapai impian”.
------><------
Lian merapikan buntalan selimut berukuran sedang dan tuk terakhir kalinya melempar pandang ke penjuru gubuk tua reyot tersebut, mengikuti pesan Guan Qianda. Dia telah mengemas seluruh barang serta membersihkan semua area sebab tak tau akan pergi seberapa lama.
Anak laki – laki itu mendatangi makam kedua orang tuanya dengan senyum penuh arti, hampir selama satu minggu Lian menyempatkan diri ke sana menceritakan perjalanan menarik yang hendak dilakukan olehnya.
Ia yakin mereka pasti mendukung apapun keinginannya, walau mungkin sedikit sedih karena lahan pertanian tidak akan ditanami lagi. Lian juga sudah memanen lalu membagi – bagikan sayuran kepada para penduduk tak mampu di sekitar Windless Heights Valley.
Beberapa kenalannya mengatakan hal tersebut sangat disayangkan karena dia bisa saja memperoleh tabungan lebih tuk merantau jika menjual semuanya. Namun menurut Lian pribadi lebih baik memberikannya sebagai bantuan pangan bagi orang – orang kurang mampu.
Selesai menundukan kepala tanda pamit, Lian mulai melangkah meninggalkan lahan pertanian yang sudah setia mewarnai hidupnya selama sebelas tahun. Ia sengaja berangkat lebih awal sebab mengikuti saran dari Guan Qianda. Para Cultivator White Crow Sect tak mengabarkan pasti datang dan memulai ujian pada pukul berapa sehingga makin cepat tiba merupakan pilihan bijak.
Lian sejujurnya pernah sesekali mendengar sekilas mengenai White Crow Sect, tetapi banyak hal misterius serta cuma bersifat rumor tentang kelompok ini. Satu hal yang pasti, lokasi sekte itu berada sekitar wilayah yang sama dengan Windless Heights Valley.
Tiba – tiba gambaran wajah gadis melintas pada benak Lian, kalau tidak salah dia bernama Yin Kiew. Pertemuan mereka seminggu lalu adalah kali pertama Lian melihat kecantikan bagai peri begitu, Lu Xiulan tidak bisa disebut jelek. Tapi Yin Kiew entah mengapa berada pada tingkat berbeda.
Merasa kasihan akhirnya dia berusaha menyapa, ketika jarak antara keduanya semakin dekat. Lian mengangkat tangan hendak bicara namun langsung terdiam seribu bahasa.
“Apa kau perlu sesuatu anak muda?”
Hatinya hampir melompat keluar karena nenek tadi bahkan tak menengok ataupun melihat kedatangannya. Lian yakin sekali kalau dirinya juga tidak membuat suara berisik hingga dapat diketahui semudah itu.
“Hahaha....maaf....apa aku menakutimu?”
“Eee....bukan begitu nek....hanya saja aku terkejut anda—“
“Menyadari kedatanganmu? Jika kau telah berumur, telingamu akan jadi sangat sensitif kau tau?”
Menimang – nimang jawaban itu sesaat, Lian pikir masuk akal juga. Pembicaraan mereka pun berlanjut. Dari sana Lian mengetahui beliau sedang mencari salah satu rumah keluarganya di desa sekitar Windless Heights Valley namun malah tersesat.
Ia juga bilang kalau orang – orang memanggilnya dengan sebutan Nenek Nuan. Mendengar kisah barusan membuat Lian tak bisa diam saja. Dia menawarkan diri untuk membantu Nenek Nuan, wanita tersebut tersenyum lebar menghargai sikap ramah Lian.
Penampilan Nenek Nuan ini sedikit aneh bagi Lian, walau terlihat tua tetapi wajahnya memancarkan aura cerah. Terlebih lagi ada beberapa helai rambutnya yang masih berwarna hitam menimbulkan kesan anggun.
Sebuah tongkat kayu berhiaskan pahatan sayap pada masing – masing sisi pegangannya menolong Nenek Nuan melangkah melalui tanjakan maupun turunan. Tak bermaksud sombong, namun Lian hampir mengenal semua orang di Windless Heights Valley dan tak ada satupun yang sesuai dengan ciri – ciri pemberian sang nenek.
“Nak? Bukankah kau ada urusan penting? Ingin mencari peruntungan di kota?”
“Ahahaha....nenek hebat menyadarinya, tapi tebakan nenek meleset. Aku sedang berusaha mendaftar menjadi murid salah satu sekte Cultivator”
“Sungguh? Wah wah wah mereka pasti beruntung memiliki calon anggota sepertimu, kalau begitu seharusnya waktumu sangat terbatas. Tinggalkan saja wanita tua ini tidak masalah kok”
“Tidak, aku diajarkan sejak kecil wajib menuntaskan tugasku” jawab Lian penuh keyakinan.
“Ahh....sikap yang mulia sekali, tetapi nak....takutnya kalau begini terus kita tak akan selesai – selesai”
“Heh? Kenapa nek?”
“Karena sepertinya....keluargaku tidak tinggal di sini hahahaha....maaf penyakit pikun milikku terkadang kambuh” Nenek Nuan tertawa lepas.
GUBRAK!
“HAH!?”
Pada akhirnya mereka kembali ke titik awal tempat keduanya bertemu, yaitu dibawah pohon cemara. Lian langsung memberi hormat sebelum berbalik pergi, waktu sudah cukup jauh. Nenek Nuan menanyakan namanya.
“Lian! Senang berkenalan denganmu nek!”
Raut wajah Nenek Nuan tanpa Lian sadari berubah seketika, matanya yang tertutup lipatan kulit keriput menunjukan warna keperakan. Bibir si nenek bergetar dan membuka perlahan. “Mustahil....mungkinkah.....?”.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.