The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 11 - BlackThunder



Sesampainya di lokasi Lian menoleh ke sana kemari mencari keberadaan orang – orang, terlihat gerombolan warga sedang berkumpul pada pintu keluar desa. Lian memegangi lutut sembari berusaha mengatur napas, peluh membasahi seluruh wajahnya.


“Lian?! Kemana saja kau?” pria paruh baya penjual kayu sebelumnya akhirnya menyadari kedatangan bocah laki – laki tersebut.


“Paman? Dimana rombongan—“


“Mereka sudah pergi Lian’er” Guan Qianda muncul dari dalam kerumunan.


“Guru Guan!? Aku minta maaf! Setelah semua kata – kata percaya diriku kemarin aku malah....aku mohon maaf sebesar – sebesarnya!” ucap Lian bersujud penuh penyesalan.


“Lian’er angkat kepalamu, aku tau pasti ada alasan mengapa kau sampai terlambat. Coba ceritakan”


“Sebenarnya....”


Lian menceritakan seluruh cerita sejak ia bangun tidur dan berangkat sangat awal namun menghabiskan waktu saat menolong Nenek Nuan mencari keluarganya. Guan Qianda mengangguk – angguk pertanda mengerti, tetapi Lian masih sungguh merasa bersalah.


“Tak apa Lian’er, keputusanmu menolong nenek itu sudah tepat—“


“Hohoho....kau lihat Saudara Guan? Apa kubilang? Kau hanya membuang – buang tenaga berharap pada anak miskin nan dekil ini” seorang laki – laki berwajah arogan berpakaian mewah tertawa puas.


Dia membuka kipas miliknya lalu melempar pandangan merendahkan ke arah Lian, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Begitulah pepatah yang sering terdengar dan memang sesuai kenyataan, sosok dihadapan Lian sekarang adalah Chun Jiao. Kepala keluarga Chun serta orang tua Chun Lang juga Chun Ah.


“Cukup Tuan Chun....”


“Mengapa? Aku cuma mengatakan kebenaran, anak petani sepertinya tak mungkin mampu mengalahkan bakat putra – putraku. Sebaiknya kau kembali mengurus pupuk di ladang bocah udik”


“Salah, masih ada kesempatan. Semua belum berakhir Lian”


“Lu Cai?!”


Ayah Lu Xiulan tiba – tiba menyeletuk, masyarakat sekitar mulai gelisah kemudian perlahan berusaha menjauh karena tidak mau terlibat. Tiga keluarga paling berpengaruh di Windless Heights Valley tengah bersitegang satu sama lainnya.


Lu Cai memberitahu Lian kalau sebenarnya beberapa saat lalu, anggota – anggota White Crow Sect datang dan memberikan penilaian secara umum saja. Ujian bergabung belum resmi dimulai, mereka membawa dua puluh anak paling berpotensi tinggi berhasil lolos tes dari desa.


Oleh karenanya Lian punya kesempatan jika berhasil menyusul rombongan tersebut atau mencapai markas White Crow Sect sebelum ujian sesungguhnya ditutup tiga hari kedepan. Mendengar kabar ini Lian langsung bangkit, tekad kuat terpancar melalui sorot matanya.


“Aku akan pergi!”


“Tunggu sebentar, tolong bawakan BlackThunder kemari”


Salah satu pembantu keluarga Lu menurut kemudian menuntun seekor kuda hitam gagah berotot sudah siap bersama pelananya. Lu Cai menyodorkan tali binatang itu kepada Lian, membuat si anak beserta semua orang menatap keheranan.



“Gunakanlah dia, BlackThunder adalah kuda terbaik milik kami. Semoga kau berhasil”


“Paman? A...ak...aku tidak bisa menerimanya, tunggangan ini terlalu bagus untukku. Lebih baik aku berlari sa—“


“Kita tak boleh menolak pemberian”


“Syukurlah Lian’er” Guan Qianda turut senang melihatnya.


Setelah diayakinkan berkali – kali, barulah Lian akhirnya bersedia naik walau dengan hati agak berat. Ia masih merasa tak pantas menunggangi kuda sehebat BlackThunder. Guan Qianda maju memberinya beberapa saran supaya mampu mengejar kelompok White Crow Sect.


“Lian’er aku ingin meminta tolong, ini mengenai Xiuxiu.....”


Sang kepala keluarga mulai bercerita kalau sebenarnya Lu Xiulan tidak punya niatan sedikit pun menjadi Cultivator, namun tanpa dia sadari. Ada bakat tersembunyi dalam dirinya, hal itu menarik minat para anggota White Crow Sect.


Karena tidak mau membuat masalah untuk Ayah dan keluarganya, Lu Xiulan setuju ikut bersama mereka. Lu Cai juga sebenarnya enggan mengizinkan Xiulan pergi, ia tau sekali betapa berdarahnya dunia Cultivator. Sebab dulu memiliki seseorang kakak yang mencoba peruntungan melalui jalan tersebut namun tak pernah kembali.


“Aku takut....Xiuxiu bernasip sama, jadi kumohon....tolong putriku.....”


GRAB!


“Jangan paman, baiklah. Akan kuusahan sebaik mungkin menolong Nona Muda Lu” ucap Lian sigap mencegat pria itu bersujud kepadanya.


“Terima kasih, aku serahkan dia padamu”


Lian mengangguk sebelum memacu BlackThunder, dalam beberapa kedipan mata. Siluetnya sudah tidak terlihat lagi, satu per satu orang mulai kembali ke kediaman masing – masing. Menyisakan Guan Qianda, Chun Jiao, dan Lu Cai.


“Heh dasar bodoh, kau mengirimnya hanya untuk mati. Semua tau kalau letak White Crow Sect tersembunyi dengan baik. Individu – individu yang bukan anggota mustahil menemukannya” Chun Jiao mendengus tanda mengejek.


“Kita lihat saja....siapa yang akan tertawa paling akhir” sahut Lu Cai tenang.


------><------


Perjalanan Lian tidak mudah, secepat apapun ia berusaha mengejar. Belum ada tanda – tanda rombongan dari White Crow Sect, terlebih lagi dia harus beberapa kali berhenti demi memberi makan juga minum BlackThunder.


“Aku tau kalau memang dirikulah yang menanam ini tapi.....sungguh aku mulai muak memakannya” gumam Lian lalu menggigit ujung ketimun ditangannya.


Lian memang membawa bermacam – macam sayuran pada buntalan kumal bawaanya sebagai bekal, ia juga sesekali berbagi dengan BlackThunder tanaman wortel dan lain – lain. Waktu tidurnya pun terpaksa dipotong, selama dua hari itu Lian kurang lebih tidur selama tiga jam sebelum kembali menunggangi sang kuda hitam perkasa.


BlackThunder sendiri juga harus diistirahatkan, sehingga banyak jam terbuang percuma. Pada penghujung hari kedua, Lian sampai di luar sebuah hutan berkabut. Nampak kumpulan pohon tanpa daun menghiasi jalan tersebut.


.



Lian turun demi memastikan apakah benar kereta kuda kelompok White Crow Sect mengarah ke sana, setelah mencari beberapa saat. Matanya menangkap jejak – jejak roda masih baru, menandakan jika ada kendaraan tak lama baru saja lewat.


“Baiklah BlackThunder, kurasa cukup sampai di sini. Aku tau kau merupakan binatang cerdas dan pasti mampu kembali menuju Windless Heights Valley” Lian melepaskan ikatan – ikatan sekujur tubuh kuda itu.


BlackThunder meringkik sedih, walau baru menghabiskan waktu sebentar. Ia mulai menyukai Lian serta enggan meninggalkan bocah tersebut. Lian berusaha menenangkannya, perlahan tangan si anak laki – laki mengelus lembut hidungnya.


“Tidak apa – apa, aku akan baik – baik saja”


Lian memberinya makan tuk terakhir kali, BlackThunder menggosokkan kepalanya penuh sayang kemudian segera berputar arah berlari dengan kecepatan penuh menembus udara dingin petang hari.


Sesudah kuda itu tidak nampak lagi, Lian mengalihkan perhatian ke arah hutan berkabut di sana. Menelan ludah berat, dengan terampil dia menciptakan obor sederhana untuk menemaninya nanti menerobos masuk.


“Aku punya firasat buruk mengenai tempat ini, kuharap hanya perasaanku. Semangatlah Lian, ayo segera lewati dan temukan lokasi White Crow Sect berada” Lian menarik napas dalam – dalam kemudian melangkah mantap membelah kabut tebal dihadapannya.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.