
Ada beberapa faktor yang harus dimiliki oleh Holy Son atau Holy Daugther sebuah sekte. Pertama, mereka harus orang terbaik dalam generasinya pada berbagai bidang semisal kecerdasan, kekuatan, ketangkasan, kelihaian, keterampilan, dan lain – lain.
Tapi menurut Bing Lian ada satu hal utama, yaitu moral. Legacy Disciple seharusnya mempunyai etika paling terpuji diantara murid – murid, sebab sosok – sosok itu akan menjadi panutan juga tolak ukur penilaian bagi sektenya. Jika pemilihan hanya didasarkan kepada keturunan dan mendapat perlakukan khusus maka dapat menciptakan malapetaka tersendiri.
Hal ini dapat dilhat langsung dari Legendary Sword Valley, karena terlalu dimanja sejak kecil serta dipanggil sebagai jenius sikap Yang Wei maupun Liao Mei perlahan berubah congkak. Menganggap anak – anak lain lebih rendah dibanding masing - masing, jika dibiarkan malah sangat mengkhawatirkan karena menurut pengalaman Bing Lian pada kehidupanya pertamanya.
Para sekte dengan Legacy Disciple beigtu mengalami penurunan atau bahkan sampai sirna tak kuasa bersaing menghadapi kerasnya dunia Cultivator, sebenarnya kejadian serupa terjadi ketika Hao Ren menerima kesepuluh murid langsungnya.
Diantara mereka cuma Lian yang tidak terpengaruh intrik politik sebab memang bukan berasal dari sekte manapun. Mask Sage membutuhkan waktu lama membenahi perilaku – perlaku Ten Guardian Lantern supaya bisa bekerja sama lebih baik.
Seleksi Murid Suci White Crow Sect terbagi dalam tiga tahapan. Ilmu pengetahuan, kontrol Qi, dan kemampuan bertarung. Semuanya direncanakan selesai dalam kurun masa dua sampai tiga hari tergantung situasi juga kondisi kala itu.
Bing Lian, Lu Xiulan, bersama Tan Minjie baru menuntaskan babak pertama. Ada dua ratus peserta Forging Qi tingkat 7 keatas terbaik di seluruh White Crow Sect mengerjakan seratus soal mengenai berbagai jenis wawasan Cultivator seperti Spirit Tool, Pill, Magic Herb, Demonic Beast, Manual Praktik, Daoist Magic, Blood Essence, dan masih banyak lagi.
Kehebohan meledak saat Yin Kiew dan Lu Xiulan menyelesaikan jawaban masing – masing berbarengan. Tepat sepuluh menit berselang sejak ujian dimulai, Lian hanya melihat mereka sambil tersenyum tipis.
“Semangat anak muda benar – benar....”
“Apa maksudmu Saudara Bing? Kita semua seumuran disini?!” bisik Tan Minjie penuh konsentrasi, dahinya berkerut membaca pertanyaan. Nampak jelas ia tertekan melihat kecepatan Lu Xiulan tadi.
“Eh? Ahahaha....”
Bing Lian akhirnya memutuskan keluar setelah setengah jam berlalu, sementara wajah sahabatnya sudah seperti Undead saat mengumpulkan kertas ujiannya lima menit sebelum tahap pertama ditutup. Durasi pengerjaan memang cuma dibatasi selama satu jam.
Lian dan Xiulan saling bertukar pandang ngeri menyadari kepulan asap yang mengitari kepala Minjie seolah siap meledak kapan saja. Dalam perjalanan pulang menuju Snow Feather Dormitory barulah Tan Minjie melepaskan seluruh kekesalannya.
“DASARRR SOAL ALCHEMIST SIALAANNN!!! BAGAIMANA CARANYA AKU TAU TAKARAN TEPAT LALU MENUMBUK BULL WHITE – ROOT VINE SECARA BAIK DAN BENAR!?”
“Kau memerlukan seperdelapan satu buah Bull White – Root Vine untuk membuat satu dosis bubuk obat lalu menghantamnya sebanyak tiga ratus enam puluh lima kal—“
“Persetan Nona Lu!? Aku tidak perduli!”
“Akukan cuma mencoba menjawab pertanyaanmu!” Lu Xiulan mengembungkan pipi kesal kemudian membuang muka.
“Hadehhh....kepalaku.....Lian?!”
“Hmm?”
“Kau bilang tidak berbakat dalam Alchemy tapi kulihat dirimu tak kesulitan sedikitpun ketika menjawab tadi?”
“Aku memang tidak ditakdirkan sebagai Alchemist Saudara Tan, karena Spirit Root milikku berelemen es. Jadi sekeras apapun aku mencoba membuat pil pasti gagal, tetapi kalau soal pengetahuan dasarnya sih sudah aku kuasai diluar kepala sejak lama.....” sahut Bing Lian mengangkat kedua bahu tanpa perasaan berdosa.
“Ugh....apa aku bisa lulus tahap satu ya.....? Hiks!?”
Selagi Bing Lian tengah menenangkan Tan Minjie, ketiganya sampai di Snow Feather Dormitory. Beberapa penghuni lain segera memberi salam kepada mereka. Namun sebuah pemandangan mengejutkan memaksa Lian, Xiulan, dan Minjie seolah dipaksa terbangun dari tidur masing – masing.
Liao Mei, putri Patriach Legendary Sword Valley yang beberapa waktu lalu sempat cekcok dengan seisi Snow Feather Dormitory nampak sedang menyapu membersihkan halaman bersama para murid asrama. Pembicaraannya mengalir seolah sudah saling mengenal lama.
Tidak jauh dari sana, pada kursi dan meja sederhana dibawah rindangnya bayangan pohon. Fan Li juga Yang Wei duduk meminum arak, uniknya dua pria tersebut menjawab berbagai pertanyaan antusias soal ilmu pedang dari anggota White Crow Sect disana.
Melihat ketiga petinggi mematung, penjaga pintu bertanya ada masalah apa. Cepat – cepat Bing Lian, Lu Xiulan, serta Tan Minjie membaca papan nama sekali lagi. Takut kalau ternyata mereka salah masuk asrama, Liao Mei yang menyadari kedatangan tiga peserta seleksi Legacy Disciple ini segera mendekat.
“Saudara Bing, Saudari Lu, Saudara Tan, kalian sudah pulang? Selamat sudah menyelesaikan tahap pertama seleksi....” hormatnya lembut.
“Begitulah, ayo kesana. Kita bicara bersama Senior Yang dan Tetua Fan”
“Hah?! Tunggu dul—“ Lian harus rela diseret Sang Legendary Sword Princess.
“Hei!?” teriak Lu Xiulan tidak senang.
“Yo? Bagaimana ujian pertama kalian? Mudah?” Yang Wei bertanya santai ketika ketiganya telah sampai, seperti bentrok mereka dua hari sebelumnya tak pernah terjadi.
“Ah....ahahaha....kurasa....” ujar Bing Lian bingung sembari menggaruk – garuk kepalanya.
Malam harinya semua setuju untuk menyantap makan malam dibawah langit berbintang, persiapan dilakukan dengan sangat baik. Suara meriah layaknya pesta menarik perhatian orang – orang yang melewati Snow Feather Dormitory.
------><------
Tepat waktu subuh, ketika sinar matahari mulai mengintip dari balik cakrawala. Pengumuman hasil seleksi tahap pertama disebarkan ke seluruh wilayah White Crow Sect, melalui hal ini juga jumlah peserta dikurangi setengahnya menjadi seratus orang.
Tiga nama posisi teratas diisi oleh Lu Xiulan, Yin Kiew, dan Bing Lian seperti prediksi kebanyakan anggota sekte. Memang ketiganya punya prestasi juga kemampuan terpandang diantara generasi tua maupun muda.
Tan Minjie hampir gagal karena nilainya berada di urutan sembilan puluh sembilan, bisa dibilang keberuntungan masih berpihak padanya. Tetapi selain merasa lega, dia kesal karena Tuan Muda Ketiga Keluarga Chun. Chun Ah berhasil memperoleh peringkat dua puluh besar. Ketika mereka berpapasan, suara terkekeh Chun Ah membuat Minjie naik pitam.
“Lepaskan aku! Biarku sumpal tenggorokan bocah itu menggunakan tombak!!!”
“Sudah – sudah lebih baik kau fokus menjalani tes berikutnya, dirimu akan mendapat kesempatan melakukannya nanti jikalau lolos sampai babak terakhir oke?” Lian berusaha menenangkan.
Chun Ah tersenyum puas melihat respon Tan Minjie sebelum melenggang pergi menuju kediamannya untuk bersiap mengikuti seleksi kedua. Namun salah satu seniornya ternyata telah menunggunya dan mengabarkan guru mereka, Chun Tao mencarinya.
TOK! TOK! TOK!
“Guru?”
“Masuklah”
Ia masuk lalu mendapati salah satu Crow Feather Elder tersebut menatapnya serius, Chun Tao menyampaikan beberapa pesan penting. Beragam ekspresi diperlihatkan oleh Chun Ah mendengar penyampaian pria itu.
“Dari hasil tahap pertama kita tau kalau bakatnya memang mengerikan, aku memintamu menyelesaikan ujian hari ini secepat mungkin agar dia tersingkir.....”
“Tapi guru.....bagaimana cara kau melakukannya”
“Kau pikir aku siapa? Tenanglah dan tunjukan kemampuan terbaikmu, akulah yang akan mengurus si bocah keparat itu. Kita lihat apa dia bisa keluar sebelum matahari terbenam, hahaha.....!!!” tawa Chun Tao menggelegar penuh kemenangan.
Author Note :
Terimakasih yang sudah dukung lewat karyakarsa, Bantuan kalian sangat berarti, sekali lagi saya ucapkan terima kasih buat tiga orang yang sudah ngirim kemarin :
1. Lily Kazoya
2. Dwi Wahyudi
3. Bryan
Maaf buat yang tidak disebutkan namanya soalnya terlalu banyak, pokoknya thank you very much for you all!!!
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.