
Setelah memantapkan hatinya dengan mengatur napas, Tan Minjie membuka mata kemudian melesat. Nampak aliran listrik menyelimuti sekitar anggota badannya, dalam beberapa tarikan udara ke parau – paru. Dia sudah berdiri dihadapan Bing Lian sembari menodongkan tombak tuk menyerang.
Lian hanya diam tak bergerak, seolah siap menerima apapun yang akan Minjie lakukan. Baru saja pemuda itu mengayunkan senjata, serangannya terpental. Tan Minjie kaget bukan main, belum puas ia mencoba sekali lagi. Tetapi harus kembali terpukul mundur.
TRANG! TRING! TRANG!
Seiring berjalannya waktu kian bertambah pula perasaan frustrasi Tan Minjie, setiap upayanya seperti tidak menghasilkan apapun sewaktu mengincar Lian. Bing Lian bahkan belum melangkahkan dari tempat berdiri diawal.
Permainan tombak Minjie seakan buku yang terbaca jelas olehnya, entah ayunan melalui arah mana saja dihadang begitu mudah. Para penonton terutama tamu White Crow Sect menelan ludah berat, menyaksikan duel antara Yin Kiew melawan Lu Xiulan sebelumnya telah memberikan gambaran kekuatan sekte ini kedepannya. Sekarang pertarungan Lian makin mengubah persepsi mereka.
“Apa – apaan bocah itu....apa dia bisa melihat masa depan?!”
“Ia mengantisipasinya bahkan sebelum musuhnya berpikir kesana!?”
“Bagaimanakah pertandingan final akan berlangsung!”
CTRANG!
Ketika adu senjata menyentuh angka seratus, Tan Minjie mundur mengambil jarak sebelum melepaskan tebasan. Perlahan bentuknya berubah menjadi semacam burung petir raksasa berwarna kekuningan.
SRRTTT!
“Golden Peacock!”
Lian mengumpulkan Qi elemen angin pada bilah Last Iron lalu melakukan tebasan. Teknik Wind Blade sukses membelah jurus Minjie dengan sangat mudah, tidak menyerah. Dia membuat mantra tangan tuk kedua kalinya, namun kali ini memakai jenis berbeda.
“Water Magic – Water Cannon!”
Air bervolume besar keluar deras melalui mulutnya ke arah Bing Lian, tembakan meriam air tersebut cukup kuat membuat daging manusia biasa terlepas dari tulang – tulangnya. Lian menggelengkan kepala sebagai pertanda kalau Tan Minjie membuat suatu kesalahan.
“Keputusanmu kurang tepat kawan.....”
Serangan Minjie memisahkan diri menghindari Lian kemudian perlahan membeku, kumpulan es mengelilingi tubuh Bing Lian layaknya induk hewan buas melindungi anaknya. Tiba – tiba wujud mereka ikut berubah sedikit demi sedikit.
“Ice Magic – Snow Wolf Herd” bisik Lian sambil membuat mantra menggunakan sebelah tangan.
“Sial! Aku lupa!” Tan Minjie mengumpat kebodohannya memakai jurus berelemen air.
Kurang lebih tiga puluh detik berikutnya, ada sekitar sepuluh ekor serigala terbuat dari es mengeroyoknya. Minjie menggertakan gigi berusaha menghabisi masing – masing secepat mungkin menggunakan tombak miliknya.
Saat tengah mengibaskan senjata supaya makhluk – makhluk itu menjauh, secara mengejutkan tubuh mereka menguap tanpa sisa seperti tak pernah ada disana. Belum sempat Tan Minjie mensyukuri nasipnya, lima bilah pedang menempel pada lehernya dari berbagai arah.
Muncul lima pemuda berambut putih dengan Last Iron mengepung dirinya, tidak seperti kebanyakan penonton yang menganggap kejadian ini teknik ilusi. Minjie dapat merasakan jelas besi dingin mengitari tenggorokannya.
“Aku menyerah.....” ucapnya kecewa meski masih tersenyum.
Setiap belahan diri Bing Lian kembali menuju tubuhnya, ia menyarungkan pedang sebelum bertukar hormat dengan Minjie. Keduanya saling berpelukan diikuti tepuk tangan seluruh isi stadion, akhirnya babak final akan mempertemukan Sang Putri Patricah, Yin Kiew. Menghadapi si anak ajaib, Bing Lian.
------><------
“Junior Liao? Kau pernah bertemu dengan hampir seluruh Twelve Cosmos Princess bukan? Bagaimana menurutmu?” Yang Wei menyeletuk begitu Bing Lian dinyatakan sebagai pemenang.
“Jika aku perhatikan sejak pertarungan pertama tadi, Lu Xiulan maupun Tan Minjie memang berbakat. Namun sayang level mereka masih satu tingkat dibawah kedua belas putri, mustahil keduanya menembus Forging Qi tingkat 15 kecuali mendapat uluran tangan langsung Alchemist Bachelor” ujar Liao Mei pelan.
“Pria itu sulit sekali ditemui....” Fan Li menimpali lelah, mengingat pengalamannya dulu sempat diminta melacak keberadaan Medicine Pillar oleh Patriach tetapi hasilnya nihil.
“Benar, sedangkan Yin Kiew kekuatannya mungkin berada diurutan empat, lima, atau enam. Bersaing ketat melawan Hua Riyun dan juga Qiu Na.....”
“Heaven Flower Princess serta Hundred Nights Princess?”
Nama Hua Riyun mulai menjadi topik pembicaraan hangat dunia Cultivator Benua Huawai sebab digadang – gadang mempunyai bakat menyamai Flower Empress. Sang nenek, ketika masih berumur belia. Terlebih kabar burung mengatakan Spirit Root dalam tubuhnya hanya mengandung satu elemen.
Sementara Qiu Na adalah pembunuh paling keji terlepas dari berapa usianya sekarang. Sudah tidak terhitung berapa nyawa dia rebut menggunakan tangannya sendiri, sulit mencari sepak terjang segemilang miliknya di generasi muda aliran hitam. Berbagai teknik membunuh seperti kehidupan sehari – hari baginya.
“Mereka berdua lebih muda dari pada Nona Yin Kiew, namun kalau informasi kita benar. Praktik masing – masing sudah melewatinya” gumam Fan Li pelan.
“Iya, sewaktu terakhir kali bertemu sekitar satu tahun lalu. Mereka sudah dipuncak Forging Qi tingkat 12, aku yakin sekarang lebih tinggi lagi”
“Bagaimana dirinya?” Yang Wei menggunakan gerakan kepala untuk menunjuk Lian yang baru kembali ke tempat duduk peserta selesai mengantar Tan Minjie berobat meski lukanya tak seberapa.
GLEK!
Kali ini wajah Liao Mei menegang, dia sempat terdiam beberapa saat sebelum mengutarakan isi kepalanya sambil menelan ludah berat. “Saudara Bing sendiri....nampaknya mengimbangi Tian Xiaoye, Long Yawen, dan Hong Shuren”.
“Pfft!? Uhuk – uhuk!!! Kau bercanda!?” desis Yang Wei sesudah tersedak.
Liao Mei hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban, tidak ada Cultivator kecuali yang awam tak mengetahui ketiga nama barusan. Memang dalam lima ratus tahun terakhir, generasi sekarang tergolong dipenuhi bakat – bakat muda menjanjikan.
Tetapi beda dengan tiga monster tersebut, Tian Xiaoye merupakan anak emas Twin Sword Mountain. Saingan utama Legendary Sword Valley, ilmu pedang Sang Twin Sword Princess sangat tinggi. Menurut Liao Mei pribadi, cuma Bing Lian yang mampu menyaingi teknik berpedangnya di antara para Cultivator muda.
Meski sektenya memilik teknik dua pedang, gadis itu tidak pernah memakai senjata pada masing – masing tangannya. Cukup satu saja kemampuanya teramat mengerikan, dia menguasai Sword Intent ketika berumur delapan tahun.
Long Yawen sendiri adalah cucu kesayangan dari Black Dragon King, Long Heiyan. Anak perempuan ini terkenal akan kemampuan fisik luar biasa miliknya, dulu sekali saat berusia sepuluh tahun. Ia pernah menggantikan ayahnya memimpin pasukan sewaktu bentrokan antar kerajaan di Thousand Southern Island terjadi.
Terakhir, Hong Shuren. Informasi mengenainya sangatlah minim, bahkan Liao Mei belum sempat melihat wajahnya secara langsung. Namun sebagai putri mahkota Red Phoenix Empire. Kemampuannya dipercaya paling tinggi diantara Twelve Cosmos Princess. Mereka bertiga diketahui telah mencapai Forging Qi tingkat 14 sekarang padahal lebih muda dari Yin Kiew.
‘Aku yakin ketiganya bukan manusia, hah....lagi pula posisiku juga tergolong rendah dibandingkan putri – putri lainya. Oh iya, ada suatu hal pada Bing Lian yang membuatku teringat tiga gadis monster tersebut tapi....apa ya?’ batin Liao Mei sembari menggerogoti kuku ibu jarinya.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.