
Semangat dapat dirasakan memenuhi atmosfer sekitar White Crow Sect hari ini, buktinya orang – orang mulai berdatangan ke stadion seleksi Murid Suci sejak pagi – pagi buta. Beberapa bahkan membawa sarapan mereka seolah tidak ingin melewati satu momenpun.
Lu Xiulan sendiri masih berada di Snow Feather Dormitory menghias dirinya, dia mengepang rambutnya sebelum memasang aksesoris berbentuk jarum giok berwarna indah. Puas akan penampilannya, Xiulan segera bangkit berdiri kemudian keluar dari kediamannya.
Tak disangka ada sosok lain telah menunggunya dengan membawa sebuah kotak bekal berlapis kain berbahan lembut. Si pemuda berambut putih menoleh dan tersenyum hangat, lalu mendekat sembari menjulurkan barang ditangannya.
“Sarapan, kau sebaiknya tidak bertarung dengan perut kosong”
“Lian....? Huum, terima kasih banyak”
“Sama – sama, yang semangat ya....semoga berhasil”
Lu Xiulan memejamkan mata saat Bing Lian mengelus sebentar kepalanya baru meninggalkan lokasi, punggung anak laki – laki itu seolah menjadi semacam garis finis baginya. Xiulan menarik napas dalam – dalam untuk menenangkan diri.
“Pasti.....aku akan menunggumu di Final!” serunya penuh tenaga, Lian nyengir lebar namun tak menoleh. Hanya melambaikan tangan pertanda kalau dia mendengarnya.
Xiulan mengangguk puas kemudian melesat ke udara, memutuskan berangkat menggunakan ilmu meringankan tubuh dan menghabiskan makanan pemberian Lian di jalan. Sementara pada kediaman lain nun jauh diatas gunung markas White Crow Sect.
Sang Putri Patriach juga baru ingin meninggalkan tempat tinggalnya, ia mengangkat sebelah alis sewaktu menemukan sebuah bungkusan menggantung pada gerbang. Yin Kiew membukanya lalu mendapati satu pucuk surat.
‘Senior....aku tau kau pasti kelaparan tiap jam segini jadi jangan banyak protes dan tolong dinikmati saja. Semoga beruntung dengan pertandinganmu’
“Enak saja....” gerutu Yin Kiew cemberut sebelum memasukan satu suapan nasi ke mulutnya.
Ekspresinya perlahan menjadi riang disebabkan rasa hidangan tersebut, dia memutuskan menghabiskan semuanya terlebih dahulu baru berangkat menuju tempat seleksi. Tan Minjie menoleh ketika menyadari kedatangan Bing Lian, keduanya tengah duduk manis menunggu pada bangku khusus peserta.
“Kau sudah memberikan mereka bekal?”
“Begitulah, baru saja selesai”
“Untukku?” pinta Tan Minjie menjulurkan tangan.
PLAK!
“Aw!?” pemuda itu segera menarik lengan karena Lian menepuk telapaknya keras hingga memerah nan perih.
“Kau sarapan sebelum kemari dan sekarang ingin lagi?” Bing Lian menghela napas lelah.
------><------
Para penonton seisi stadion bergemuruh saat kedua gadis peserta babak semi final memasuki arena pertarungan. Lu Xiulan dan Yin Kiew berjalan penuh percaya diri seperti tanpa beban sedikitpun, Yin Jiang. Grand Elder White Crow Sect berdiri diantara mereka lalu menjelaskan peraturan sekali lagi untuk mengigatkan semuanya terutama orang – orang di podium sektiar.
Seluruh indvidu mendengarkan dengan seksama, ada semacam bisikan di udara meyakinkan penonton kalau pertandingan akan menarik sekali. Melihat kalau dua peserta nampak cuek, Yin Jiang berdeham pelan.
“Kalian mengerti?”
“Tentu” sahut mereka berbarengan.
“Baiklah....mari lakukan”
“Senior Yin....” Lu Xiulan memberi hormat.
“Junior Lu.....” balas Yin Kiew sopan.
“Pertandingan pertama semi final seleksi Legacy Disciple White Crow Sect antara Yin Kiew melawan Lu Xiulan.....dimulai!!!”
------><------
Tidak menyianyiakan waktu satu detikpun, Xiulan menerjang kedepan dengan dua pisau menghiasi tangannya. Yin Kiew telah bersiap menunggu kedatangannya, kedua gadis ini mengayunkan senjata secepat kilat.
TRANGGG!
Percikan api menandakan pertemuan dua bilah besi sama kuat, mata orang – orang yang menyaksikan melebar menyadari adanya sebuah kejanggalan. Entah sejak kapan ada lima buah pisau sekarang terbang hendak menghujani Yin Kiew.
“Bagaimana—!?“
“Xiulan melemparkan pisau – pisau itu tepat ketika pengadil menyatakan pertarungan dimulai. Kemudian maju menyerang agar merusak perhatian lawan” Bing Lian menjelaskan sebagai respon atas seruan takjub Tan Minjie.
Masing – masing melayang melengkung untuk mengargetkan punggung Yin Kiew. Gadis tersebut masih beradu senjata menghadapi Lu Xiulan, belum bergerak seincipun karena saling menahan satu sama lain.
“Belum selesai!”
ZING! WUSH!
Kelima pisau yang sebelumnya nampak kehilangan daya serang kembali menegang dan mengincar titik dimana Yin Kiew berdiri. Beberapa penonton berdiri saking terkejutnya. “Benang Qi!?”.
JLEB!
“Eh?”
Pandangan semua penghuni arena melebar karena pisau Xiulan tak mengenai siapapun, cuma menancap pada lantai. Disanalah Lu Xiulan menyadari hawa dingin disekitar tengkuknya, Yin Kiew ternyata telah berdiri dibelakang siap melakukan tebasan.
‘Sial!’
“CEPAT SEKALI!?” teriakan memenuhi arena.
“Selesai sudah....Junior Lu”
“Ck!? Jangan mimpi! Wood Magic – Five-Finger Root!”
JDUARRR!!! SSSRRRR!!!
Yin Kiew gagal mendaratkan serangan sebab dahan – dahan pohon mengangkat dirinya ke udara kemudian membungkusnya. Membentuk semacam tiruan tangan menggenggam yang terbuat dari kayu, tapi tak berselang lama. Teknik Xiulan bergetar hebat, terdengar pula gemuruh pelan dari sana.
“Mist Feather Sword First Style; Through The Storm!”
SLASH! SRAT! SRAT! SRAT! KRAKK!!!
Tebasan kuat nan cepat mengoyak seluruh jurus Lu Xiulan sampai ke dasar, Yin Kiew muncul lagi di arena tapi dengan tatapan tajam. Xiulan kembali berdecak kesal terus berusaha menjaga jarak, namun kali ini Yin Kiew tidak membiarkannya lolos mudah. Satu hentakan kuat kakinya membuat ia menyusul Xiulan dalam sekejap.
“Celaka!”
“Mist Feather Sword Second Style; Sky Ripper!”
SRAT!!!
“Kyaaa!!!”
“Xiulan!?” Tan Minjie bangkit dari tempat duduknya.
Lu Xiulan terlempar di udara, tapi sorot matanya masih membara penuh semangat. Lagi – lagi gadis itu memutar tubuhnya sembari menarik, Yin Kiew kaget bukan main ketika tertarik kedepan karena bagian sekitar perutnya telah dililit benang Qi.
“Metal Magic – Body Ballast!” dia seketika membuat mantra tangan, warna kulitnya berubah menjadi layaknya besi dan berat tubuhnya meningkat berkali – kali lipat. Berharap kalau Xiulan gagal melakukan rencananya.
“Jangan remehkan aku!!! Hyaaa!!!”
“Ugh!?”
Meskipun memakai teknik pemberat tubuh, Yin Kiew harus terima dilemparkan oleh Xiulan. Selain berbekal tenaganya sendiri, Lu Xiulan juga memanfaatkan daya dorong akibat serangan Yin Kiew sebelumnya hingga sukses mengembalikan keadaan. Tepat sebelum terjatuh keluar arena, Yin Kiew memakai sihir angin agar terdorong kembali ke dalam.
WOAAAA!!! SUIT! SUIT!!!
Teriakan ditambah siulan heboh mulai terdengar atas pertandingan yang sangat menghibur dari kedua gadis peserta semi final. Dilain sisi Tan Minjie merasa sedikit tertekan karena apakah ia bisa melakukan pertunjukan berkualitas sama terlebih lagi harus melawan Bing Lian.
Yin Kiew maupun Lu Xiulan menatap musuh masing – masing penuh waspada, tepat satu menit berlalu. Xiulan menghantamkan tangannya ke lantai. “Wood Magic – Trapping Branch!”.
Baru saja Yin Kiew hendak menghindar, kumpulan kayu mengikat sekujur tubuhnya. Masih berpikir cara melarikan diri, Xiulan lagi – lagi membuat mantra tangan sebelum menarik napas sekuat mungkin.
“Fire Magic - Charcoal Burning!!!”
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.