
Tian Xiaoye adalah cucu dari Patriach Twin Sword Mountain sekaligus keturunan langsung terakhir Tian Clan, kedua orang tuanya telah meninggal dunia saat ia masih berumur 7 tahun. Ini alasan mengapa Patriach sangat menyayangi dirinya.
Kemampuan berpedang Xiaoye begitu tinggi, bahkan dapat dilihat secara kasat mata sejak gadis tersebut berusia belia. Pembuktianya nampak ketika dia menguasai kemampuan Sword Intent sebelum genap menginjak umur 9 tahun.
Tian Xiaoye terlahir dengan tubuh istimewa, seolah langit menginginkan dia tumbuh sebagai seorang Cultivator berbakat. Otot – ototnya sangat kuat nan lentur, menjadikannya memiliki bekal utama pendekar pedang.
Ciri – ciri fisik Xiaoye juga unik, dia mempunyai mata biru ditambah rambut berwarna putih saat keluar rahim. Menciptakan kehebohan di sekte Twin Sword Mountain sebab masing – masing ibu maupun ayahnya tidak seperti itu, setelah dilakukan pemeriksaan lebih jauh. Ternyata semua dikarenakan efek Sword Goddess Body miliknya, ibu Xiaoye memang punya kebiasaan mempelajari ilmu – ilmu yang telah menghilang atau dilupakan.
Sehingga banyak spekulasi mengenai perubahan anggota tubuh Xiaoye ada hubungannya dengan hal tersebut. Namun entah mengapa, Tian Xiaoye tak pernah menunjukan kemampuanya dalam jurus dua pedang. Mengingat salah satu penyebab nama besar Twin Sword Mountain merupakan keahlian mereka menggunakan teknik pedang ganda.
Tapi dibalik semua kelebihan Xiaoye, terdapat semacam penyakit aneh. Ia tidak mampu mengingat wajah seseorang, bahkan kakeknya. Sang Patriach harus memperkenalkan diri saat bertemu atau kalau tidak maka Tian Xiaoye akan menjauhinya.
Patriach telah mengerahkan segenap upaya demi menyembuhkan masalah ini, bahkan mencari bantuan tabib – tabib terkenal serta informasi Noble Treasure Shed. Sayang hasilnya nihil, sampai umurnya yang kelima belas tahun Xiaoye masih mengidap penyakit begitu.
Tentu bukan hal mudah juga baginya, dia tidak bisa mengenali teman – temannya. Para anggota Twin Sword Mountain, bahkan muka pada foto kedua orang tuanya pun terasa asing. Tanpa disadari perlahan Tian Xiaoye berubah menjadi sosok penyendiri.
Hanya satu orang Seniornya, yaitu Di En yang masih tiap hari berkunjung mencoba sekuat tenaga membuat si gadis manis berjuluk Dewi Pedang Kembar mengenali wajahnya. Berbanding terbalik dengan latar belakang superior Xiaoye, Di En adalah seorang anak terlantar.
Dia ditemukan oleh Tetua Twin Sword Mountain di depan kediamannya, ibu anak laki – laki itu sepertinya meninggalkan ia disana karena percaya kalau ayahnya merupakan anggota sekte bintang 9 tersebut. Begitulah isi surat dalam keranjang bayinya.
Patriach merasa iba lalu memutuskan agar salah satu Tetua tak memiliki keturunan mengadopsinya, awalnya Di En terus diremehkan dan dilecehkan. Tetapi berkat semangat pantang menyerahnya, gunungan prestasi perlahan mengubahnya sebagai sosok terpandang. Bahkan sukses mencapai Heaven Foundation, semua dikarenakan dirinya berhasil menguasai Night Angel Sword. Salah satu manual berpedang tingkat tinggi peninggalan Tian Clan.
Rekor tidak terkalahkan Di En akhirnya pecah sewaktu bertemu Tian Xiaoye, gadis itu cuma perlu satu gerakan sederhana untuk menghancurkan seluruh rasa percaya diri Di En. Inilah mengapa dia sangat mengagumi Xiaoye juga mencoba mendekatinya, lagi pula Patriach sudah memberinya izin.
“Jadi begitulah.....aku menghajar mereka semua hingga terkapar di tanah hahaha.....”
“Hehehe....Senior jahat sekali.....pasti menyenangkan berada disana.....”
“Kapan – kapan ikutlah.....”
“Ahahaha....maaf aku harus menolaknya Senior Di, aku takut menciptakan suasana canggung. Ada perasaan bersalah saat kau tak mengenali lawan bicaramu.....” Tin Xiaoye menggelengkan kepala sedikit muram..
“Tenang saja! Mereka pasti memahami kondisimu! Nanti kuberi pelajaran siapapun yang membicarakanmu dibelakang! Mereka pikir mereka siapa? Berani menggunjing cucu Patriach” ujar Di En ketus.
“Hihihi....terima kasih, aku menantikan pergi mengerjakan misi denganmu Senior”
“Huum, mari kita bekerja keras bersama – sama!”
------><------
Jin Chen mengurung diri di ruanganya selama berhari – hari sejak usai memanggil Teng Lim dan Xin Dai. Dia meminta beberapa lembar Tallisman dari cabang Qiying tuk diperiksa, penampilan berwibawa serta elegan miliknya telah sirna.
Rambutnya acak – acakan, jubah emasnya nampak dipenuhi kusut. Demonic Beastnya terus mengusapkan kepala khawatir, Jin Chen menggerogoti setiap kuku jari tangannya hingga habis sembari memutar otak.
“Teratai Es....ugh....mustahil mustahil mustahil!!! Informasiku tak mungkin meleset! Aku yakin seratus persen kalau pria itu telah mati!”
Sedikit sekali orang yang tau tentang masa kelam kehidupan Jin Chen, seingatnya hanya tinggal Mahaguru Pure Heart Temple saja. Dahulu Jin Chen bukan seperti sekarang, tidak mempunyai kekayaan sepeserpun sampai harus mengais sampah demi makanan sisa. Begitulah caranya bertemu sang biksu kemudian berbagi sepotong roti kering.
Dia menghabiskan waktunya sebagai penipu juga penjudi brengsek, tetapi selalu sial dan menerima kekalahan. Pindah dari satu kota ke kota lain usai menumpuk hutang dimana – mana, mengganti nama terus menerus.
Sampai akhirnya Jin Chen tertangkap akibat termakan rayuan sesosok wanita cantik kiriman para korbannya, muak atas perbuatan Jin Chen. Mereka setuju mengorbankannya menuju sarang Demonic King Beast, tentu itu sama saja dengan hukuman mati baginya.
Karena ketika kejadian tersebut ia masih seorang Earth Foundation Early – Stage, beruntung sebelum sempat digigit hingga putus menjadi dua bagian. Sang Demonic King Beast dihabisi oleh seseorang, pria yang diduga Jin Chen sebagai pembuat Tallisman cabang Qiying sekarang.
Jin Chen berterima kasih tanpa henti, melihat lawan bicaranya berpakaian mewah. Jin Chen menceritakan kisah mengada – ada supaya dia merasa iba, namun sayang si penyelamat hidupnya hanya tertawa geli jelas tidak tertipu sedikitpun. Namun ia memberikan sebuah penawaran luar biasa.
Pria ini memberikan sebuah Spatial Ring kepada Jin Chen yang isinya harta berlimpah, tapi dengan syarat Jin Chen harus membuat surat pernyataan akan mengganti semuanya seratus kali lipat. Awalnya Jin Chen agak ragu karena mustahil melakukannya, terlebih sekilas saja dia mengetahui orang dihadapanya merupakan Cultivator tingkat tinggi. Menipunya sama saja cari mati.
Tetapi ia bergumam santai kalau dirinya tidak menetapkan batas waktu untuk Jin Chen mengembalikannya, cuma ketika kelak diminta. Ia ingin Jin Chen memenuhi janjinya, tentu tanpa keraguan Jin Chen setuju. Lagi pula Jin Chen yakin membutuhkan waktu ratusan tahun agar terwujud, mungkin bahkan dia sendiri sudah mati sebelum sempat membayarnya.
Tanpa diduga selesai pertemuan bak ditakdirkan tersebut, keberuntungan demi keberuntungan datang menghampirinya. Harta permberian si pria bukanya habis malah bertambah berkali – kali lipat, puncaknya kehidupan Jin Chen makin terjamin saat dia menikahi salah satu bangsawan Aicowonid Empire. Kerajaan terkaya Dataran Tengah kemudian menciptakan sebuah sekte perdagangan terbesar di Benua Huawai.
Rasa was – was Jin Chen hartanya bakal ditagih menguap begitu saja ketika beberapa informan terbaiknya mengabarkan kabar meninggalnya sang penyelamat hidupnya dulu akibat pertempuran melawan bangsa Demon. Jujur, dia mengadakan perta besar sebulan penuh merayakan itu. Tapi sekarang, kemunculan Tallisman seolah sebagai peringatan kalau perasaan leganya sia – sia.
“Humm....Fu?” akhirnya Jin Chen memanggil setelah berdiam lama.
SYU!
“Iya Patriach?” sesosok orang berjubah hitam kepercayaanya muncul entah dari mana.
“Aku ingin kau mengirim beberapa Tallisman ini....”
“Tujuannya?”
“Emperor maupun Empress Emperors Alliance Sect, aku penasaran bagaimana reaksi mereka nantinya....” ujar Jin Chen menopang dagunya menggunakan tangan serius.
“Laksanakan!”
WUSH!
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.