The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 80 - Crestfallen



Author Note : (PENTING!)


(Biar feel nya lebih terasa. Disarankan mendengarkan InuYasha - To Love's End Chinese Bamboo Flute Cover saat membaca chapter ini sejak awal atau dibagian permainan seruling. Enjoy!!!)


Yang Xuefeng membawa kedua murid sektenya menginap di Noble Treasure Shed, bangunan sekte pedagang tersebut memang bukan hanya berfungsi sebagai lokasi jual beli namun juga menyuguhkan jasa tempat tinggal sementara. Harganya pun bervariasi, banyak kelompok Cultivator memilih kesana karena mereka akan memberikan pelayanan khusus bagi anggota sekte – sekte tingkat tinggi tertentu.


Mengingat hubungan antara Twin Sword Mountain dan Noble Tresure Shed cukup baik, pilihan Yang Xuefeng tergolong tepat. Lagi pula keamanannya sangat terjamin sebab dihuni jagoan – jagoan dari tiga aliran berbeda.


Perwakilan masing – masing sekte kuat mulai mencuri perhatian, nama She Baoshi bersama junior perempuannya Xie Jingyi asal Green Poison Lake menggemparkan Hoerju akibat kabar terbunuhnya beberapa prajurit kota terkena racun misterius. Disusul oleh duo murid Death Melody Opera, Chang Gequ dan Qiao Yinyue yang memecahkan kepala orang – orang menyebalkan saat keduanya tengah menikmati makan malam memanfaatkan satu petikan senar.


Jujur penyebab Yang Xuefeng cemas sekarang bukan itu, masalahnya adalahnya lusa Di En maupun Tian Xiaoye bakal memasuki dimensi lain ditemani monster – mosnter barusan. Melindungi mereka saat ini bukan hal sulit, tetapi titik tersebut sudah berada diluar jangkauannya, Di En menyadari kekhawatiran sang Tetua kemudian berjanji sekuat tenaga menjaga Xiaoye.


Namun tetap saja Yang Xuefeng mengalami gangguan mental sampai sulit beristirahat, sementara pemuda – pemudi sektenya malah nampak tak perduli lalu meminta izin menjelajahi kota bersama. Yang Xuefeng mempersilahkan asal keduanya pulang sebelum gelap.


Di En beserta Tian Xiaoye tertawa senang, terutama Xiaoye karena dia jarang sekali meninggalkan sekte akibat penyakit aneh miliknya. Berbekal gaun berwarna merah menawan, gadis itu berkeliling dengan Di En seolah – olah berperan layaknya pengawal pribadinya.


Semua berjalan lancar hingga ketika mereka mau mengunjungi pasar akhir pekan, Di En melesat lebih dahulu antusias. Menghabiskan waktu menemani Tian Xiaoye membuat ia semangat juga hatinya berbunga – bunga, Xiaoye sendiri tersenyum gembira berusaha menyusulnya. Tetapi langkah gadis tersebut terhenti mendadak akibat ada seseorang yang memegangi pergelangan tangannya.


“Wen’er.....?”


“Hmm....maaf?” Tian Xiaoye memiringkan kepala bingung.


“Kamu....sungguh hidup....”


“Eh?”


Xiaoye terdiam saat pemuda tadi menyentuh lembut pipinya, entah mengapa tangan miliknya terasa hangat nan familiar. Seperti Tian Xiaoye pernah mengalami hal ini sebelumnya, saat hendak lanjut berbicara. Sang pria membatalkan niatnya karena Di En telah datang dengan pedang terhunus ke lehernya.



“Kau pikir tengah memegang siapa seenaknya saja hah? Lepaskan atau tanganmu bayaranya....” geram Di En sinis.


“.....”


Dia tidak menjawab namun tatapannya menjadi sangat dingin. Xiaoye menduga kalau dirinya dan si anak laki – laki seumuran, dlihat menurut penampilannya. Tian Xiaoye bingung harus berkata apam ia ingin kesalahpahaman barusan diselesaikan baik – baik, lagi pula Xiaoye tak berharap menyebabkan masalah bagi seniornya meski praktik lawannya terlihat dibawahnya beberapa tingkat.


“Junior Tian....kau mengenal bocah kurang ajar ini?”


“Huum, Senior turunkan senjatamu. Sepertinya dia salah mengenaliku sebagai kenalannya....” Tian Xiaoye menggapai gagang pedang Di En.


Mendengar ucapan itu, ekspresi pemuda tadi berubah kaku sebelum menarik kembali lengannya. Di En menghela napas panjang, sempat muncul perasaan tertekan dalam hatinya menatap mata biru sang anak laki – laki aneh yang kini menundukan kepala sembari tersenyum pahit.



“Aku berharap apa? Dasar bodoh....” gumamnya pelan.


“Hey? Kau membutuhkan bantuan? Harimu nampak berat kawan....” Di En bertanya iba.


“Ahahaha....terima kasih Senior, maaf mengganggu kalian berdua terutama anda Saudari. Aku mengira tadi salah satu kenalanku.....”


“Apa dia berasal dari sini? Siapa tau kami bisa membantumu mencarinya....” kata Xiaoye lembut.


“Mmm...sepertinya mustahil....”


“Kenapa?”


“Sebab.....dia sudah lama meninggal, aku permisi.....” si pemuda menjawab lalu berbalik pergi.


TES....


“Junior Tian?! Ada apa?! Kau terluka?!”


“Hiks....huh....en....entahlah Senior....aku....hiks juga....tak mengerti....hiks....” Xiaoye berusaha mengusap cairan pada mukanya sembari tersedu - sedu.


“Hey....tarik napas dalam – dalam.....” bisik Di En lalu merangkul anak perempuan itu.


“Hiks!!?....eee....aku merasa sakit sekali seakan hatiku mau meledak tanpa alasan jelas.....hua....ha....!!!” isakan Tian Xiaoye semakin menjadi – jadi.


Tidah jauh dari lokasi barusan, pada atap terbuka salah satu gedung. Seorang gadis yang mengenakan hiasan bunga indah dikepalanya menonton seluruh kejadian, sekarang matanya tertuju ke arah remaja laki – laki berambut putih dikejauhan.


“Sepertinya aku baru saja menyaksikan hal menarik, hihihi....”


“Nona Riyun!? Nona Riyun disana rupanya!? Astaga akhirnya saya menemukan—“


BUAKH! BRUAK!


“Berisik Xu Bai bodoh! Merusak suasana saja! Berhenti meneriakan namaku!”


Hua Riyun menendang pipi bawahannya hingga terpental menabrak meja maupun kursi dekatnya berdiri, Riyun berdecak kesal. Padahal ia baru menemukan sosok menarik tapi harus kehilangan jejaknya karena panggilan konyol Xu Bai.


“Ahhh....aku butuh hiburan lagi.....!!!”


------><------


Yin Jiang dan Yin Kiew saling bertukar pandang bingung, mereka sebelumnya mengajak Bing Lian pergi menyantap makan malam namun dia menolak sambil menatap keluar jendela. Melihat nampaknya ada suatu hal aneh, Yin Jiang meminta Wu Kang menemani Lian.


Benar saja ketika kembali keadaan masih tetap sama, Wu Kang juga melaporkan kalau Bing Lian belum bergerak sama sekali sejak keduanya meninggalkan kamar. Yin Jiang memberi kode agar membiarkan dia yang berbicara kepada Lian.


“Hey? Kau kenapa bersikap seperti orang patah hati? Aneh, pertama kalinya aku melihatmu begini....” celetuk Yin Jiang menepuk pundaknya.


“Patah hati? Ehehehe....konyol, Guru benar. Mengapa aku malah bersikap layaknya bocah puber?” Bing Lian akhirnya bicara setelah terdiam cukup lama.


“Tapikan kau memang begitu.....”


“A....hahahaha.....iya juga ya....hehehe aku lupa.....”


“Dasar....”


Lian kemudian meminta maaf telah membuat ketiganya khawatir, ia mengeluarkan seruling giok pemberian Yin Jiang sebelumnya. Lian mengatur napas seolah sedang memantapkan diri, saat benda itu bertemu dengan bibirnya. Suara indah mulai mengalun diudara.


TUTUTUT.....TUTUTUT....TUUUU.....


Para penghuni Hoerju terpaksa menghentikan kegiatan masing – masing demi memasang telinga baik – baik, tidak satupun dari mereka ingin melewatkan momen tersebut. Beberapa bahkan membuka jendela supaya mampu lebih jelas menikmatinya.


Bing Lian memang mengalirkan Qi saat bermain sehingga bunyinya mencapai seluruh kota, tak berselang lama muncul iringan alat musik lain mengikuti lagu Lian. Perpaduan keduanya sangat baik seperti telah mengenal lama satu sama lain.


Lian meniup serulingnya kurang lebih selama setengah jam kemudian berhenti, Yin Jiang, Yin Kiew, dan Wu Kang membuka mata bersamaan. Ketiganya adalah yang paling merasakan efek permainan luar biasa Lian mempengaruhi Qi dalam tubuh mereka, bahkan Wu Kang mengakui kalau suara tadi adalah hal kedua selain bacaan sutra mampu menenangkan hatinya.


Yin Kiew berjalan perlahan lalu berjongkok dihadapan Lian, Bing Lian menatapnya penasaran. Belum sempat dia bertanya, Yin Kiew memeluknya erat – erat seolah tidak ingin melepaskannya. Bing Lian kaget bukan main atas tindakan tiba – tiba seniornya tersebut, ia tersenyum terus membalas dekapan Yin Kiew. Sang Ice Emperor tidak pernah menyangka air matanya bakal menetes lagi malam itu.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.