
Dalam satu tarikan napas, Yin Kiew melakukan rangkaian tebasan secepat yang dia bisa sampai sukses membuat belahan diri Bing Lian terlempar dan berlindung dari Daoist Magic elemen es tersebut.
Bongkahan – bongkahan besar embun beku menghiasi lantai arena, tanpa menunggu lebih lama ia maju sekali lagi. Melompati mereka kesana kemari untuk mencari serta mengincar tempat Lian berada.
Tapi sebelum dirinya menemukan pemuda itu, Lian muncul begitu saja dihadapannya dengan tangan siap memukul. Yin Kiew sudah mencapai tahap dimana kelima indranya menajam berkali – kali lipat sehingga tak terkejut atas kedatangan Bing Lian yang tiba – tiba. Keduanya menyerang bersamaan.
BAMMM!!! KRASS!!!
Es disekitar mereka pecah serentak, meniupkan angin sejuk ke penjuru podium penonton. Masing – masing Lian maupun Yin Kiew terdorong mundur sembari terjatuh, tubuh dua remaja ini terseret cukup jauh lalu mendekati tepi batas area pertarungan.
“Apa ini sungguh pertandingan Forging Qi!?”
“White Crow Sect mendapatkan kehendak langit!? Bagaimana mungkin kalian mempunyai bakat – bakat muda semenjanjikan mereka!”
“Yin Kiew tidak mengejutkan, namun Bing Lian benar – benar telah melebihi ekspektasiku”
Waktu Lian dan Yin Kiew bangkit berdekatan, ada senyum puas terpampang diwajahnya. Ilmu pedangnya teramat tinggi, jadi seharusnya sehebat apapun sebuah teknik pembaharuan. Bing Lian berkesempatan menguasainya sekejap mata.
Hanya saja sekarang setiap luka goresan pada tubuhnya merupakan resiko yang dia ambil demi melihat suatu hal baru. Lian menikmati sensasi tersebut, jujur kalau boleh memilih. Ia lebih senang dikejutkan akan inovasi dunia Cultivator ketimbang mendapat gelar Murid Suci.
Sekali lagi kedua peserta babak final saling menerjang penuh semangat, jika dilihat secara garis besar. Pertemuan serangan pamungkas akan terjadi tepat di tengah arena, bilah pedang Yin Kiew dilapisi cahaya putih terang sedangkan telapak tangan Bing Lian membiru.
“Crow Sword Dance Renewal Fifth Move; White Feather!”
“Nilfheim Exposure!”
------><------
BUAKH!!!
“Uhuk! Uhuk! Bagaimana kelanjutannya?” celetuk Lu Xiulan sembari melindungi wajahnya.
“Entahlah!” Tan Minjie menyahut dengan mengambil sikap yang sama.
Ledakan besar pecah kemudian mengakibatkan debu membumbung tinggi ke udara, menutupi seluruh pandangan para penonton. Arena benar – benar tidak bisa dilihat kembali, saat perlahan situsai berubah normal.
Ternyata pedang Yin Kiew dan telapak tangan Lian tak pernah bertemu, Yin Jiang masuk tepat sebelum masing – masing serangan bentrok. Sang Grand Elder menetralisir jurus dari kedua peserta itu, dia menahan teknik tapak Bing Lian memakai miliknya juga menangkap tebasan Yin Kiew.
“Mohon maaf mengganggu hadirin sekalian....tapi menurut penilaianku jika diteruskan dampaknya bisa terlalu besar, aku harap semua mengerti.....”
“Tindakanmu sudah benar” seru Yin Wuya dari tempatnya duduk.
“Hah....terima kasih Patriach, sepertinya pertarungan harus berakhir seri dan kedudukan Murid Suci ditentukan melalui rapat bersa—“
“Tidak....”
“Lian’er?” Yin Jiang mengangkat sebelah alis karena Bing Lian memotong perkataanya.
“Aku mengaku kalah hehehe.....”
EHHH!??
------><------
“Ahahaha....habisnya seluruh Qi milikku sudah kupakai semua, jika pertandingan dibiarkan berlanjut tadi kemudian Senior Yin dapat bertahan. Aku pasti kalah” kata Lian terduduk lelah sambil menggaruk – garuk kepalanya.
Yin Kiew menatapnya dalam – dalam sebelum melakukan hal serupa, gadis tersebut akhirnya melepaskan gagang pedangnya lalu bertanya ke pamannya apakah ia sudah boleh memakan pil. Yin Jiang bingung harus merespos bagaimana, tetapi telepati Patriach menyadarkannya.
Lian berdiri duluan lalu membersihkan jubahnya sebelum mendekati Yin Kiew, dia menjulurkan tangan berniat untuk membantunya berdiri. Cedera Yin Kiew membaik begitu dirinya mengkonsumsi pil namun masih harus mendapat pengobatan lanjutan.
“Bukankah duelnya mengasyikan Senior Yin....?—WOAA!!!“
HUG!
“Huum, seru.....sekali! Hahahaha.....” jawab Yin Kiew tertawa riang nan lepas sambil menarik Bing Lian ke pelukannya.
“Eee....Senior? Badan kita kotor diselimuti debu serta darah jadi sedikit.....ehem – ehem! Lengket....tolong”
------><------
Banyak momen terjadi dalam jangka waktu satu minggu selesai pertandingan final seleksi Legacy Disciple White Crow Sect. Namun ada beberapa yang cukup berkesan bagi Bing Lian, pertama ketika Manajer Noble Treasure Shed cabang Qiying, Teng Lim. Datang menemuinya di Snow Feather Dormitory untuk mengucapkan selamat telah menduduki peringkat kedua.
Lian tersenyum tulus lalu berterima kasih beliau mau menghadiri acara tersebut, Manajer Teng mengenalkan salah satu anak buah kepercayaanya bernama Bai Xuan sekaligus memberikan hadiah berupa pil – pil pembantu praktik serta Spirit Tool atas pencapaian Lian.
Bing Lian menerimanya dengan suka hati, dia yakin berkat bantuan obat – obat ini sebentar lagi akan menembus Forging Qi tingkat 10. Teng Lim mengatakan dirinya berencana pergi sementara ke Aicowonid Empire untuk menghadiri pertemuan sepuluh tahun sekali sekte.
Seluruh pimpinan Noble Treasure Shed cabang manapun dipastikan datang, oleh karena itu sementara waktu Bai Xuan menggantikanya mengurus pembelian Tallisman dari Bing Lian. Lian tidak keberatan, lagi pula pemuda dihadapanya nampak sopan dan dapat dipercaya.
Kalaupun misal dugaanya salah, ia tinggal mengambil tindakan tertentu supaya membungkam mulutnya tuk memastikan identitasnya tetap terjaga. Tiga hari sesudah kedatangan Teng Lim bersama Bai Xuan. Akhirnya rombongan Legendary Sword Valley meninggalkan White Crow Sect.
Bing Lian, Lu Xiulan, Tan Minjie, juga para penghuni asrama mengantar kepergian ketiganya. Meski sulit dipercaya, tapi kelompok tamu tersebut cukup disenangi oleh kebanyakan dari mereka terlepas fakta bentrokan ketika kali pertama bersua.
Lian memutuskan menemani Fan Li, Yang Wei, dan Liao Mei sampai gerbang terluar. Sang Tetua Legendary Sword Valley mengucapkan terima kasih atas semua pelayanan anak – anak Snow Feather Dormitory selama kunjungan.
“Jangan sungkan Tetua Fan, anda membayar untuk itu....” Bing Lian terkekeh geli.
“Ahahaha ada benarnya juga....” ujar Fan Li menggelengkan kepala.
“Oi?”
“Hmm? Iya Senior Yang?”
“Ketika kau mencapai Foundation Realm, datanglah ke sekte kami. Mari bertarung sekali lagi” Yang Wei menjulurkan lengannya.
Lian menjabat tangannya sopan, dia bisa merasakan tekad kuat terpancar melalui kedua bola mata Yang Wei. Bing Lian bertaruh mulai sekarang, bocah itu pasti berlatih sangat giat. Sepertinya menyaksikan seleksi White Crow Sect menyadarkannya terhadap sesuatu.
“Baiklah, semoga aku ingat ya Senior” jawab Lian bercanda.
“Apa kau bi—WAA!!!“
JDUK!
Terakhir Liao Mei maju menyingkirkan seniornya lalu menyerahkan sebuah medali bergambar pedang, Lian memutar – mutar benda barusan kebingungan harus merespon bagaimana. “Nona Liao? Ini....?”.
“Saat mendatangi Legendary Sword Valley, tunjukan tanda pengenal tersebut. Mereka akan mengantarmu ke kediaman utama keluargaku, kami tidak mengambil sepeserpun Spirit Stone bagi orang menginap” Liao Mei mengedipkan sebelah matanya.
“Hihihi....terima kasih”
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.