The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 54 - Curtain Number 77



Seleksi tahap kedua dilakukan pada sebuah arena besar, tanah lapang luas telah ditransformasi menjadi semacam stadion dengan barisan podium penonton megah nan tinggi. Hasil kerja keras seluruh panitia acara tersebut.


Terdapat seratus tirai disetiap sudutnya, dimana nanti satu per satu seratus calon Legacy Discple akan menempatinya. Tugas kali ini sederhana, para peserta diminta untuk keluar dari formasi sihir ilusi rumit namun masih dalam tahap wajar bagi mereka. Anggota – anggota White Crow Sect memang dikenal mempunyai kemampuan hebat mengacaukan pikiran lawan.


Akan ada satu orang yang bersiap memasang untuk mereka semua, tidak ada batasan waktu tuk menyelesaikan tahapan kedua. Tetapi hanya tersedia dua puluh kursi partisipan menunggu di babak terakhir, sehingga siapa cepat maka dia dapat.


Tujuan dilakukanya seleksi dengan cara itu adalah untuk menilai kemampuan kontrol Qi dan juga apakah mereka mampu tetap berpikir jernih ketika berada dalam situasi terdesak, perlahan ratusan penonton mulai berdatangan.


Yin Wuya, Patriach White Crow Sect bersama jejeran petinggi sekte ikut hadir menyaksikan. Selain ingin melihat putrinya, ini dimaksudkan demi keamanan. Tidak ada yang tau isi kepala semua tamu undangan, siapa tau ada sosok bodoh berniat buruk mengacaukan seleksi karena menganggap ajang tersebut merupakan peluang emas.


Bahkan pembawa acara sekaligus wasit dipercayakan kepada Yin Jiang, Sang Grand Elder. Antusiasme nampak jelas mengisi stadion, bukan cuma tamu saja. Murid – murid White Crow Sect pun merasa penasaran untuk segera mengetahui siapakah Legacy Disciple generasi berikutnya.


“Apa kubilang, mengapa kalian harus menghabiskan sepuluh guci arak sih tadi malam?”


Ekspresi masam menghiasi wajah Liao Mei setelah melirik kedua pria disampingnya, Fan Li dan Yang Wei terlihat lebih pucat dari biasanya. Efek samping dari pesta makan Snow Feather Dormitory, mereka terlalu terbawa suasana.


“Hik! Ayolah Mei’er, tersenyum. Kau merusak suasana hihihi.....” Yang Wei menggodanya sambil menyentuh dagu si gadis.


“Ukh....Senior Yang, baumu seperti kubangan lumpur tempat Piggy's bermain. Yuck!?”


“Sungguh....hehehe....apa – apaan kata – katamu itu....hahaha....lalala.....aku melihat bintang mengitari kepa—ahhh....Xiulan datanglah padaku....shishishi.....”


“Kemarilah.....” desis Fan Li memeganggi pundak pemuda tersebut. Yang Wei sebenarnya mempunyai daya tahan alkhohol sangat rendah, sedikit mengherankan mengapa ia begitu suka pesta minuman keras.


“Tetua harus tanggung jawab mengurusnya” Liao Mei berkata tak mau tau.


“Iya – iya, ngomong – ngomong dimana mereka....”


Liao Mei meneropong menggunakan tangan, pandangannya menyisir seluruh arena sampai akhirnya menemukan ketiga petinggi asrama tempatnya menginap. Masing – masing Lu Xiulan, Tan Minjie, dan Bing Lian berdiri dihapan tirai bernomor 5, 40, serta 77.



Ying Kiew juga nampak siap memasuki salah satu tirai dengan angka 1, dalam sekejap dia langsung menjadi pusat perhatian banyak pasang mata. Berbeda dengan peserta lain, keempat anak muda ini terlihat santai terutama Lian.


Bing Lian sudah melakukan persiapan matang demi menjalani tahap kedua, Sang Mantan Ice Emperor bahkan membuat beberapa prediksi kemungkinan formasi sihir yang akan digunakan kemudian mengabari Lu Xiulan, Tan Minjie, maupun Yin Kiew supaya mereka dapat mempelajarinya terlebih dahulu.


Sewaktu Yin Jiang memberikan aba – aba agar semua masuk. Lian memberikan senyuman penuh arti untuk teman – temanya sebelum menyingkap kain berwarna hitam tersebut. Didalamnya ada sebuah batu berukuran cukup besar tempat biasa Cultivator melakukan meditasi.


Lian duduk diatasnya sembari menunggu, seruan Grand Elder menandakan dimulainya ujian berikutnya. Lian menarik napas saat kabut bervolume tidak wajar mengisi tirainya, tetapi dia merasa ada sesuatu hal janggal. Sewaktu formasi nampakya telah usai dipasang, Lian berusaha menyentuh gas – gas putih sekitarnya.


“Bukankah ini....sihir tingkat Foundation Realm....Ckk!? Aaahhh....harusnya aku sudah menduganya, pasti kakek biang onar itu lagi....” ujarnya kesal sambil menggelengkan kepala lelah.


------><------


Dilain sisi stadion dipenuhi tepuk tangan meriah dan sorakan histeris begitu Yin Kiew berhasil keluar tepat setelah lima menit tahap kedua dimulai, tak lama berselang Lu Xiula menyusul diurutan selanjutnya enam ratus detik kemudian.


Dalam waktu singkat dua puluh kursi untuk peserta babak terakhir terisi secara perlahan, Tan Minjie bersama Chung Ah keluar hampir berbarengan. Mengisi slot – slot yang masih kosong, kecemasan meningkat ketika cuma tersisa satu tempat lagi.


Yin Kiew, Lu Xiulan, juga Tan Minjie saling menatap aneh. Heran mengapa Bing Lian belum juga menyelesaikan misinya padahal telah satu jam terlewati sejak ujian berlangsung. Para penghuni Snow Feather Dormitory di podium penonton merasakan hal sama. Bahkan Liao Mei mulai menggerogoti kuku – kuku jari tangannya pertanda cemas.


“Dimana dia?!”


“Apa terjadi sesuatu kepada Junior Bing?” Yin Kiew menyeletuk pelan.


“Aku akan mengabari Grand Elder” Xiulan sudah tidak tahan lagi.


“Sebentar, jika kau melakukannya. Nanti dianggap sebagai pelanggaran terhadap peserta lain, dan mungkin Lian tak diperbolehkan mengikuti seleksi terakhir”


“Tapi—!?“


“Ssssttt!?”


Yin Kiew tiba – tiba menempelkan jari ke bibir supaya keduanya diam, setelah memasang telinga baik – baik. Terdengar suara gemuruh kecil yang kian lama bertambah kuat sampai ikut menggetarkan tanah.


BUUUMMMMM!!!


Detik berikutnya terjadi sebuah ledakan besar, tirai nomor 77 meletup layaknya balon. Tanpa berbekas sedikitpun, jantung semua orang seakan berhenti berdetak dibuatnya. Nampak siluet pemuda berjalan santai keluar membelah kabut asap disekelilingnya.


------><------


Beberapa menit sebelumnya Bing Lian terlihat masih menutup mata, ia memanfaatkan seluruh indranya untuk menganalisis formasi sihir tersebut. Tepat satu jam memulai meditasi akhirnya Lian menerawang sekitar dan menjentikan jarinya semangat.


“Meski rumit aku masih bisa keluar teknik ini, untung saja pria tua brengsek itu meremehkanku. Jika sampai dia menggunakan formasi sihir Core Formation mustahil bagiku mengatasinya, baiklah....mari mulai....”


Bing Lian mengatur napas sembari menggosok – gosokan kedua telapak tangannya sebelum membuat mantra dengan kecepatan tinggi. Saking kencangnya, tercipta semacam asap akibat gesekan kulit si anak berambut putih.


“Tō, Jin, Zen, Zai, Retsu, Sha, Rin, Pyō, Kai....!!!”



JDUARRR!!!


Qi berkepadatan tinggi memancara dari dalam tubuh Bing Lian kemudian menghancurkan seluruh dinding penghalang berbentuk kabut yang menyelimutinya. Tanah – tanah pijakannya ikut remuk disebabkan gelombang kejut barusan.


Tanpa memperdulikan sekitar Lian cepat – cepat meninggalkan tempatnya berdiri, bertanya – bertanya apakah dirinya telah gagal pada ujian kedua ini. Ia menyipitkan mata berusaha melihat namun pandangannya masih ditutupi asap.


“Uhuk! Uhuk! Kupikir aku sedikit berlebih—“


“LIANNN!!!”


“WAAA!!!”


Lu Xiulan entah dari mana melompat kearahnya kemudian merangkul leher Bing Lian erat – erat diikuti Tan Minjie bersama Yin Kiew beberapa menit setelahnya. Keluarnya Lian mengakhiri ujian kedua dengan sangat fenomenal namun menarik perhatian banyak pihak.


Yin Jiang datang mendekatinya untuk menanyakan apa yang terjadi, Lian menjelaskan masalahnya sampai membuat para pendengar mengerutkan kening. Demi membuktikan ucapannya Lian menyerahkan Spatial Bag berisi sampel kabut formasi sihir sebelumnya.


“Tidak mungkin ini....Enchanting Moon Mist? Siapa orang bodoh yang memasang formasi sihir bagi tirai nomor 77!?” suara murka Grand Elder mengisi udara.


“Entahlah Grand Elder, tapi mungkin anda bisa menanyakannya pada Tetua Chun” kata Lian tersenyum lebar lalu menunjuk kebelakang kepalanya sendiri.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.